Dear Bro ching ik,

Terima kasih atas penjelasannya. Saya rasa untuk masalah sejarah sendiri
tidak akan ketemu titik yg bersinggungannya dengan kondisi sekarang ini.
Jika ada keragu2xan pada kebenaran sejarah, disisi lain kita juga perlu
ragu2x akan kebenaran tentang pembagian waktu sabda sang Buddha karena
orang yang melakukan pembagian itu juga bergantung pada kajian sejarah
yang juga memiliki kelemahan juga. Dan juga mengapa Ananda tidak
mengulang ajaran Mahayana ketika sedang mengulang pada sidang sangha ?
Akan jadi hal yang tidak masuk akal apabila Ananda yang merupakan sang
penjaga Dhamma tidak mengulang untuk membagikan dan croscek dengan
rekan2x arahat yang lainnya. Disini saya tidak berpihak kepada mana yang
saya anggap benar, tetapi mencoba meneelah bahwa kenyataannya memang
banyak interpretasi2x yg ada. Biarlah masing2x individu yang menilai,
saya tidak berani menilai mana yang paling benar disini karena bisa
termasuk dalam "SARA" :)

Kalau dibilang saya melakukan pendekatan dari sejarah, yah baru kali ini
saja saya melihatnya. Sebelum2xnya saya selalu melihat dari etika,
logika, moralitas doctrin/ajaran2x agama Buddhanya. Tentang
Paticcasamupada, tilakhana, dst sudah saya pelajari dan saya renungkan.
Dari pengertian umum, bahwa inti ajaran sang Buddha tentang Kamma,
Paticcasamupada, tilakhana ataupun 8 ariya magga harusnya selalu ada
pada aliran/sekte yang menganggap guru besarnya adalah Buddha (saya
tidak bilang hanya Siddharta Gotama tetapi semua Buddha).

Contohnya dalam pendekatan ajaran, saya sudah sampai bisa bilang "yah
sudah lah" karena ada banyak hal2x yang menurut saya tidak bisa ketemu
antara pali kanon dan sutra2x. Saya ambil contoh yah tentang Dharani
Sutra of the Buddha on longevity. Saya tidak tahu apakah ini sutra yang
benar atau valid. Didalamnya dikatakan sang Buddha berkata kepada
bodhisatva Manjushri bahwa ada mantra yang telah diajarkan oleh Buddha2x
sebelumnya yang jika dibacakan akan memperpanjang usia para dewa dan
manusia dan menghapus dosa-dosa nya terhindar dari hal yang buruk.
Selain itu dapat melindungi pemegang sutra sehingga menambah kebahagiaan
dan memperpajang usianya. Ada juga bagian yang membahas tentang garuka
kamma/kamma berat, hanya saja ada perbedaan tentang garuka kammanya ada
bagian tentang membunuh janin. Disana dikatakan jika ada yang melakukan
kejahatan tersebut, mau bertobat dan bisa menerima, memegang Sutra Usia
Panjang ini, membacanya atau menulisnya sendiri atau meminta orang lain
melakukannya, maka mereka akan terbebas dari dosa-dosanya dan terlahir
di alam Surga. Ketika pertama kali saya membaca sutra tersebut yang saya
pikir adalah "wah kok kayak gini yah ?" dalam konteks inti ajarannya.
IMHO sutra tersebut bertentangan dengan hukum Kamma. Ini hanya pendapat
pribadi. Saya mohon maaf jika ada rekan2x yang tersinggung atas kata2x saya.

Kalau tentang ajaran atau sutra saya sih tidak mau membahas lebih jauh
karena bisa2x jadi debat kusir yang tidak akan pernah ketemu hasilnya.
Sama halnya seperti mau membahas dengan agama lain. Masing2x akan merasa
dirinya paling benar dan saling menjelek2xan yang lain. Biarlah masing2x
menilai dan mengambil jalannya sendiri yg menurutnya paling benar.
Semoga saja diskusi ini tidak memicu hal2x tersebut.

Senang berdiskusi dengan anda.

with Metta,
Sumedho Benny

tanbahan:
Tentang kata2x "Buddha memiliki kekuatan batin yang tinggi, mengapa
tidak muncul di sini sekarang untuk membimbing semua orang?" Mungkin
jawaban versi saya adalah karena Sang Buddha sudah parinibbana, tidak
terlahir dimana2x lagi. Jadi hal tersebut mustahil.

ching ik/ djoni wrote:
> Dear bro Benny,
> Upaya bro untuk memahami ajaran Buddha dari perspektif sejarah
> memang wajar. Sesungguhnya terdapat banyak pendekatan dalam memahami
> ajaran Buddha. Ada yang masuk dari pendekatan sejarah, ada yang dari
> pendekatan spiritualitas, moralitas, etika, logika, bahkan dari
> budaya dan seni. Umumnya orang yang berusaha memahami ajaran Buddha
> dari perpektif sejarah berasal dari kaum terpelajar, dengan kata
> lain orang yang mengenyam pendidikan formal. Melalui kajian sejarah,
> orang menjadi tahu kronologi perkembangan sejarah agama Buddha baik
> dari segi doktrinnya, ataupun bagian bagian ekternalnya seperti
> jubah, arsitektur vihara, bentuk ritual, dll. Namun Perlu diketahui,
> bahwa seorang praktisi Buddhist, melulu terpaku pada satu pendekatan
> akan mengaburkan pandangan jernihnya. Jika kita terpaku pada kajian
> sejarah, kita akan menemui berbagai hambatan, pertama sumber-sumber
> literature yang kita kumpulkan tidak selalu akurat. Saya akan
> memberi contoh. Umumnya mengatakan bahwa pada masa kehidupan sang
> Buddha, tidak ada istilah Mahayana. Kesimpulan ini diambil
> berdasarkan pendapat bahwa ajaran Mahayana muncul pada masa
> belakangan. Dengan kata lain, istilah Mahayana hanya ditemukan pada
> literature yang muncul pada masa bebarapa ratus tahun setelah
> kemangkatan sang Buddha. Yang mengherankan adalah kitab kitab
> Mahayana secara gamblang menulis tentang wejangan sang Buddha,
> berdasarkan apa menyatakan itu sebagai bukan sabda sang Buddha ?
> Sang Buddha jelas jelas telah menyebutkan istilah Mahayana dalam
> Sutra-sutra, mengapa bisa sampai para scholar berkesimpulan bahwa
> Mahayana belum ada pada masa sang Buddha.  Ini terlihat jelas
> kesimpulan yang berdasarkan kecenderungan. Sedangkan dari sudut
> pandang scholar yang lebih pro ke Mahayana sendiri memiliki
> pendirian tersendiri. Masing2 memiliki catatan sejarah yang saling
> mengukuhkan pendapat masing2. Tulisan Dr Walpola sendiri tidak sulit
> untuk diketahui memiliki kecenderungan membenarkan sejarah
> berdasarkan pandangan Theravada. Namun beliau berdiri dalam posisi
> sebagai seorang yang pro Theravada sekaligus mengakui spiritualitas
> Mahayana. Padahal jika mau lebih objektif, seharusnya beliau juga
> mengungkapkan catatan yang menyebutkan tentang Konsili yang diadakan
> di luar goa Saptapani, di mana Ananda diundang lagi oleh Manjusri
> dan bodhisatva Maitreya untuk mengadakan konsili penyusunan Sutra
> Mahayana, di mana ini berdasarkan catatan sejarah kitab Mahayana.
> Satu keistimewaan mahayana adalah tidak menampik adanya peristiwa
> yang dihadiri makhluk yang tidak sanggup dilihat manusia biasa. Ini
> tentu menjadi hambatan bagi kajian sejarah, karena sejarah mengalami
> kesulitan untuk menyinggung hal hal yang berbau mitos. Padahal
> seluruh rangkaian ajaran Buddha, hal hal gaib adalah lumrah, ini
> ditemukan di semua aliran agama Buddha.    
>
>    
> Dari hal ini, sangat jelas bahwa kajian sejarah juga memiliki
> kelemahan, lebih-lebih telah berjarak 2500 tahun. Dan telah saya
> singgung sebelumnya bahwa hal ini tidak ada hubungan dengan dhamma
> dan vinaya. Jadi dalam membaca literature sejarah, kehatian-hatian
> memang sangat diperlukan juga. Harus memahami siapa penulisnya,
> kecenderungannya/keberpihakannya dan tujuannya.  Dari hal ini,
> pemahaman melalui pendekatan sejarah tidak selalu menjadi hal yang
> ideal, walaupun tidak boleh kita abaikan. Pendekatan sejarah
> bagaikan menyusun puzzle, jika merasa sejarah A benar, maka ikuti A,
> tapi apakah A itu berarti telah benar berdasarkan fakta? Tidak, itu
> juga spekulasi.  
> Oleh sebab itu, kita juga perlu memahami melalui pendekatan
> spiritualitas, dan itu merupakan hal yang paling utama saya rasa.
> Jika bro lebih banyak mencurahkan perhatian pada sisi spiritualitas
> Buddhisme, saya percaya bro akan dapat mengatasi  skat-skat
> perbedaan itu dalam tubuh agama Buddha. Perbedaan2 hanya merupakan
> sisi ekternal, selain tidak memiliki inti yang kekal, dia juga akan
> lapuk ditelan waktu. Sedangkan spiritualitas ajaran Buddha (dhamma)
> akan bersemayam sepanjang masa, bukankah nilai-nilai universal
> seperti itu yang hendak kita wujudkan? Jadi sesungguhnya  dia ada
> dimana mana, jika tidak percaya, coba saja buka semua ajaran Buddha
> dari aliran manapun, jika berbicara nilai2 spiritualitas, maka
> semuanya akan memiliki sisi universalnya.
> Jadi kajian sejarah sesungguhnya hanya sebuah sisi lain untuk
> mengajak orang masuk ke salah satu pintu [ajaran Buddha]. Jika ingin
> mengatakan bahwa kajian sejarah hanya bertujuan untuk menguak fakta
> secara objektif, maka satu satunya cara terbaik adalah menciptakan
> mesin waktu. Tapi apakah kita telah memilikinya? Jikapun ada, tetap
> saja tidak berguna. Itu tidak dapat mengikis noda-noda batin kita.
> Salah seorang teman pernah bertanya pada saya, "Buddha memiliki
> kekuatan batin yang tinggi, mengapa tidak muncul di sini sekarang
> untuk membimbing semua orang?" Saya bilang, "percuma, kita tetap
> tidak akan mencapai kesucian". Dia lalu tanya mengapa, saya
> bilang, "karena akar kebajikan kita sangat dangkal, coba bayangkan,
> Sutra Buddha terpampang di depan kita dan telah kita baca ratusan
> kali, sebenarnya tulisan itu sudah bagaikan ucapan langsung Buddha
> kepada kita, tapi mengapa kita tetap tidak sadar? " . Itulah
> sebabnya mengapa sekarang ini disebut  sebagai jaman akhir dharma di
> mana para makhluk memiliki akar kebajikan yang rendah, terpaut jauh
> dari masa sang Buddha, ini mengindikasikan bahwa kita memang makhluk
> yang memiliki rintangan karma berat akibat dari perbuatan kita
> sendiri, sehingga sulit mencapai kesucian.
>
> Semoga bro memahami maksud saya.
>
>
> Amithofo
> Cg ik
>
>
>  
>        
>
>
>
> --- In [email protected], Benny wu <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>  
>> Bro ching ik/djoni,
>>
>> Terima kasih atas penjelasannya yang luas. dari literatur dan
>>    
> sejarah,
>  
>> istilah Mahayana dan Theravada sendiri belum ada dijaman Sang
>>    
> Buddha
>  
>> ketika masih hidup. Saya berusaha utk mengabungkan potongan2x
>>    
> informasi
>  
>> yang saya punya. Harusnya antara informasi sejarah dan dari
>>    
> informasi
>  
>> yang bro berikan seharusnya tidak bertentangan, bahkan harusnya
>>    
> sejalan.
>  
>> Saya minta bantuan bro ching ik utk mengabungkan informasi yang
>>    
> pernah
>  
>> saya dapatkan, berikut ini saya sertakan salah satu tulisan yg
>>    
> saya
>  
>> punya. Terima kasih sebelumnya Bro.
>>
>> BUDDHISME THERAVADA DAN MAHAYANA
>>
>> ( Buddhism, Theravada and Mahayana by Dr. Walpola,
>> Dhammadesana di Kuala Lumpur, 1980
>> Sumber : Bunga Rampai Dhammadesana Bhikkhu Sri Subalaratano )
>>
>> Marilah kita bahas suatu masalah yang sering ditanyakan oleh
>>    
> banyak orang. Apakah perbedaan antara Buddhisme Mahayana dan
> Theravada? Agar persoalannya dapat ditinjau dalam perspektif yang
> sewajarnya, sebaiknya kita membalik sejarah Buddhisme dan melacak
> timbulnya serta perkembangan aliran Mahayana dan Theravada.
>  
>> Sang Buddha Gotama dilahirkan pada abad ke-6 S.M. Setelah mencapai
>>    
> Penerangan Agung pada usia 35 tahun sampai Beliau wafat
> (Mahaparinirvana) ketika berusia 80 tahun, Beliau mengisi hidupnya
> dengan memberi khotbah dan mengajar. Beliau merupakan orang yang
> paling bersemangat yang pernah hidup di dunia ini. Selama 45 tahun
> ia mengajar dan berkhotbah siang dan malam, tidurnya hanya kira-kira
> dua setengan jam sehari.
>  
>> Sang Buddha berbicara kepada semua lapisan masyarakat: raja dan
>>    
> putri, brahmin, petani, pengemis, kaum terpelajar dan rakyat biasa.
> Ajaran-ajaran-Nya disesuaikan dengan pengalaman, tingkat pengertian
> dan kemampuan pikiran para pendengarnya. Apa yang diajarkan-Nya
> disebut BUDDHAVACANA, yaitu kata-kata Sang Buddha. Pada waktu itu
> belum ada yang disebut Theravada dan Mahayana.
>  
>> Setelah mendirikan persamuan para Bhikkhu dan Bhikkhuni, Buddha
>>    
> menetapkan peraturan disiplin yang disebut VINAYA untuk membimbing
> persamuan tersebut. Ajaran-ajaran Buddha lainnya disebut DHAMMA yang
> termasuk percakapan-percakapan, khotbah-khotbah-Nya kepada para
> bhikkhu dan bhikkhuni dan masyarakat awam.
>  
>> Tiga bulan setelah Buddha mencapai parinirvana, para murid
>>    
> dekatnya mengadakan suatu pertemuan di Rajagaha. Maha Kasyapa,
> bhikkhu tertua yang paling dihormati, memimpin pertemuan tersebut.
> Dua tokoh penting yang ahli dalam dua bidang yang berbeda : DHAMMA
> dan VINAYA juga hadir. Yang seorang bernama Ananda, teman dan
> pengikut terdekat Sang Buddha selama 25 tahun. Dengan bakat ingatan
> yang luar biasa, Ananda dapat mengucapkan kembali apa yang telah
> dikhotbahkan oleh Sang Buddha. Seorang lagi adalah Upali, yang
> mengingat semua peraturan Vinaya.
>  
>> Hanya dua ajaran ini - Dhamma dan Vinaya - yang diulangi dalam
>>    
> Pertemuan Agung Pertama. Walaupun ada perbedaan pendapat mengenai
> Dhamma (tanpa menyinggung Abhidharma), diadakan pembahasan peraturan
> Vinaya. Sebelum Buddha mencapai parinirvana, Beliau memberitahu
> Ananda bahwa jika SANGHA (persamuan bhikkhu) menghendaki untuk
> merubah atau melunakkan beberapa peraturan yang kurang penting, maka
> mereka dapat melakukannya. Tetapi pada waktu itu Ananda sedang
> diliputi oleh kesedihan yang sangat menekan karena Buddha hampir
> wafat, sehingga tidak terpikir untuk menanyakan kepada Sang Guru
> mana yang dimaksudkan dengan peraturan yang kurang penting itu.
>  
>> Karena anggota dewan tidak dapat mencapai kesepakatan mengenai apa
>>    
> yang disebut sebagai peraturan yang kurang penting, Maha Kasyapa
> akhirnya menetapkan bahwa tidak satupun dari peraturan disiplin yang
> dibuat oleh Sang Buddha boleh dirubah dan tidak ada peraturan baru
> yang boleh dibuat. Tiada alasan yang hakiki yang diberikan. Namun
> Maha Kasyapa pernah mengatakan satu hal :
>  
>> "Jika kita merubah peraturan ini, orang akan berkata bahwa murid-
>>    
> murid Yang Ariya Gotama merubah peraturan bahkan sebelum api
> perabuan jenazahnya berhenti menyala."
>  
>> Pada pertemuan itu, DHAMMA dibagi menjadi beberapa bagian dan
>>    
> setiap bagian harus dihafalkan oleh seorang murid tertua (elder) dan
> pengikutnya. Kemudian Dhamma disampaikan dari guru ke murid secara
> lisan. Dhamma diucapkan setiap hari oleh kelompok-kelompok yang
> sering mencocokkan satu sama lain untuk memastikan bahwa tak ada
> yang dihilangkan atau ditambahkan. Para ahli sejarah berpendapat
> bahwa tradisi lisan lebih dapat diandalkan daripada laporan yang
> tertulis oleh seseorang dari ingatannya beberapa tahun setelah
> kejadian.
>  
>> Seratus tahun kemudian, pertemuan kedua diselenggarakan untuk
>>    
> membahas beberapa peraturan Vinaya. Tiga bulan setelah Buddha
> parinirvana tidak dirasa perlu untuk merubah peraturan, sebab hanya
> sedikit atau tidak ada perubahan-perubahan politik, ekonomi atau
> sosial dalam masa yang singkat itu. Tetapi 100 tahun berikutnya,
> beberapa bhikkhu menganggap perlu untuk mengadakan perubahan atas
> peraturan yang kurang penting tersebut. Para bhikkhu yang ortodoks
> mengatakan bahwa tidak ada perubahan yang perlu diadakan, sedangkan
> yang lainya mendesak adanya perubahan beberapa peraturan. Akhirnya
> kelompok bhikkhu yang ingin mengadakan perubahan meninggalkan
> persamuan dan membentuk MAHASANGHIKA - Persamuan Agung -. Sekalipun
> disebut Mahasanghika, himpunan ini tidak dikenal sebagai Mahayana.
>  
>> Pada pertemuan kedua ini hanya hal-hal yang berhubungan dengan
>>    
> Vinaya saja yang dibahas dan tidak dilaporkan adanya perdebatan
> mengenai Dhamma.
>  
>> Pada abad ke-3 S.M. selama pemerintahan Raja Asoka, pertemuan
>>    
> ketiga dilangsungkan untuk membicarakan perbedaan-perbedaan pendapat
> diantara para bhikkhu dari berbagai sekte. Dalam pertemuan ini
> perbedaan-perbedaan itu tidak hanya dibatasi pada Vinaya tetapi juga
> berkenaan dengan Dhamma. Pada akhir pertemuan ini, ketua dewan
> Moggalliputta Tissa menyusun sebuah kitab yang disebut KATHAVATTHU,
> yang mengangkal pendapat-pendapat yang bertentangan dengan Dhamma
> serta pandangan-pandangan dan teori-teori salah yang dianut oleh
> beberapa sekte. Ajaran yang disetujui dan diterima oleh Dewan ini
> disebut sebagai THERAVADA.
>  
>> Abhidharma Pitaka juga termasuk didalam ajaran yang diterima oleh
>>    
> Dewan.
>  
>> Setelah pertemuan ke tiga, putra Raja Asoka, Y.A. Mahinda Thera,
>>    
> membawa Tripitaka ke Srilanka bersama dengan komentar-komentar yang
> dibacakan pada Pertemuan Ketiga. Teks yang dibawa ke Srilanka
> disimpan sampai saat ini tanpa ada satu halaman pun yang hilang.
> Teks tersebut ditulis dalam bahasa Pali berdasarkan bahasa Magadhi
> yang dipergunakan oleh Sang Buddha. Tak ada yang dikenal sebagai
> Mahayana pada waktu itu.
>  
>> Diantara abad ke-1 S.M. sampai abad ke-1 M. kedua istilah MAHAYANA
>>    
> dan HINAYANA muncul dalam SADDHARMA PUNDARIKA SUTRA atau Sutra
> Teratai Hukum Kebajikan (Sutra of Lotus of Good Law)
>  
>> Baru kira-kira abad ke-2 M, Mahayana mendapat batasan yang jelas.
>>    
> Nagarjuna mengembangkan filsafat Sunyata dari Mahayana dan
> membuktikan bahwa segala sesuatu adalah hampa, dalam sebuah teks
> kecil yang dinamakan Madhyamika-Karika.
>  
>> Sekitar abad ke-4 muncullah Asanga dan Vasubandhu yang menulis
>>    
> sejumlah karya besar mengenai Mahayana. Setelah abad ke-1 M, kaum
> Mahayanis mengambil sikap yang pasti dan baru pada waktu itu istilah-
> istilah Mahayana dan Hinayana diperkenalkan.
>  
>> Kita jangan sampai mencampur-adukan Hinayana dengan Theravada,
>>    
> sebab kedua istilah itu bukan sinonim. Buddhisme Theravada masuk
> Srilanka pada abad ke-3 S.M. ketika Mahayana masih belum dikenal
> sama sekali. Sekte Hinayana berkembang di India dan terlepas dari
> bentuk Buddhisme yang ada di Srilanka. Dewasa ini tak ada lagi sekte
> Hinayana dimanapun di dunia. Karena itu pada tahun 1950,
> Persaudaraan Buddhis Sedunia yang didirikan di Kolombo dengan suara
> bulat memutuskan untuk menghapus istilah Hinayana bila menyebut
> Buddhisme yang ada di Srilanka, Thailand, Laos, Burma, Kambodia dan
> lain-lain.
>  
>> Demikianlah sejarah singkat Theravada, Mahayana dan Hinayana.
>>
>> Kini, apakah perbedaan antara Mahayana dan Theravada ?
>>
>> Saya telah mempelajari Mahayana selama bertahun-tahun dan semakin
>>    
> lama saya mempelajarinya, semakin jelas bahwa hampir tidak ada
> perbedaan berarti antara Theravada dan Mahayana dalam ajaran-ajarang
> fundamental.
>  
>>   1.. Kedua aliran menerima Sakyamuni Buddha sebagai Guru.
>>   2.. Kedua aliran menganut Empat Kesunyataan Mulia yang persis
>>    
> sama.
>  
>>   3.. Kedua aliran menerima Jalan Mulia Beruas Delapan yang sama
>>    
> persis sama.
>  
>>   4.. Kedua aliran mempunyai Pratitya Samutpadda atau sebab
>>    
> musabab yang saling bergantungan.
>  
>>   5.. Kedua aliran menolak gagasan adanya Dewa tertinggi yang
>>    
> menciptakan dan menguasai dunia ini.
>  
>>   6.. Kedua aliran menerima Anitya, Dukkha dan Anatman dan Sila,
>>    
> Samadhi dan Prajna tanpa ada perbedaan
>  
>> Itulah pokok-pokok ajaran terpenting dari Sang Buddha Gotama yang
>>    
> semuanya diterima oleh kedua aliran tersebut tanpa mempersoalkannya.
>  
>> Terdapat pula pokok-pokok pikiran yang berbeda antara mereka.
>>    
> Salah satu yang jelas ialah mengenai BODHISATTVA. Banyak orang
> mengatakan bahwa Mahayana adalah untuk tingkat ke-Bodhisattva-an
> yang menuju ke tingkat ke-Buddha-an, sedangkan Theravada untuk
> tingkat ke-Arahat-an saja. Saya perlu mengatakan bahwa Sang Buddha
> adalah juga seorang Arahat. Seorang murid bisa juga seorang Arahat.
> Naskah-naskah Mahayana tidak pernah memakai istilah Arahatyana,
> Kereta Arahat. Yang dipakai adalah 3 istilah : Boddhisattvayana,
> Pratekya Buddhayana dan Sravakayana. Dalam ajaran Theravada
> ketiganya disebut BODHI.
>  
>> Sementara orang yang ada membayangkan bahwa Theravada mementingkan
>>    
> diri sendiri sebab ia mengajarkan agar orang mengusahakan
> penyelamatan dirinya sendiri. Tetapi tidakkah terpikir oleh kita
> bagaimana orang yang mementingkan diri sendiri dapat mencapai
> Penerangan Agung? Kedua aliran menerima tiga YANA atau BODHI yang
> menganggap Bodhisattva sebagai yang tertinggi.
>  
>> Mahayana telah menciptakan banyak Bodhisattva mistis, sedangkan
>>    
> Theravada menganggap Bodhisattva sebagai seorang diantara kita yang
> mengabdikan seluruh hidupnya mencapai kesempurnaan dan akhirnya
> menjadi seorang Buddha yang mencapai Penerangan Agung guna
> kesejahteraan dunia, kebahagiaan umat.
>  
>> Ada tiga jenis tingkat ke-Buddha-an : Samyak Sambuddha yang
>>    
> mencapai Penerangan Agung dengan usaha sendiri, Pratekya Buddha yang
> mempunyai sifat-sifat dibawah Samyak Sambuddha, berusaha sendiri
> tapi tidak mengajar Dhamma, dan Sravaka Buddha yang merupakan Arahat
> pengikut Samyak Sambuddha. Pencapaian Nirvana diantara ketiga jenis
> ke-Buddha-an ini persis sama. Satu-satunya perbedaan ialah bahwa
> Samyak Sambuddha mempunyai kelebihan-kelebihan sifat mulia dan
> kemampuannya dibandingkan dengan kedua jenis yang lainnya.
>  
>> Ada orang yang berpendapat bahwa kehampaan atau Sunyata yang
>>    
> dibahas oleh Nagarjuna adalah semata-mata ajaran Mahayana. Ini
> berlandaskan kepada gagasan Anitya atau tiadanya inti diri atas
> Pratitya Samutpadda yang juga terdapat dalam naskah asli Theravada
> dalam Bahasa Pali.
>  
>> Suatu waktu Ananda bertanya kepada Buddha : "Orang berkata bahwa
>>    
> dunia adalah Sunya. Apakah Sunya itu?"
>  
>> Buddha menjawab: "Ananda, tak ada Inti Diri di dunia ini. Karena
>>    
> itu dunia adalah Hampa".
>  
>> Pendapat ini diambil oleh Nagarjuna ketika ia menulis bukunya yang
>>    
> mengagumkan "Madyamika Karika".
>  
>> Disamping gagasan Sunyata terdapat pula konsep store-consciousness
>>    
> (gudang kesadaran) dalam Buddhisme Mahayana yang berasal dari naskah
> Theravada. Kaum Mahayanis telah mengembangkannya menjadi psikologi
> dan filsafat yang dalam.
>  
>> With Metta
>> Sumedho Benny
>>
>> ching ik/ djoni wrote:
>>    
>>> Dear bro Benny,
>>>
>>>             Sebelum menjawab pertanyaan ini, perlu kita pahami
>>>      
> dulu
>  
>>> bahwa tujuan mejadi seorang umat Buddha adalah melatih diri
>>>      
> untuk
>  
>>> mengikis kekotoran batin, mentransformasikan kualitas batin yang
>>>      
> buruk
>  
>>> menjadi kualitas batin yang baik. Dalam istilah teknis agama
>>>      
> Buddha,
>  
>>> disebut mencapai pencerahan. Lalu jalan untuk mencapai
>>>      
> pencerahan ini
>  
>>> memiliki banyak rumusannya yang disesuaikan dengan kemampuan
>>>      
> kita.
>  
>>> Jadi ajaran Buddha itu disebut memiliki 84000 metode ajaran yang
>>> berpuncak pada satu tujuan, yakni Pencerahan sempurna.
>>>
>>> 
>>>
>>> Jika kita memahami prinsip-prinsip di atas, maka tidak sulit
>>>      
> bagi kita
>  
>>> untuk memilih. Dengan kata lain, berbagai aliran Buddhisme yang
>>> berbeda beda itu sebenarnya hanya sebagai cerminan dari 84000
>>>      
> metode
>  
>>> ajaran itu.
>>>
>>> 
>>>
>>> Jadi berbagi aliran ini tentu saja memiliki prinsip prinsipnya
>>> tersendiri yang sesungguhnya tetap berjalan di jalur dharma.
>>>      
> Semua
>  
>>> aliran memiliki ajaran yang telah sesuai dengan proporsinya.
>>>      
> Jadi bila
>  
>>> kita memiliki kecenderungan/ merasa cocok bahwa Theravada lebih
>>>      
> baik,
>  
>>> lebih klop, maka berlatihlah secara konsistensi dengan ajaran
>>> Theravada. Apakah dia merupakan ajaran yang paling tinggi? Tentu
>>>      
> saja.
>  
>>> Dia merupakan ajaran langsung dari guru agung kita Hyang Buddha.
>>>      
> Lalu
>  
>>> dalam Sidang Agung Sangha, menurut Theravada hanya ajaran-ajaran
>>> Theravada saja yang diulang. Ini sesuai dengan proporsi dari
>>>      
> metode
>  
>>> ajarannya. Bagi Theravada tidak ada gunanya berbicara terlalu
>>>      
> jauh ke
>  
>>> "Sidang Agung" dari aliran lain, karena itu tidak dibutuhkan
>>>      
> dalam
>  
>>> proporsi ajarannya. Catatan:  (Sekalipun dalam kitab Mahavagga
>>> mengulas sejarah konsili yang menyinggung bhikkhu papa, itu
>>>      
> tidak
>  
>>> patut dikategorikan sebagai bagian dari ajaran dhamma vinaya,
>>>      
> itu
>  
>>> adalah kajian histories belaka, dan histories juga tidak luput
>>>      
> dari
>  
>>> keberpihakan).
>>>
>>> 
>>>
>>> Kemudian bila kita cenderung merasa cocok, merasa dapat memahami
>>>      
> dan
>  
>>> menerima prinsip-prinsip ajaran Mahayana maka kita akan
>>>      
> membutuhkannya
>  
>>> untuk menjalankan pelatihan berdasarkan apa yang diajarkan, dan
>>>      
> harus
>  
>>> berlatih secara konsistensi. Lalu apakah Mahayana baru merupakan
>>> ajaran yang paling tinggi? Iya juga. Karena dia juga merupakan
>>>      
> ajaran
>  
>>> langsung dari guru kita Hyang Buddha. Jadi kita harus
>>>      
> membangkitkan
>  
>>> pemikiran bahwa semua ajaran Hyang Buddha sama tingginya, sama
>>>      
> sama
>  
>>> paling tinggi, dan sesungguhnya tidak ada yang rendah. Jadi
>>>      
> dalam
>  
>>> Sidang Agung Sangha versi Mahayana, memang terdapat Konsili di
>>>      
> luar
>  
>>> dari Konsili pertama. Maha prajna paramita Sastra menyebutkan
>>>      
> bahwa
>  
>>> Kitab2 Suci Mahayana diwejang ulang oleh Ananda bersama Manjusri
>>>      
> dan
>  
>>> Maitreya di luar gunung Cakravada. Ini memang proporsi Mahayana.
>>>      
> Tidak
>  
>>> ada alasan untuk mempertanyakan mengapa Theravada tidak menyebut
>>> demikian. Tadi telah dijelaskan bahwa sistem ajaran Buddha
>>>      
> menekankan
>  
>>> pelatihan, dan setiap metode ajaran memiliki proporsi yang telah
>>> disesuaikan untuk kepentingan pelatihan itu. Bagi orang yang
>>>      
> memahami
>  
>>> pentingnya prinsip ini, maka manfaat lah yang akan didapatkan,
>>> kemudian dia akan berlatih secara konsistensi untuk membebaskan
>>>      
> diri
>  
>>> dari samsara. Bagi mereka yang cenderung ingin mengkaji secara
>>> histories atau suka menimbulkan keraguan raguan, skeptis,
>>>      
> sektarianis,
>  
>>> maka ini benar benar akan menguras waktu dan enerji yang tidak
>>>      
> ada
>  
>>> relevan dengan pengikisan noda batin. Oleh sebab itu seorang
>>>      
> umat
>  
>>> Buddha bisa dikategorikan menjadi beberapa kelompok, di
>>>      
> antaranya
>  
>>> adalah  kelompok pengkaji (ttg sejarahnyalah, budayanya,
>>>      
> sosiologinya
>  
>>> lah..) dan kelompok praktisi atau  kombinasi dari dua-duanya.
>>>      
> Yang
>  
>>> paling disayangkan adalah kelompok pengkaji. Jadi walau saya
>>>      
> bukan
>  
>>> seorang praktisi sejati, saya mau menyarankan jangan terpaku
>>>      
> menjadi
>  
>>> pengkaji, itu sama dengan para scholar duniawi yang tidak
>>>      
> membawa
>  
>>> manfaat bagi dirinya sendiri. Kalau sekaligus melatih diri, itu
>>>      
> baru
>  
>>> bermanfaat.
>>>
>>> 
>>>
>>> Demikianlah, semoga bermanfaat untuk melanjutkan pelatihan
>>>      
> dharma.
>  
>>> 
>>>
>>>  Dan mungkin ada kesalahan , mohon koreksi juga dari teman teman
>>> sedharma, karena saya juga orang yang masih belajar.
>>>
>>> 
>>>
>>> Amithofo
>>>
>>> 
>>>
>>> Cg ik           
>>>
>>> 
>>>
>>>
>>> --- In [email protected], Benny wu <benzwu@> wrote:
>>>      
>>>> Thanks atas penjelasannya bro.
>>>>
>>>> Saya jadi ingin bertanya lebih lanjut. Semoga Bro bersedia
>>>>        
> membagi
>  
>>>> pengetahuannya.
>>>> Didalam Sidang Agung Sangha (Sangha Samaya), apakah yg diulang
>>>>        
> hanya
>  
>>>> yang "Theravada" saja ? Atau yang "Mahayana" juga ?
>>>>
>>>> Thanks atas pencerahannya
>>>>
>>>> Sumedho Benny
>>>>
>>>>
>>>>        
>>>
>>> ** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di
>>>      
> dalam
>  
>>> diri saya maupun di luar diri saya **
>>>
>>> ** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk
>>> menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat
>>>      
> fondasi
>  
>>> pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
>>>
>>> ** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan
>>> memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala
>>>      
> sesuatu,
>  
>>> sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
>>>
>>> ** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi
>>>      
> penuh
>  
>>> welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi
>>>      
> ataupun
>  
>>> sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat,
>>>      
> membantu
>  
>>> sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh
>>>      
> rasa
>  
>>> syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat
>>>      
> kami **
>  
>>> -----------------------------------------------------------------
>>>      
> -------
>  
>>> YAHOO! GROUPS LINKS
>>>
>>>     *  Visit your group "Dharmajala
>>>       <http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala>" on the web.
>>>       
>>>     *  To unsubscribe from this group, send an email to:
>>>        [EMAIL PROTECTED]
>>>       <mailto:[EMAIL PROTECTED]
>>>      
> subject=Unsubscribe>
>  
>>>       
>>>     *  Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms
>>>      
> of
>  
>>>       Service <http://docs.yahoo.com/info/terms/>.
>>>
>>>
>>> -----------------------------------------------------------------
>>>      
> -------
>  
>
>
>
>
>
>
>
> ** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
>
> ** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
>
> ** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
>
> ** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
> 
>
>
>
>  





** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




SPONSORED LINKS
Religion and spirituality Spirituality


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke