Ronny yang terkasih,

Saya mengutip beberapa kalimat anda:

Saya lihat, umat Buddha saling berdebat, tentang hal2 yang `aneh'  dan
 kadang bila ada pertanyaan yang cenderung mendasar, bukannya dijawab
dengan elegan tapi malah dapetnya sindiran, yang cenderung malah
membingungkan.

Ini terkadang menjadi momok bagi umat yang baru aja  menjadi/ masuk ke
agama Buddha, bukannya diayomi dan dilindungi, tapi malah dibuat
kebingungan.

Saya tidak pernah melihat ada pelatihan2 atau workshop atau semacam
pertemuan2 kecil baik itu di vihara atau ditempat lain, yang berguna
untuk memberi wawasan dan pandangan tentang agama Buddha itu sendiri

Inilah keunggulan orang Kristen, mereka , saya lihat(karena istri saya
adalah salah satu anggota majelis) begitu kompak, dan saya juga
melihat mereka aktif mengadakan pertemuan2, saling curhat, saling
mebicarakan masalah2 masing2 , tanpa canggung, tanpa sungkan, dan
cenderung ringan dan enak untuk didengar. Mereka ketika bertemu, tidak
membicarakan sesuatu yang `berat', ini yang tidak ada di komunitas
umat Buddha

PR yang besar dan berat bagi umat Buddha, dan tidak akan pernah bisa
selesai bila umat Buddha sendiri masih memandang(SARUK=Sekte Aliran
Ragam Uang Kekuasaan èkecuali bagi aliran sinkretisme spt mty dan
teman2 nya) dan cuek bebek terhadap masalah2 kemasyarakatan disekitar
kita, dan saya selalu siap membantu bila ada upaya2 untuk memajukan
Buddhisme di Indonesia (Ronny)


Saya melihat anda sangat tertarik untuk mengembangkan Buddhisme, di
Indonesia khususnya. Saya memahami maksud anda tentang komunitas
Buddhis indonesia dewasa ini yang kurang peduli terhadap masalah
kehidupan sehari-hari manusia. Buddhis yang sibuk mengurusi masalah
ritual, masalah karma(bagaimana agar kehidupan esok menjadi lebih
baik), kalo diskusi tentang yang ribet2 seperti sutra2, konsep-konsep
yang ngawang-ngawang gak jelas. Padahal masalah kehidupan sehari-hari
saat ini malah ditelantarkan.

Sebenarnya apakah Buddhisme pada umumnya di Indonesia sudah dapat
memberikan penyelesaian terhadap masalah-masalah sosial saat ini --
kemiskinan, pengangguran, kesenjangan sosial, kriminalitas, kekerasan
sosial, perselingkuhan, keretakan keluarga, perusakan lingkungan dan
masih banyak lainnya.

Hal-hal seperti diataslah yan seharusnya kita bahas bersama-sama untuk
mencari solusi agar masalah-masalah itu dapat kita selesaikan
perlahan-lahan. Sebab kita adalah bagian dari masyarakat yang juga
bertanggungjawab terhadap masalah-masalah di dalamnya.

APAKAH SEBAGAI BUDDHIS KITA TELAH BERUPAYA KE ARAH TRANSFORMASI SOSIAL?

Jangan-jangan selama ini kita hanya sibuk memikirkan diri sendiri,  
sebagai Budhhis yang sibuk mengharapkan hasil karma baik, sibuk
berdebat hal-hal yang gak penting, sibuk pada hal-hal yang
ngawang-ngawang gak menginjak BUMI(sibuk pada masalah dewa-dewi serta
alam-alam lain). BUKANKAH SEHARUSNYA KITA MEMIKIRKAN ALAM KEHIDUPAN
SAAT INI? KEHIDUPAN KITA -- KELUARGA KITA, SAHABAT KITA, MASYARAKAT KITA.

Nahh untuk semua hal-hal seperti itulah DHARMAJALA dibentuk. Jika anda 
mendambakan komunitas Buddhis yang menyatu dengan kehidupan
sehari-hari anda -- DHARMAJALA  adalah jawabannya.

Di Dharmajala terdapat banyak kegiatan serta alat bantu untuk
memfasilitasi terjadinya TRANSFORMASI DIRI, TRANSFORMASI SOSIAL DAN
PELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP.

Salah satu diantara-nya ada KPD(komunitas praktik dharmajala). Sebagai
anggota KPD kita berkumpul seminggu sekali dalam pertemuan kecil untuk
berlatih bersama serta berdiskusi dan berbagi hal-hal tentang
kehidupan sehari-hari. Berbagi pengalaman hidup. Baik suka maupun
duka. Baik tentang permasalahan pribadi maupun sosial. Berbagi sebagai
anggota keluarga yang saling peduli satu sama lainnya. 

Ada jg kegiatan serta alat bantu lainnya seperti retret, aksi sosial,
gathering, milist yang sedang anda baca ini, dan lain sebagainya.
Semua hal yang kita lakukan ini tetap berlandaskan pada ajaran utama 
Buddha yaitu hidup berkesadaran. Jadi kita benar-benar PRAKTEK DHARMA.
Dan kita melakukannya sebagai suatu komunitas -- sebagai sebuah
keluarga yang saling dukung, saling peduli -- saling asah, asih, dan
asuh dalam komunitas sanggha.

Dan untuk menggapai cita-cita yang mulia ini. Tidaklah dapat dilakukan
hanya oleh satu, dua atau tiga orang. Tetapi perlu mengikutsertakan 
bangsa & masyarakat indonesia, dalam hal ini Buddhis pada khususnya.
Jadi jika anda merasakan hal yang sama serta memiliki impian yang
sama. MENGAPA KITA TIDAK BERSATU DALAM SEBUAH KELUARGA BESAR.

MARILAH KITA BERSAMA-SAMA BERGANDENGAN TANGAN MEWUJUDKAN IMPIAN INI. 

contact person Dharmajala : Richard  08128421392
                            Julie    08131018731
                            Bernardi 08174834896 
                            Steven   081381381311


Salam penuh kasih,

Dayapala Steven

 





--- In [email protected], "RW" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>  
> 
>  
> 
> Ya mungkin bagi teman2 lain juga yang sudah menemukan kekeliruan di buku
> tersebut mbok ya di sharing dong di forum ini, biar yang tidak tahu
menjadi
> tahu, dan bisa meminimalisasi pemberhalaan buku tersebut, jangan diambil
> sendiri deh.
> 
>  
>  
> Memang buku itu tidaklah sempurna dan menjadi kewajiban bagi kita untuk
> membetulkan apa yang salah, dan mengembalikan semangat yang ditanam di
> pendahuluan di buku tersebut, bahwa buku itu merupakan referensi
aja, dan
> bukan digunakan untuk 'memukul' umat Kristen
> 
>  
> 
> Dan saya harap bukan hanya buku beyond belief aja yang direvisi,
tapi juga
> termasuk buku2 yang lain
> 
>  
> 
> Dan untuk ko ivan, klo bener dengan nien fo , ko ivan bisa berubah
menjadi
> tidak membenci para evangelis, salut deh ko, tapi mbok ya juga, dibagi
> tips2nya, nien fo apa? dan tips2nya biar saya khususnya atau teman2 yang
> lain pada umumnya bisa mengikuti jejak  ko ivan, klo perlu, saya ada
usul
> ko  ivan nulis buku tentang ini atau mengadakan pelatihan singkat(
bukankah
> nien fo adalah sesuatu yang dapat dikategorikan mudah tapi juga
susah untuk
> dilakukan oleh umat Buddha) 
> 
>  
> 
>  
> 
> Ehmmmmmm sebagai tambahan , hari jum'at kemarin, saya barusan selesai
> 'berdebat' dengan mereka (2 pendeta) yang secara tiba2 datang
kerumah saya,
> yang kebetulan juga, teman istri saya, yang kebetulan juga istri
saya adalah
> 'Mualaf' hehehe
> 
> Dan lucunya, salah satu diantara mereka dengan bangga mengaku
berasal dari
> Buddha aliran Mahayana, yang telah 'bertobat' dengan  mengikuti
jalan Yesus,
> dan kita pun adu argumentasi dengan  santai sampai larut malam, dan yang
> pasti saya nggak pake buku beyond belief,bukan karena tahu klo ada yang
> salah isinya karena emang saya gak tahu, wong punya tapi nggak
pernah I baca
> isinya (cuman pendahuluannya doang), tapi I malah pake
alkitab(warisan istri
> saya) , tafsir alkitab perjanjian baru(warisan istri saya), tafsir
alkitab
> perjanjian lama(warisan istri saya), kamus besar bahasa Indonesia,
origin of
> species karya Darwin, dan buku teori relativitas punyanya albert
einstein,
> serta beberapa artikel yang saya ambil dari internet tentang
iptek,Hitler
> dan Kristen,
> 
> Dan dari diskusi tersebut saya bisa menyimpulkan, untuk 'melawan'
mereka,
> yang penting kita harus memiliki pengetahuan yang luas baik itu dibidang
> iptek atau apapun, itu aja plus pelajari budaya tionghoa karena
kebetulan
> sebagian besar dari kita khan tionghoa dan kebetulan org K juga lagi
> giat2nya menggathuk-gathukkan budaya tionghoa dengan alkitab
> 
>  
> 
> Memang apa yang dikatakan ko Ivan ada benarnya, tapi  harus diingat
juga ,
> bahwa penerbitan atau penterjemahan sutra2/sutta Buddhis, tetap
tidak akan
> banyak berguna, bila tidak dibarengi dengan upaya2 kongkret dari
umat Buddha
> itu sendiri.
> 
>  
> 
> Saya lihat, umat Buddha saling berdebat, tentang hal2 yang 'aneh'  dan
> kadang bila ada pertanyaan yang cenderung mendasar, bukannya dijawab
dengan
> elegan tapi malah dapetnya sindiran, yang cenderung malah membingungkan.
> 
>  
> 
> Ini terkadang menjadi momok bagi umat yang baru aja  menjadi/ masuk
ke agama
> Buddha, bukannya diayomi dan dilindungi, tapi malah dibuat kebingungan.
> 
> Saya tidak pernah melihat ada pelatihan2 atau workshop atau semacam
> pertemuan2 kecil baik itu di vihara atau ditempat lain, yang berguna
untuk
> memberi wawasan dan pandangan tentang agama Buddha itu sendiri
> 
>  
> 
> Inilah keunggulan orang Kristen, mereka , saya lihat(karena istri saya
> adalah salah satu anggota majelis) begitu kompak, dan saya juga melihat
> mereka aktif mengadakan pertemuan2, saling curhat, saling mebicarakan
> masalah2 masing2 , tanpa canggung, tanpa sungkan, dan cenderung
ringan dan
> enak untuk didengar. Mereka ketika bertemu, tidak membicarakan
sesuatu yang
> 'berat', ini yang tidak ada di komunitas umat Buddha
> 
>  
> 
> PR yang besar dan berat bagi umat Buddha, dan tidak akan pernah bisa
selesai
> bila umat Buddha sendiri masih memandang(SARUK=Sekte Aliran Ragam Uang
> Kekuasaan ==>kecuali bagi aliran sinkretisme spt mty dan teman2 nya) dan
> cuek bebek terhadap masalah2 kemasyarakatan disekitar kita, dan saya
selalu
> siap membantu bila ada upaya2 untuk memajukan Buddhisme di Indonesia
> 
>  
> 
> Maaf sebelumnya bila ada kata2 saya yang menyinggung harap maklum unek2
> sejak lama 
> 
>  
> 
>  
> 
>  
> 
> ronny
> 
>  
> 
>  
> 
>  
> 
>  
> 
>  
> 
>  
> 
>  
> 
>  
> 
>  
> 
>  
> 
>  
> 
>  
> 
>  
> 
>  
> 
>   _____  
> 
> From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On
> Behalf Of dh4rm4duta
> Sent: 28 Agustus 2006 22:42
> To: [email protected]
> Subject: [Dharmajala] Re: Cara menghadapi peginjil hehehe,,,,,
> 
>  
> 
> Namo Buddhaya,
> 
> Beyond Belief tidak baik, karena info di dalamnya tidak semua 
> akurat, karena menampilkan ajaran-ajaran yang bahkan Kristen sendiri 
> tidak menganutnya, tetapi diputar balik bahwa seolah-olah memang 
> demikianlah ajaran K. Sebagai contoh adalah Yesus yang seolah-olah 
> mengajarkan permusuhan (diistilah dengan pemisahan dalam Injil) 
> antara seorang penganut Yesus dengan keluarganya. Padahal yang 
> dimaksud adalah: bila seseorang yang dilahirkan di tengah keluarga 
> yang memiliki kebiasaan buruk (merampok, berjudi, dan lain 
> sebagainya), maka ia hendaknya tidak mengikuti kebiasaan buruk 
> tersebut. Inilah yang dimaksud dengan "pemisahan" dalam Kitab Injil. 
> Jadinya bukannya seseorang harus memusuhi keluarganya tanpa sebab 
> setelah menjadi pengikut Yesus.
> Menurut hemat saya, buku Beyond Belief harus direvisi ulang. Harus 
> dipisahkan mana yang benar dan mana yang salah. Buddhisme tidak akan 
> makin tersebar melalui penyebar-luasan sesuatu yang tidak benar 
> (salah) mengenai agama lain. Sebagai langkah awal buku Beyond Belief 
> tidak masalah. Hanya membahas kelemahan agama lain tidak akan 
> menyelesaikan masalah. Tetapi, hal yang lebih penting adalah 
> meningkatkan sumber daya internal Buddhis itu sendiri. Para pemuka 
> Buddhis masih enggan menerbitkan Kitab-kitab Tripitaka dengan beribu 
> alasan. Inilah yang memprihatinkan. Terjemahan sudah ada, tetapi 
> sayangnya tidak ada yang bersedia menyebar-luaskannya. Kalau 
> literatur suci Buddhis tersedia dengan lengkap apakah yang 
> ditakutkan terhadap para penginjil? Umat Buddha berlomba membangun 
> patung, vihara, dan pagoda seribu tingkat. Apakah benda-benda mati 
> itu dapat membendung evangelisasi? Mengapa tidak membangun sekolah 
> yang setaraf Petra, Santa Maria, Ciputra, dll?
> Mengapa antar sekte masih cakar-cakaran? 
> Apabila Buddhisme tidak maju mengapa harus kita salahkan penginjil? 
> Salahkan diri sendiri! Nah, sekarang mau diajak maju apa tidak.
> 
> Metta,
> 
> Tan
> 
> --- In [EMAIL PROTECTED] <mailto:Dharmajala%40yahoogroups.com>
ups.com,
> "ching ik/ djoni" 
> <chingik2003@> wrote:
> >
> > Namo Buddhaya,
> > 
> > Shanzhai...Shanzai...(bagus, bagus...)
> > Itulah sebabnya dulu saya pernah mempermasalahkan buku Beyond 
> > Belief, masih ingatkan ? :), tapi bro Tan memang benar, mendingan 
> > sekarang kita memberi fokus yang lebih besar pada pendalaman 
> Buddha 
> > dharma itu sendiri demi menggodok diri kita menjadi lebih sadar, 
> > lurus dan suci.. , maka siapa pun tidak akan dapat menggoyahkan 
> kita 
> > lagi. 
> > 
> > 
> > Cg ik
> > 
> > 
> > 
> > --- In [EMAIL PROTECTED] <mailto:Dharmajala%40yahoogroups.com>
ups.com,
> "dh4rm4duta" <dh4rm4duta@> 
> > wrote:
> > >
> > > Namo Buddhaya,
> > > 
> > > Hendak menambahi sedikit,
> > > 
> > > Saya sebenarnya tidak khawatir lagi terhadap kaum evangelis, 
> > karena 
> > > Buddha sendiri mengatakan bahwa yang akan menghancurkan agama 
> > Buddha 
> > > justru adalah umat Buddha sendiri. Hal ini ditegaskan dalam 
> Sutra 
> > > Kelenyapan Dharma. Ada beberapa metafora yang dicantumkan dalam 
> > sutra 
> > > di atas. Pertama-tama Sutra-sutra penting Buddhis akan lenyap. 
> Ini 
> > > melambangkan bahwa umat Buddha sudah mulai tidak mempedulikan 
> > Dharma 
> > > lagi. Sebagaimana yang kita lihat saat ini, kitab-kitab 
> Tripitaka 
> > > hanya dijadikan penghias lemari belaka. Umat Buddha lebih banyak 
> > > terdorong untuk membangun proyek mercusuar belaka, ketimbang 
> > mencetak 
> > > Sutra-sutra Buddhis. Inilah yang perlu direformasi dalam diri 
> umat 
> > > Buddha. Jika umat Buddhis dapat menghargai literaturnya sendiri, 
> > maka 
> > > tidak peduli betapa gencarnya kaum evangelis menyerang kita, 
> > > Buddhisme akan tetap berdiri dengan kokoh.
> > > Kedua, Sutra menyebutkan bahwa pada masa Akhir Dharma, orang-
> orang 
> > > hanya akan membaca sutra bagian awal dan akhirnya saja. Ini 
> > > melambangkan ketidak-acuhan umat Buddha terhadap Dharma. 
> > > Dengan demikian, kita hendaknya mereformasi diri kita sendiri. 
> > Bila 
> > > SDM Buddhis cukup kuat, evangelis tidak akan berkutik. 
> > > Dewasa ada trend yang salah. Banyak umat Buddhis yang menjadikan 
> > buku 
> > > Beyond Belief sebagai sarana menebar kebencian terhadap umat 
> agama 
> > > lain. Ini tentu saja tidak dapat dibenarkan. Jika buku itu malah 
> > > menjadikan umat Buddha bangga berlebihan, maka ia telah menjadi 
> > > semacam berhala. Tidak ada salahnya merasa bangga sebagai umat 
> > > Buddha. Tetapi bangga berlebihan menurut pakar manajemen modern 
> > > adalah pertanda kemacetan. Selain itu, ada beberapa bagian dalam 
> > buku 
> > > Beyond Belief yang salah. Saya baru-baru ini membaca kembali 
> buku 
> > > itu, ternyata di dalamnya terdapat kepercayaan yang justru umat 
> K 
> > > sendiri tidak meyakininya. Namun di dalamnya disebutkan bahwa 
> > seolah-
> > > olah umat K memiliki keyakinan semacam itu. Dengan demikian, 
> buku 
> > itu 
> > > menjadi tidak ilmiah lagi (tidak jujur) dan tidak bedanya dengan 
> > > literatur K yang menjelek-jelekkan Buddhis. Menurut hemat saya, 
> > bila 
> > > hendak menyatakan segala sesuatu kita harus bertolak dari basis 
> > > keilmiahan. Jadi buku-buku semacam itu harus direvisi.
> > > Sudah waktunya kita berpaling ke dalam. Janganlah kita menoleh 
> ke 
> > > luar terus. Masing2 sekte dalam Buddhisme masih cakar2an dan 
> belum 
> > > mau memperluas wawasan. Lalu mengapa kita menyalahkan K semata? 
> > Cara-
> > > cara K memang ada yang tidak dapat dibenarkan. Namun, dalam 
> intern 
> > > kita sendiri juga belum sepenuhnya beres. Padahal masalah intern 
> > ini 
> > > lebih penting dari ekstern.
> > > Dulu saya memang membenci kaum evangelis, tetapi makin banyak 
> saya 
> > > berpraktek nianfo, akhirnya saya sadar bahwa maju dan tidaknya 
> > > Buddhis sesungguhnya berada di tangan umatnya sendiri. Kalau 
> > lembaga-
> > > lembaga kita sendiri masih belum memadai atau belum ada, 
> bagaimana 
> > > kita menghendaki kemajuan?
> > > 
> > > Marilah kita reformasi Buddhisme dari dalam. Janganlah kita 
> > kambing-
> > > hitamkan umat agama lain semata.
> > > 
> > > Demikianlah sedikit tanggapan dari saya. Mohon maaf kalau ada 
> kata 
> > > yang salah.
> > > 
> > > Metta,
> > > 
> > > Tan
> > > 
> > >
> >
>









** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman 
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta 
kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami 
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas 
dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas 
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan 
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, 
para guru, serta sahabat-sahabat kami ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke