Puluhan tahun lalu kita pernah punya pelatih brasil, kalo ga salah namanya
barbatana. Waktu di salah satu event di asean, lupa, pssi kalah. Langsung
pelatih tadi didepak. Padahal, konon menurut pendapat pengamat sepakbola
kawakan (bukan yang suka nongol di teve sekarang ini. Modal mereka mah dari
internet!) alm,. Kadir Jusuf di tahun 80an dan juga Endang Witarsa, eks
pelatih timnas, sepakbola latin cocok dengan karakter dan fisik pemain kita.


Nah di pssi itu maunya serba instant. Gagal langsung ganti pelatih. Maunya
niru-niru luar negeri. Di sono... basis besepakbola sudah bagus. Jadi mau
ganti pelatih sebulan dua kali juga ga masalah. Selain itu, mereka sudah
terbiasa prof. Kompetisi teratur. Latihan dan gizi diatur. Nah di sini?

Jadi, kalo mau bener ya rombak tuh cara pikir orang-orang di pssi. Sepakbola
ga bisa serba instant, kecuali di shitnetron tv  kali ya orang gampang
banget insaf cuman dikasih 1-2 petatah-petitih. Masalahnya, apakah kita mau
berobah? I DOUBT IT... kecuali kita outsourcing aja pssi sama orang luar.





On 12/9/07, Don Rudy <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>   On 12/7/07, dicha_4ever <[EMAIL PROTECTED] <dicha_4ever%40yahoo.com>>
> wrote:
> > MUNGKIN pertanyaan di atas hanya sebuah retorika dari kebiasaan di
> > penjuru dunia jika timnas-nya gagal di sebuah ajang bergengsi. Mungkin
> > hal itu bisa juga dilakukan (kembali) oleh Indonesia. Yah, paling
> > tidak bagaimana kalau kita memanggil Mourinho, eeee...siapa tahu dia
> > tertarik mengurus sepakbola di negara mantan jajahan
> negerinya?hehehehe...
> > Sebuah pelajaran tentu bisa diambil dari kiprah Kolev. Meski cukup
> > moncer menangani timnas saat Piala Asia, namun ternyata fundamental
> > sebuah timnas tetap saja belum tersentuh. Ini terbukti dengan
> > permainan timnas yang tiba-tiba kacau balau gak karuan saat pra piala
> > dunia melawan suriah padahal komposisi pemainnya nyaris sama. Ini
> > sebagai bukti jika tiba-tiba dibubarkan, lalu disatukan kembali belum
> > mampu langsung nyetel. Sebenarnya hal yang patut dicoba secara
> > mendalam adalah kemungkinan pelatih berasal dari Amerika Latin
> > sekalian. Sekalian gaya dari kaki ke kaki yang selama ini jadi patron
> > timnas bisa dikembangkan lebih lanjut. Kultur sepakbolanya juga tidak
> > terlalu berbeda, paling tidak untuk mengakali kekurangan di postur
> > bisa diimbangi dengan peningkatan kualitas skill individu. Nah ini
> > bisa digenjot dengan pelatih dari Latin. Gak percaya?coba aja........
> >
> >
> > Nurfahmi Budi
> > Wangon, Banjarnegara, Jawa Tengah
> >
> [rudy]
> Gw pernah denger dalam sebuah wawancara Kolev ini suka banget
> Sepakbola Inggris, pantes aja dia ga bisa melatih dengan baik dan
> benar. Ga tahu bagaimana Sepakbola yang baik dan benar biar bisa
> berprestasi.
> Ganti aja dengan pelatih lokal, kalau perlu kita kirim pelatih lokal
> belajar ke Coverciano(Firenze) di Italia biar dapat sertifikat dari
> sana. Nich tempat sudah ga diragukan lagi kualitasnya. Menurut La
> Gazzetta pelatih2 Italia belajar/dapat licence melatih juga dari sini,
> alumninya? kalau cuma yang pernah Juara Liga Champions mah segudang,
> dari mulai Sacchi, Ancelotti, Capello, Trappattoni, sampai Marcello
> Lippi yang pernah Juara Dunia.
> Bahkan Sacchi ini dulunya bukan pemain professional, dia adalah
> seorang penjual sepatu.
> Ciao
> [/rudy]
>
> --
> Cavaliere
> AC Milan atau tidak sama sekal!
> 
>


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke