Namo Buddhaya,

Sdr. Ronny yang budiman,

> Ya mungkin bagi teman2 lain juga yang sudah menemukan kekeliruan di 
buku
> tersebut mbok ya di sharing dong di forum ini, biar yang tidak tahu 
menjadi
> tahu, dan bisa meminimalisasi pemberhalaan buku tersebut, jangan 
diambil
> sendiri deh.

TAN:

Waduh, kalau untuk sharing semuanya, jelas saya tidak ada waktu. 
Tetapi yang pasti pada posting terdahulu sudah saya beri satu contoh. 
Penulis buku Beyond Belief menyatakan bahwa Yesus mengajarkan bahwa 
ia mengadakan pemisahan antar keluarga, yakni antara seseorang dengan 
saudaranya, ayah, dan ibunya atau antara mertua dan menantunya, dan 
lain sebagainya. Oleh penulis hal ini dipelintir bahwa Yesus seolah-
olah mengajarkan pengikutnya untuk memusuhi keluarganya. Hal ini 
tidaklah benar. Yang dimaksud oleh Yesus adalah apabila seseorang 
telah menjadi pengikutnya, dan kebetulan keluarganya memiliki 
kebiasaan buruk (mencuri, berjudi, berzinah, dll), maka ia hendaknya 
tidak mengikuti jalan mereka. Jadi bukannya memusuhi tanpa sebab. Ini 
adalah kekeliruan yang diluruskan.
Saya sangat sibuk. Kalau Anda berminat mengetahui lebih jauh, lebih 
baik Anda bawa bukunya ke tempat saya, nanti saya tunjukkan.
Buku Jesus Live in India juga kelak akan menjadi bumerang bagi umat 
Buddha karena hanya dibangun atas landasan spekulatif. Naskah asli 
yang dimaksud Notovich tidak pernah ditemukan, sehingga buktinya 
tidak valid. Yang lebih konyol lagi ada umat Buddha yang menjadikan 
novel Davinci Code sebagai senjata. Nah, ini sangat berbahaya. Lebih 
baik kita konsentrasi mempelajari saja Buddhadharma.

> Memang buku itu tidaklah sempurna dan menjadi kewajiban bagi kita 
untuk
> membetulkan apa yang salah, dan mengembalikan semangat yang ditanam 
di
> pendahuluan di buku tersebut, bahwa buku itu merupakan referensi 
aja, dan
> bukan digunakan untuk 'memukul' umat Kristen

TAN:

Referensi sangat bagus. Tetapi apa yang kita lakukan setelah membaca 
buku itu. Apakah setelah membaca buku itu kita kembali tidur? Kita 
telah yakin bahwa Buddhadharma yang "benar," tetapi apakah setelah 
itu kita berpuas diri. Ini yang jadi pertanyaan. Berpuas diri tanpa 
bersedia melakukan sesuatu bukanlah sesuatu yang berguna.

Dan saya harap bukan hanya buku beyond belief aja yang direvisi, tapi 
juga
> termasuk buku2 yang lain

TAN:

Jesus Lived in India sangat berbahaya akan jadi bumerang bagi umat 
Buddhis sendiri. Kita akan ditertawakan oleh orang K yang pandai.
> 
>  
> 
> Dan untuk ko ivan, klo bener dengan nien fo , ko ivan bisa berubah 
menjadi
> tidak membenci para evangelis, salut deh ko, tapi mbok ya juga, 
dibagi
> tips2nya, nien fo apa? dan tips2nya biar saya khususnya atau teman2 
yang
> lain pada umumnya bisa mengikuti jejak  ko ivan, klo perlu, saya 
ada usul
> ko  ivan nulis buku tentang ini atau mengadakan pelatihan singkat( 
bukankah
> nien fo adalah sesuatu yang dapat dikategorikan mudah tapi juga 
susah untuk
> dilakukan oleh umat Buddha) 

TAN:

Apakah yang mau ditulis? Nianfo jelas tidak dapat dituliskan dengan 
kata-kata. Tetapi kalau mau dituliskan intinya cuma: Namo Amitabha 
Buddhaya. Nianfo tidaklah sulit, tetapi tidaklah mudah. Tipsnya cuma 
tanyakan pada diri sendiri: "Setelah mati saya mau ke mana?" Kalau 
kita tidak buru-buru berpraktek dan bersadhana kapan lagi? Nanti 
takutnya terlambat. Kapan-kapan deh kita ngobrol2 lebih jauh. 
Saya sekarang tidak membenci evangelis, karena terkadang mereka punya 
niat baik. Misalnya Anda percaya, bahwa makan tempe dapat 
menyelamatkan seseorang dari api neraka (kendati kepercayaan ini 
konyol). Lalu apakah Anda tidak akan menganjurkan orang yang Anda 
kasihi untuk juga makan tempe?
Faktor lemahnya Buddhisme bukan hanya kesalahan kaum evangelis, namun 
juga internal Buddhis sendiri. Ini kenyataan yang tidak dapat kita 
pungkiri. Saya tidak membenarkan tindakan evangelis. Tetapi semata-
mata mengambing-hitamkan evangelis juga bukan tindakan yang tepat.

> Ehmmmmmm sebagai tambahan , hari jum'at kemarin, saya barusan 
selesai
> 'berdebat' dengan mereka (2 pendeta) yang secara tiba2 datang 
kerumah saya,
> yang kebetulan juga, teman istri saya, yang kebetulan juga istri 
saya adalah
> 'Mualaf' hehehe
> 
> Dan lucunya, salah satu diantara mereka dengan bangga mengaku 
berasal dari
> Buddha aliran Mahayana, yang telah 'bertobat' dengan  mengikuti 
jalan Yesus,
> dan kita pun adu argumentasi dengan  santai sampai larut malam, dan 
yang
> pasti saya nggak pake buku beyond belief,bukan karena tahu klo ada 
yang
> salah isinya karena emang saya gak tahu, wong punya tapi nggak 
pernah I baca
> isinya (cuman pendahuluannya doang), tapi I malah pake alkitab
(warisan istri
> saya) , tafsir alkitab perjanjian baru(warisan istri saya), tafsir 
alkitab
> perjanjian lama(warisan istri saya), kamus besar bahasa Indonesia, 
origin of
> species karya Darwin, dan buku teori relativitas punyanya albert 
einstein,
> serta beberapa artikel yang saya ambil dari internet tentang 
iptek,Hitler
> dan Kristen,
> 
> Dan dari diskusi tersebut saya bisa menyimpulkan, untuk 'melawan' 
mereka,
> yang penting kita harus memiliki pengetahuan yang luas baik itu 
dibidang
> iptek atau apapun, itu aja plus pelajari budaya tionghoa karena 
kebetulan
> sebagian besar dari kita khan tionghoa dan kebetulan org K juga lagi
> giat2nya menggathuk-gathukkan budaya tionghoa dengan alkitab
> 
TAN:

Penggatuk-gatukkan itu justru membuktikan orang K memang "kreatif," 
walaupun mungkin dalam artian negatif. Mengapa kita juga tidak meniru 
kreatifitas mereka. Lihat semangat "pengorbanan" mereka yang tinggi. 
Mau berdebat hingga larut malam. Saya salut biarpun menurut saya 
mereka orang gila. Kok mau-maunya berdebat sampai larut malam. 
Mungkin kita sebagai umat Buddhis dapat menyalurkan energi yang lebih 
membangun. Kalau kita tanggapi terus menerus "karya kreatif" mereka 
itu, mau sampai kapan? 

> 
> Memang apa yang dikatakan ko Ivan ada benarnya, tapi  harus diingat 
juga ,
> bahwa penerbitan atau penterjemahan sutra2/sutta Buddhis, tetap 
tidak akan
> banyak berguna, bila tidak dibarengi dengan upaya2 kongkret dari 
umat Buddha
> itu sendiri.
> 
TAN:

Upaya kongkret harus ada, sutra2/sutta harus ada. Semua itu bersifat 
saling melengkapi. Umat Buddha juga harus belajar lebih menghormati 
dan mendukung aktifis Buddhis dan juga para dharmaduta. Ini adalah 
hal yang sangat penting.

> 
> Saya lihat, umat Buddha saling berdebat, tentang hal2 yang 'aneh'  
dan
> kadang bila ada pertanyaan yang cenderung mendasar, bukannya 
dijawab dengan
> elegan tapi malah dapetnya sindiran, yang cenderung malah 
membingungkan.
> 
TAN:

Ya, itu memang oknum. Tetapi apakah Anda sudah memastikan bahwa orang 
yang bertanya itu tidak hanya sekedar ngetes? Anda tidak dapat 
menyalahkan bahwa orang yang bertanya malah mendapatkan sindiran. 
Saya kira kalau pertanyaannya tulus ya tidak akan dapat sindiran toh?
Saya pernah dapat pertanyaan yang sifatnya sekedar ngetes. Kalau saya 
ya saya jawab, "Wah maaf tidak tahu."
Jadi ya agar adil, semua sisi harus dilihat. Apakah umat Buddha 
kadang-kadang tidak "kurang ajar" terhadap para aktifis atau 
dharmadutanya? Saya pikir kalau semua saling menghormati, tidak akan 
ada yang namanya sindir-menyindir.


> 
> Ini terkadang menjadi momok bagi umat yang baru aja  menjadi/ masuk 
ke agama
> Buddha, bukannya diayomi dan dilindungi, tapi malah dibuat 
kebingungan.

TAN:

Tetapi, kadang-kadang umat sendiri yang membingungkan dirinya. Sudah 
dikasih tahu yang benar malah ngeyel. Kalau ini yang terjadi lalu 
salah siapa?

> Saya tidak pernah melihat ada pelatihan2 atau workshop atau semacam
> pertemuan2 kecil baik itu di vihara atau ditempat lain, yang 
berguna untuk
> memberi wawasan dan pandangan tentang agama Buddha itu sendiri

TAN:

Ada, saya dan kawan-kawan sepakat untuk mengadakannya di vihara 
Zhenfozong, Manyar. Semoga saja dapat berjalan dengan baik. Di sana 
ada diskusi Dharma.

> Inilah keunggulan orang Kristen, mereka , saya lihat(karena istri 
saya
> adalah salah satu anggota majelis) begitu kompak, dan saya juga 
melihat
> mereka aktif mengadakan pertemuan2, saling curhat, saling 
mebicarakan
> masalah2 masing2 , tanpa canggung, tanpa sungkan, dan cenderung 
ringan dan
> enak untuk didengar. Mereka ketika bertemu, tidak membicarakan 
sesuatu yang
> 'berat', ini yang tidak ada di komunitas umat Buddha

TAN:

Berat dan tidak berat tergantung wawasan spiritual seseorang. Kalau 
seseorang hanya suka yang "enak didengar" kapan akan maju secara 
spiritual. Buddhisme bukanlah permen manis yang dapat dinikmati kapan 
saja. Kalau Anda ingin nianfo atau sadhana, itu bukanlah masalah 
mendengarkan "yang enak didengar." Obat yang baik itu pahit, mungkin 
Anda masih ingat pepatah tersebut. Pendapat saya, Buddhadharma memang 
bukan agama untuk semua orang. Tetapi ya lebih baik kalau dua hal itu 
memang dapat dikombinasikan.
Anda melihat "kulit yang indah" dari K, tetapi benarkah pertemuan2 
mereka itu merupakan sesuatu yang manis? Justru pengalaman saya 
membuktikan bahwa gesekan2 dan permusuhan juga sangat kuat di 
dalamnya. Orang luar memang melihatnya rukun, tetapi sebagai mantan 
K, saya tahu betul apa yang terjadi. Ada juga orang yang curhat 
masalah pribadi, tetapi setelah itu masalahnya jadi ke-mana2.


> 
>  
> 
> PR yang besar dan berat bagi umat Buddha, dan tidak akan pernah 
bisa selesai
> bila umat Buddha sendiri masih memandang(SARUK=Sekte Aliran Ragam 
Uang
> Kekuasaan ==>kecuali bagi aliran sinkretisme spt mty dan teman2 
nya) dan
> cuek bebek terhadap masalah2 kemasyarakatan disekitar kita, dan 
saya selalu
> siap membantu bila ada upaya2 untuk memajukan Buddhisme di Indonesia

TAN:

Kapan2 kita kumpul-kumpul deh. Rekan-rekan di Vihara Zhenfozong 
Manyar sangat peduli dengan kemajuan Buddhisme.

Om Mani Padme Hum,


Tan






** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman 
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta 
kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami 
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas 
dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas 
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan 
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, 
para guru, serta sahabat-sahabat kami ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke