Dear Sutar & Jimmy,
 
Kalau diizinkan catatlah saya untuk ikut urun rembuk semampu saya dalam issue yang satu ini. Saya sungguh terkesan dengan apa yang ditulis oleh anda Sutar, karena merefleksikan pikiran saya yang pencinta buku ini dan sebagai seseorang yang 'haus' akan segala sesuatu yang berbau 'Buddhis', (dikarenakan saya ini sangat awam sehubungan dengan Ajaran Agama Buddha, - baru melek setelah usia saya menjelang setengah abad).
Berbekal pada:
  1. pengalaman saya hunting buku-buku ini di toko buku 
  2. keirian saya bila melihat begitu banyaknya tersedia buku-buku agama lain di toko-toko buku
  3. adanya toko buku khusus untuk agama tertentu
  4. kenyataan bahwa kita tidak selalu dapat bergantung pada buku 'gratisan' karena alasan-alasan seperti yang anda sampaikan, antara lain: "Orang membaca buku, bukan hanya kumpulan huruf yang dibaca, melainkan juga makna, konsep penulisan, tampilan, grafis, cover, dll."

sebenarnya saya punya ide untuk membuka sebuah Toko Buku Buddhis dan tentunya tidak untuk non profit, melainkan dengan profit allocation for 'SEB' projects. Sementara hal ini saya godok dipikiran saya (mencari lokasi yang cocok, konsep toko, selain buku apa saya yang dapat dijual, masalah pasokan buku: lokal, impor, dalam bahasa asli, diterjemahkan, mencari penulis dan kemudian menerbitkan sendiri, atau menjadi retailer murni dari penerbit buddhis seperti Karaniya, dll)  muncul kontroversi mengenai permasalahan menjual atau membabarkan dharma ini. Saya yang awam akan hal ini menjadi sedikit terganggu dan merasa agak dimalukan oleh ide saya ini. Sambil menunggu respons dari anggota milis Dharmajala saya juga jadi memikirkan kembali ide saya untuk terjun ke dunia pendidikan buddhis yang tentunya bukan not for profit, melainkan kembali profit allocation seperti di atas.

Ok, jadi tolong catat ya, saya ikutan ya.

Thanks

Silvia

PS:

Saya pernah mempermasalahkan pencetakan buku Dharma gratisan, karena melihat kenyataan bahwa sering sekali buku-buku itu diambil untuk kemudian disia-siakan, atau tersia-sia divihara-vihara. Sebagai gantinya menurut saya kita bisa mendanakan buku pelajaran untuk anak-anak sekolah. Hal ini saya tanyakan  kepada seseorang yang menurut saya memahami ajaran agama Buddha. Menurut beliau, ini hal yang berbeda, berdana dengan mencetak buku Dharma bobotnya berbeda dengan dana buku sekolah. Hal ini masih mengganggu pikiran saya sampai saat ini. Singkatnya: I am not happy with this answer.



pelayan_buddha <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Dear Bro Sutar,

Sekuntum teratai untuk anda, seorang calon Buddha.

Senang sekali membaca tulisan anda. Saya tambahkan satu faktor lagi
kenapa sementara ini penulis Buddhis masih jarang. Saya cukup familiar yang sudah memiliki

dengan faktor ini yaitu: ada sementara orangkompetensi untuk menulis buku Buddhis tapi  menunda sementara karena
ada hal lain yang lebih fundamental, esensial, dan krusial untuk
dikerjakan untuk perkembangan komunitas Buddhis secara menyeluruh.

Saya sangat mendukung ambisi Bro dan siap untuk mendukung semampu
saya. Kapan Bro sempat silahkan hubungi saya. Saya tinggal di Jakarta.
Jika Bro tinggal di Jakarta, mari atur waktu untuk copy darat. HP saya
0816-4818-341. Saya tulis di milis dengan harapan ada bro or sis lain
yang tergerak untuk bergabung.

Sebentar lagi akan kami atur Gathering Dharmajala.

Selamat hari Waisak.

Semoga kita semua semakin maju dalam praktik Dharma.

Anumodana
Let us try to be mindful
Salam Perjuangan

JL



--- In [email protected], sutar soemithra
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Sebenarnya gak ada yang salah dengan buku gratis atau dijual.
Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Jangan melihat makna
'Menjual Dharma' secara mentah-mentah dan hanya menggunakan satu kaca
mata.
>
> Terus terang saja, saya tidak terlalu suka dengan buku gratisan.
>
> Orang membaca buku, bukan hanya kumpulan huruf yang dibaca,
melainkan juga makna, konsep penulisan, tampilan, grafis, cover, dll.
Nah, kalau kita terbiasa mencetak buku hanya untuk dibagi gratis,
mungkinkah ada yang kepikiran untuk menyusunnya dengan kualitas yang
baik. Sudah dicetak aja sudah syukur.
>
> Menurut saya, itulah faktor paling utama mengapa buku-buku Buddhis
di Indonesia mutunya tidak juga naik. Komunitas kepenulisan juga nggak
ada. Karena kurang penghargaan bagi penulis secara intelektual,
apalagi secara materi. Tentu sangat ideal banget kalau dunia buku dan
penulisan bisa menjadi lahan penghidupan juga. Apanya yang salah?
Dunia buku dan penulisan adalah dunia yang bisa membentuk komunitas
pemikir. Saya sangat yakin, salah satu penyebab kenapa kita tidak
memiliki pemikir-pemikir semisal Mudji Sutrisno, Magnis Suseno atau
Cak Nur, karena kita tak pernah mengembangkan dunia penerbitan dan
penulisan. Selain bagi pemikir-pemikir, orang-orang kreatif juga punya
penyaluran. 
>
> Satu hal lagi, nggak semua orang Buddhis pergi ke vihara. Mereka
bisa mempelajarinya dari buku-buku Buddhis. Kalau mereka tak ke
vihara, dari mana mereka bisa memperoleh buku yang dijual gratis tsb?
Mau gak mau mereka harus membelinya. Belum orang non-Buddhis yang
ingin mempelajari Buddhisme. Dari mana coba?
>
> Saya punya ambisi besar di dunia media cetak Buddhis, khususnya
majalah/tabloid dan buku. Saya ingin suatu hari Buddhis memiliki grup
media Buddhis yang kuat, layaknya Grup Kompas-Gramedia. Jika Anda
setuju dengan pendapat saya dan tertarik untuk bersama-sama
menciptakan komunitas buku dan penulisan di lingkungan Buddhis,
silahkan kontak saya. Ada banyak ide di kepala saya, tapi saya masih
sulit untuk mewujudkannya.  
>
>            
> ---------------------------------
> Yahoo! Mail
>  Stay connected, organized, and protected. Take the tour




Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya.

Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan;
tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan;
serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh.
Kami mengikuti jalur perhatian penuh,
latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam
agar mampu melihat hakikat segala sesuatu,
sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian.
Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami.



Discover Yahoo!
Get on-the-go sports scores, stock quotes, news & more. Check it out!

Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya.

Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan;
tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan;
serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh.
Kami mengikuti jalur perhatian penuh,
latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam
agar mampu melihat hakikat segala sesuatu,
sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian.
Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami.




Yahoo! Groups Links

Kirim email ke