Saudari Ika Polim yang budiman, Izinkan saya menjawab sejauh pengetahuan saya,
--- In [email protected], Ika Polim <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Dear Bros & Sis, > > Mari Kita "Menukik" Langsung Pada Persoalan, Ok ?! > > Saya Pernah Membaca Langsung Sutra Buddha, Yang Kalau Tidak Salah Adalah "Diamond Sutra" (mohon koreksi). > > Disana Saya Mendapati Sejenis Cerita Yang Menggambarkan Suatu Diskusi Yang Dihadiri Oleh Begitu Banyak Suciwan-Suciwati, Para Raja Naga, Para Garuda, Para > Gandava Dll, Yang Pokonya Komplit Enggak Tanggung Tanggung Untuk Bersilaturahmi/Bertatap Muka / Memdengarkan Dharma Dari Sang Buddha Shakyamuni. TAN: Ya, memang benar. Ini tidak hanya pada Sutra Intan saja, melainkan juga kebanyakan sutra-sutra Mahayana lainnya. Ini sebenarnya merupakan perlambang bagi dalam dan luasnya ajaran Buddha, yang sanggup menjangkau semua kalangan, mulai dari setan hingga Bodhisattva. > > Yang Membuat Saya Terkejut Bahwa Kebanyakan Dari Bodhisatva Yang Hadir Adalah Mereka2 Yang Sudah Jauh Lebih Awal Keberadaannya Dibanding Sang Buddha Sendiri, Seperti Avalokitesvara Dll, Juga Yang Lain2nya. > Logiskah Kalau Saya Langsung Bertanya Dalam Hati , : Diskusi Ini Diadakan Dimana, & Kapan, Apakah Di Bumi Ini Atau Di Alam Lain Dll !!! TAN: Sdr. Ika, sutra-sutra Mahayana bukanlah buku sejarah, yang mencatat suatu peristiwa - yang terjadi pada saat dan tempat tertentu. Mungkin Anda akan terkejut kalau saya mengatakan bahwa peristiwanya barangkali sama sekali tidak pernah terjadi. Tidak benar bahwa Avalokitesvara dan Bodhisattva2 kosmis lainnya sudah ada sebelum Buddha. Buddha sendiri juga sudah hadir semenjak dahulu. Lebih jauh lagi, Avalokitesvara dan lain sebagainya itu sesungguhnya melambangkan potensi jiwa Bodhisattva yang senantiasa hadir dalam diri tiap umat manusia, jadi tidak harus dianggap sebagai suatu sosok yang benar-benar nyata, senyata Benyamin Franklin, Isaac Newton, atau Abraham Lincoln. Dengan demikian mengkaji peristiwa di atas berdasarkan What, Who, Where, When, dan How tidaklah tepat. Kalau Anda mengkajinya berdasarkan 4 W dan 1 H, tentu saja menjadi tidak berbeda dengan dongeng. Kita hendaknya mengkaji makna mendalam yang terdapat dalam sutra-sutra tersebut, misalnya Sutra Intan yang mengajarkan tentang kekosongan atau shunyata. Kalau Anda bertanya apakah Avalokitesvara benar-benar ada atau tidak, Anda mungkin akan terkejut kalau saya mengatakan "TIDAK ADA." Tetapi barangkali Anda akan lebih terkejut lagi kalau saya secara bersamaan mengatakan "ADA." Apabila hendak mengamati sesuatu kita harus menggunakan alat ukur (instrumen) yang tepat pula, begitu pula dalam menelaah sutra-sutra Buddhis. Wahana, logika, atau cara berpikir kita harus tepat pula. Sebagai analogi sebuah spektrometer yang seharusnya dipergunakan untuk mengetahui kandungan unsur2 dalam sebuah material tidak dapat dipakai untuk mengukur panjang sebuah paku. Ini juga berlaku saat Anda mempelajari sutra-sutra Buddhis. > > > Juga Saya Pernah Membaca Kalau Sang Buddha Bersama Rombongannya Datang ketempat Ibunya Unutk Membabarkan Dharma, Sedangkan Disana Dituliskan Bahwa Sang Ibu Saat Itu Berada Di Surga Tertentu (saya lupa namanya). Jadi Bagaimana Nalarnya Untuk Ini Semua?? Apakah Sang Buddha Pergi Ke Surga Tempat Ibunya Berada Setelah Meninggal?? Apakah Begitu Atau Bgm Nalarnya!! TAN: Kalau tidak salah, bukankah kisah semacam ini juga ada pada Theravada, dimana Buddha membabarkan Abhidhamma pada ibunya di surga Tavatimsa? Saya pikir tidak ada yang aneh di sini, dan yang dipentingkan bukannya Beliau membabarkan Dhamma pada siapa, melainkan apakah esensi filosofis yang dibabarkannya. Kita mempertanyakan hal-hal semacam itu tentu tidak ada gunanya, karena hal-hal itu memang tidak menyatakan apa-apa. Untuk membasmi tikus, orang tidak perlu menanyakan apakah kucingnya hitam atau putih. Saya kira sekian dahulu, semoga uraian singkat ini bermanfaat. Metta, Tan ** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya ** ** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh ** ** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian ** ** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami ** Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
