Terima kasih bro Tan atas pencerahannya!! Saya setuju seratus prosen pada pandangan anda. Saya juga adalah yang sangat-sangat keberatan dan menentang (isi) RUU APP yang sedang dipersoalkana itu. Anda benar, sikap dan nilai moral memang sangat penting untuk dijunjung tinggi, tanpa harus terpengaruh oleh pandangan kawan. Itu benar!! Namun, bila yang bersuara bukan lagi kita sebagai pribadi, tetapi mewakili suatu kelompok tertentu, maka kita sudah memasuki kancah politik (bukan lagi wilayah moral) dan dampaknya pun adalah dampak politis! Karenanya perlu dilakukan dengan sangat-sangat hati-hati dan bijaksana. Tidak asal menyuarakan suara hati saja, tetapi perlu diperhatikan dampaknya bagi kebersamaan kita di masa depan. Jangan terlalu lugu menyuarakan sesuatu yang benar (secara moral) di wilayah politik, sehingga membuat kita menghadapi kesulitan besar dalam kehidupan sosial masyarakat di Indonesia kelak hari. Itu pendapat saya. Mohon dimengerti, saya tidak pernah mendukung (isi) RUU APP, malah sangat-sangat keberatan dengannya. karena isinya sangat bias Islam. Salah satu contohnya adalah tidak dibedakan antara pengertian porno dan kesopanan. Tidak sopan serta-merta dikategorikan sebagai porno. Itu sangat-sangat ngawur!!
Saya tidak setuju dengan Anda bahwa kita boleh menerima RUU APP itu dengan beberapa catatan. Tidak perlu banci-bancian seperti itu, kita harus tegas dalam prinsip, yakni menolak secara keseluruhan semua isi RUU APP, karena disahkan dan diberlakukannya RUU itu akan sangat membahayakan kesatuan dan persatuan bangsa kita di kemudian hari. (anda sendiri sudah ungkapkan beberapa point tentang hal ini). Namun, sekali lagi bagaimana caranya agar penolakan itu berhasil dan tidak membawa dampak buruk bagi kita, saya kira kita perlu bersikap bijaksana. Itu yang saya maksudkan!! Usul saya, mungkin bisa dilakukan dengan (misalnya) membuat pernyataan bersama dengan beberapa kelompokminoritas lain yang juga keberatan dengan RUU APP itu?? Maitricitra, Erik ------------------------------------------------------------------------\ ------------------------------------------------ In [email protected], "dh4rm4duta" wrote: Namo Buddhaya, Sdr. Erik yang budiman, Perkenankanlah saya mengungkapkan pandangan saya. Menurut saya dalam menyuarakan sesuatu yang kita anggap benar, maka kita hendaknya tidak terpaku pada pandangan kawan, sahabat, atau orang yang kita cintai. Kebenaran adalah tetap kebenaran. Jadi meskipun PB.NU yang dipimpin Gus Dur dekat dengan kita, tetapi tidak berarti bahwa kita harus "membeo" semua pendapat NU. Kalau mempelajari sejarah kita melihat bahwa banyak pahlawan dan martir2 agung yang berani mengorbankan dirinya demi memperjuangkan kebenaran, sekalipun <snip> Sebenarnya masih ada jalan ketiga atau jalan tengah. Kita dukung RUU. itu tetapi dengan beberapa pembatasan. Menurut saya yang diatur dalam RUU itu cukup: 1.Jangan sampai anak-anak di bawah umur memperoleh literatur itu. Jadi misalnya majalan Playboy hendak dijual, maka pembelinya harus menunjukkan KTP. Menjual barang-barang semacam itu kepada anak-anak dapat dikenakan sanksi. Kalau tidak salah ini yang berlaku di negaraJerman dan demokrasi Barat. Jadi generasi muda kita tetap terlindungi. 2.Jangan menampilkan gambar2 anak di bawah umur. Ini untuk mencegah pelacuran anak-anak. Saya kira yang perlu diatur hanya itu saja. Cukup satu atau dua pasal. Jadi kita setujui UU itu, tetapi dengan pembatasan. Ini sayakira jalan tengah terbaik. Sekarang bicara masalah implikasi politis, justru saya melihat bahwajika UU ini disahkan akibatnya dapat sungguh mengerikan. Ini merupakan salah satu langkah dari entah berapa langkah lagi untuk menuju negara berdasar syariat agama tertentu. Bisa-bisa nanti semua wanita harus mengenakan busana khas agama tertentu (sebut saja X tersebut). Kalau mau jujur dan mempelajari sejarah maka agama X tersebut juga terkadang minim toleransi. Oleh karena itu, demi masadepan kita semua dan keturunan kita, maka dengan menghalangi satu langkah ini kita telah ikut mencegah jatuhnya Indonesia ke tangan kelompok agama X tersebut (yang terkadang juga luar biasa zalim dantirannya). Kita semua harus berjuang, Bro dan Sis. Sebenarnya sayamenulis ini bukan buat diri saya sendiri, tetapi buat kita semua. Jujurnya kalau sampai negara kita jatuh ke tangan agama X, maka sayadan keluarga bisa saja minta suaka ke salah satu negara Eropa tempat saya menuntut ilmu dahulu. Saudara saya beberapa ada di sana dan sudah berstatus warga negara. Tentu mereka akan bantu. Tetapi bagaimana bila tidak sempat lari? Tentu saja saya tidak mengharapkanbahwa negara kita menjadi seperti Afghanistan, tetapi siapa yang tahu apa yang akan terjadi. Mohon renungkanlah ini semua. Salam kasih, Tan ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Join modern day disciples reach the disfigured and poor with hope and healing http://us.click.yahoo.com/lMct6A/Vp3LAA/i1hLAA/UlWolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> ** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya ** ** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh ** ** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian ** ** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami ** Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
