Dari: "dh4rm4duta" <[EMAIL PROTECTED]>

Namo Buddhaya,

Pengalaman saya semasa masih menganut agama K, memperlihatkan bahwa
keinginan atau niat untuk mendirikan sekolah selalu didukung oleh
rekan-rekan seagama mereka. Saya punya teman yang dahulu berniat
untuk mendirikan TK Kristen dan kini berdirilah TK Tritunggal yang
satu bangunan dengan Gereja GKI Stadion Semarang. Mereka juga tidak
ragu-ragu untuk memfasilitasi hal itu.
Yang aneh adalah, saya melihat ada "benih-benih" kesinisan terhadap
gagasan saya itu di milis ini dan juga adanya penyelewengan terhadap
topik yang dibicarakan, padahal itu baru sebatas wacana dan mereka
juga belum tentu dapat menyumbangkan fasilitas apapun terhadap
pendirian sekolah Buddhis itu.

* Beberapa orang mengajukan pertanyaan bodoh mengenai apakah sekolah
Buddhis benar-benar perlu (padahal sudah terang2an benar-benar
perlu).Ibaratnya menanyakan: Apakah orang perlu makan?
*Beberapa orang mengajukan argumen bahwa ke"iman"an lah yang
sesungguhnya diperlukan.
*Beberapa orang mengajukan sahih dan tidak sahihnya metodologi
penelitian.

Dan masih banyak argumen atau pertanyaan tidak masuk akal lainnya.
Makanya komunitas Buddhis itu adalah komunitas aneh bin ajaib. Bila
kita tidak saling mendukung dan tidak sanggup menghormati gagasan
orang lain, meskipun hanya sebagas OMDO, maka hati saya akan semakin
bertambah miris. Penurunan buddhisme tinggal hitung waktu lagi.

***
Re: Hati yang Miris: (untuk Bp. Hudoyo: tanggapan lebih serius)

Saya masih akan memberikan tanggapan yang serius, meskipun sebenarnya
saya malas menanggapinya, karena telah keluar dari pokok permasalahan
yang ada. Masalah telah jelas, yakni bahwa kita KEKURANGAN SEKOLAH dan
tidak membicarakan masalah sah dan tidaknya suatu metodologi penelitian.
Saya kira tanggapan Bp. Hudoyo itu telah berusaha mengalihkan dari
permasalahan sebenarnya menuju ke masalah ke"iman"an. Tetapi tentu saja
timbul pertanyaan darimana ke"iman"an itu tumbuh? Ada yang mengusulkan
bahwa ke"iman"an tumbuh dari orang tua. Hal ini tentu saja menimbulkan
berbagai pertanyaan. Bila orang tua terlalu sibuk, maka siapakah yang
akan bertanggung jawab akan hal itu. Selain itu juga belum tentu orang
tua memiliki pengetahuan Dhamma yang cukup. Inilah masalahnya. Justru
ke"iman"an itu bisa ditumbuhkan di sekolah. Bersekolahnya anak Buddhis
dari SD-Universitas di sekolah Kristen jelas susah menumbuhkan
ke"iman"an mereka. Apalagi dengan banyaknya umat B yang beranggapan
bahwa semua agama sama saja (saya sudah seringkali tunjukkan bahwa
pendapat ini nggak bener), maka tentu saja ini makin mengakibatkan
ke"iman"an Buddhis sulit ditumbuhkan.
Bila orang tua harus bekerja mencari nafkah maka kita tidak dapat
memaksa mereka untuk mengajar anaknya agama Buddha.
Sekolah Buddhis tetap merupakan sesuatu yang mutlak perlu. Kita tidak
mungkin terus menerus "menumpang" di sekolah orang lain bukan? Kecuali,
kita adalah orang yang tidak tahu malu. Bila kita memang tidak mampu
maka apa boleh buat? Tetapi saya justru melihat bahwa sesungguhnya kita
memiliki kekuatan potensial yang sayang sekali diarahkan ke arah yang
salah. Bila kita memang mampu, mengapa tidak bikin sekolah Buddhis yang
bagus (bukan dalam artian mewah atau terkesan "jor-jor"an).
Begitu hasil pemikiran saya. Diterima juga silakan tidak diterima juga
silakan.

***
Teman saya yang sama-sama alumni Jerman, adalah cucu atau keturunan
salah seorang shinse dan ahli kungfu ternama di Jakarta. Kalau saya
sebut namanya, pasti rekan-rekan yang berdomisili di Jakarta langsung
mengetahui nama kakeknya.
Dia pernah cerita sama saya, kalau ayah dan ibunya adalah orang
Buddhis yang sering ke tempat Sukong. Waktu itu ia dan saudara2nya
malah diharuskan pergi ke gereja, karena merasa malu bila anak2nya ke
vihara. Mereka merasa rendah diri bila anak2nya masuk ke vihara,
karena terkesan bahwa vihara itu ketinggalan zaman atau kuno. Sebagai
sesama orang-orang berduit, maka mereka ingin agar anak2nya masuk ke
gereja mengikuti trend saat itu. Hingga akhirnya jadilah keluarga
mereka keluarga K.
Sayang sekali saat itu saya hanya Buddhis, jadi hanya bisa manggut-
manggut saja. Tetapi ini adalah hal nyata yang terjadi pada masyarakat
Buddhis kita. Marilah kita kembangkan rasa bangga sebagai umat Buddha.

Metta,
Tan
==============================
HUDOYO:

>Yang aneh adalah, saya melihat ada "benih-benih" kesinisan terhadap
>gagasan saya itu di milis ini dan juga adanya penyelewengan terhadap
>topik yang dibicarakan, padahal itu baru sebatas wacana dan mereka
>juga belum tentu dapat menyumbangkan fasilitas apapun terhadap
>pendirian sekolah Buddhis itu.
-----
Kalau ada orang menyanggah opini Anda, itu Anda anggap sebagai 'kesinisan',
padahal tidak satu pun kalimat yang digunakan mencerminkan sikap sinis.
Anda mencampuradukkan 'ketidaksetujuan' dengan 'kesinisan'. Apakah supaya
"tidak sinis" bagi Anda, orang lain harus setuju saja dengan semua yang
Anda katakan?


>*Beberapa orang mengajukan sahih dan tidak sahihnya metodologi penelitian.
-----
Sayalah satu-satunya orang yang mempertanyakan kesahihan metodologi
"survei" Rekan Tan. Soalnya karena Rekan Tan menulis seolah-olah itu
laporan sebuah "survei" yang benar-benar "ilmiah", lengkap dengan
"Pendahuluan", "Metodologi Survei", "Hasil Survei", "Diskusi" dan
"Kesimpulan". Tentu ini dengan maksud tersembunyi agar pembaca terkesan dan
menerima saja apa yang Anda paparkan sebagai "kebenaran ilmiah" karena
sudah dilakukan "survei" (nama keren) mengenai hal itu.

Saya menunjukkan bahwa "survei" itu tidak representatif, agar tidak
menimbulkan kesan bahwa kesimpulannya adalah suatu kebenaran yang valid,
yang bisa menyesatkan orang di dalam mengkaji apakah masalah utama yang
menyebabkan banyaknya "umat Buddhis" pindah ke agama Kristen. Anda
menonjolkan "kurangnya sekolah Buddhis" sebagai faktor utama tanpa mau
mengkaji faktor-faktor lainnya. Kalau ada orang yang menunjukkan
faktor-faktor lain itu, serta merta Anda anggap "sinis".


>Dan masih banyak argumen atau pertanyaan tidak masuk akal LAINNYA. (huruf
>besar dari saya)
-----
Terserah saja kalau Anda mau menilai tulisan saya sebagai salah satu dari
argumen "tidak masuk akal".

***

Tentang pendapat saya terhadap perlu-tidaknya mendirikan sekolah Buddhis,
sudah saya tulis dalam posting terdahulu:
"Tentu saja mendirikan sekolah Buddhis tetap perlu, sejauh kemampuan umat
Buddha sendiri memungkinkan. Tetapi hal itu sering kali tidak mudah dan
amat besar biayanya."

Pendapat ini tampil pula dalam diskusi saya dengan teman-teman dari BEC
(Buddhist Education Center) kemarin di Surabaya. Mereka tengah berusaha
mendirikan sekolah Buddhis. Sekarang baru mulai dengan TK, anak didiknya
pun baru sedikit. Untuk kelak berkembang menjadi SD, apalagi SMP dan SMU,
tidak gampang dan tidak murah. Saya salut dengan usaha mereka.

***

>Saya kira tanggapan Bp. Hudoyo itu telah berusaha mengalihkan dari
>permasalahan sebenarnya menuju ke masalah ke"iman"an.
-----
MEMANG saya berusaha "mengalihkan" permasalahan yang Anda angkat, karena
saya berpendapat bahwa masalah sekolah Buddhis buikan masalah pokok.
Masalah pokoknya adalah lemahnya iman banyak umat Buddhis yang tidak pernah
datang ke kebaktian.


>Ada yang mengusulkan bahwa ke"iman"an tumbuh dari orang tua. ... Bila
>orang tua terlalu sibuk, maka siapakah yang akan bertanggung jawab akan
>hal itu. Selain itu juga belum tentu orang tua memiliki pengetahuan Dhamma
>yang cukup. ... Bila orang tua harus bekerja mencari nafkah maka kita
>tidak dapat memaksa mereka untuk mengajar anaknya agama Buddha.
-----
Orang tualah yang paling bertanggung jawab atas perkembangan keimanan
anak-anak mereka. Tidak ada alasan apa pun untuk mengabaikan pendidikan
keagamaan anak-anak mereka. Apalagi kalau alasannya cuma "sibuk cari uang".
Kalau anak pindah ke Agama Kristen, yang pertama dan terutama harus
disalahkan--kalau mau menyalahkan--adalah orang tuanya.

Memang benar, banyak orang tua Buddhis tidak memiliki pengetahuan Dharma
sama sekali. Justru itulah MASALAH POKOK-nya, bukan kurangnya sekolah
Buddhis. Jadi, tantangannya adalah: bagaimana meningkatkan pengetahuan dan
keimanan orang tua terhadap Buddha Dharma, sehingga pada gilirannya
pengetahuan dan keimanan itu akan menurun kepada anak-anak mereka. Pada
umumnya, keimanan anak (sebelum anak itu dewasa) mencerminkan keimanan
orangtuanya.


>Apalagi dengan banyaknya umat B yang beranggapan bahwa semua agama sama
>saja (saya sudah seringkali tunjukkan bahwa pendapat ini nggak bener),
>maka tentu saja ini makin mengakibatkan ke"iman"an Buddhis sulit
ditumbuhkan.
-----
"Nggak bener" itu sudut pandang Anda. Menurut sudut pandang saya, semua
agama dapat membimbing umatnya menuju kebaikan, dan akhirnya pembebasan;
jadi dalam pengertian ini, semua agama "sama".

Keimanan terhadap Buddha Dharma TIDAK PERLU dilandasi anggapan bahwa hanya
Buddha Dharma yang bisa mengantarkan orang pada kebaikan dan pembebasan.
Kedua hal itu sama sekali tidak berkaitan.

***
Berikut ini saya sampaikan kepada seluruh umat Buddha di forum ini,
langkah-langkah apa yang bisa kita perbuat untuk memperkuat iman umat
Buddha--khususnya anak-anak dan para remaja--terhadap Buddha Dharma:

1. WADAH:

1.1 Perbanyak sekolah-sekolah minggu Buddhis di semua vihara, dan kalau
bisa di semua kelenteng.

1.2 Perbanyak organisasi muda-mudi Buddhis di semua vihara, dan kalau bisa
di semua kelenteng.

1.3 Mulai adakan kebaktian-kebaktian mingguan di kelenteng-kelenteng yang
belum menyelenggarakannya.

2. MUTU:

2.1 Tingkatkan kurikulum pendidikan agama Buddha di semua sekolah minggu
Buddhis yang ada, dan di semua organisasi muda-mudi Buddhis yang ada.
Belajarlah dari sekolah minggu Kristen, dan organisasi muda-mudi Kristen.

2.2 Tingkatkan pengetahuan dan ketrampilan para guru sekolah minggu Buddhis
yang ada, dan para aktivis organisasi muda-mudi Buddhis yang ada, dengan:

2.2.1 Terbitkan buku-buku panduan praktis (manual) pengajaran agama Buddha
di sekolah minggu Buddhis dan di kalangan remaja. Gunakan metode-metode
pengajaran modern yang terbukti efektif dan praktis. Sekali lagi belajarlah
dari pengalaman agama Kristen.

2.2.2 Sebarluaskan pengalaman keberhasilan (success stories) dari
sekolah-sekolah minggu Buddhis dan organisasi muda-mudi Buddhis tertentu
melalui kegiatan "Lokakarya Guru-Guru Sekolah Minggu dan Aktivis Remaja
Buddhis" yang diadakan setahun sekali dan diikuti oleh para guru sekolah
minggu dan aktivis remaja dari semua vihara/kelenteng di suatu wilayah
tertentu.

2.2.3 Rekrut para pakar ahli pendidikan anak dan pakar psikologi anak untuk
menyumbangkan pemikirannya dalam "Lokakarya Guru-Guru Sekolah Minggu dan
Aktivis Remaja Buddhis" tersebut dalam 2.2.2.

3. PROMOSIONAL:

3.1 Rencanakan dan organisasikan suatu kampanye yang efektif dan
berkesinambungan untuk mengajak anak-anak Buddhis dari kelenteng-kelenteng
yang belum punya sekolah minggu untuk ikut sekolah minggu di vihara yang
berdekatan.

3.2 Rencanakan dan organisasikan suatu kampanye yang efektif dan
berkesinambungan untuk mengajak para orang tua Buddhis dari
kelenteng-kelenteng yang belum punya kebaktian mingguan untuk ikut
kebaktian mingguan di vihara yang berdekatan.

3.3. Rencanakan dan organisasikan kampanye yang sama dengan menyisir tempat
tinggal  (RT, RW dst) dari umat Buddha KTP yang menjadi sasaran.

Kegiatan promosional ini kedengarannya sederhana dan mudah, tapi agar
benar-benar efektif, harus direncanakan, diorganisasikan, dikelola dan
dievaluasi secara berkelanjutan. Berilah nama pada kegiatan promosional
ini, misalnya: "Kampanye Pemahaman Buddha Dharma untuk Umat Buddha".

Belajarlah dari sekte-sekte seperti Saksi Yehovah, Nichiren Shoshu dll
bagaimana mereka mempromosikan ajaran mereka dan mendapatkan umat. Landasan
dari kampanye seperti ini haruslah: pendekatan orang-ke-orang dan
pendekatan keluarga-ke-keluarga.

Saya rasa, kegiatan-kegiatan seperti ini jauh lebih feasible dan relatif
murah dibandingkan mendirikan satu sekolah Buddhis, yakni: mengembangkan
apa yang sudah ada, daripada membuat sesuatu yang baru yang sering kali
tidak feasible.

Salam,
Hudoyo






------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page
http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/UlWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman 
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta 
kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami 
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas 
dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas 
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan 
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, 
para guru, serta sahabat-sahabat kami ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke