Wijaya :

Saya sendiri juga malas. Tapi silahkan teliti, cukup sering, satu masalah
ditarik ke Klaim kemoernian Theravada. Lanjut berkisah nostal'gila' ke
Thailand. ^_^
Dikit2, ditarik ke sana. Kalau tidak ada yang menjerit, nanti ini jadi
kebiasaan dan budaya
milis kita. Dan, rekan Theravada akan merasa tidak nyaman, akhirnya out,
MENDUGA milis INI BUKAN BUAT MEREKA. Apa ini mau kita semua di sini?



Rinto Jiang :

Ah, bro Wijaya, jangan tulis yang seperti di atas lar.

Saya pikir pikiran2 cemerlang anda itu bisa membawa komunikasi yang baik dan usaha pembenahan lebih lanjut bagi aliran ataupun segelintir umat yang masih suka punya pikiran dikotomi murni tidak murni. Eh, malah dimunculkan penumbuhan ego-aliran-sentris yang lebih besar dengan menulis kalimat di atas.

Kritik klaim murni ini harus menjadi satu macam motivasi buat melakukan otokritik terhadap diri sendiri, apakah masih terjebak pemikiran sempit seperti ini? Dan, saya tidak setuju kalau ada anggapan bahwa yang suka mengkritik aliran ini pasti adalah dari aliran itu. Akh, kapan sih kita bisa belajar mengerti apa itu otokritik? Otokritik itu penting, saya lebih suka cepat2 melakukan instropeksi dengan otokritik sebelum menunggu kritik dari orang lain.

Dulu, sewaktu saya di sekolah, menerima pendidikan agama Buddha, gak pernah saya pikirin apa itu aliran ini dan itu. Keterkejutan saya muncul saat mulai bertukar pikiran dengan teman2 yang mengaku penganut salah satu aliran, yang mengklaim ini dan itu, lalu mulai suka melarang ini dan itu baik ritual, tradisi maupun pemikiran yang dianggap berbau aliran lain dengan alasan tidak sesuai dengan ajaran Sang Buddha yang "murni". Kalau sudah teringat2, pasti ada kata lain yang saya tidak tahu mengapa kata itu bisa muncul begitu saja di benak saya, kata itu adalah "fundamentalisme". Terus terang saya sangat alergi dengan sikap beragama yang seperti ini.

Mungkin saya terlalu naif yah punya pikiran "murni" adalah akar dari "fundamentalisme" lalu bisa berkembang menjadi "radikalisme". Namun fenomena ini ada di agama2 lainnya dan saya sangat berharap yang beginian tidak akan ada di dalam agama Buddha. Mudah2an.


Rinto Jiang


Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya.

Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan;
tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan;
serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh.
Kami mengikuti jalur perhatian penuh,
latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam
agar mampu melihat hakikat segala sesuatu,
sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian.
Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami.




Yahoo! Groups Links

Kirim email ke