Ha ha ha ha ha ha ha ha ..........chi ......, maaf he he he he he eh he jadi
pengen tertawa.
Trimalah karmamu, karmaku he he he he he .............., apa ya yang harus
kukatakan, syukur, kasihan, turut bersimpati, keterlaluan atau apa yah .......
klo mau kasihan, sama siapa dong. Mau bilang org lain yg menghujat Biksu itu
keterlaluan, apakah kita pantas mengatakan itu?
Mayoritas Umat Buddhis itu menurutku cukup unik, selalu memakai kata yang
sangat universal terutama " Jangan melekat ", "Tiap orang punya karmanya
masing masing ".
Jangan ikut campur itu urusan orang lain, jagalah bicaramu, jangan berpikir
negatif, Tidak baik membicarakan orang lain, diam adalah emas, dll dalam
menanggapi masukkan dari orang lain. Sebenarnya saya juga setuju dengan kata
kata itu tapi saya kembali berpikir apakah benar mereka yg sering mengucapkan
kata kata tersebut memahami makna tersebut atau mereka hanya tidak peduli dan
tidak ingin terlibat sehingga keluarlah ucapan indah nian seolah olah
melantunkan nada nada penuh kebijaksanaan.
Cth yg sering terjadi dimasyarakat :
A : Lah kok seorang X berkelakuan seperti itu yah? kan dia panutan.
B : Yah kalian jangan mengkultuskan seseorang dong, jangan melekat. Jika dia
berbuat
begitu kan dia juga yang akan menerima karmanya sendiri.
A : Tapi kan ..
B : Sudah, jangan mengurusi orang lain, Buddha mengajarkan kita untuk
menaklukan
diri kita sendiri dan bukan orang lain.
Cth Lain,
C : Lah organisasi keagamaan Buddha di Indonesia merangkul semua jurusan yah,
bukankah pemahaman mereka ttg Buddha Dhamma tidak sejalan dengan
tipitaka?
Setahuku cuma ada 3 aliran besar yg mengacu pada kitab suci tipitaka?
D : Emang kamu kaga baca kalama sutta yah, Buddha saja bilang kita tdk boleh
ter-
paku pada kitab suci atau buku semata tapi ehipasiko. Dhamma itu kan
milik
semua orang.
C : Yah ngerti tapi kan klo pemahaman yg sedikit berbeda itu dapat
membahayakan
orang banyak juga nantinya krn kurangnya pemahaman membuat orang
bertindak
tdk sesuai dan menuai masalah.
D : Aduh, kamu ini gimana sih. Orang yang ngerti Dhamma saja, klo memang karma
buruknya berbuah, dia juga akan mendapat masalah. jadi itu bukan sebab.
C : Tapi klo ada masalah kan kita juga yg kena bukan?
D : Yah enggak dong, tiap orang kan mewarisi kammanya masing masing,
terlindung
oleh karmanya sendiri. Lagian, klo ada orang di luar BUddhis yg mencela
dan
menghina, maka biarkanlah mereka yg berbuat seperti itu, justru kita
patut
mengasihani mereka. Membenci akan menghalangi latihan kita sendiri.
A & C : Hebat yah umat Buddha. Penuh kebijaksanaan dan saling mengasihi,
semoga
semua mahluk berbahagia.
Luar biasa bukan. Hebat. maaf, tidak punya maksud mencela ataupun menyindir.
Mungkin banyak orang yang lupa bahwa kita hidup bermasyarakat. Didalam
kehidupan bermasyarakat timbul begitu banyak ajaran, dll, serta tipikal orang
yang berbeda beda. Ada yg ateis tapi kok malah mempunyai toleransi tinggi.
Memang benar semua terpulang pada pribadi masing masih dalam memahami kebenaran
ini.
Memang benar org baik pun msh dicela, tapi bukan berarti kita jadi tidak
menjaga diri bukan? terserahlah apa kata org, dia punya mulut kok yg penting,
aku tidak berpikir jahat pada mereka. Mungkin kita lupa kalau kita pun jangan
mengkondisikan hal hal buruk terjadi dengan menjaga dan mewaspadai apa yang
terjadi dalam diri kita dan diluar diri kita sendiri sehingga ketika muncul
suatu masalah akan cepat terselesaikan karena adanya perhatian tersebut.
Coba kita renungkan, bila suatu saat nanti timbul masalah dan vihara vihara
menjadi sasaran amukan massa krn terprovokasi (andai), atau ruang lingkup kita
dibatasi, biku biku lebih disorot dalam memberi ceramah, atau pemerintah ikut
campur tangan memberi batasan batasan/ pelarangan ini dan itu atas nama untuk
menghindari hal hal yg dapat menimpa keberadaan seorang biku atau tpt ibadah
itu sendiri. Apakah kita kita dapat menerima hal ini dengan sukacita?
Kalau menurut kronologi dari pembicaraan B & D, harusnya kita dapat menerima
klo vihara dan biku kena amukan massa, bisa menerima klo saudara kita kena
amukan massa, bisa menerima klo kita juga kena amukan massa he he he malah kita
harus bersukacita atas kata kata yang telah kita sampaikan tadi, berarti karma
buruk telah berbuah. he he he he, jgn urusin orang lain toh, diam adalah emas
bukan. Padahal ketika B & D melakukan hal itu, menurutku loh dia juga sudah
turut menciptakan cikal bakal karma bersama ini berbuat.
Sudahlah cuma curhat doang, he he he he , jujur dari lubuk hati yang paling
dalam, kok saya malah happy ya dengan adanya kejadian ini. Bukan saya suka
melihat orang lain menderita tapi saya senang nih karena dari sini saya banyak
belajar dan melihat bahwa kita boleh saja membawa makna yang bersifat universal
(lokuttara) dalam kehidupan duniawi (lokiya) dengan keranjang panna.
Saran saya : tetap tersenyum, beramah tamahlah sama umat lain, tidak
menyalahkan orang lain yang telah mencela dan menghina Sangha (krn kita juga
kan yang menciptakan hal itu terjadi secara tdk langsung), tetap punya
keyakinan jikalau di jalan ada yg bertanya kamu buddhis ya, jawab saja ya
dengan senyum. he he he he ..........., semoga dengan prilaku kita yang santun,
tidak mencela kembali si tersangka ataupun org yang menghina Sangha maka
persoalan ini cepat terselesaikan.
INi neh teori, namanya juga sedang berlatih he he he tapi klo saya sudah
mulai kelihatan kesal, tolong dipegangin dan di ingatkan kembali yah
........... itulah gunanya komunitas bukan, klo perlu beli es batu dan taruh
diatas kepalaku he he he he he he he he he
Persoalan datang untuk dilihat, dipelajari, diamati dan di selesaikan.
Be good be happy,
Hi kalian yg menghujat sana sini, apakah ada yang bisa saya bantah eh bantu
gitu loh ????
dh4rm4duta <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Namo Buddhaya,
Jadi sekarang kesimpulannya, tambah satu hal lagi yang harus kita
klarifikasikan. Permasalahan jadi bertambah runyam, karena orang
akan mengira bahwa Buddhisme menggunakan cara-cara konversi yang
tidak sehat. Padahal saya selalu bilang dengan teman-teman non-
Buddhis bahwa dalam agama Buddha itu tidak ada konversi. Mau masuk
Buddha juga silakan ga juga ga papa, yang penting jadi orang baik.
Mungkin ini salah satu imbas negatif lagi dari pernyataan FKUB itu.
Metta,
Tan
--- In [email protected], "Muliawati, Susy"
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Kalau melihat bunyi beritanya, pasti mereka merefer kepada
Pernyataan
> Sdr Budiman Sudharma, ketua FKUB yang menyebutkan bhw bhikkhu2
Tibet
> memang bertujuan menjaring artis2 untuk dijadikan sebagai Buddhist.
> Akan sangat berbahaya bagi eksistensi umat Buddha di Indonesia
kalau ada
> 1 lembaga yg mengatasnamakan sbg Forum Komunikasi Umat Buddha,
tetapi
> mereka tidak memiliki pengetahuan yg benar ttg aliran2 dlm agama
Buddha,
> tetapi mengeluarkan pernyataan resmi yg salah.
>
>
>
>
>
>
> -----Original Message-----
> From: [email protected]
[mailto:[EMAIL PROTECTED] On
> Behalf Of dh4rm4duta
> Sent: Thursday, December 21, 2006 10:38 PM
> To: [email protected]
> Subject: [Dharmajala] Re: Skandal
>
> Kalau dipikir-pikir skandal ini juga membuat malu etnis Tionghua,
jadi
> bukan hanya umat Buddha yang malu. Kemarin dulu bandar ekstasi juga
> etnis Tionghua. Oleh karena itu, barangkali kita benar-benar perlu
> memikirkan semua imbasnya di masa mendatang. Tetapi kalau saya
amati
> dampaknya dalam skala nasional justru tidak besar, lho.
> Nampaknya, bagi masyarakat luas ini hanya sekedar riak-riak dalam
dunia
> hiburan yang melibatkan seorang artis. Tabloid Cempaka yang menjadi
> bagian Suara Merdeka menyatakan bahwa Ferry merupakan bagian dari
> jaringan Buddha Tibet yang hendak mensyiarkan agamanya pada para
artis,
> karena mereka memang diperintahkan demikian. Pertanyaan saya, dari
mana
> mereka mendapatkan pernyataan semacam itu? Setahu saya kok tidak
ada
> perintah semacam itu dalam Buddhisme Tibet?
> Pernyataan yang dimuat dalam harian tersebut saya kira sangat
berbahaya.
>
> Metta,
>
> Tan
>
> --- In [email protected], "Erik" <rsn_cc@> wrote:
> >
> >
> > Rupanya kita harus kecewa dulu untk sementara, karena ternyata
bom-
> bom
> > susulan masih berlanjut dengan kejadian-kejadian:
> >
> > 1. Vihara Vipasaba Graha Lembang Bandung (milik WAKUBI) baru
> saja
> > diobrak-abrik aparat polisi karena disinyalir seorang umat
bernama
> Im
> > Ming yang juga bandar narkoba pernah bersembunyi di sana. (Im
Ming
> > adalah salah seorang donator kakap bhante Wongsin) ;
> > 2. Vihara Dharmasukkha (atau Dhammasukkha??) didatangi
polisi,
> > ditanyai (didata) apakah beraliran Tantrayana atau bukan.
> >
> > Kejadian-kejadian itu sudah merupakan pertanda bahwa bom-bom yang
> lebih
> > dahsyat lagi segera akan menghantam lembaga-lembaga agama Buddha
> > lainnya.
> >
> > Salam,
> >
> > Erik
> >
> > ----------------------------------------------------------
--
> -----\
> > ----------------------------------
> > --- In [email protected], "dh4rm4duta" <dh4rm4duta@>
> wrote:
> > >
> > > Namo Buddhaya,
> > >
> > > Benar sekali Bro. Sutedja. Tetapi kita bisa apa? Semoga saja
ini
> bom
> > > yang terakhir.
> > >
> > > Metta,
> > >
> > > Tan
> > >
> > >
> > > --- In [email protected], sutedja tj sutedja_tj@
wrote:
> > > >
> > > > Namo Buddhaya,
> > > >
> > > > Bro Tan,
> > > >
> > > > Reformasi sudah terjadi mulai saat Walubi (Perwalian) pecah
> > > menjadi KASI dan Walubi (PerWakilan). Namun sepak terjang KASI
> dalam
> > > melobi pemerintahan sangat-sangat lemah,
> > > > sehingga Walubi (PerWakilan) dapat bertahan dan menjadi bom
> waktu.
> > > Satu bom nya sudah meledak, di kemudian hari bakal meledak
lagi?
> Who
> > > know?
> > > >
> > > > Mettacitena,
> > > > Sutedja Tj
> > > >
> > > >
> > > > ----- Original Message ----
> > > > From: dh4rm4duta dh4rm4duta@
> > > > To: [email protected]
> > > > Sent: Wednesday, December 20, 2006 2:54:17 PM
> > > > Subject: [Dharmajala] Re: Skandal
> > > >
> > > > Namo Buddhaya,
> > > >
> > > > Ya benar, ini adalah realita yang pahit. Oleh karena itu,
> > > reformasi
> > > > dalam Buddhisme Indonesia merupakan sesuatu yang tak
terbendung
> > > lagi.
> > > >
> > > > Metta,
> > > >
> > > > Tan
> > > >
> > > > --- In [EMAIL PROTECTED] ups.com, "Chang-jie" <changjie@ .>
> > > wrote:
> > > > >
> > > > > Rekan2 semua,
> > > > >
> > > > > membaca posting di milis dan pemberitaan di media massa
> beberapa
> > > > hari
> > > > > ini... kita melihat satu lagi skandal yang terungkap, citra
> > > Agama
> > > > > Buddha Indonesia tercoreng habis, citra anggota Sangha
makin
> > > > > terpuruk. It's too bad, sedih rasanya melihat semua itu...
> tapi
> > > ya
> > > > > inilah realita saat ini.
> > > > >
> > > > > Sebenarnya, kalo mau jujur, masih banyak bobrok tokoh2
> Buddhis
> > > > > Indonesia yang tidak terbongkar or tidak disorot media,
tapi
> > > > seperti
> > > > > sudah menjadi rahasia umum. Masih ingatkah kita pada tahun
> 90-an
> > > > > sempat beredar rekaman percakapan telepon mesum seorang
biksu
> > > > > terkemuka di Walubi... to sekarang vihara dia malah tambah
> > > megah :
> > > > (
> > > > > Seorang sahabat, malah pernah memergoki seorang biksu asing
> yang
> > > > > sudah cukup lama di Indonesia dan punya vihara yang cukup
> besar
> > > di
> > > > > jakarta pusat memasuki panti pijat yang melayani extra
> > > service...
> > > > > don't tell me he go there for recite sutra :) Dan masih
banyak
> > > > > lagi kabar2 dan gosip tentang beberapa tokoh
> > > > Buddhis
> > > > > kita di Indonesia.
> > > > >
> > > > > Secara tidak sengaja bulan lalu saya membaca artikel
tentang
> > > > skandal
> > > > > yang menimpah beberapa tokoh spiritual cukup ternama:
> > > > Sangharaksita,
> > > > > Congyam Trungpa, Sri Satya Sai Baba dll.
> > > > >
> > > > > Apakah inilah yang disebutkan dalam sutra, bahwa di masa
> akhir
> > > > > Dharma, putra-putri Mara akan masuk ke dalam Sangha dan
> merusak
> > > > agama
> > > > > Buddha dari dalam?
> > > > >
> > > > > salam,
> > > > > Chang-jie
> >
>
>
>
>
> ** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di
dalam diri
> saya maupun di luar diri saya **
>
> ** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk
menanami
> taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi
pengertian
> dan cinta kasih yang kokoh **
>
> ** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan
> memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu,
> sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
>
> ** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi
penuh
> welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi
ataupun
> sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu
> sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa
syukur
> kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
Yahoo!
> Groups Links
>
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com