Don Rudy <[EMAIL PROTECTED]> wrote:          On 5/2/07, smith jacks <[EMAIL 
PROTECTED]> wrote:
[rudy]
Saya memang tidak pernah bekerja di media, tapi tulisan di sebuah media oleh
seorang jurnalis jelas-jelas adalah sebuah output dari hasil pemikirannya.
[/rudy]

  mmm, belum tentu juga sih. Hard news dan soft news tidak memuat opini dan 
buah pemikiran, melainkan hard report. Kolom opini jelas memuat pemikiran. Yang 
Anda maksud berita yang mana? 
  
[rudy]
Kita berbicara media di Indonesia kan?
Klo subjective dalam mendukung Sepakbola Indonesia sich ga masalah
bung(karena semua pembaca adalah orang Indonesia), tapi klo sudah berbicara
tentang sebuah object di luar sana(baca Sepakbola Eropa) di mana pembacanya
terdiri dari berbagai macam "latar belakang", subjectivitas yang didasari
dari kebencian penulis terhadap pihak tertentu akan membuat mereka tidak
disukai bahkan oleh kaum "objective", apalagi oleh kaum yang merasa
terpojokkan dengan tulisan mereka.
[/rudy]

  Kalau boleh sedikit mengkritik, terminologi obyektif dan subyektif yang Anda 
pakai itu agak absurd. Dalam kerangka pemikiran, obyektif berarti bahwa 
kebenaran merupakan satu realitas independen di luar sana, jadi siapa pun yang 
melihat, wajah kebenaran tetap sama. Nah, kaum subyektif berpendapat bahwa 
realitas sebenarnya ada di dalam piokiran, yang di luar itu merupakan refleksi 
dari realitas. Jadi kursi bukan merupakan realitas, hanya merupakan refleksi 
realitas kursi, yang realitasnya ada di dalam pikiran. Apakah terminologi 
idealisme dan materialisme bermakna sesuatu bagi Anda?
  Jika kita bicara soal khalayak pembaca berita sepakbola Eropa di Indonesia, 
jelas kita bicara tentang satu kelompok sosial dengan latar belakang yang bisa 
dibilang seragam karena semua pembaca terpisah secara primordial dan 
tradisional dengan klub-klub sepakbola Eropa. Kita semua di Indonesia tidak 
lebih dari khalayak periferal. 
  Selain itu, ada satu fakta yang Anda tidak tahu soal Bung Wiwid: Dia 
pendukung Milan yang amat benci Chelsea. Fakta bahwa dia menulis berita yang 
sekilas membela Chelsea justru menjadi bukti bahwa yang bersangkutan sangat 
profesional. Fakta bahwa berita soal Juve kerap miring, itu kan bukan salah 
penulisnya. Berbagai koran Italia dan Eropa lain kerap menulis soal miringnya 
Juve. Bahkan Zeman pun berteriak soal itu. Apakah Milan bersih? Tentu tidak. 
Buktinya kena calciopoli. Apakah Inter bersih? Saya tidak tahu. Ada realitas 
atau fakta keras yang saya tidak tahu yang membuat saya sulit menilai apakah 
Inter bersih atau tidak. 
  Saya rasa yang terpojokkan oleh tulisan bahwa gol Pool belum melewati garis 
gawang cuma wasit dan tim serta penduduk kota Liverpool. Bahkan Big Reds 
Indonesia sebagai penonton periferal tidak perlu terpojokkan. Itu kan bukan 
salah mereka. Kenapa mesti terpojok?
  [rudy]
Anda terlalu berorientasi ke Inggris bung, mungkin anda adalah salah satu
korban eksploitasi klub-klub Inggris itu. Saya penggemar Milan, dan sampai
sekarang saya banyak mendapat kesenangan dari Milan tanpa harus membayar
sepeserpun...
Untuk mendapat komentar2 pemain Milan saya hanya perlu register ke situs
Milan dan GRATIS.
Untuk mendapatkan video pertandingan, saya juga bisa mendownload-nya dengan
gratis.
[/rudy]

   
  Justru sebaliknya, saya justru sangat antisepakbola Inggris saat ini, yang 
saya anggap tengah berada dalam masa "menjelang kematian sepakbola". Dan saya 
bukan satu2nya yang berpendapat begini. Ribuan working class di Inggris mulai 
sebal dengan hyperindutrialization ini. Blatter yang sangat komersial pun mulai 
gerah karena dia melihat fenomena liga Inggris saat ini potensial untuk 
mematikan tradisional community involvement, jika kita melihatnya dari kaca 
mata sosiologi olahraga (banyak buku yang Anda bisa baca soal ini).
  Industri sepakbola Inggris seperti ulangan bonanza calcio di Italia yang 
berujung pada bangkrutnya banyak klub. Ketidaksiapan struktur regulasi 
finansial sepakbola (katakanlah jika dibandingkan dengan NBA AS) menjadi faktor 
pemicu paradoks besar ala Marxis dalam sepakbola: industri menjual sesuatu yang 
tak dapat dibeli masyarakat. Artinya ada irasionalitas dalam rasionalitas 
industri. Harus ada kontrol serupa corporate social responsibility sebagai 
penyeimbang. 
  Saya juga pendukung fanatik Milan. Tapi saya juga seperti Anda, yang tetap in 
control tak tidak mabuk kepayang dalam derasnya arus eksploitasi identitas 
ilusif ala globalisasi. Saya penikmat sepakbola, bukan pembeli yang membabi 
buta dan tampaknya Anda juga demikian. Kita sama dalam hal ini. Tapi, lihat 
sekeliling kita bung. Orang membeli dengan harga yang hampir bisa dikatakan 
megamahal hanya karena kecintaan semu terhadap klub. Kelihatannya ini sah2 saja 
dan merupakan hak pribadi, tapi jika sistem ekonomi makro negara masih dibangun 
di atas dasar-dasar teori ekonomi klasik ala Adam Smith, yang mementingkan 
pertumbuhan, arus keluar uang jelas merugikan posisi kita sebagai negara. Iya 
toh? Pada titik itu, globalisasi sepakbola menjadi kemudaratan massal bagi 
Indonesia.
  
Terima kasih
> Salam sepakbola cerdas
>

[rudy]
Cerdas di sini perlu anda definisikan lebih detail...
Saya sendiri tidak pernah merasa sebagai seorang yang cerdas, karena saya
selalu beranggapan bahwa kalau saya cerdas saya sudah mampu meraih NOBEL
sekarang.
[/rudy]

  Cerdas di sini tentu kecerdasan kontekstual. Kecerdasan kan sudah menjadi 
realitas subyektif yang sangat paradigm-bound. Buat saya, yang dimaksud cerdas 
adalah kemampuan untuk mempertanyakan segala sesuatu yang selama ini kerap 
dianggap sebagai kebenaran (ideologi). Maaf saja, buat saya menghabiskan 300 
ribu rupiah untuk membeli sehelai kaus milan jelas sangat tidak cerdas, tapi 
menghabiskan 500 ribu untuk membeli jas yang akan dipakai untuk akad nikah 
tetap bisa disebut cerdas. Mencerca wartawan yang menulis berita tanpa memahami 
political economy of media jelas "kurang cerdas".
   Terima Kasih
  Salam Cerdas
  AL Sujanto  
-- 
Cavaliere
AC Milan atau tidak sama sekal!
FORZA INDONESIA >> Tak pernah berhenti berharap Indonesia bisa tampil di
Piala Dunia.

[Non-text portions of this message have been removed]



         

       
---------------------------------
Ahhh...imagining that irresistible "new car" smell?
 Check outnew cars at Yahoo! Autos.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke