permisi numpang lewat..., agak beda tapi saya rasa relevan.
 
Rasa takut itu bisa sangat berguna.
Dalam Agama Buddha sendiri, yang alirannya menekankan pada ritual dan mekanisme karma, seperti contohnya diuraikan dalam kitab sebab-akibat yang kadang dijumpai di kelenteng / vihara, manusia diingatkan untuk tidak berpikir / sadar, tapi melalui ancaman akan karma buruk, bisa mencegah orang tsb untuk melakukan hal bodoh. Di gereja misalnya, umat diindoktrinasi bahwa karena itu rumah Tuhan, maka umat berpakaian dengan sopan dan tertib (tidak berisik).  Umat tidak boleh berpikir jika benar itu rumah Tuhan, mengapa ada yang dibiarkan kebanjiran oleh Tuhannya ? Rapi dan tertib, ini merupakan manfaat yang begitu bajik dari suatu metoda yang mendasarkan bahwa "manusia itu lemah, mesti ditakut-takutin".
 
 
Jalur yang menekankan kesadaran dan melihat ketakutan sebagai hal yang negatif, bisa sangat tidak berguna dan berbahaya.
Ajaran Buddhisme memang mengolah kesadaran bathin umatnya.
 
Tapi di vihara-2 utama di Jakarta, saya sering menjumpai umat berpakaian lancai (lancai tidak sama dengan rapi & sederhana): yang cowok pakai kaos seadanya (bukan kemeja rapi dan sederhana), yang cewek bisa pakai celana pendek sekali, meskipun itu ibadah sore/malam.  Saya tidak munafik, suka-2 saja lihat paha cewek apalagi kalau mulus. Tapi kalau saya ke vihara, saya inginkan suasana rapi dan tertib, kalau mau lihat paha mulus saya mendingan ke nightclub.  Silahkan saja coba ke vihara-2 utama di JKT (Lodan, Ekayana, Sunter) pada jam kebaktian umum.  Tidak jarang disekitar saya/Anda, umat sibuk ngobrol sendiri selama kotbah kebaktian, paling waktu meditasi diam ("langsung jadi arahat"), dan waktu baca parita, suaranya keras dan tertib. Silahkan perhatikan mereka yang sibuk berbicara, dan Anda akan merasakan sendiri bahwa yang sibuk berbicara itulah yang (seolah-olah) BENAR !  Meskipun sudah diperingati oleh pembicara kebaktian, masih saja umat-2 ini sibuk ngobrol, bahkan kalau perlu makin seru....... HP juga...haiya....kangtao masuk lah........kebaktian?? Ada orang kotbah di depan ? Ah, ini kan bukan rumah Tuhan....ini rumah untuk tingkatkan kesadaran batin lah.......... KESADARAN......??? Haiya......
 
Seringkali saya mengalami ini, dan seringkali saya sangat tergoda untuk melihat orang-2 lancai dan berisik begini agar masuk gereja saja, sebab disana mereka akan bisa malu, sedangkan di vihara susah sekali untuk malu. Coba saja, eksperimen ke gereja utama di kota Anda (dan bandingkan dengan situasi waktu kotbah, di vihara utama di kota Anda). Coba di gereja, Anda duduk dan terus ngobrol sendiri, kalau ngga malu, sebab lingkungan umatnya tertib dan rapi. Mereka bisa saja tertutup pikirannya, tapi pilih mana : "sadar" tapi jadi kampungan (sambil merasa sadar bahwa kampungan begini itu betul adanya), atau "takut" (tidak sadar), tapi jadi membentuk masyarakat yang rapi dan tertib ketika kotbah berlangsung ?
 
Saya tidak capai menuliskan hal yang sama ini lagi dan lagi, sebab hal begini dari dua tahun lalu sampai sekarang, ternyata TIDAK BERUBAH ....ajaib bukan ? .... Artinya untuk membuat rapi dan tertib aja -- ini ngga usah ngomong metta, mudita, panna -- itu lebih efektif kalau pakai efek "ancaman"......: RIBUT KETIKA KEBAKTIAN ....ALAM PETA AKIBATNYA.......
 
Sampai saat ini saya masih malu ajak umat gereja (lagi) ke vihara, sebab perbandingannya seperti ini, jelas menimbulkan kesan negatif, bukannya simpatik, terhadap Buddhisme. Saya pernah coba, dan malu. Saya coba lagi, saya malu lagi. Jika saya coba lagi, saya kuatir jangan-2 saya malah mempromosikan kejelekan sikap umat vihara daripada demi memajukan Buddhisme itu sendiri.
 
Semoga umat Buddhist makin dihormati secara konkrit, melalui sikpanya yang rapi dan tertib selama kebaktian, oleh umat beragama lain.
Bukan di teori, tapi praktek, spt di contoh di atas.
 
PS.
 
 
 
----- Original Message -----
From: Wijaya
Sent: Tuesday, June 14, 2005 11:37 AM
Subject: Re: [Dharmajala] Re: Mengapa Berbuat Baik ? * Bro Wijaya *

Namo Buddhaya,

Pemikiran saya memakai asumsi:
"Tuhan menguji Nabi Ibrahim agar mengorbankan anaknya sendiri. Ditaati
dengan iklas oleh Nabi Ibrahim, tapi ketika hendak dilaksanakan, Tuhan
kemudian mengubah perintahnya, agar korban itu, anaknya, diganti dengan
domba saja."


Gunawan Kurnia
> Tan Jan Sui fwd by Wijaya :
> Dalam pengertian Agama Buddha, rasa takut, walau dalam bentuk apapun juga,
> tetap merupakan suatu penghalang yang membuat bathin manusia menjadi
> tertekan dan tertindas sehingga tidak dapat berpikir dengan pandangan
luas,
> bebas dan terbuka.
> Sungguh menyedihkan, bila agama yang seharusnya bisa membawa perasaan
tenang
> malah mempertebal rasa takut yang tidak beralasan dari para pengikutnya.
>
> GK :
> Bro Wijaya,
> Kalo begitu, apakah statement di atas nggak kontradiktif dengan 'ottapa' ?
--------------
Wijaya:

Tidak.
Yang satu takut pada HUKUM KARMA, yang satunya takut pada
PERINTAH--Penguasa, Tuhan.

Di konsep Hukum Karma, tak kenal perintah Sang Penguasa. Jadi, umatnya bisa
berpikir merdeka. Bisa meninjau perintah siapapun atau tindakan yang AKAN
diambil dari segi keadilan, kemanusiaan, kasih, bermanfaat atau merugikan
pihak lain. dlsb.

Di konsep DOSA--agama Samawi--, ada PERINTAH, yang jadi penilaian adalah:
TAAT atau TIDAK TAAT. Dengan penilaian demikian, maka peninjauan umatnya
pada segi keadilan, kemanusiaan, kasih atas satu perintah menjadi sesuatu
yang mubasir. Bila tidak mau dinilai sebagai bentuk KERAGUAN, Iman yang ngga
bulat.

Dengan melihat sejarah agama2, saya pikir konsep KETAATAN itu membuka
peluang pada pemimpin agama Samawi untuk mengarahkan umatnya, bahkan sampai
pada perang, misalnya. Karena pimpinan agama bisa saja menyatakan satu
tindakan adalah perintah Tuhan(ayat kan bisa dimaknai bermacam-macam) dan
Umat tidak punya pilihan lain, selain TAAT. Akibatnya, ketika satu umat
menyerang, menghabisi kelompok lain(bahkan yang seagama tapi beda sekte
saja), umat tersebut justru berpikir tindakannya itu adalah BAIK SEKALI,
karena TAAT pada perintah Tuhan.

Beda dengan Buddhisme, umatnya tidak gampang diarahkan pimpinan agamanya ke
arah yang bertentangan dengan konsep karma. Karena hukum karma adalah fixed.
Membunuh nyamuk aja buruk, bagaimana pimpinan agama Buddha bisa mengarahkan
Umat Buddha, agar umatnya mau menghabisi kelompok lain tapi si Umat berpikir
itu adalah karma baik? Sulit, kan?


GK:
> Tan Jan Sui fwd by Wijaya :
> Mengapa berbuat baik ?
> Kami berbuat baik karena kami sadar, tahu dan mengerti dengan jelas akan
> manfaat yang dapat diperoleh dari pelaksanaan perbuatan itu.
>
> Komentar SCh ( seorang rekan ) :
> Manakah yang terbaik di antara pilihan berikut :
> 1. Berbuat baik karena diperintah ( oleh yang lebih kuasa ).
> 2. Berbuat baik karena takut atas hukuman.
> 3. Berbuat baik karena takut atas akibat kejahatan.
> 4. Berbuat baik karena tau hasilnya juga kebaikan ( manfaat ).
>
> GK :
> Ada pilihan lain, yang gampang diomongin tetapi susah dilakonin, yaitu :
> 5. Berbuat baik demi perbuatan baik itu sendiri.
> Maksudnya, kalo memang mau berbuat baik mah, just do it aja lah, then
forget
> it.
> Kaisar-heng pernah kasih contoh yang menurut saya tepat sekali, kurang
> lebihnya seperti di bawah ini.
>
> Analoginya kira-kira kaya' orang b***k gitu lah.
> Orang yang lagi boker itu dianalogikan sebagai orang yang lagi berbuat
baik,
> bersih-bersih kotoran, gitu lho.
>
> Kalo kita lagi b***k itu 'kan gara-gara apa yang kita makan.
> Tapi kita nggak mikirin itu t***i tadinya sayur lodeh, nasi goreng, ayam
> bakar, cap cay atau puyonghay.
>
> Habis b***k, kita juga nggak mikirin itu t***i lari ke mana.
> Yang penting, habis b***k mah jangan lupa c***k dan cuci tangan.
> Huehuehue ... ^_^
----------
Wijaya:
Pilihan 2 dan 3, nggak logis.
Pilihan ke 5 adalah pilihan mereka yang egonya sudah tipis atau habis.

Maksud kotbah kaisar Huang tersebut bukan ke arah ini. Beda konteks.
Kotbah kaisar itu tentang: kalau sudah berdana atau berbuat baik pada orang
lain, jangan diungkit-ungkit lagi. Nggak perlu disebar luaskan, ataupun
disesali. Karena kalau setelah diingat, lalu timbul perasaan MENYESAL
[Sialan, dikasih angpao bukanya buat beliin obat bininya, malah dibeliin
arak/togel!, misalnya.], maka penyesalan(dosa dalam istilah Buddhis) ini
adalah termasuk karma buruk.

Tapi, ada Bhante jelasin, perbuatan baik kita, patut diingat, dengan maksud
ketika mengingat kebaikan kita, timbul rasa bahagia, ini menjadi  pendorong
agar kita mengulang perbuatan baik itu lagi.

Jadi masalahnya bukan DILUPAKAN atau PATUT DIINGAT, tapi tujuan kita
melupakan dan tujuan kita mengingat kebaikan yang telah kita lakukan.

Salam metta
Wijaya

Send instant messages to your online friends http://asia.messenger.yahoo.com




** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




Yahoo! Groups Links

Kirim email ke