Untuk semua teman-teman yang berjalan di jalan Dhamma.
Bukankah Sang Buddha sendiri pernah berkata, pada hakikatnya Dharma, sebenarnya selalu ada, dengan atau tanpa adanya kelahiran Buddha? Hanya kekotoran bathin manusialah yang mencegah mereka mengerti Dharma yang benar. Dan Sang Budha pun tidak dapat membuat semua manusia mengerti Dharma yang benar, karena hanya mereka yang memiliki sedikit debu di mata mereka yang akan mau menerima Dharma Sang Bhagava, dan lebih sedikit lagi yang dapat menjalankannya serta mempraktekkannya dalam hidup sehari-hari, lebih sedikit lagi yang dapat mempraktekkannya untuk mencapai penerangan sempurna dalam kehidupan ini. Sebagian besar dari kita akan berputar-putar hingga suatu masa yang tak terkira lamanya di dalam lingkaran samsara ini.
Saya rasa hampir setiap umat Buddha pasti pernah bersinggungan dengan kaum Kristiani, karena pada jaman ini, mereka
ada diantara kita, mungkin bahkan mereka orang tua kita, anak-anak kita, saudara kita, teman-teman kita, dst. Mereka semakin banyak, dan dalam banyak kesempatan, sengaja maupun tidak, mereka sering menyinggung ajaran Buddha sebagai ajaran sesat, kadang mereka menganggap ajaran Buddha thahayul, merepotkan, karena mereka menyamaratakan ajaran Buddha dengan kepercayaan tradisional. Repotnya, sebagian besar orang yang mengaku Buddhis, mengiyakan pendapat mereka, karena itu tadi, bahwa seorang yang mengaku Buddhispun belum tentu memiliki pandangan benar tentang Dharma. Di lain pihak, sekolah dan media kebanyakan berafiliasi Kristiani, atau di lain pihak, adapula media dan ajaran Islami, yang terus terang aja, kalau kita mau telaah, Yahudi, Nasrani, dan Islam adalah ajaran yang berasal dari bapak moyang yang sama, yang mengakui Tuhan yang sama, makanya mereka disebut sebagai agama samawi. Dimata mereka, kita adalah kaum kafir en musyrikin, karena TIDAK
MENGAKUI TUHAN MEREKA.
Jujur teman-teman, opini umat Buddha banyak yang terbentuk akibat pendidikan dan media yang beredar di sekeliling kita, yang sebagian besar didominasi oleh Kaum Samawi (Yahudi, Kristiani, Islam). Kita menerima mentah-mentah opini mereka tanpa pernah MENYELIDIKI AJARAN MEREKA. Kita jadi malu, bila menyembah patung Buddha, sampai harus berdalih bahwa pada hakikatnya yang kita sembah bukan patungnya, tapi hanya perwujudan semangatnya. Bagi saya, jawaban seperti ini cenderung menunjukkan kelemahan kita, yang tidak mau menyelidiki ajaran mereka, dan mempelajari ajaran kita sendiri dengan sungguh-sungguh. Kalau mau jujur, kenapa harus malu bila kita punya Buddha Rupang? Toh Umat Kristen juga punya Salib Kayu, Katolik punya Patung Bagus-Bagus juga, Muslim punya Ka'bah yang isinya batu, yang kalau gak salah tempat Ibrahim (Abraham) dulu akan membakar putranya, dan Yahudi punya Tembok Ratapan.
Masalahnya, ide dasar mereka bukan soal batu/kayu/emas, itu hanya kamuflase untuk menggoyahkan Saddha kita! Mereka akan berdalih, bahwa batu di Ka'bah adalah rumah Tuhan yang Benar, Salib dari Kayu representasi Tuhan yang Benar (Yesus Kristus), dst, yang intinya sebenarnya adalah, bahwa hanya TUHAN MEREKA yang benar, sebagaimana tertulis dalam Injil, Taurat, dan Al-Quran. Lebih jauh lagi, perbedaan mendasar orang Muslim dan Kristen terdapat di keyakinan terhadap Yesus sebagai Tuhan. Kaum Muslim jelas-jelas menolak MENUHANKAN KRISTUS, karena bagi mereka, Tuhan yang benar adalah ALLAH, yang oleh kaum Kristiani dianggap sama dengan YESUS, karena YESUS adalah PUTRA ALLAH. Perbedaan hanya disitu, tapi sangat fatal!!! Berapa banyak darah yang tertumpah karena masalah ini? Lebih tragis lagi, ALLAH YAHUDI dan ALLAH MUSLIMIN adalah sama, tapi hingga detik ini berapa banyak nyawa yang melayang sia-sia karena pertempuran antara kedua agama tersebut? MENGAPA? Karena, dalam Al-Quran,
disebutkan bahwa Kaum Yahudi telah lama mendurhakai ALLAH, dan karena itu, mereka layak dihukum atas ketidakpatuhan mereka. Di lain pihak, tentu saja kaum Yahudi, yang pada dasarnya memang punya keyakinan kuat terhadap agama dan tradisi leluhur mereka, TIDAK MAU MENGAKUI BAIK KRISTUS MAUPUN MUHAMMAD.
Demikianlah teman-teman, keyakinan yang buta, yang berdasarkan pada kata-kata yang tertuang dalam kitab suci semata, seringkali membuat orang jadi FUNDAMENTALIS, BODOH (menurut saya, bodoh sekali bila darah tertumpah atas nama AGAMA), dan TIDAK MAU MENYELIDIKI alias BERPIKIR DUA KALI.
Ehipassiko, DATANG dan BUKTIKAN SENDIRI. Saya rasa, kita harus menggunakan kiat ini bila berhadapan dengan orang-orang berbeda keyakinan. Bukan hanya mereka yang harus membuktikan kebenaran ajaran mereka, namun kita juga harus dapat mencari bukti dari kebenaran Dhamma. Sebaliknya, ajak
mereka untuk membuktikan kebenaran Dhamma, mencicipi indahnya KEYAKINAN DALAM DHAMMA. Kita pun, bila mau setaraf tingkat kemampuan debatnya dengan mereka, harus mau meneliti AGAMA MEREKA. Dibawah ini ada beberapa poin yang dapat saya berikan :
1. Konsep TILAKKHANA, yang terdiri dari Anicca, Dukkha, dan Anatta, bukan hanya berlaku untuk umat Budha semata, tapi suka atau tidak suka, mau atau tidak mau, segala sesuatu yang berkondisi pasti terkena hukum ini. Segala sesuatu yang berkondisi adalah anicca, tidak kekal, selalu berubah. Manusia berubah dalam setiap detik hidupnya, bukan hanya bertambah tua, tapi dalam setiap aspek, sampai sel-sel terkecil dalam tubuh, bergerak dan berubah terus. Pikiran, apalagi. Jangankan manusia, TUHAN VERSI AGAMA SAMAWI pun MENJADI OBJEK DARI HUKUM TILAKKHANA ini!!!! KAGET???? Makanya, SELIDIKI!!! Saya bukan tidak percaya pada TUHAN, tapi satu hal yang pasti, bila harus mengakui bahwa
TUHAN VERSI AGAMA SAMAWI adalah TUHAN YANG KEKAL dan DAPAT MEMBERIKAN HIDUP KEKAL BAGI UMATNYA, saya tidak setuju, setidaknya, sampai menuliskan tanggapan ini, nalar saya belum dapat menerima nalar mereka. Saya tidak perlu menggunakan buku Beyond Belief untuk menyerang siapapun,cukuplah klita ajak saling jujur membuka KITAB SUCI masing-masing. JELAS DISANA tertulis bahwa ALLAH tidak merencanakan menciptakan ADAM dan HAWA untuk jatuh ke dalam dosa, tapi toh itu terjadi juga. Padahal, ALLAH menciptakan ADAM dan HAWA serupa dengan citraNYA, tapi suka atau tidak suka, RENCANA TIDAK SELALU BERJALAN SESUAI HARAPAN KAN? Jelas aja, karena saya bukan umat yang mengakui kebenaran kitab suci mereka, maka ADAM dan HAWA lebih seperti dongeng yang tragis bagi saya. Kenapa tragis? Karena bila cerita itu mau digunakan untuk membuktikan KEBENARAN MEREKA TENTANG MAHA PENCIPTA YANG MAHA KUASA LAGI MAHA KEKAL,maka mereka gagal total!!! Belum apa-apa, manusia yang
diciptakan udah membangkang, melakukan hal YANG TIDAK DISUKAI TUHAN, MEMBUAT TUHAN BERDUKHA KARENA MARAH BESAR PADA MEREKA.
2. TUHAN VERSI AGAMA SAMAWI bukan hanya berDUKKHA karena marah terhadap ADAM dan HAWA. Masih dalam Kitab Suci mereka, bukan bikinan saya, dan harap diingat, karena saya bukan penganut agama samawi, jelas aja saya anggap semua cerita ini sebagai bahan pembelajaran saja buat saya, dan bukan kebenaran. Jadi entah cerita yang tertulis di Kitab mereka benar atau rekaan manusia semata, bukan urusan saya. Yang jelas, mereka mempercayai hal itu, dan menggunakan kata-kata itru sebagai cara menarik umat BUDDHA dengan menakut2i umat Buddha yang gak pernah belajar Dharma. Begini, teman2, kata mereka, sebagaimana tertuang dalam kitab-kitab suci mereka, TUHAN MARAH dan CEMBURU kepada orang2 yang tidak percaya padaNYA. Kasihan ya, TUHAN. DARI JAMAN DULU SAMPAI SEKARANG LEBIH BANYAK BERDUKKHA daripada bahagia.
SOALNYA, banyak orang yang gak percaya, dan meskipun jumlah orang beragama samawi makin banyak, namun, TUHAN MASIH MARAH, karena sebagian orang MENUHANKAN YESUS (bukan saya yang ngomong, silakan tanyakan pada saudara-saudara kita kaum Muslimin, apakah ALLAH senang dengan perbuatan kaum NASRANI yang MENUHANKAN NABI ISA?), dan karena orang YAHUDI terus-terus membangkang (inipun juga bukan saya yang ngomong lho, tanya sama ahli Al-Quran). Saya hanya melihatnya dari sudut pandang Buddhisme saya, bahwa ternyata TUHAN JUGA BISA BERDUKKHA. JADI, GAK MUNGKINKAN, SAYA MENERIMA TUHAN TERSEBUT SEBAGAI YANG MAHA SEGALA-GALANYA, KEKAL TIDAK BERUBAH SELAMANYA?
3. Seandainya pun mereka benar, bahwa orang yang tidak menerima TUHAN MEREKA akan MASUK NERAKA, ya wis, gak apa-apa. SAYA LEBIH BAIK MENERIMA KEBENARAN SEJATI, meskipun konsekuensinya DIKUTUK TUHAN MEREKA, daripada JATUH KE DALAM KEBENARAN YANG MANIPULATIF. BAGI SAYA,
Kebenaran yang mereka katakan sebagai kebenaran, bukanlah kebenaran sejati. Dari 2 contoh diatas saja udah membuktikan kebenaran TILAKKHANA, dan tiada suatupun yang berkondisi, yang lepas dari hukum ini. Jadi, lebih baik saya hidup dengan kebenaran yang tidak menjanjikan surga dan hidup abadi bagi saya, namun membuat saya belajar untuk mengenal diri dan dunia ini apa adanya, dengan segala plus-minusnya, dan berjuang demi terbebas dari lingkaran tumimbal lahir ini. Senang dan susah sama-sama adalah kebenaran. Tidak mungkin ada yang senang terus, dan ada yang susah terus. Tanyakan kepada para pembabar INJIL itu, apakah TUHAN DAPAT MENGATASI DUKKHA-NYA? Sekadar tambahan, YESUS KRISTUS alias NABI ISA memang patut mendapatkan penghormatan karena teladan yang diberikannya, metta dan kesaktian yang dimilikinya, namun semua kelebihan-kelebihan BELIAU tidak membuat beliau sebagai MAKHLUK yang BERKONDISI, lepas dari HUKUM TILAKKHANA. Saat ini, atas nama BELIAU,
banyak orang yang mendapatkan berkat, kesembuhan, dll, tapi dilain pihak, tidak sedikitpula yang menderita, dan yang pasti, kesembuhan bukan milik semua orang KRISTEN saja, setiap orang bisa sembuh, bisa pula penyakit berat diderita bertahun-tahun, bisa juga mati oleh penyakit, tanpa melihat apa agamanya. Ini kebenaran yang menyakitkan, namun kebenaran adalah tetap kebenaran, betapapun kita ingin menghindarinya, dan memanipulasinya dengan semua janji surga yang ditiupkan.
4. Saya punya pengalaman yang membuka mata saya tentang indahnya Dharma. Perlu diketahui bahwa Saya bukan seorang yang terlalu religius, dan jauh dari baik. Tentu saja, saya belajar untuk memperbaiki diri saya, mengurangi sifat buruk saya, namun saya sadar, tidak mungkin dalam kehidupan ini saya mencapai kesempurnaan. Namun, saya ingin berbagi, pernah suatu ketika, sore hari, saya terbaring di ranjang, sedang berpikir ringan mengenai
ketidakkekalan dan hakekat hidup ini, tanpa sengaja, saya MENYADARI NAFAS SAYA. MASUK, KELUAR, BEGITU SAJA, sangat segar rasanya udara ini saat ia menyentuh lubang keluar-masuk nafas. Saya MENJADI SANGAT BAHAGIA. PIKIRAN SAYA MENJADI SIMPLE, yang tadinya bergumul dalam ketidakpastian hidup, saat itu tiba-tiba jadi rileks aja, dan MENYADARI BAHWA HIDUP INI HANYA SEJAUH NAFAS KELUAR-MASUK, dan BAHWA HIDUP INI ADALAH PERUBAHAN, NAMUN PATUT DISYUKURI BAHWA KITA PERNAH HIDUP, dan MASIH HIDUP dengan NAFAS INI, maka kebahagiaan yang tidak pernah saya rasakan sebelumnya tiba-tiba menyelimuti perasaan saya. SAYANG, Hanya sekian detik. Habis itu, back to my normal life. Yah, tapi paling tidak, ternyata kebenaran mengenai kebahagiaan dalam setiap hembusan nafas telah pernah saya rasakan, meski cuma sekian detik. Dan ini menjadi bukti bagi saya, bahwa mungkin memang orang-orang seperti Ajahn Chah, Thich Nath Hanh, S.N.Goenka, Dalai Lama, dan berbagai guru
Buddhis atau guru meditasi lainnya memang benar-benar telah menemukan kebenaran sejati dari Dharma Sang Bhagava. Minimal, kebenaran itu memang membahagiakan.
Sekian dulu, teman-teman, masih banyak yang ingin saya bagi, tapi udah malam, mau go home nih. Take care, and always do EHIPASSIKO.
suryani.
dh4rm4duta <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
dh4rm4duta <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Namo Buddhaya,
Beyond Belief tidak baik, karena info di dalamnya tidak semua
akurat, karena menampilkan ajaran-ajaran yang bahkan Kristen sendiri
tidak menganutnya, tetapi diputar balik bahwa seolah-olah memang
demikianlah ajaran K. Sebagai contoh adalah Yesus yang seolah-olah
mengajarkan permusuhan (diistilah dengan pemisahan dalam Injil)
antara seorang penganut Yesus dengan keluarganya. Padahal yang
dimaksud adalah: bila seseorang yang dilahirkan di tengah keluarga
yang memiliki kebiasaan buruk (merampok, berjudi, dan lain
sebagainya), maka ia hendaknya tidak mengikuti kebiasaan buruk
tersebut. Inilah yang dimaksud dengan "pemisahan" dalam Kitab Injil.
Jadinya bukannya seseorang harus memusuhi keluarganya tanpa sebab
setelah menjadi pengikut Yesus.
Menurut hemat saya, buku Beyond Belief harus direvisi ulang. Harus
dipisahkan mana yang benar dan mana yang salah. Buddhisme tidak akan
makin tersebar melalui penyebar-luasan sesuatu yang tidak benar
(salah) mengenai agama lain. Sebagai langkah awal buku Beyond Belief
tidak masalah. Hanya membahas kelemahan agama lain tidak akan
menyelesaikan masalah. Tetapi, hal yang lebih penting adalah
meningkatkan sumber daya internal Buddhis itu sendiri. Para pemuka
Buddhis masih enggan menerbitkan Kitab-kitab Tripitaka dengan beribu
alasan. Inilah yang memprihatinkan. Terjemahan sudah ada, tetapi
sayangnya tidak ada yang bersedia menyebar-luaskannya. Kalau
literatur suci Buddhis tersedia dengan lengkap apakah yang
ditakutkan terhadap para penginjil? Umat Buddha berlomba membangun
patung, vihara, dan pagoda seribu tingkat. Apakah benda-benda mati
itu dapat membendung evangelisasi? Mengapa tidak membangun sekolah
yang setaraf Petra, Santa Maria, Ciputra, dll?
Mengapa antar sekte masih cakar-cakaran?
Apabila Buddhisme tidak maju mengapa harus kita salahkan penginjil?
Salahkan diri sendiri! Nah, sekarang mau diajak maju apa tidak.
Metta,
Tan
--- In [EMAIL PROTECTED]ups.com , "ching ik/ djoni"
<chingik2003@...> wrote:
>
> Namo Buddhaya,
>
> Shanzhai...Shanzai...(bagus, bagus...)
> Itulah sebabnya dulu saya pernah mempermasalahkan buku Beyond
> Belief, masih ingatkan ? :), tapi bro Tan memang benar, mendingan
> sekarang kita memberi fokus yang lebih besar pada pendalaman
Buddha
> dharma itu sendiri demi menggodok diri kita menjadi lebih sadar,
> lurus dan suci.. , maka siapa pun tidak akan dapat menggoyahkan
kita
> lagi.
>
>
> Cg ik
>
>
>
> --- In [EMAIL PROTECTED]ups.com , "dh4rm4duta" <dh4rm4duta@>
> wrote:
> >
> > Namo Buddhaya,
> >
> > Hendak menambahi sedikit,
> >
> > Saya sebenarnya tidak khawatir lagi terhadap kaum evangelis,
> karena
> > Buddha sendiri mengatakan bahwa yang akan menghancurkan agama
> Buddha
> > justru adalah umat Buddha sendiri. Hal ini ditegaskan dalam
Sutra
> > Kelenyapan Dharma. Ada beberapa metafora yang dicantumkan dalam
> sutra
> > di atas. Pertama-tama Sutra-sutra penting Buddhis akan lenyap.
Ini
> > melambangkan bahwa umat Buddha sudah mulai tidak mempedulikan
> Dharma
> > lagi. Sebagaimana yang kita lihat saat ini, kitab-kitab
Tripitaka
> > hanya dijadikan penghias lemari belaka. Umat Buddha lebih banyak
> > terdorong untuk membangun proyek mercusuar belaka, ketimbang
> mencetak
> > Sutra-sutra Buddhis. Inilah yang perlu direformasi dalam diri
umat
> > Buddha. Jika umat Buddhis dapat menghargai literaturnya sendiri,
> maka
> > tidak peduli betapa gencarnya kaum evangelis menyerang kita,
> > Buddhisme akan tetap berdiri dengan kokoh.
> > Kedua, Sutra menyebutkan bahwa pada masa Akhir Dharma, orang-
orang
> > hanya akan membaca sutra bagian awal dan akhirnya saja. Ini
> > melambangkan ketidak-acuhan umat Buddha terhadap Dharma.
> > Dengan demikian, kita hendaknya mereformasi diri kita sendiri.
> Bila
> > SDM Buddhis cukup kuat, evangelis tidak akan berkutik.
> > Dewasa ada trend yang salah. Banyak umat Buddhis yang menjadikan
> buku
> > Beyond Belief sebagai sarana menebar kebencian terhadap umat
agama
> > lain. Ini tentu saja tidak dapat dibenarkan. Jika buku itu malah
> > menjadikan umat Buddha bangga berlebihan, maka ia telah menjadi
> > semacam berhala. Tidak ada salahnya merasa bangga sebagai umat
> > Buddha. Tetapi bangga berlebihan menurut pakar manajemen modern
> > adalah pertanda kemacetan. Selain itu, ada beberapa bagian dalam
> buku
> > Beyond Belief yang salah. Saya baru-baru ini membaca kembali
buku
> > itu, ternyata di dalamnya terdapat kepercayaan yang justru umat
K
> > sendiri tidak meyakininya. Namun di dalamnya disebutkan bahwa
> seolah-
> > olah umat K memiliki keyakinan semacam itu. Dengan demikian,
buku
> itu
> > menjadi tidak ilmiah lagi (tidak jujur) dan tidak bedanya dengan
> > literatur K yang menjelek-jelekkan Buddhis. Menurut hemat saya,
> bila
> > hendak menyatakan segala sesuatu kita harus bertolak dari basis
> > keilmiahan. Jadi buku-buku semacam itu harus direvisi.
> > Sudah waktunya kita berpaling ke dalam. Janganlah kita menoleh
ke
> > luar terus. Masing2 sekte dalam Buddhisme masih cakar2an dan
belum
> > mau memperluas wawasan. Lalu mengapa kita menyalahkan K semata?
> Cara-
> > cara K memang ada yang tidak dapat dibenarkan. Namun, dalam
intern
> > kita sendiri juga belum sepenuhnya beres. Padahal masalah intern
> ini
> > lebih penting dari ekstern.
> > Dulu saya memang membenci kaum evangelis, tetapi makin banyak
saya
> > berpraktek nianfo, akhirnya saya sadar bahwa maju dan tidaknya
> > Buddhis sesungguhnya berada di tangan umatnya sendiri. Kalau
> lembaga-
> > lembaga kita sendiri masih belum memadai atau belum ada,
bagaimana
> > kita menghendaki kemajuan?
> >
> > Marilah kita reformasi Buddhisme dari dalam. Janganlah kita
> kambing-
> > hitamkan umat agama lain semata.
> >
> > Demikianlah sedikit tanggapan dari saya. Mohon maaf kalau ada
kata
> > yang salah.
> >
> > Metta,
> >
> > Tan
> >
> >
>
Yahoo! Messenger with Voice. Make PC-to-Phone Calls to the US (and 30+ countries) for 2ยข/min or less. __._,_.___
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "Dharmajala" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
__,_._,___
