Gw bisa merasakan 'penderitaan' Steve atas tulisan Wiwid di Bola itu sih.
Masalahnya, faktor subjektifitas kadang mengalahkan profesionalisme
seseorang even dia seorang yang sangat kawakan sekalipun. Dan berhubung ybs
ada di posisi yang lebih menguntungkan karena punya media untuk menyuarakan
pendapatnya, maka posisi pembaca/pendengar selalu terpojokkan.
Gw juga rada heran tulisan itu dibuat seorang Wiwid, karena gw tau pasti dia
selama ini lebih menangani berita2 Calcio dan secara pribadi gw tau dia
adalah seorang Milanisti sejati.
Tapi mungkin dibikin dalam kapasitas berita bola Eropa, dan gw yakin banget
bahwa segala fakta yg dikemukakan Steve di bawah juga dikuasai oleh ybs.

Posisi tifosi memang gak bisa berbuat banyak. Contoh paling mutakhir adalah
pertandingan MU vs Milan kemarin yang para komentator habis dikomplain dan
di caci maki oleh para Milanisti.
Di RCTI, pasangan Ricky Jo dan Ropan sangat memuakkan. Komentarnya sangat
berpihak dan tidak profesional. Kita gak bisa menyalahkan bahwa sebagai
manusia memang punya keinginan untuk menjadi fans sebuah tim. Tapi saat
tampil di depan publik tentu harus lebih profesional dan netral. Bahkan
keberatan resmi untuk RCTI agar tidak lagi menggunakan (terutama) Ricky Jo
untuk partai 2nd leg Milan nanti sudah disampaikan oleh Milanisti Indonesia.
Gak tau gimana reaksinya.

ESPN sama ajah. Jelas banget bahwa mereka Inggris-minded sampe ikut2an
begitu lemeeeeesss di babak pertama dan ber api2 tapi waspada di babak 2. Gw
gak tau itu sapa, tapi kalau itu Martin Tyler, bisa dibayangin seorang
pembawa acara dengan puluhan tahun pengalaman pun bisa sangat gak objektif.
Ntar di leg 2 udah bisa gw bayangin gimana nada datar mereka kalo MU
tersingkir, atau gimana teriakan orgasme mereka kalau MU yang lolos.

Semoga berkenan.

Forza MILAN
Ciao

Arif ikram - Milanisti Indonesia


On 4/27/07, Steve HP <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>   Membaca tulisan Dwi Widijatmiko pada BOLA edisi berjudul "Akhirnya. Gol
> Sahih Pertama", saya seolah membaca sebuah berita yang membonceng sebuah
> opini pribadi. Sebagai pembaca tabloid olahraga berskala nasional, saya
> mengharapkan adanya tulisan yang objektif, tanpa tendensi dan pretensi yang
> disisipkan dalam butir-butir fakta yang ditulis. Jikalau pun penulis ingin
> beropini, hendaknya disampaikan dalam bentuk tulisan kolom, dan diberi
> catatan bahwa itu adalah opini pribadi penulis. Namun apa yang terlihat dari
> berita dengan judul di atas itu sama sekali tidak.

Kirim email ke