MUNGKIN pertanyaan di atas hanya sebuah retorika dari kebiasaan di
penjuru dunia jika timnas-nya gagal di sebuah ajang bergengsi. Mungkin
hal itu bisa juga dilakukan (kembali) oleh Indonesia. Yah, paling
tidak bagaimana kalau kita memanggil Mourinho, eeee...siapa tahu dia
tertarik mengurus sepakbola di negara mantan jajahan negerinya?hehehehe...
Sebuah pelajaran tentu bisa diambil dari kiprah Kolev. Meski cukup
moncer menangani timnas saat Piala Asia, namun ternyata fundamental
sebuah timnas tetap saja belum tersentuh. Ini terbukti dengan
permainan timnas yang tiba-tiba kacau balau gak karuan saat pra piala
dunia melawan suriah padahal komposisi pemainnya nyaris sama. Ini
sebagai bukti jika tiba-tiba dibubarkan, lalu disatukan kembali belum
mampu langsung nyetel. Sebenarnya hal yang patut dicoba secara
mendalam adalah kemungkinan pelatih berasal dari Amerika Latin
sekalian. Sekalian gaya dari kaki ke kaki yang selama ini jadi patron
timnas bisa dikembangkan lebih lanjut. Kultur sepakbolanya juga tidak
terlalu berbeda, paling tidak untuk mengakali kekurangan di postur
bisa diimbangi dengan peningkatan kualitas skill individu. Nah ini
bisa digenjot dengan pelatih dari Latin. Gak percaya?coba aja........


Nurfahmi Budi
Wangon, Banjarnegara, Jawa Tengah

Kirim email ke