Namo Buddhaya,

Benar sekali, pencapaian nibanna bukanlah penghapusan kamma atau 
pengampunan dosa. Seorang Buddha atau Arahat tinggal menghabiskan 
kammanya saja, sehingga tetap saja artikel Bhante Mettanando itu 
tidak menggoyahkan keyakinan atau "keimanan" Buddhisme sama sekali. 
Malah kita harus semakin menyadari keagungan jiwa Sang Buddha.

Metta,

Tan

--- In [email protected], "flyaway_withlove" 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Pada saat seseorang sudah menjadi arahat/buddha, dia sudah bebas 
dari
> hukum karma. Inilah Kebahagiaan Sejati. Jadi tindakan yang dia 
lakukan
> setelah mencapai pencerahan tidak akan menghasilkan buah karma. Dia
> tinggal menghabiskan sisa-sisa karmanya. Walaupun begitu, dia yang
> sudah mencapai pencerahan sebagian ada yang karena "love/compassion"
> berusaha menunjukkan jalan menuju pencerahan kepada umat manusia
> seperti yang dilakukan oleh Siddharta walaupun tindakan itu tidak 
akan
> menghasilkan karma. Luar biasa!!!
> 
> Nah, mengenai tragisnya kematian Siddharta ( karena diracun???? maaf
> ketinggalan kereta ), itu kan dari pandangan kita sebagai manusia 
yang
> masih dipengaruhi suka dan duka. Siddharta sendiri sudah tidak
> terpengaruhi oleh "duka", yaitu diracun. Malah ada cerita yang
> menggambarkan Siddharta senyum2 saja saat tahu dirinya diracun
> walaupun sebagian muridnya kesal "banget" dengan yang meracuninya.
> Siddharta malah pernah bilang, "Aku adalah makhluk yang paling
> berbahagia!". :) 
> 
> --- In [email protected], [EMAIL PROTECTED] wrote:
> > 
> > 
> > 
> > 
> > Dear bro JL dan rekan2 Dharmajala,
> > 
> > Saya berterima kasih atas artikel2 yang bro JL kirimkan, semua 
itu telah
> > menambah wawasan saya mengenai Buddha Dhamma.
> > Terutama mengenai Kelahiran dan Kematian Buddha yang terakhir 
diposting,
> > itu telah membuka mata saya mengenai kehidupan sang Buddha dari 
sudut
> > pandang manusia biasa (yang lahir, tua, sakit, dan mati).
> > Selama ini yang saya belum menemukan di buku2 atau artikel2 
mengenai
> > Kematian Buddha secara "membumi" (tidak ada unsur2 supranatural
> > didalamnya.)
> > 
> > Namun ada satu hal yang mengganjal di benak saya, semoga rekan2 
ada yang
> > bisa menjawabnya.
> > Seperti yang banyak kita dengar dari ceramah2 di vihara, bahwa 
orang
> yang
> > menanam karma baik akan menuai hasilnya (misal: menyelamatkan 
mahluk
> hidup
> > akan diberi umur panjang dan bahagia). Begitu pula dengan orang 
yang
> > menanam karma buruk akan menuai hasilnya. (membunuh/menyakiti 
mahluk
> hidup
> > akan menderita)
> > 
> > Dan seperti yang kita ketahui bahwa Sang Buddha merupakan seorang
> yang luar
> > biasa, beliau telah memberikan warisan Dhamma yang tak ternilai 
kepada
> > kita. Kalau dilihat dari sukum sebab akibat, tentunya beliau
> memiliki karma
> > baik yang luar biasa.
> > Namun dalam artikel Kematian Buddha mengapa kematian Buddha 
terkesan
> > tragis? (ini kesan yang saya tangkap)
> > Apakah dikehidupan sebelum terlahir sebagai Buddha Gautama beliau 
telah
> > melakukan karma buruk sehingga harus meninggal dengan cukup 
tragis?
> > Apakah ada kisah yang menceritakan perbuatan buruk Sang Buddha?
> > Atau apakah hukum karma tidak berlaku atau kondisinya tidak
> memungkinkan?
> > 
> > Mungkin ini yang ditakutkan oleh sebagian orang yang kurang setuju
> dengan
> > artikel ini, takut kalau apa yang diyakininya selama ini ternyata 
salah.
> > Dan mungkin kebanyakan umat Buddha (termasuk saya sendiri) lebih 
nyaman
> > apabila Sang Buddha diceritakan meninggal dengan tenang (tidak 
menderita
> > sakit sebelum meninggal) yang akan menambah keyakinan bahwa
> perbuatan baik
> > pasti berbuah baik. (Maksudnya Sang Buddha yang menjadi junjungan 
kita
> > karena telah menjadi guru dewa dan manusia saja bisa menderita 
demikian
> > hebat sebelum kematiannya, apalagi kita sebagai umat awam)
> > 
> > 
> > Anumodana,
> > Mulyadi
> > 
> > 
> > 
> > 
> 
>                                                                    
>        
> 
>              "pelayan_buddha"                                      
>        
> >              
<[EMAIL PROTECTED]                                     
>        
> >              
ahoo.com>                                             
>     To 
> >              Sent by:                  
[email protected]  
>        
> >              
[EMAIL PROTECTED]                                     
>     cc 
> >              
roups.com                                             
>        
> >                                                                   
> Subject 
> >                                        [Dharmajala] Re: Kelahiran
> Buddha - 
> >              04/29/2005 02:49          mitos atau 
manipulasi?      
>        
> >              
PM                                                    
>        
> 
>                                                                    
>        
> 
>                                                                    
>        
> >              Please respond 
to                                     
>        
> >              
[EMAIL PROTECTED]                                     
>        
> >                  
roups.com                                         
>        
> 
>                                                                    
>        
> 
>                                                                    
>        
> > 
> > 
> > 
> > 
> > Dear Bros n Sis,
> > 
> > Sekuntum teratai untuk anda semua, para calon Buddha.
> > 
> > Untuk menghemat band width, maaf, tanggapan untuk beberapa orang 
akan
> > saya jadikan satu.
> > 
> > 1. Bro Chingik:
> > 
> > "Seharusnya juga orang yang mem-posting topik ini harus secara 
aktif
> > dalam diskusi itu, jangan hanya memposting dan membiarkan orang 
lain
> > berargument begitu saja seperti angin berlalu."
> > 
> > JL:
> > 
> > Sampai saat ini saya sangat senang dan bersyukur membaca 
tanggapan2 yg
> > diberikan Bro. Chingik. Banyak hal yang saya pribadi sependapat. 
Jadi
> > saya tidak akan menanggapi apa yang saya anggap sudah sangat 
bagus.
> > 
> > Saya hanya mau mengklarifikasi himbauan Bro. Chingik, terkutip di 
atas:
> > 
> > a. Saya hanya sharing informasi yg saya "yakini" akan membawa 
manfaat.
> > 
> > b. Waktu saya seringkali tidak mengijinkan untuk berinteraksi.
> > 
> > c. Pro dan kontra dalam menanggapi suatu permasalahan adalah 
realitas
> > kehidupan ini. Kita punya kebebasan untuk memilih:
> > 
> > c1. Mensensor sehingga yg muncul hanyalah apa yg kita masing2 
pribadi
> > "anggap" baik saja. Tapi ini tidak mencerminkan kehidupan nyata.
> > 
> > c2. Bebaskan saja. Tidak usah disensor. Masing2 orang bebas dan 
berhak
> > mengungkapkan apa yg ada di benaknya dan juga bebas mengungkap 
sesuai
> > gaya masing2. Bahkan gaya yg tidak umum sekalipun dan yg dirasa 
sangat
> > melecehkan orang lain. Kalau begini, jelas bisa kacau balau.
> > 
> > c3. Jalan tengah: bagaimana kita berusaha memberikan kebebasan 
serta
> > dorongan pada orang lain agar berkesempatan untuk mengungkapkan 
apa yg
> > ada di benaknya dgn gayanya masing2 tapi masih dalam batas2 
kewajaran
> >   sehingga lebih mendekati kenyataan hidup ini.
> > 
> > #Saya berdiri di atas landasan poin c3#
> > 
> > 
> > Melalui media milis ini kita sama2 belajar:
> > 
> > -Bagaimana mendengarkan pendapat orang lain secara MENDALAM.
> > 
> > -Bagaimana menghargai pendapat orang lain yang belum tentu sesuai
> > dengan pendapat kita.
> > 
> > -Bagaimana mengamati gejolak batin kita yg muncul karena perbedaan
> > tersebut.
> > 
> > -Bagaimana menghormati diri sendiri dan orang lain sehingga ketika
> > memberikan tanggapan tidak asal nulis.
> > 
> > -Bagaimana belajar, berlatih, dan berbagi Buddha Dharma.
> > 
> > -Dsbnya.
> > 
> > 2. Himbauan Sis widiawati pada Bro. Huang Di agar menggunakan cara
> > penyampaian yg lebih "familiar" dan tanggapan dari Bro/Sis
> > caofurong_77 dan Sis Jusnita, lebih merupakan diskusi yg menjurus 
ke
> > pribadi ketimbang mendiskusikan topik. Bagi saya, itu mencerminkan
> > realitas kehidupan ini. Yg penting adalah apakah pihak2 yg 
terlibat
> > dalam diskusi tadi dan juga kita2 ini memperoleh manfaat 
transformasi
> > diri atau malah ngotot mempertontonkan "Ini lho gaya aku menulis,
> > tidak bisa berubah." Kalau begitu, jelas ini omong kosong karena 
kita
> > sama2 tahu, manusia bisa berubah. Tidak kekal. Kalau bisa 
menghasilkan
> > yg lebih baik kenapa tidak? Kita semua lagi sama2 belajar. Ya, 
saling
> > dukunglah.
> > 
> > 3. Bro. Kong Ming Indo:
> > 
> > "Sy rasa posting mengenai kelahiran dan kematian Buddha yang 
begitu
> > "membumi" kurang arif bijaksana, karena yang mengakses Dharmajala
> > bukan hanya orang buddhis yang telah commit, tapi juga umat buddha
> > yang masih belum yakin betul terhadap buddhadharma sendiri, bahkan
> > mungkin umat agama lain yang akan menggunakan terjemahan tulisan
> > bhikkhu Mettanando sebagai "senjata" untuk melakukan diskriminasi 
dan
> > provokasi, tanpa adanya kesempatan pembelaan di lapangan. Kalo di
> > posting di milis yang membernya peneliti atau "by invitation 
only",
> > maka sah-sah saja penulisan bhikkhu mettanando dimuat."
> > 
> > JL:
> > 
> > Y, itu adalah pandangan Bro. Kong Mingdo. Saya hargai pendapat itu
> > walaupun tidak sependapat.
> > 
> > Tanggapan saya:
> > 
> > a. Dalam hal ini, saya sependapat dgn Bro. Surya:
> > 
> > "yeeee, itu mah namanya maksa bang!lho bukannya upaya kausalya itu
> > mencakup segala cara, kalo gitu termasuk cara pandang 
secara 'membumi'
> > donk! itu kan termasuk upaya kausalya! kumaha sih kang kong 
ming???"
> > 
> > 
> > b. Apa sih definisi dari seorang Umat Buddha?
> > 
> > -Di KTP tercantum beragama Buddha?
> > -Di mulut selalu terucap "Aku Buddhis lho."
> > -Sudah ditisarana?
> > -Setiap minggu pasti ke wihara?
> > -Hafal dan mampu mengutip sutta/sutra?
> > -Mampu duduk ber"meditasi" berjam2?
> > -Sabar, toleransi, mawas diri, peduli lingkungan, ringan tangan, 
mampu
> > mendengar pendapat orang lain, tidak diskriminatif, dsbnya?
> > 
> > Ketika kita bicara tentang "Umat Buddha", definisi manakah yang 
kita
> > pakai?
> > 
> > c. Kalau "agama Buddha" dipelintir oleh oknum-oknum beragama lain 
yang
> > merasa dirinya "Buddhis" ... ya bangkit dong, berilah klarifikasi.
> > Jangan jadi jagoan kandang dan doyan cakar-cakaran doang.
> > 
> > d. Jika kita memilih melepaskan informasi yg "aman2" 
saja "menurut"
> > kita "pribadi" agar "Umat Buddha" Indonesia menjadi "kuat" dulu
> > "keyakinannya", kog jadi mirip2 praktik cencorship kaum diktator 
yg
> > berujung pada pembodohan rakyatnya.
> > 
> > Nah kurang lebih inilah tanggapan saya. Untuk diskusi lebih 
lanjut,
> > lebih baik copy paste aja...upsss...sori...copy darat 
aja...Peaceeee.
> > 
> > 
> > Anumodana
> > Let us try to be mindful
> > Salam Perjuangan
> > 
> > JL
> > 
> > 
> > 
> > --- In [email protected], "bodhimanggala"
> > <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > > yeeee, itu mah namanya maksa bang!
> > > lho bukannya upaya kausalya itu mencakup segala cara, kalo gitu
> > > termasuk cara pandang secara 'membumi' donk!
> > > itu kan termasuk upaya kausalya!
> > > kumaha sih kang kong ming???
> > >
> > >
> > > yg lagi boring marking students scripts
> > > ============================
> > >
> > >
> > >
> > > --- In [email protected], Kong Ming <[EMAIL PROTECTED]>
> > > wrote:
> > > > Dear sdr chingik,
> > > >
> > > > sy happy membaca email anda yang melihat kisah kelahiran 
maupun
> > > kematian Buddha dari konteks yang lebih makro. thks for that.
> > > >
> > > > banyak sekali upaya kausalya yang dipraktekkan oleh para 
buddha
> > > dan bodhisattva, seperti yang tertera dalam kitab mahayana.
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam
> diri saya
> > maupun di luar diri saya.
> > 
> > Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan;
> > tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan;
> > serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh.
> > Kami mengikuti jalur perhatian penuh,
> > latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam
> > agar mampu melihat hakikat segala sesuatu,
> > sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian.
> > Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi 
penuh
> welas
> > asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun 
sore
> hari,
> > membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama 
melepaskan
> > kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan
> orang tua,
> > para guru, serta sahabat-sahabat kami.
> > 
> > 
> > 
> > Yahoo! Groups Links
> >       To visit your group on the web, go to:
> >       http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/
> > 
> >       To unsubscribe from this group, send an email to:
> >       [EMAIL PROTECTED]
> > 
> >       Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of
> Service.








------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Has someone you know been affected by illness or disease?
Network for Good is THE place to support health awareness efforts!
http://us.click.yahoo.com/UwRTUD/UOnJAA/i1hLAA/UlWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya. 

Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan;
tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan;
serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh.
Kami mengikuti jalur perhatian penuh, 
latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam
agar mampu melihat hakikat segala sesuatu,
sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian.
Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, 
menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa 
akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan 
tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta 
sahabat-sahabat kami.
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke