Ya mungkin bagi teman2 lain juga yang sudah menemukan kekeliruan di buku tersebut mbok ya di sharing dong di forum ini, biar yang tidak tahu menjadi tahu, dan bisa meminimalisasi pemberhalaan buku tersebut, jangan diambil sendiri deh.

 

Memang buku itu tidaklah sempurna dan menjadi kewajiban bagi kita untuk membetulkan apa yang salah, dan mengembalikan semangat yang ditanam di pendahuluan di buku tersebut, bahwa buku itu merupakan referensi aja, dan bukan digunakan untuk ‘memukul’ umat Kristen

 

Dan saya harap bukan hanya buku beyond belief aja yang direvisi, tapi juga termasuk buku2 yang lain

 

Dan untuk ko ivan, klo bener dengan nien fo , ko ivan bisa berubah menjadi tidak membenci para evangelis, salut deh ko, tapi mbok ya juga, dibagi tips2nya, nien fo apa? dan tips2nya biar saya khususnya atau teman2 yang lain pada umumnya bisa mengikuti jejak  ko ivan, klo perlu, saya ada usul  ko  ivan nulis buku tentang ini atau mengadakan pelatihan singkat( bukankah nien fo adalah sesuatu yang dapat dikategorikan mudah tapi juga susah untuk dilakukan oleh umat Buddha)

 

 

Ehmmmmmm sebagai tambahan , hari jum’at kemarin, saya barusan selesai ‘berdebat’ dengan mereka (2 pendeta) yang secara tiba2 datang kerumah saya, yang kebetulan juga, teman istri saya, yang kebetulan juga istri saya adalah ‘Mualaf’ hehehe

Dan lucunya, salah satu diantara mereka dengan bangga mengaku berasal dari Buddha aliran Mahayana, yang telah ‘bertobat’ dengan  mengikuti jalan Yesus, dan kita pun adu argumentasi dengan  santai sampai larut malam, dan yang pasti saya nggak pake buku beyond belief,bukan karena tahu klo ada yang salah isinya karena emang saya gak tahu, wong punya tapi nggak pernah I baca isinya (cuman pendahuluannya doang), tapi I malah pake alkitab(warisan istri saya) , tafsir alkitab perjanjian baru(warisan istri saya), tafsir alkitab perjanjian lama(warisan istri saya), kamus besar bahasa Indonesia, origin of species karya Darwin, dan buku teori relativitas punyanya albert einstein, serta beberapa artikel yang saya ambil dari internet tentang iptek,Hitler dan Kristen,

Dan dari diskusi tersebut saya bisa menyimpulkan, untuk ‘melawan’ mereka, yang penting kita harus memiliki pengetahuan yang luas baik itu dibidang iptek atau apapun, itu aja plus pelajari budaya tionghoa karena kebetulan sebagian besar dari kita khan tionghoa dan kebetulan org K juga lagi giat2nya menggathuk-gathukkan budaya tionghoa dengan alkitab

 

Memang apa yang dikatakan ko Ivan ada benarnya, tapi  harus diingat juga , bahwa penerbitan atau penterjemahan sutra2/sutta Buddhis, tetap tidak akan banyak berguna, bila tidak dibarengi dengan upaya2 kongkret dari umat Buddha itu sendiri.

 

Saya lihat, umat Buddha saling berdebat, tentang hal2 yang ‘aneh’  dan  kadang bila ada pertanyaan yang cenderung mendasar, bukannya dijawab dengan elegan tapi malah dapetnya sindiran, yang cenderung malah membingungkan.

 

Ini terkadang menjadi momok bagi umat yang baru aja  menjadi/ masuk ke agama Buddha, bukannya diayomi dan dilindungi, tapi malah dibuat kebingungan.

Saya tidak pernah melihat ada pelatihan2 atau workshop atau semacam pertemuan2 kecil baik itu di vihara atau ditempat lain, yang berguna untuk memberi wawasan dan pandangan tentang agama Buddha itu sendiri

 

Inilah keunggulan orang Kristen, mereka , saya lihat(karena istri saya adalah salah satu anggota majelis) begitu kompak, dan saya juga melihat mereka aktif mengadakan pertemuan2, saling curhat, saling mebicarakan masalah2 masing2 , tanpa canggung, tanpa sungkan, dan cenderung ringan dan enak untuk didengar. Mereka ketika bertemu, tidak membicarakan sesuatu yang ‘berat’, ini yang tidak ada di komunitas umat Buddha

 

PR yang besar dan berat bagi umat Buddha, dan tidak akan pernah bisa selesai bila umat Buddha sendiri masih memandang(SARUK=Sekte Aliran Ragam Uang Kekuasaan èkecuali bagi aliran sinkretisme spt mty dan teman2 nya) dan cuek bebek terhadap masalah2 kemasyarakatan disekitar kita, dan saya selalu siap membantu bila ada upaya2 untuk memajukan Buddhisme di Indonesia

 

Maaf sebelumnya bila ada kata2 saya yang menyinggung harap maklum unek2 sejak lama

 

 

 

ronny

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of dh4rm4duta
Sent: 28 Agustus 2006 22:42
To: [email protected]
Subject: [Dharmajala] Re: Cara menghadapi peginjil hehehe,,,,,

 

Namo Buddhaya,

Beyond Belief tidak baik, karena info di dalamnya tidak semua
akurat, karena menampilkan ajaran-ajaran yang bahkan Kristen sendiri
tidak menganutnya, tetapi diputar balik bahwa seolah-olah memang
demikianlah ajaran K. Sebagai contoh adalah Yesus yang seolah-olah
mengajarkan permusuhan (diistilah dengan pemisahan dalam Injil)
antara seorang penganut Yesus dengan keluarganya. Padahal yang
dimaksud adalah: bila seseorang yang dilahirkan di tengah keluarga
yang memiliki kebiasaan buruk (merampok, berjudi, dan lain
sebagainya), maka ia hendaknya tidak mengikuti kebiasaan buruk
tersebut. Inilah yang dimaksud dengan "pemisahan" dalam Kitab Injil.
Jadinya bukannya seseorang harus memusuhi keluarganya tanpa sebab
setelah menjadi pengikut Yesus.
Menurut hemat saya, buku Beyond Belief harus direvisi ulang. Harus
dipisahkan mana yang benar dan mana yang salah. Buddhisme tidak akan
makin tersebar melalui penyebar-luasan sesuatu yang tidak benar
(salah) mengenai agama lain. Sebagai langkah awal buku Beyond Belief
tidak masalah. Hanya membahas kelemahan agama lain tidak akan
menyelesaikan masalah. Tetapi, hal yang lebih penting adalah
meningkatkan sumber daya internal Buddhis itu sendiri. Para pemuka
Buddhis masih enggan menerbitkan Kitab-kitab Tripitaka dengan beribu
alasan. Inilah yang memprihatinkan. Terjemahan sudah ada, tetapi
sayangnya tidak ada yang bersedia menyebar-luaskannya. Kalau
literatur suci Buddhis tersedia dengan lengkap apakah yang
ditakutkan terhadap para penginjil? Umat Buddha berlomba membangun
patung, vihara, dan pagoda seribu tingkat. Apakah benda-benda mati
itu dapat membendung evangelisasi? Mengapa tidak membangun sekolah
yang setaraf Petra, Santa Maria, Ciputra, dll?
Mengapa antar sekte masih cakar-cakaran?
Apabila Buddhisme tidak maju mengapa harus kita salahkan penginjil?
Salahkan diri sendiri! Nah, sekarang mau diajak maju apa tidak.

Metta,

Tan

--- In [EMAIL PROTECTED]ups.com, "ching ik/ djoni"
<chingik2003@...> wrote:
>
> Namo Buddhaya,
>
> Shanzhai...Shanzai...(bagus, bagus...)
> Itulah sebabnya dulu saya pernah mempermasalahkan buku Beyond
> Belief, masih ingatkan ? :), tapi bro Tan memang benar, mendingan
> sekarang kita memberi fokus yang lebih besar pada pendalaman
Buddha
> dharma itu sendiri demi menggodok diri kita menjadi lebih sadar,
> lurus dan suci.. , maka siapa pun tidak akan dapat menggoyahkan
kita
> lagi.
>
>
> Cg ik
>
>
>
> --- In [EMAIL PROTECTED]ups.com, "dh4rm4duta" <dh4rm4duta@>
> wrote:
> >
> > Namo Buddhaya,
> >
> > Hendak menambahi sedikit,
> >
> > Saya sebenarnya tidak khawatir lagi terhadap kaum evangelis,
> karena
> > Buddha sendiri mengatakan bahwa yang akan menghancurkan agama
> Buddha
> > justru adalah umat Buddha sendiri. Hal ini ditegaskan dalam
Sutra
> > Kelenyapan Dharma. Ada beberapa metafora yang dicantumkan dalam
> sutra
> > di atas. Pertama-tama Sutra-sutra penting Buddhis akan lenyap.
Ini
> > melambangkan bahwa umat Buddha sudah mulai tidak mempedulikan
> Dharma
> > lagi. Sebagaimana yang kita lihat saat ini, kitab-kitab
Tripitaka
> > hanya dijadikan penghias lemari belaka. Umat Buddha lebih banyak
> > terdorong untuk membangun proyek mercusuar belaka, ketimbang
> mencetak
> > Sutra-sutra Buddhis. Inilah yang perlu direformasi dalam diri
umat
> > Buddha. Jika umat Buddhis dapat menghargai literaturnya sendiri,
> maka
> > tidak peduli betapa gencarnya kaum evangelis menyerang kita,
> > Buddhisme akan tetap berdiri dengan kokoh.
> > Kedua, Sutra menyebutkan bahwa pada masa Akhir Dharma, orang-
orang
> > hanya akan membaca sutra bagian awal dan akhirnya saja. Ini
> > melambangkan ketidak-acuhan umat Buddha terhadap Dharma.
> > Dengan demikian, kita hendaknya mereformasi diri kita sendiri.
> Bila
> > SDM Buddhis cukup kuat, evangelis tidak akan berkutik.
> > Dewasa ada trend yang salah. Banyak umat Buddhis yang menjadikan
> buku
> > Beyond Belief sebagai sarana menebar kebencian terhadap umat
agama
> > lain. Ini tentu saja tidak dapat dibenarkan. Jika buku itu malah
> > menjadikan umat Buddha bangga berlebihan, maka ia telah menjadi
> > semacam berhala. Tidak ada salahnya merasa bangga sebagai umat
> > Buddha. Tetapi bangga berlebihan menurut pakar manajemen modern
> > adalah pertanda kemacetan. Selain itu, ada beberapa bagian dalam
> buku
> > Beyond Belief yang salah. Saya baru-baru ini membaca kembali
buku
> > itu, ternyata di dalamnya terdapat kepercayaan yang justru umat
K
> > sendiri tidak meyakininya. Namun di dalamnya disebutkan bahwa
> seolah-
> > olah umat K memiliki keyakinan semacam itu. Dengan demikian,
buku
> itu
> > menjadi tidak ilmiah lagi (tidak jujur) dan tidak bedanya dengan
> > literatur K yang menjelek-jelekkan Buddhis. Menurut hemat saya,
> bila
> > hendak menyatakan segala sesuatu kita harus bertolak dari basis
> > keilmiahan. Jadi buku-buku semacam itu harus direvisi.
> > Sudah waktunya kita berpaling ke dalam. Janganlah kita menoleh
ke
> > luar terus. Masing2 sekte dalam Buddhisme masih cakar2an dan
belum
> > mau memperluas wawasan. Lalu mengapa kita menyalahkan K semata?
> Cara-
> > cara K memang ada yang tidak dapat dibenarkan. Namun, dalam
intern
> > kita sendiri juga belum sepenuhnya beres. Padahal masalah intern
> ini
> > lebih penting dari ekstern.
> > Dulu saya memang membenci kaum evangelis, tetapi makin banyak
saya
> > berpraktek nianfo, akhirnya saya sadar bahwa maju dan tidaknya
> > Buddhis sesungguhnya berada di tangan umatnya sendiri. Kalau
> lembaga-
> > lembaga kita sendiri masih belum memadai atau belum ada,
bagaimana
> > kita menghendaki kemajuan?
> >
> > Marilah kita reformasi Buddhisme dari dalam. Janganlah kita
> kambing-
> > hitamkan umat agama lain semata.
> >
> > Demikianlah sedikit tanggapan dari saya. Mohon maaf kalau ada
kata
> > yang salah.
> >
> > Metta,
> >
> > Tan
> >
> >
>

__._,_.___

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **





YAHOO! GROUPS LINKS




__,_._,___

Kirim email ke