Dear all,
Bom dan ranjaunya masih banyak, makanya kalau saya boleh minta tolong
kepada para pemimpin Sangha untuk tetap mawas diri dan berpegang teguh
pada sila, baik itu berupa motivasi terhadap anggota-nya, maupun atas
dirinya sendiri.
Kembali ke tujuan semula sebagai bhikkhu mau jadi apa? Kalau niatnya mau
jadi kaya dan terkenal, silakan daftar jadi artis sinetron atau jadi
pengusaha atau jangan jadi bhikkhu. 
Kita juga sebagai umat harus jeli, jangan krn dia berjubah dan berkepala
botak, langsung didewa2kan.
Penyakitnya umat kita, silau melihat mereka yg berjubah dan berkepala
botak, cenderung menyembah2, dan men-treat terlalu berlebihan.
Bagi mereka yg imannya tidak kuat akan lgsg terlena dan tergelincir ke
nafsu duniawi.

Saya juga dulu pernah melihat ada bhikkshu yg masuk ke diskotek di hotel
Hyatt Regency Bandung dengan beberapa temannya yg umat awam, dan itu
mengundang pertanyaan dari Rekan kerja saya yg berbeda agama. 

# Katanya kalau ada bhikkhu yg ketauan melanggar parajika, maka umat
awam atau orang lain boleh merobek jubahnya.
Tapi seumur2 blm pernah ada bhikkhu sesat yg dijerat. Alih2 malah tambah
kaya dan makmur. apa perlu dibentuk KPK atau TGPF ? (hehehe)#

Salam,
Susy

-----Original Message-----
From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On
Behalf Of Chang-jie
Sent: Wednesday, December 20, 2006 4:49 PM
To: [email protected]
Subject: [Dharmajala] Re: Skandal

Bro. Sutedja,

Terbentukan KASI dan Walubi versi 2.0 Itu belum bisa disebut
reformasi... masih terlalu jauh dari itu, setidaknya menurut aku :)

Dan... siapa bilang di KASI tidak ada "bom waktu"?


salam,
Chang-jie


--- In [email protected], sutedja tj <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Namo Buddhaya,
> 
> Bro Tan,
> 
> Reformasi sudah terjadi mulai saat Walubi (Perwalian) pecah menjadi
KASI dan Walubi (PerWakilan). Namun sepak terjang KASI dalam melobi
pemerintahan sangat-sangat lemah, 
> sehingga Walubi (PerWakilan) dapat bertahan dan menjadi bom waktu. 
Satu bom nya sudah meledak, di kemudian hari bakal meledak lagi? Who
know?
> 
> Mettacitena,
> Sutedja Tj
> 
> 
> ----- Original Message ----
> From: dh4rm4duta <[EMAIL PROTECTED]>
> To: [email protected]
> Sent: Wednesday, December 20, 2006 2:54:17 PM
> Subject: [Dharmajala] Re: Skandal
> 
> Namo Buddhaya,
> 
> Ya benar, ini adalah realita yang pahit. Oleh karena itu, reformasi 
> dalam Buddhisme Indonesia merupakan sesuatu yang tak terbendung
lagi.
> 
> Metta,
> 
> Tan
> 
> --- In [EMAIL PROTECTED] ups.com, "Chang-jie" <changjie@ .> wrote:
> >
> > Rekan2 semua,
> > 
> > membaca posting di milis dan pemberitaan di media massa beberapa
> hari
> > ini... kita melihat satu lagi skandal yang terungkap, citra Agama 
> > Buddha Indonesia tercoreng habis, citra anggota Sangha makin 
> > terpuruk. It's too bad, sedih rasanya melihat semua itu... tapi ya



** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri
saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami
taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian
dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan
memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu,
sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh
welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun
sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu
sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur
kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami ** Yahoo!
Groups Links




Kirim email ke