Git...

Turut Berduka Cita 

Aku juga sedih kog waktu ibuku meninggal 6 tahun yang lalu, aku menyesal belum 
bisa membalas semua kebaikan ibuku, tapi ya apa daya ya kalau Tuhan sudah 
memanggil, Aku pikir pasti Ayah kamu mengerti dengan kesibukan kamu. kita hanya 
bisa berdoa buat beliau.
Yang kuat ya, aku ikut doain buat kamu dan keluarga kamu juga untuk almarhum.

Vincent

sigit rais <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                               
Assalamualaikum....
 Teman-teman, maaf  baru sekarang saya bisa menyampaikan kabar duka ini...
 inalillahi wa ini illaihi rojiun... 
 pada tanggal 12 September 2007 (setelah sholat tarawih pertama), ayah
 saya, yaitu TB. Agus Suhara, menghembuskan nafasnya yang terakhir
 sekitar pukul 22.00 WIB.
 Sebelumnya, almarhum sempat sakit gejala tifus selama sekitar 3
 minggu. Beliau dirawat di rumah oleh ibu saya atas rekomendasi dokter,
 Dan alhamdulillah, kondisi beliau berangsur-angsur membaik. Bahkan,
 sejak tanggal 11, beliau sudah mulai beraktivitas dengan didampingi
 oleh karyawannya. Kesehatan beliau terlihat semakin membaik. Bahkan,
 menurut cerita yang disampaikan oleh ibu saya, ayah saya sempat
 berbincang-bincang dengan beberapa tetangga mengenai kesiapan dalam
 menghadapi bulan Ramadhan. Beliau pun mohon doa pada teman-temannya
 (tetangga) agar diberi kesembuhan untuk bisa ikut sahur dan
 melaksanakan ibadah puasa. Sama sekali tidak ada gelagat yang
 mengisyaratkan sesuatu.
  Tanggal 12 September, pukul 19.00, saya baru saja pulang dari tempat
 kerja. Kedatangan saya disambut oleh almarhum. Dengan antusias, beliau
 memberi tahu saya bahwa ada peristiwa gempa bumi di Bengkulu. Beliau
 mengkhawatirkan keadaan nenek saya di sana. Setelah itu, saya pergi ke
 masjid untuk melaksanakan shalat tarawih.
  Selesai shalat tarawih, saya, almarhum, dan adik-adik berkumpul di
 ruang keluarga. Ibu saya sedang masak di dapur. Saya lalu
 bermaaf-maafan dengan keluarga saya. Saya mencium tangan almarhum ayah
 saya (untuk terakhir kalinya). Setelah itu, kami pun sama-sama
 menyaksikan tayangan berita tentang gempa bumi di televisi. 
  Sekitar pukul 21.30, saya segera masuk ke dalam kamar saya (di lantai
 dua) untuk mengerjakan tugas kantor. Lalu, ayah saya pun naik menuju
 kamarnya. Kamar kami berhadap-hadapan. Saat sedang memilih foto untuk
 dimasukkan ke dalam buku yang sedang saya edit, tiba-tiba almarhum
 batuk-batuk. Saya biarkan karena selama ini ayah saya memang memiliki
 kelainan pada paru-parunya. Saya pikir itu adalah batuk seperti
 biasanya. Tiba-tiba, ayah saya batuk sambil mengucap asma-asma Allah,
 beliau masuk ke kamar mandi. Beliau meminta saya memanggil ibu di
 dapur dan mengambilkan air hangat. Saat saya melihat ke arah pintu
 kamar mandi, almarhum sudah berdiri di depan pintu sambil meratap
 seperti anak kecil, "Batuk Papa ada darahnya". Jantung saya seakan
 tertahan sesuatu. Begitu menyakitkan. Lalu, ibu saya datang membawa
 air hangat. Dia menyuruh saya memanggil dokter. (kebetulan ada dokter
 umum yang tidak jauh dari rumah). Saya segera berlari menuju dokter
 tersebut. Lalu, adik perempuan saya menyusul ibu ke lantai dua. 
 
 Kebetulan, dokter tersebut baru saja pulang, entah dari mana. Dia lalu
 meminta saya menunggu, dia akan mempersiapkan peralatan-peralatan.
 Saat sedang menunggu, tiba-tiba saya mendengar jeritan ibu saya.
 Menggema. Benar-benar jeritan yang masih membekas dalam ingatan saya.
 Tidak lama, adik laki-laki saya muncul, dia meminta saya untuk segera
 mengajak dokter tersebut ke rumah. Beberapa saat kemudian, saya dan
 dokter sampai di rumah... beberapa tetangga sudah berkumpul di depan
 rumah. Dan ayah saya sudah pergi.
 Saat itu, saya cukup bingung juga. Saya melihat ibu dan adik saya
 menangis histeris. Hanya saya dan adik laki-laki saya yang bisa
 menguasai emosi. Lalu, tetangga berdatangan. Mereka membantu
 menyiapkan segala sesuatu. Saya bingung. Benar-benar merasa jengah
 dengan keadaan itu. Saya merasa tidak yakin dengan apa yang sedang
 terjadi. Orang-orang mondar-mandir. Ada yang menangis. Ada yang sibuk
 membereskan ruang tamu rumah saya. Ada yang berusaha menenangkan ibu
 dan adik perempuan saya. Lalu, saya segera masuk kamar mandi. Saya
 mengguyur sekujur tubuh saya dengan air dingin. Di situlah, saya mulai
 sadar tentang apa yang sedang terjadi. Saya menangis. Saya luapkan
 semua saat itu juga. Saya tahu, sebagai anak pertama, sayalah yang
 harus bisa mengendalikan diri dan menenangkan keluarga saya. Setelah
 selesai mandi, saya telfon paman-paman, teman, dan keluarga saya. Saya
 tidak sempat mengabari semua. Syukurlah, adik perempuan saya mulai
 bisa mengendalikan emosi. Dia pun membantu saya menghubungi keluarga
 kami. Semua berlalu dengan cepat, rasanya seperti mimpi. Saya
 mondar-mandir dibantu oleh sahabat saya, yaitu Bayu dan paman-paman
 saya untuk mengurusi segala hal. Kami juga dibantu oleh para tetangga,
 pengurus DKM masjid, dan ibu-ibu di lingkungan tempat tinggal saya.
 Sungguh, tanpa mereka, entah harus apa.
 Pukul 09.00,13 September 200, kami berangkat menuju pemakaman setelah
 sebelumnya jenazah almarhum dishalatkan di masjid. Hingga tibalah kami
 di pemakaman. Saya dan adik-adik saya duduk di samping pusara almarhum
 ayah saya. Kami dikeliling keluarga, sanak saudara, teman-teman,
 tetangga, dan entah siapa lagi. Sementara, ibu saya terlihat shock dan
 beberapa kali seperti tidak sadarkan diri. Ibu saya didudukkan di
 bagian lain tempat itu. Kami pun berdoa untuk ayah kami. 
  Tanggal 13 September, orang-orang berkumpul di depan rumah saya,
 sanak saudara, rekan kerja almarhum, teman sekolah dan kuliah saya,
 teman kantor saya, teman-teman adik saya, dan entah siapa lagi yang
 berkumpul di sana. Semua mendoakan almarhum.
  Sbenarnya, ada satu hal yang saya sesali. Saat almarhum sedang sakit,
 saya terlalu sibuk dengan pekerjaan saya. Tiap hari saya hanya bisa
 melihatnya sedang berbaring di tempat tidur. Kadang sudah tidur,
 kadang ayah terlihat sedang membaca koran sambil mendengar radio. 
 Tetapi, semua sudah terlambat, sekarang saya hanya bisa menyampaikan
 doa tulus saya untuknya.
  Teman-teman, saya mohon doanya untuk almarhum. Juga doakan saya dan
 keluarga agar bisa tabah menghadapi ujian ini. Saya diberi amanah oleh
 paman, bibi, nenek, dan sanak saudara, mereka bilang, sekarang saya
 adalah kepala keluarga.
  Sekali lagi saya mohon doa teman-teman, terima kasih banyak.
 
 Salam semangat,
 Sigit Rais 
 
 
     
                               

       
---------------------------------
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! 
Answers

Kirim email ke