He he he, Ya Wes sudah. 

Inti dari bung Erik adalah "tdk melekat". Ya bagus klo
bung Erik sudah sampai tahap seperti itu. 

Mungkin kita semua juga sepakat seperti yang bung
maksud, tapi tidak ada salahnya kalau kita saling
menghargai. Bukankah kita hidup bermasyarakat bukan?

Tidak masalah, Bung agamanya apa. Kalau Bung beragama
lain dan punya pikiran Buddhis, kita semua juga
senang.   Klo ditanya beragama apa? sebutkan saja mis
" O ", juga  tdk apa apa dan masalah selesai bukan?. 

Ini kebiasaan saya, saya tidak tahu orang lain. Klo
saya bertamu di rumah orang kristen, saya akan bilang
Syalom. Kalau di orang Islam, saya bisa saja bilang
Assalamuailaikum (sorry klo salah tulis) atau saya
tidak bilang apa apa kecuali Selamat pagi, siang dan
sore. dan kalau bertandang di tempat Buddhis saya
bilang Namo Buddhaya, Amitofo, Svathi hotu. 

Tapi saya tidak pernah kerumah orang Muslim dengan
sapaan Namo Buddhaya. Atau kerumah orang Kristen dan
saya bilang " Amitofo ", he he he bagiku itu etika.
Tidak  melekat bukan berarti boleh mengucapkan kata
kata semau kita tanpa melihat tempat dan kondisinya.
Toh banyak orang yang tidak melekat tapi masih punya
sertifikat rumah bukan? Sang Buddha tidak hanya
mengajarkan kita untuk tidak melekat tapi juga
mengajar kita agar lebih wise sehingga masalah besar
jadi kecil dan kecil jadi baik kembali. 

Kalau Bung Erick hanya ingin mengingatkan kita semua
agar tidak melekat, terima kasih banyak. Bagaimanapun
juga kita semua selalu senang bung Erick ada disini.
Sering sering kasih masukkan ok. 

Mettacittena,





--- Erik <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Namo Buddhaya,
> Justru karena itulah, bung Yamin! Pengakuan
> janganlah sebatas verbal
> tanpa makna. Siapa diri saya, siapa diri Anda, belum
> tentu sama dengan
> apa yang diakui sendiri oleh saya atau Anda. Jati
> diri kita tercermin
> dari apa yang kita lakukan, bukan dari apa yang kita
> akui. Sebuah
> pengakuan, atau sebuah nama/rupa yang kita sebutkan,
> segera akan
> kehilangan makna sejatinya sebagaimana apa yang ada
> dalam diri kita. 
> 
> Dalam menjawab Bro Junaidy saya mengutip sebuah lagu
> berjudul "Jangan
> Tanya" yang pernah populer pada tahun 85'an.
> Kata-kata lagu itu
> diambil dari syair gubahan Bro Dharmasukkha Jo. 
> "Jangan tanya Buddha apa dalam hatiku;
> Bukan Theravada, bukan Mahayana, bukan pula
> Buddhayana.
> Begitu satu nama kusebut, dia jadi berbeda dari
> makna yang ada di
> hatiku. Dan Buddha pun hanya tersenyum."
> 
> Jadi, demikian pula Bro Yamin, salam-salam dari saya
> (yang anda
> katakan aneh-aneh) juga mencerminkan siapa diri
> saya. 
> 
> Wassalam, 
> 
> Erik
>
--------------------------------------------------------------------
> In [email protected], Yamin Prabudy wrote:
> 
> kalau hanya mengaku saja, yah kita bukan apa2..
> pengakuan kan hanya
> muncul dari mulut kita... 
>  
> satu hal yang saya ingin saya tanyakan dari Bro
> Erik,...
> mengapa menggunakan salam yang aneh2 ? 
> apakah memang gaya anda ?
> atau apakah itu semacam bentuk sinisme/ pelecehan ?
> atau sedang dalam proses mencari jati diri ?
>
-----------------------------------------------------------------
> 
> Erik <[EMAIL PROTECTED]> wrote:    
> Namo Buddhaya,
> Apakah hanya dengan mengaku beragama "Buddha"
> berarti saya telah
> menjadi seorang siswa sang Buddha yang sejati? Atau
> mengaku beragama
> "Nasrani" berarti saya adalah pengikut Yesus yang
> taat?
> Mengapa harus begitu terikat pada Nama dan Rupa?
>  
>  
> Syalom,
>   
> Erik
> 
> 
> 
> 


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Join modern day disciples reach the disfigured and poor with hope and healing
http://us.click.yahoo.com/lMct6A/Vp3LAA/i1hLAA/UlWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman 
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta 
kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami 
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas 
dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas 
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan 
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, 
para guru, serta sahabat-sahabat kami ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke