Sebenarnya gak ada yang salah dengan buku gratis atau dijual. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Jangan melihat makna 'Menjual Dharma' secara mentah-mentah dan hanya menggunakan satu kaca mata.

Terus terang saja, saya tidak terlalu suka dengan buku gratisan. 

Orang membaca buku, bukan hanya kumpulan huruf yang dibaca, melainkan juga makna, konsep penulisan, tampilan, grafis, cover, dll. Nah, kalau kita terbiasa mencetak buku hanya untuk dibagi gratis, mungkinkah ada yang kepikiran untuk menyusunnya dengan kualitas yang baik. Sudah dicetak aja sudah syukur.

Menurut saya, itulah faktor paling utama mengapa buku-buku Buddhis di Indonesia mutunya tidak juga naik. Komunitas kepenulisan juga nggak ada. Karena kurang penghargaan bagi penulis secara intelektual, apalagi secara materi. Tentu sangat ideal banget kalau dunia buku dan penulisan bisa menjadi lahan penghidupan juga. Apanya yang salah? Dunia buku dan penulisan adalah dunia yang bisa membentuk komunitas pemikir. Saya sangat yakin, salah satu penyebab kenapa kita tidak memiliki pemikir-pemikir semisal Mudji Sutrisno, Magnis Suseno atau Cak Nur, karena kita tak pernah mengembangkan dunia penerbitan dan penulisan. Selain bagi pemikir-pemikir, orang-orang kreatif juga punya penyaluran.  

Satu hal lagi, nggak semua orang Buddhis pergi ke vihara. Mereka bisa mempelajarinya dari buku-buku Buddhis. Kalau mereka tak ke vihara, dari mana mereka bisa memperoleh buku yang dijual gratis tsb? Mau gak mau mereka harus membelinya. Belum orang non-Buddhis yang ingin mempelajari Buddhisme. Dari mana coba?

Saya punya ambisi besar di dunia media cetak Buddhis, khususnya majalah/tabloid dan buku. Saya ingin suatu hari Buddhis memiliki grup media Buddhis yang kuat, layaknya Grup Kompas-Gramedia. Jika Anda setuju dengan pendapat saya dan tertarik untuk bersama-sama menciptakan komunitas buku dan penulisan di lingkungan Buddhis, silahkan kontak saya. Ada banyak ide di kepala saya, tapi saya masih sulit untuk mewujudkannya.   


Yahoo! Mail
Stay connected, organized, and protected. Take the tour

Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya.

Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan;
tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan;
serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh.
Kami mengikuti jalur perhatian penuh,
latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam
agar mampu melihat hakikat segala sesuatu,
sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian.
Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami.




Yahoo! Groups Links

Kirim email ke