Inalillahi wa inalillahi roji'un..
Gue ikut berduka cita untuk SIGIT RAIS, Semoga amal
ibadah Ayah Sigit keterima di sisi ALLAH SWT, dan
keluarga yang ditinggalkan tabah menghadapi kenyataan.
AMIN.
--- sigit rais <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Assalamualaikum....
> Teman-teman, maaf baru sekarang saya bisa
> menyampaikan kabar duka ini...
> inalillahi wa ini illaihi rojiun...
> pada tanggal 12 September 2007 (setelah sholat
> tarawih pertama), ayah
> saya, yaitu TB. Agus Suhara, menghembuskan nafasnya
> yang terakhir
> sekitar pukul 22.00 WIB.
> Sebelumnya, almarhum sempat sakit gejala tifus
> selama sekitar 3
> minggu. Beliau dirawat di rumah oleh ibu saya atas
> rekomendasi dokter,
> Dan alhamdulillah, kondisi beliau berangsur-angsur
> membaik. Bahkan,
> sejak tanggal 11, beliau sudah mulai beraktivitas
> dengan didampingi
> oleh karyawannya. Kesehatan beliau terlihat semakin
> membaik. Bahkan,
> menurut cerita yang disampaikan oleh ibu saya, ayah
> saya sempat
> berbincang-bincang dengan beberapa tetangga mengenai
> kesiapan dalam
> menghadapi bulan Ramadhan. Beliau pun mohon doa pada
> teman-temannya
> (tetangga) agar diberi kesembuhan untuk bisa ikut
> sahur dan
> melaksanakan ibadah puasa. Sama sekali tidak ada
> gelagat yang
> mengisyaratkan sesuatu.
> Tanggal 12 September, pukul 19.00, saya baru saja
> pulang dari tempat
> kerja. Kedatangan saya disambut oleh almarhum.
> Dengan antusias, beliau
> memberi tahu saya bahwa ada peristiwa gempa bumi di
> Bengkulu. Beliau
> mengkhawatirkan keadaan nenek saya di sana. Setelah
> itu, saya pergi ke
> masjid untuk melaksanakan shalat tarawih.
> Selesai shalat tarawih, saya, almarhum, dan
> adik-adik berkumpul di
> ruang keluarga. Ibu saya sedang masak di dapur. Saya
> lalu
> bermaaf-maafan dengan keluarga saya. Saya mencium
> tangan almarhum ayah
> saya (untuk terakhir kalinya). Setelah itu, kami pun
> sama-sama
> menyaksikan tayangan berita tentang gempa bumi di
> televisi.
> Sekitar pukul 21.30, saya segera masuk ke dalam
> kamar saya (di lantai
> dua) untuk mengerjakan tugas kantor. Lalu, ayah saya
> pun naik menuju
> kamarnya. Kamar kami berhadap-hadapan. Saat sedang
> memilih foto untuk
> dimasukkan ke dalam buku yang sedang saya edit,
> tiba-tiba almarhum
> batuk-batuk. Saya biarkan karena selama ini ayah
> saya memang memiliki
> kelainan pada paru-parunya. Saya pikir itu adalah
> batuk seperti
> biasanya. Tiba-tiba, ayah saya batuk sambil mengucap
> asma-asma Allah,
> beliau masuk ke kamar mandi. Beliau meminta saya
> memanggil ibu di
> dapur dan mengambilkan air hangat. Saat saya melihat
> ke arah pintu
> kamar mandi, almarhum sudah berdiri di depan pintu
> sambil meratap
> seperti anak kecil, "Batuk Papa ada darahnya".
> Jantung saya seakan
> tertahan sesuatu. Begitu menyakitkan. Lalu, ibu saya
> datang membawa
> air hangat. Dia menyuruh saya memanggil dokter.
> (kebetulan ada dokter
> umum yang tidak jauh dari rumah). Saya segera
> berlari menuju dokter
> tersebut. Lalu, adik perempuan saya menyusul ibu ke
> lantai dua.
>
> Kebetulan, dokter tersebut baru saja pulang, entah
> dari mana. Dia lalu
> meminta saya menunggu, dia akan mempersiapkan
> peralatan-peralatan.
> Saat sedang menunggu, tiba-tiba saya mendengar
> jeritan ibu saya.
> Menggema. Benar-benar jeritan yang masih membekas
> dalam ingatan saya.
> Tidak lama, adik laki-laki saya muncul, dia meminta
> saya untuk segera
> mengajak dokter tersebut ke rumah. Beberapa saat
> kemudian, saya dan
> dokter sampai di rumah... beberapa tetangga sudah
> berkumpul di depan
> rumah. Dan ayah saya sudah pergi.
> Saat itu, saya cukup bingung juga. Saya melihat ibu
> dan adik saya
> menangis histeris. Hanya saya dan adik laki-laki
> saya yang bisa
> menguasai emosi. Lalu, tetangga berdatangan. Mereka
> membantu
> menyiapkan segala sesuatu. Saya bingung. Benar-benar
> merasa jengah
> dengan keadaan itu. Saya merasa tidak yakin dengan
> apa yang sedang
> terjadi. Orang-orang mondar-mandir. Ada yang
> menangis. Ada yang sibuk
> membereskan ruang tamu rumah saya. Ada yang berusaha
> menenangkan ibu
> dan adik perempuan saya. Lalu, saya segera masuk
> kamar mandi. Saya
> mengguyur sekujur tubuh saya dengan air dingin. Di
> situlah, saya mulai
> sadar tentang apa yang sedang terjadi. Saya
> menangis. Saya luapkan
> semua saat itu juga. Saya tahu, sebagai anak
> pertama, sayalah yang
> harus bisa mengendalikan diri dan menenangkan
> keluarga saya. Setelah
> selesai mandi, saya telfon paman-paman, teman, dan
> keluarga saya. Saya
> tidak sempat mengabari semua. Syukurlah, adik
> perempuan saya mulai
> bisa mengendalikan emosi. Dia pun membantu saya
> menghubungi keluarga
> kami. Semua berlalu dengan cepat, rasanya seperti
> mimpi. Saya
> mondar-mandir dibantu oleh sahabat saya, yaitu Bayu
> dan paman-paman
> saya untuk mengurusi segala hal. Kami juga dibantu
> oleh para tetangga,
> pengurus DKM masjid, dan ibu-ibu di lingkungan
> tempat tinggal saya.
> Sungguh, tanpa mereka, entah harus apa.
> Pukul 09.00,13 September 200, kami berangkat menuju
> pemakaman setelah
> sebelumnya jenazah almarhum dishalatkan di masjid.
> Hingga tibalah kami
> di pemakaman. Saya dan adik-adik saya duduk di
> samping pusara almarhum
> ayah saya. Kami dikeliling keluarga, sanak saudara,
> teman-teman,
> tetangga, dan entah siapa lagi. Sementara, ibu saya
> terlihat shock dan
> beberapa kali seperti tidak sadarkan diri. Ibu saya
> didudukkan di
> bagian lain tempat itu. Kami pun berdoa untuk ayah
> kami.
> Tanggal 13 September, orang-orang berkumpul di
> depan rumah saya,
> sanak saudara, rekan kerja almarhum, teman sekolah
> dan kuliah saya,
> teman kantor saya, teman-teman adik saya, dan entah
> siapa lagi yang
> berkumpul di sana. Semua mendoakan almarhum.
> Sbenarnya, ada satu hal yang saya sesali. Saat
> almarhum sedang sakit,
> saya terlalu sibuk dengan pekerjaan saya. Tiap hari
> saya hanya bisa
> melihatnya sedang berbaring di tempat tidur. Kadang
> sudah tidur,
> kadang ayah terlihat sedang membaca koran sambil
> mendengar radio.
> Tetapi, semua sudah terlambat, sekarang saya hanya
> bisa menyampaikan
> doa tulus saya untuknya.
> Teman-teman, saya mohon doanya untuk almarhum. Juga
> doakan saya dan
> keluarga agar bisa tabah menghadapi ujian ini. Saya
> diberi amanah oleh
> paman, bibi, nenek, dan sanak saudara, mereka
> bilang, sekarang saya
> adalah kepala keluarga.
> Sekali lagi saya mohon doa teman-teman, terima
> kasih banyak.
>
>
> Salam semangat,
> Sigit Rais
>
>
________________________________________________________
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!
http://id.yahoo.com/