Dear Bros n Sis, Sekuntum teratai untuk anda semua, para calon Buddha.
Untuk menghemat band width, maaf, tanggapan untuk beberapa orang akan saya jadikan satu. 1. Bro Chingik: "Seharusnya juga orang yang mem-posting topik ini harus secara aktif dalam diskusi itu, jangan hanya memposting dan membiarkan orang lain berargument begitu saja seperti angin berlalu." JL: Sampai saat ini saya sangat senang dan bersyukur membaca tanggapan2 yg diberikan Bro. Chingik. Banyak hal yang saya pribadi sependapat. Jadi saya tidak akan menanggapi apa yang saya anggap sudah sangat bagus. Saya hanya mau mengklarifikasi himbauan Bro. Chingik, terkutip di atas: a. Saya hanya sharing informasi yg saya "yakini" akan membawa manfaat. b. Waktu saya seringkali tidak mengijinkan untuk berinteraksi. c. Pro dan kontra dalam menanggapi suatu permasalahan adalah realitas kehidupan ini. Kita punya kebebasan untuk memilih: c1. Mensensor sehingga yg muncul hanyalah apa yg kita masing2 pribadi "anggap" baik saja. Tapi ini tidak mencerminkan kehidupan nyata. c2. Bebaskan saja. Tidak usah disensor. Masing2 orang bebas dan berhak mengungkapkan apa yg ada di benaknya dan juga bebas mengungkap sesuai gaya masing2. Bahkan gaya yg tidak umum sekalipun dan yg dirasa sangat melecehkan orang lain. Kalau begini, jelas bisa kacau balau. c3. Jalan tengah: bagaimana kita berusaha memberikan kebebasan serta dorongan pada orang lain agar berkesempatan untuk mengungkapkan apa yg ada di benaknya dgn gayanya masing2 tapi masih dalam batas2 kewajaran sehingga lebih mendekati kenyataan hidup ini. #Saya berdiri di atas landasan poin c3# Melalui media milis ini kita sama2 belajar: -Bagaimana mendengarkan pendapat orang lain secara MENDALAM. -Bagaimana menghargai pendapat orang lain yang belum tentu sesuai dengan pendapat kita. -Bagaimana mengamati gejolak batin kita yg muncul karena perbedaan tersebut. -Bagaimana menghormati diri sendiri dan orang lain sehingga ketika memberikan tanggapan tidak asal nulis. -Bagaimana belajar, berlatih, dan berbagi Buddha Dharma. -Dsbnya. 2. Himbauan Sis widiawati pada Bro. Huang Di agar menggunakan cara penyampaian yg lebih "familiar" dan tanggapan dari Bro/Sis caofurong_77 dan Sis Jusnita, lebih merupakan diskusi yg menjurus ke pribadi ketimbang mendiskusikan topik. Bagi saya, itu mencerminkan realitas kehidupan ini. Yg penting adalah apakah pihak2 yg terlibat dalam diskusi tadi dan juga kita2 ini memperoleh manfaat transformasi diri atau malah ngotot mempertontonkan "Ini lho gaya aku menulis, tidak bisa berubah." Kalau begitu, jelas ini omong kosong karena kita sama2 tahu, manusia bisa berubah. Tidak kekal. Kalau bisa menghasilkan yg lebih baik kenapa tidak? Kita semua lagi sama2 belajar. Ya, saling dukunglah. 3. Bro. Kong Ming Indo: "Sy rasa posting mengenai kelahiran dan kematian Buddha yang begitu "membumi" kurang arif bijaksana, karena yang mengakses Dharmajala bukan hanya orang buddhis yang telah commit, tapi juga umat buddha yang masih belum yakin betul terhadap buddhadharma sendiri, bahkan mungkin umat agama lain yang akan menggunakan terjemahan tulisan bhikkhu Mettanando sebagai "senjata" untuk melakukan diskriminasi dan provokasi, tanpa adanya kesempatan pembelaan di lapangan. Kalo di posting di milis yang membernya peneliti atau "by invitation only", maka sah-sah saja penulisan bhikkhu mettanando dimuat." JL: Y, itu adalah pandangan Bro. Kong Mingdo. Saya hargai pendapat itu walaupun tidak sependapat. Tanggapan saya: a. Dalam hal ini, saya sependapat dgn Bro. Surya: "yeeee, itu mah namanya maksa bang!lho bukannya upaya kausalya itu mencakup segala cara, kalo gitu termasuk cara pandang secara 'membumi' donk! itu kan termasuk upaya kausalya! kumaha sih kang kong ming???" b. Apa sih definisi dari seorang Umat Buddha? -Di KTP tercantum beragama Buddha? -Di mulut selalu terucap "Aku Buddhis lho." -Sudah ditisarana? -Setiap minggu pasti ke wihara? -Hafal dan mampu mengutip sutta/sutra? -Mampu duduk ber"meditasi" berjam2? -Sabar, toleransi, mawas diri, peduli lingkungan, ringan tangan, mampu mendengar pendapat orang lain, tidak diskriminatif, dsbnya? Ketika kita bicara tentang "Umat Buddha", definisi manakah yang kita pakai? c. Kalau "agama Buddha" dipelintir oleh oknum-oknum beragama lain yang merasa dirinya "Buddhis" ... ya bangkit dong, berilah klarifikasi. Jangan jadi jagoan kandang dan doyan cakar-cakaran doang. d. Jika kita memilih melepaskan informasi yg "aman2" saja "menurut" kita "pribadi" agar "Umat Buddha" Indonesia menjadi "kuat" dulu "keyakinannya", kog jadi mirip2 praktik cencorship kaum diktator yg berujung pada pembodohan rakyatnya. Nah kurang lebih inilah tanggapan saya. Untuk diskusi lebih lanjut, lebih baik copy paste aja...upsss...sori...copy darat aja...Peaceeee. Anumodana Let us try to be mindful Salam Perjuangan JL --- In [email protected], "bodhimanggala" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > yeeee, itu mah namanya maksa bang! > lho bukannya upaya kausalya itu mencakup segala cara, kalo gitu > termasuk cara pandang secara 'membumi' donk! > itu kan termasuk upaya kausalya! > kumaha sih kang kong ming??? > > > yg lagi boring marking students scripts > ============================ > > > > --- In [email protected], Kong Ming <[EMAIL PROTECTED]> > wrote: > > Dear sdr chingik, > > > > sy happy membaca email anda yang melihat kisah kelahiran maupun > kematian Buddha dari konteks yang lebih makro. thks for that. > > > > banyak sekali upaya kausalya yang dipraktekkan oleh para buddha > dan bodhisattva, seperti yang tertera dalam kitab mahayana. ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> What would our lives be like without music, dance, and theater? Donate or volunteer in the arts today at Network for Good! http://us.click.yahoo.com/WwRTUD/SOnJAA/i1hLAA/UlWolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya. Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh. Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian. Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami. Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
