Dear Bros & Sis,
 
Mari Kita "Menukik" Langsung Pada Persoalan, Ok ?!
 
Saya Pernah Membaca Langsung Sutra Buddha, Yang Kalau Tidak Salah Adalah "Diamond Sutra" (mohon koreksi).
 
Disana Saya Mendapati Sejenis Cerita Yang Menggambarkan Suatu Diskusi Yang Dihadiri Oleh Begitu Banyak Suciwan-Suciwati, Para Raja Naga, Para Garuda, Para  
Gandava Dll, Yang Pokonya Komplit Enggak Tanggung Tanggung Untuk Bersilaturahmi/Bertatap Muka / Memdengarkan Dharma Dari Sang Buddha Shakyamuni.
 
Yang Membuat Saya Terkejut Bahwa Kebanyakan Dari Bodhisatva Yang Hadir Adalah Mereka2 Yang Sudah Jauh Lebih Awal Keberadaannya Dibanding Sang Buddha Sendiri, Seperti Avalokitesvara Dll, Juga Yang Lain2nya.
Logiskah Kalau Saya Langsung Bertanya Dalam Hati , : Diskusi Ini Diadakan Dimana, & Kapan, Apakah Di Bumi Ini Atau Di Alam Lain Dll !!!
 
 
Juga Saya Pernah Membaca Kalau Sang Buddha Bersama Rombongannya Datang ketempat Ibunya Unutk Membabarkan Dharma, Sedangkan Disana Dituliskan Bahwa Sang Ibu Saat Itu Berada Di Surga Tertentu (saya lupa namanya). Jadi Bagaimana Nalarnya Untuk Ini Semua?? Apakah Sang Buddha Pergi Ke Surga Tempat Ibunya Berada Setelah Meninggal?? Apakah Begitu Atau Bgm Nalarnya!!
 
Thx. With Metta, ika.
Jimmy <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
namo buddhaya,

sifat yang merasa dirinya paling hebat dan menurut pemikiran dialah
yang paling benar, hanyalah semata kekotoran batin yang masih
melekat dari orang tersebut.

salam metta,

--- In [EMAIL PROTECTED]ups.com, "dh4rm4duta" <dh4rm4duta@...>
wrote:
>
> Namo Buddhaya,
>
> Baik, untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu merenungkan bahwa
> pola logika yang kita anut sekarang ini adalah mengikuti budaya
> Barat. Jadi penentuan "logis" dan "tidak logis" adalah semata-mata
> berdasar pola pemikiran Barat. Apakah pola pemikiran Barat adalah
> satu-satunya yang sahih dalam menentukan "logis" dan "tidak
logis"nya
> sesuatu? Inilah yang justru perlu kita pertanyakan.
> Sutra-sutra Buddhis adalah suatu perahu kasih yang jelas
> mengatasi "logis" dan "tidak logis" berdasarkan pola pikir Barat
yang
> materialistis. Secara "logis" berdasarkan ilmu pengetahuan Barat,
> sifat altruistik tidak mungkin terjadi, karena menurut ilmu
biologi,
> semua makhluk hanya diprogram untuk satu hal: Bertahan hidup! Jadi
> manusia pada dasarnya adalah makhluk egois, karena sikap
altruistik
> jelas sekali tidak cocok dengan slogan "survival for the fittest"-
nya
> Darwin. Daripada menolong sesama pelari yang kelelahan, mendingan
> saya lari secepat-cepatnya menuju ke garis finish. Inilah "logika"
> Barat. Sekarang silakan Anda tanyakan pada diri sendiri. Apakah
dunia
> ini berlaku demikian? Apakah orang bule sendiri menganut pola
pandang
> itu? Jawabnya tidak!
> Untuk memahami literatur Buddhis, kosongkan dulu pikiran Anda,
> bagaikan cangkir yang kosong. Mengapa? Karena cangkir yang sudah
> penuh tidak dapat menerima wawasan kebenaran lagi. Sebagai seorang
> praktisi Tantra, saya dapat menjelaskan bahwa sutra2 yang
bernuansa
> Tantrik justru sangat relevan untuk mengatasi belenggu2
materialisme
> modern.
> BAnyak orang yang salah menganggap bahwa sutra2 Buddhis adalah
sama
> dengan buku2 lainnya, sehingga mereka menerapkan sikap kritis yang
> liar. Sebagai seorang scholar sikap ini tidaklah salah, tetapi
orang
> yang berpandangan demikian tidak akan mendapatkan apa-apa.
Ibaratnya
> seorang yang hanya mengamati suatu pesta dari luar saja. Mereka
tahu
> dari awal sampai akhir apa yang terjadi di pesta itu, tetapi tidak
> mendapatkan makanan secuilpun. Apakah hidup semacam itu menurut
Anda
> bermanfaat?
> Guru2 Tantra sering memainkan logika muridnya, agar meninggalkan
> belenggu-belenggu logika-ego yang lama. Pertanyaan-pertanyaan itu
> hanya memuaskan ego saja, yang sekali dipuaskan akan menghendaki
> pemuasan2 lebih jauh. Ini juga bagian dari samsara.
> Nah, sekarang marilah kita semua menentukan pilihan hidup kita.
>
> Salam kasih,
>
> Tan
>
>
> --- In [EMAIL PROTECTED]ups.com, Ika Polim <ika_polim@> wrote:
> >
> > Dear Bros & Sis,
> >
> > Adalah Suatu Hal Wajar Kalau Kita Suatu
> Kali "Terheran2", "Terpusing2", & Mungkin Saja "Tersesat" Setelah
> Membaca Sutra2 Buddha Yang "Dikatakan Sangat Halus, Dalam & Luas"
> Pengertiannya, Yang Sampai2 Membuat Si Pembacanya Seperti Saya
> Gambarkan Di Atas.
> >
> > Menurut Bros & Sis,
> >
> > Masih Perlukah Hal2 Logis tetap Teguh Digunakan Untuk
Mengambil
> Makna Filosofis Dari Sutra2 Buddha Tsb Pada Umumnya??
> >
> > Masih Cocokkah Sutra2 Buddha Untuk Dibaca Oleh
Kebanyakan "Orang
> Modern" Yang Juga Masih Membutuhkan Agar Pikiran Logisnya
> Tetap "Terpuaskan" Dgn Berbagai Pertanyaan Yang Ditimbulkannya??
> >
> >
> > With Metta, ika.
> >
> >
> > ---------------------------------
> > Yahoo! Messenger with Voice. Make PC-to-Phone Calls to the US
(and
> 30+ countries) for 2¢/min or less.
> >
>



Yahoo! Messenger with Voice. Make PC-to-Phone Calls to the US (and 30+ countries) for 2¢/min or less. __._,_.___

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Kirim email ke