Dear bro Benny,
Mengenai masalah upaya pemahaman ajaran Buddha melalui pendekatan
sejarah, saya rasa perlu memberi sedikit penjelasan tambahan.
Meskipun terdapat berbagai perbedaan interpretasi atas catatan
sejarah tersebut, ada satu hal yang tetap harus diakui bahwa tidak
ada yang mampu memberikan jawaban konkrit mana yang merupakan fakta
dan mana yang merupakan spekulasi. Banyak faktor yang dapat
mempengaruhi seseorang di dalam memberi interpretasi pada sebuah
skriptur. Jadi adalah wajar juga bahwa  berbagai keragu-raguan akan
muncul untuk mempertanyakan prinsip ajaran Mahayana bagi orang yang
cenderung men-iya-kan Theravada dan sebaliknya. Seperti masalah
pembagian waktu ajaran Buddha dalam Mahayana, ini sama sekali diluar
jangkauan Theravada, jadi sangat wajar pembagian waktu ini akan
menjadi sebuah polemik tersendiri. Bahkan dalam Mahayana sendiri
juga tidak ditampik adanya perbedaan pendapat atas pembagian waktu
ini. Sebelumnya telah dijelaskan bahwa pembagian waktu ini adalah
hasil kajian dari sesepuh mazhab Tientai-master Zhiyi, jadi hanya
merupakan hasil interpretasi dari salah satu mazhab Mahayana (tidak
mewakili seluruh mazhab Mahayana).
       Mengenai pertanyaan " Dan juga mengapa Ananda tidak
mengulang ajaran Mahayana ketika sedang mengulang pada sidang
sangha ?
Akan jadi hal yang tidak masuk akal apabila Ananda yang merupakan
sang
penjaga Dhamma tidak mengulang untuk membagikan dan croscek dengan
rekan2x arahat yang lainnya."
Tentu pertanyaan seperti ini tidak sulit untuk diketahui berdiri
dari posisi catatan sejarah Theravada. Perlu diketahui bahwa saat
sidang sangha, wejangan ulang dari Ananda dan Upali adalah mengenai
Dhamma dan Vinaya. Jika kita lihat seluruh rangkaian Tipitaka Pali,
maka terlihat jelas penekanannya pada konsep ajaran 4 kebenaran
mulia, tilakhana, patticasammupada, 8 jalan kebenaran,  samatha dan
vipassana. Dari pengamatan ini, jika kita menarik benang antara
kronologi pengulangan dhamma vinaya versi Theravada dengan isi Sutta-
nya, maka tentu harus adanya sebuah garis sejajar yang mencerminkan
bahwa ajaran2 tersebut harus selaras dengan kronologi sidang Agung.
Dengan kata lain, bahwa Dhamma vinaya yang diulang Ananda dan Upali
(versi Theravada) hanya seputar ajaran 4 kebenarn mulia, 8 jalan
kebenaran, Tilakkhana, dll (tanpa adanya konsep konsep Mahayana,
bodhisatva2, dll). Mengapa pada saat sidang agung tersebut tidak
terdapat konsep2 ajaran Mahayana? Jika kita membuka lembaran kitab
Mahayana, maka berbagai kemungkinan menjadi terkuak (Saya mengerti
bahwa istilah terkuak di sini juga mengandung nuansa keberpihakan
pada Mahayana) Tapi yang namanya diskusi yang cuma bertujuan saling
berbagi pandangan belaka. Begini. Jika kita membuka lembaran kitab
Mahayana, kita akan menemukan sebuah indikasi bahwa ajaran Buddha
(versi Mahayana) bersifat tahapan. Artinya adalah bahwa sang Buddha
memang mengajar berdasarkan tingkat pemahaman para siswanya. Jadi
seperti sebuah universitas yang membagi siswa siswa ke dalam
berbagai tingkatan (ini tentu bukan masalah diskriminatif, tapi anda
tentu mengerti bahwa siswa SD tidak paham ajaran kelas siswa SMP,
misalnya) Ini tidak sulit dilihat di dalam kitab suci Mahayana.
Untuk itulah mengapa para sesepuh Mahayana sampai bisa
mengklasifikasikan 5 periode ajaran Buddha, karena memang Sutra2
Mahayana telah memiliki indikasi ke arah situ, cuma saja tidak
tampak secara eksplisit saja.
Jadi dari hal ini, Mahayana memang memiliki catatan tentang sidang
agung tersebut dengan versinya juga. Bahwa sidang agung di goa
Saptapani adalah sidang agung yang hanya mengkanonikkan ajaran
Basical Buddhism. Tidak ada alasan untuk mencampur adukkan ajaran
Mahayana (yang tingkatannya berbeda) di dalam sidang tersebut. Maka
sidang agung lain diselenggarakan secara tersendiri lagi.  Jadi Ini
adalah kemungkinan yang dapat diterima para umat Mahayana, mengapa? 
Sutra2 Mahayana memiliki kisah yang dapat diselaraskan dengan
pandangan demikian. Pada saat sang Buddha mewejangkan dharma, para
siswa yang merasa tidak sepaham dengan pandangan sang Buddha itu ada
juga. Ini cukup wajar, karena dalam Sutta2 sering kita melihat
orang2 yang bersikap sopan dihadapan sang Buddha, ada yang bersikap
acuh tak acuh, ada yang bersikap skeptis dan lain lain. Saat mereka
tidak sepaham dengan sang Buddha, mereka bisa saja meninggalkan
tempat tersebut dan mengatakan tidak dapat menerimanya. Ini
menandakan bahwa ajaran Buddha itu memiliki tingkatan tingkatannya.
Jadi tidaklah perlu memberi crosscheck kepada Arahat2 yang hanya mau
mempertahankan Basical Buddhism (karena dalam sudut pandang
mahayana, memang ada Arahat yang demikian). Pada saat selesai sidang
agung Sangha itu mengapa salah satu siswa utama Buddha -Purana yang
kembali dari wilayah lain tidak langsung menerima sidang agung ini.
Ini satu hal yang perlu dijadikan perhatian. 
Mengenai kitab Dharani Sutra of Buddha on longevity, terlalu gegabah
untuk mencapnya bertentangan dengan hukum kamma. Karena hukum kamma
bersifat lintas waktu. Jadi harus dipahami bahwa sebagai orang awam,
tidaklah mudah untuk menyelami hukum kamma sampai ketingkatan yang
halus. Lagi pula nasihat dari Sutra tersebut merupakan bentuk bentuk
kusala kamma, di mana bagi seorang penjahat sekalipun jika
melepaskan akusala kamma dan menjalankan kusala kamma dan berlatih
dengan sungguh sungguh, maka kesucian juga dapat tercapai, ini tentu
sangat selaras dengan ajaran Buddha, contohnya Angulimala. Jadi  di
mana letak pertentangan dengan kamma? Jika mengatakan bahwa
menjalankan ajaran Sutra itu dapat membuat panjang umur adalah
sebuah pertentangan dengan hukum kamma, maka ini juga terlalu
gegabah. Coba anda telaah sendiri, di dalam ajaran Buddha (juga
versi Theravada), bahwa orang yang menjelang kematian sangat
mementingkan kusala kamma. Jika pikiran kusala (baik) muncul sampai
nafas terakhir, dia akan terlahir kembali di alam yang
membahagiakan. Jika akusala javana citta muncul sebelum kematian,
dia pasti akan terlahir kembali di alam menyedihkan. Sekilas ini
tidak sesuai denagn hukum kamma juga bukan? Karena jika orang baik
menjelang kematian tiba2 muncul akusala javana citta, bukankah akan
sangat merugikan dia yang telah berbuat baik? Jadi hukum kamma itu
lintas waktu dan pelatihan itu sangat mementingkan sikap batin.
Contoh lain adalah mengenai kisah Mattakundali di kitab Dhammpada
Atthakatta. Hanya memiliki keyakinan saja pada sang Buddha sudah
dapat membuat beliau terlahir di alam surga. Ini seolah2
bertentangan dengan hukum kamma. Itulah sebabnya sampai ada yang
bertanya pada sang Buddha mengenai hal ini, tapi sang Buddha
mengatakan memang demikianlah hal nya, bahwa ya fakta nya demikian. 
Ini mengindikasikan bahwa cara kerja kamma itu lintas waktu dan kita
tidak tahu dimensi waktu kehidupan lalu, jadi terlalu gegabah untuk
mencapnya tidak sesuai hukum kamma.    
Jadi demikianlah, ada yang beranggapan antara Kanon pali dan Sutra2
saling bertentangan, ada yang menganggapnya selaras, semua ini
tergantung pada individu masing2, namun ini tetap tidak menghambat
mereka yang berlatih secara sungguh sungguh. Karena versi manapun
yang kita gunakan, asalkan kita berlatih secara konsisten, maka
kesucian akan dapat diraih. Kita dapat lihat sendiri, dalam
Theravada ada Ajahn Chah,  dalam Mahayana ada Xuyun, YinGuang ,
GuanQing , dll, dalam Tantra ada Milarepa, Atisha, dll.



Amithofo

Cg ik 











** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




SPONSORED LINKS
Religion and spirituality Spirituality


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke