Terimakasih untuk penerangan dari sisi konsep Taoisme.

Memang, konsep kharma ini adalah khas buah pemikiran Asia timur, 
dimana, dipercaya adanya tatanan makrokosmos yang berwujud hukum alam 
sebab akibat.

Konsep kharma ini, lebih dari sekedar pemikiran tabur tuai, yang 
mungkin juga disinggung dalam ajaran ajaran agama agama Ibrahim, 
namun dengan perbedaan yang sangat substantial.

Kharma , disini merupakan kekuatan alam yang bergerak secara autonom, 
bukan hasil penghakiman sebuah instansi langit, apapun namanya, yang 
mengatur segalanya. 

Dalam Tipitaka, kharma ini adalah matarantai yang menggerakkan 
tumimbal lahir, dengan mana, makhluk hidup menuju kesempurnaannya 
(pari nibhana).

Tindakan buruk, sebagai Anda sebut dengan tepat, terhadap alam 
lingkungan, termasuk hewan, akan membawa dampak negatif bagi 
sipelaku. Kehancuran alam, banjir, malapetaka dsb. 

Namun Ini TIDAK dilihat sebagai "kutukan" siapapun, namun simply 
DAMPAK perilaku. Karena itu, saya juga allergi mendengar bahwa aids 
adalah kutukan. It is simply result of our wrongdoing or accident 
whatsoever (karena suntikan yang tercemar atau transfusi darah 
tercemar pada bayi). 

Hewan juga dianjurkan tak disantap, bukan karena kotor, terkutuk, 
atau apapaun, namun ya itu, karena respekt terhadap makhluk hidup. 
Ciptaan alam tak ada yang kotor.

Ajaran ajaran agama agama Ibrahim bertitik tolak dari konsep yang 
sangat berbeda. Disini, jalur utama adalah adanya judgement dari 
sebuah instansi ilahi (Yahweh, Tuhan atau Allah bapak, Yesus), yang 
menentukan segalanya, Dalam ajaran Kristiani jelas jemelas, inti 
kesemuanya adalah penebusan oleh Kristus, jadi bukan perilaku manusia 
pada dasarnya. Dosa akan ditebus.

Karena itu, konsep kharma sebagaimana dipercayai oleh agama agama 
Asia, seperti Hindu, Buddha, Tao, tak mungkin berlaku bagi agama 
agama itu. Dalam konsep kharma, si pelaku (mahluk) yang menentukan - 
prinsip anthropocentrismus - sampai mencapai Pari Nibhana, sedangkan 
dalam agama agama Ibrahim, Allah, Yahweh, Tuhan (Kristus) yang 
menentukan kemana perjalanan - Theocentrismus.

Itulah sebabnya, saya tulis, bagi yang menganut agama agama Ibrahim, 
tak cocok penggunaan istilah kharma sesuai konsep aslinya, kalau mau 
ya katakan sekedar "tabur tuai". Mengenai kupu kupu, ya pahami saja 
sesuai dengan theori kupu kupu.

Mudah mudahan uraian ini menjelaskan masalahnya.

Salam

Danardono






--- In [email protected], "perfect_harmony2000" 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Sdr.Robby dan sdr.Danardono,
> 
> 
> mungkin disini saya mau mencoba menjelaskan konsep "karma" menurut
> Taoism mainstream.
> 
> Taoism mainstream menggunakan istilah daoguo, chengfu, chenfu untuk
> menjelaskan beberapa kondisi karma yang terkait dengan diri kita.
> 
> 1.Karma warisan. Karma warisan ini diwariskan melalui genetik dan
> melalui warisan sifat.
> Taoism percaya bahwa manusia mewarisi bibit karma turunan baik dalam
> bentuk penyakit maupun perilaku. Karena itu Taoism juga menekankan
> bahwa pelatihan diri mencakup 2 hal yaitu memperbaiki tubuh dan
> memperbaiki perilaku yang mungkin saja memiliki sifat genetik buruk
> dari leluhur kita.
> 
> 2.Karma lingkungan, dimana kita terkait dengan lingkungan sekitar 
dan
> kita merupakan bagian dari macrocosmos.
> Taoism percaya dengan merusak lingkungan maka lingkungan akan 
berbalik
> menerkam kita.
> Atau lingkungan janin yang tumbuh dalam lingkungan buruk, maka bisa
> mempengaruhi janin tersebut.
> 
> Dalam semboyan mereka yang terkenal adalah "Takdirku bukan berada di
> tangan mahluk Adi Kodrati", bukan berarti mereka mencoba melawan
> mahluk Adi Kodrati atau yang kita sebut Tuhan.
> Mereka mempercayai bahwa aturan sudah ada sejak awal terbentuknya 
alam
> semesta dan kalau saya gunakan istilah, "dao" kecil bukan DAO besar.
> Dan semua memiliki tanda atau isyarat yang hanya bisa ditangkap oleh
> mereka yang memperhatikan dao atau jalan. 
> 
> 
> 
> 
> Hormat saya,
> 
> 
> 
> Xuan Tong
> 
> --- In [email protected], "Dada" <hisashi.mitshui@>
> wrote:
> >
> > 
> > > 
> > > RM Danardono HADINOTO <rm_danardono@> wrote:
> > >           
> > > 
> > > Pendapat, bahwa bencana ini itu adalah datang dari Tuhan, 
adalah 
> > > sesuatu yang kerdil, ke-kanak-kanak-an, idiot. Sayangnya, tak 
jarang 
> > > pendapat semacam ini ditiupkan dari mimbar khotbah. Disebuah 
rumah 
> > > ibadah di AS misalnya, dikatakan, bahwa aids adalah kutukan 
Tuhan, 
> > > dsb.
> > 
> > Dada : 
> > Jangan terburu-buru anda katakan kerdil , idiot , dan kekanak2an 
ke
> > suatu ranah yang sama sekali tidak bisa anda sentuh........
> > 
> > Hukuman dan Anugrah adalah tergantung persepsi manusia dalam 
memandang 
> > Contoh : letusan gunung berapi , itu hukuman atau anugrah?
> > Hukuman jika di pandang beberapa korban jiwa , dan anugrah jika di
> > pandang letusannya dapat menyuburkan tanah sekitar dan memberi 
makan
> > (hidup) jauh lebih banyak orang lagi di masa depan.....
> > 
> > AIDS kutukan TUhan ? belum tentu . Ada makna di balik sebuah 
wabah ,
> > bencana , dll......
> > 
> > Tetapi yang pasti , tanpa bencana , manusia tidak akan berpikir 
untuk
> > mengatasi permasalahan bencana , tanpa jatuh , anak kecil tidak 
bisa
> > langsung berjalan , tanpa ujian manusia tidak akan tangguh 
> > 
> > BENCANA bisa menjadi HADIAH atau KUTUKAN , tergantung yang 
memandang
> > ANAK KECIL atau DEWASA seutuhnya.....
> > 
> > 
> > 
> > > 
> > > Apalagi, menyeret konsep kharma, yang tak ada urusan samasekali 
> > > dengan hukum menghukum, karena dalam konsep ini tak ada hukuman 
> > > samasekali. Apalagi menyangkutkan konsep kharma dengan konsep 
Tuhan 
> > > dari agama agama Ibrahim, sebab keduanya tak ada sangkut 
pautnya.
> > > 
> > 
> > 
> > Dada : 
> > Anda katakan sama sekali tidak ada sangkut pautnya 
> > tetapi yang tertulis : 
> > 
> > kharma mengajarkan, bahwa apa yang kau tuai adalah kelak yang 
> > > kau panen
> > 
> > kutipan selesai , sekarang apa sih perbedaan utama antara hukum 
karma
> > dengan tabur tuai yang ada di injil?
> > 
> > 
> > > Mahabikkhu Padmasambawa, yang hidup pada abad ke VIII 
menerangkan 
> > > simply, kharma mengajarkan, bahwa apa yang kau tuai adalah 
kelak yang 
> > > kau panen..that's it! kalau saya panaskan air sampai 100 
derajad, 
> > > akan mendapatkan air, yang insya Allah tidak beku...
> > 
> > Dada: 
> > Masalahnya tidak sesederhana itu 
> > Anda Panaskan air di Austria  sampai 100 derajat , air itu 
menguap ke
> > suatu tempat . Saya memanaskan air di jakarta , dan di hawai 
seekor
> > kupu2 sedang mengibaskan sayap .........lantas badai terjadi di
> > karibia .....ingat , hukum tabur tuai itu mudah dipahami , tapi 
tidak
> > mudah dihitung hingga bagaimana anda (bagian dari 5 milyar manusia
> > lebih) sedang memanaskan air , dan saya menebang kayu di 
kalimantan ,
> > lantas badai terjadi di Amerika. Apa hubungannya? Tentu saja ada ,
> > tetapi tidak sanggup kita hitung.....karena keterbatasan kemampuan
> > manusia ........tabur tuai anda juga berinteraksi dengan tabur 
tuai
> > milyaran manusia lain , dapatkah mengungkap benang kusut tersebut?
> > 
> > Robby Wirdja
> >
>


Kirim email ke