Namo Buddhaya,
Saya sungguh terkejut mendapati tanggapan Bro Safira seperti ini.  Rupanya selama ini saya kurang eling!

Mohon maaf, apakah milis "Dharmajala" ini milis eksklusif? Dan apakah kata "Dharma" dalam "Dharmajala" merujuk pada "Buddha Dharma"?

Sekali lagi, mohon maaf sebesar-besarnya! Saya sungguh tidak menyadari semua itu sebelumnya. Baru setelah mendapat teguran dari Bro Safira saya baca teliti Homa page "Dharmajala" baru saya sadari semua itu!

Sorry sekali, saya bisa nyasar ke milis ini juga karena adanya ajakan yang ditujukan ke Japri saya, dan saya klik saja langsung untuk memasukinya, tanpa memeriksa atau meneliti lebih lanjut apa misi, visi dan orientasi milis ini.
Salam-salam yang saya gunakan selama ini juga adalah yang biasa saya gunakan di tempat-tempat lain. Sekedar untuk menghargai semua anggota milis yang datang dari beraneka ragam suku, ras dan agama. Tapi, rupanya di Dharmajala ini lain ya?

Setelah sekian lama terlibat dalam diskusi yang topiknya hampir melulu mengenai ajaran dan lembaga agama Buddha,  samar-samar saya merasakan mungkin milis ini adalah milis eksklusif Buddhis! Jadi, sekali mohon maaf sebesar-besafrnya!

Kalo memang milis ini eksklusif, baiklah selanjutnya saya akan gunakan salam-salam yang eksklusif Buddhis pula untuk menghormati rekan-rekan Buddhis di milis ini.

Dan, sekalian mohon penjelasan. Siapa-siapa saja yang menjadi moderator di sini? Dan yang mengirim ajakan bergabung ke Japri saya itu moderator yang mana ya?

Sekali lagi, mohon maaf sebesar-besarnya atas kesalah-mengertian selama ini!

Maitricitra

Erik
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
In [email protected], safira luiz <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

 He he he, Ya Wes sudah.
Inti dari bung Erik adalah "tdk melekat". Ya bagus klo  bung Erik sudah sampai tahap seperti itu.
Mungkin kita semua juga sepakat seperti yang bung maksud, tapi tidak ada salahnya kalau kita saling menghargai. Bukankah kita hidup bermasyarakat bukan?
 
Tidak masalah, Bung agamanya apa. Kalau Bung beragama lain dan punya pikiran Buddhis, kita semua juga senang. Klo ditanya beragama apa? sebutkan saja mis " O ", juga tdk apa apa dan masalah selesai bukan?.

Ini kebiasaan saya, saya tidak tahu orang lain. Klo saya bertamu di rumah orang kristen, saya akan bilang Syalom. Kalau di orang Islam, saya bisa saja bilang Assalamuailaikum (sorry klo salah tulis) atau saya tidak bilang apa apa kecuali Selamat pagi, siang dan sore. dan kalau bertandang di tempat Buddhis saya bilang Namo Buddhaya, Amitofo, Svathi hotu.

Tidak melekat bukan berarti boleh mengucapkan kata  kata semau kita tanpa melihat tempat dan kondisinya.  Toh banyak orang yang tidak melekat tapi masih punya sertifikat rumah bukan? Sang Buddha tidak hanya mengajarkan kita untuk tidak melekat tapi juga mengajar kita agar lebih wise sehingga masalah besar  jadi kecil dan kecil jadi baik kembali.

> Mettacittena,


** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




SPONSORED LINKS
Religion and spirituality Spirituality


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke