Saya rasa tidak ada salahnya dengan pola pikir Anda....
saya juga memiliki pola pikir yang sama... dan sekarang sudah mulai mau 
dijalankan....(mudah2an dalam 3 minggu ke depan saya bisa soft opening)
maaf kalau saya melintaskan pikiran kapitalasi, tapi konsep saya 
sederhana koq... saya bukan seorang Bodhisatva,Arahat, atau orang suci 
lain (walupun saya berusaha ke arah sana).saya memiliki kebutuhan hidup, 
jujur saja..untuk melewati 1 hari aja terasa sulit tanpa ada yang 
namanya uang
(siapa yang tidak butuh uang, kencing aja kudu bayar yah pas lagi di Mal 
sih .. kecuali kalau saya nempel di pohon baru gratis)
cuman konsepnya saya tidak serakah dan tidak mengeruk keuntungan 
sebesar-besarnya..
untuk menjalankan usaha, semua berdasarkan (Economic Buddhism, 
Management Buddhism) dengan ini niscaya usaha kita akan lurus2 saja
setidaknya demikianlah pandangan saya

mungkin bekal anda sama dengan saya....
saya IRI melihat betapa  tetangga (agama lain) memiliki toko buku yang 
sedemikian bagus, memiliki sumber yang sedemikian banyak, bahan 
referensi yang banyak, mudahnya mencari barang2 yang mereka butuhkan....

kalau kita ? referensi lokal sedikit....paling bisa andalkan buku2 
terjemahan itu juga kalau kita melakukan perbandingan... terlalu sedikit 
sekali (coba  perbandingkan Tripitaka/Tipitaka yang katanya hitungan 
lemari dengan Alkitab yang 1 buku)....

seberapa banyak sih  yang ngaku Buddhis mau menjadi penopang 
dana,....apakah pembabar dharma tidak perlu berpergian untuk menyebarkan 
dharma ?
apakah tiket pesawat, tiket bus, tiket kereta api itu semua gratis untuk 
penyebar dharma ?

dulu sih iya pake jalan kaki dan naik kuda.... kuda makannya rumput 
minumnya air,...Kuda sekarang kudu minum bensin (malah udah ngak di 
produksi lagi)

menurut saya, dalam melihat segala sesuatu kita tidak boleh terlalu 
EXTRIM, terlalu KAKU....

kalau masalah harus membabarkan dharma secara gratis...wow Karania bisa 
siap2 tutup nih (sorry Ko Budi), bursa-bursa di setiap vihara kudu siap 
tutup nih (gratisan sih), sebagai efek dominonya buku dharma akan hilang 
drastis... karena hanya sekelompok orang yang mencetaknya (punya 
pendana), seberapa banyak sih dana yang dimiliki sehingga bisa 
disebarkan ke seluruh Indonesia (karena umat Buddha bukan hanya berada 
di Sumatera dan Jawa)

akhirnya akan dilakukan sistem pembayaran lain :
buku di sisi kiri, kotak dana di sisi kanan (dengan tulisan, "Buku ini 
dibagikan gratis, tapi dana Anda sangat kami butuhkan untuk kelangsungan 
pencetakan buku")

mengenai PS Anda,..
hmm tolong koreksi ya kalau saya salah...
katanya Dharma ada di mana-mana ..... setiap tarikan nafas kita 
berisikan dharma..berat kali ya...
menurut saya, buku pelajaran juga bisa menjadi buku dharma koq .....
batu saja bisa jadi dharma bagi kita ... semuanya tergantung bagaimana 
cara kita memanfaatkan dan memandang segala sesuatu....
Kita suci (Tripitaka/Tipitaka) bisa jadi sampah bila kita tidak tahu 
cara memanfaatkannya, dan bisa jadi sesuatu yang WAH bila kita tahu cara 
memanfaatkannya
buku dharma bukan hanya yang berisi "banyaklah berbuat kebajikan, 
hindari kejahatan"
buku dharma bisa juga berupa "1+1=2"
yah kembali lagi tergantung cara kita memandang,dan memanfaatkannya

kalau sis Silvia berniat bertukar pikiran dengan saya yang sesat ini...
silahkan saja

PS:
Ko JL, kalau ada kopi darat untuk masalah ini...kasih tahu ya...saya 
berusaha menyempatkan diri ke JKT untuk membenturkan kepala saya 
(diskusi gitu loh)
supaya sadar kalau saya memiliki pandangan yang salah mengenai hal ini  :-)
Metta,

yamin

meihoa lim wrote:

> Dear Sutar & Jimmy,
>  
> Kalau diizinkan catatlah saya untuk ikut urun rembuk semampu saya 
> dalam issue yang satu ini. Saya sungguh terkesan dengan apa yang 
> ditulis oleh anda Sutar, karena merefleksikan pikiran saya yang 
> pencinta buku ini dan sebagai seseorang yang 'haus' akan segala 
> sesuatu yang berbau 'Buddhis', (dikarenakan saya ini sangat awam 
> sehubungan dengan Ajaran Agama Buddha, - baru melek setelah usia saya 
> menjelang setengah abad).
> Berbekal pada:
>
>    1. pengalaman saya hunting buku-buku ini di toko buku 
>    2. keirian saya bila melihat begitu banyaknya tersedia buku-buku
>       agama lain di toko-toko buku
>    3. adanya toko buku khusus untuk agama tertentu
>    4. kenyataan bahwa kita tidak selalu dapat bergantung pada buku
>       'gratisan' karena alasan-alasan seperti yang anda sampaikan,
>       antara lain: "Orang membaca buku, bukan hanya kumpulan huruf
>       yang dibaca, melainkan juga makna, konsep penulisan, tampilan,
>       grafis, cover, dll."
>
> sebenarnya saya punya ide untuk membuka sebuah Toko Buku Buddhis dan 
> tentunya tidak untuk non profit, melainkan dengan profit allocation 
> for 'SEB' projects. Sementara hal ini saya godok dipikiran saya 
> (mencari lokasi yang cocok, konsep toko, selain buku apa saya yang 
> dapat dijual, masalah pasokan buku: lokal, impor, dalam bahasa asli, 
> diterjemahkan, mencari penulis dan kemudian menerbitkan sendiri, atau 
> menjadi retailer murni dari penerbit buddhis seperti Karaniya, dll) 
>  muncul kontroversi mengenai permasalahan menjual atau membabarkan 
> dharma ini. Saya yang awam akan hal ini menjadi sedikit terganggu dan 
> merasa agak dimalukan oleh ide saya ini. Sambil menunggu respons 
> dari anggota milis Dharmajala saya juga jadi memikirkan kembali ide 
> saya untuk terjun ke dunia pendidikan buddhis yang tentunya bukan not 
> for profit, melainkan kembali profit allocation seperti di atas.
>
> Ok, jadi tolong catat ya, saya ikutan ya.
>
> Thanks
>
> Silvia
>
> PS:
>
> Saya pernah mempermasalahkan pencetakan buku Dharma gratisan, karena 
> melihat kenyataan bahwa sering sekali buku-buku itu diambil untuk 
> kemudian disia-siakan, atau tersia-sia divihara-vihara. Sebagai 
> gantinya menurut saya kita bisa mendanakan buku pelajaran untuk 
> anak-anak sekolah. Hal ini saya tanyakan  kepada seseorang yang 
> menurut saya memahami ajaran agama Buddha. Menurut beliau, ini hal 
> yang berbeda, berdana dengan mencetak buku Dharma bobotnya berbeda 
> dengan dana buku sekolah. Hal ini masih mengganggu pikiran saya sampai 
> saat ini. Singkatnya: I am not happy with this answer.
>
>


-- 
No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Anti-Virus.
Version: 7.0.322 / Virus Database: 266.11.13 - Release Date: 5/19/2005





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Would you Help a Child in need?
It is easier than you think.
Click Here to meet a Child you can help.
http://us.click.yahoo.com/sTR6_D/I_qJAA/i1hLAA/UlWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya. 

Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan;
tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan;
serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh.
Kami mengikuti jalur perhatian penuh, 
latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam
agar mampu melihat hakikat segala sesuatu,
sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian.
Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, 
menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa 
akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan 
tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta 
sahabat-sahabat kami.
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke