pak Djony,

Makasih banyak atas masukannya. Sangat berharga dan menambah wawasan.

Mengkonfirmasi dan memperjelas apa yang saya alami pada waktu tes pengukuran 
sinyal sinus secara sederhana via komputer, pada feed sinyal sinus 20kHz, via 
nos dac, amplitudonya lebih kecil daripada via dvdplayer (24bit/96kHz) yang 
amplitudonya nyaris tidak ada perubahan dari 1kHz hingga 20kHz.

Pun demikian dengan output suara dvd player 'cina' yang suaranya menurut saya 
pribadi pula, sebetulnya memiliki kualitas terpendam mengingat perkembangan 
chip dac yang digunakan akhir2 ini dibanding generasi awal2, hanya saja perlu 
diberikan sedikit perbaikan pada komponen penunjangnya terutama kapasitornya 
(dugaan saya sejauh ini), tapi memang belum pernah saya lakukan lebih jauh.

Sejauh ini, saya masih berusaha mengejar ketinggalan kualitas suara (menurut 
kuping saya) nos dac saya dengan nad c540. Sampai posisi terakhir kemarin, c540 
masih lebih dinamis dan unggul justru di sisi mid-low nya dibanding nos dac 
saya sekalipun sudah coba disinergikan dengan m8. Terakhir saya coba ganti 
kapasitor kopling output nos dac dengan pio tapi belum sempat bandingkan serius 
lagi.

Terimakasih dan salam,
yus


  ----- Original Message ----- 
  From: dino_ary 
  To: [email protected] 
  Sent: Saturday, December 06, 2008 11:15 AM
  Subject: [ELPOP-Audio] Re: NOS DAC


  Halo Pak Djony!

  Terima kasih atas penjelasan teknis dari Pak Djony yang sangat menambah 
wawasan.

  Pengalaman saya pribadi pada saat pertama kali 'main NOS DAC' adalah 
  membandingkannya dengan performance dari DAC bawaan NAD C521BEE yang 
  menggunakan chip DAC PCM 1716 24 Bit - 96kHz . 

  Rasanya memang suara yang direproduksi via NOS DAC 'lebih natural' dengan 
kekuatan 
  lebih pada frequency mid dan low - sperti yang pak Djony sampaikan. 

  Sementara performance asli PCM lebih menonjol di high dan upper mid - yang 
menurut 
  selera saya pribadi kok terasa 'kering ' dan kalo dengerin CD paling lama 1 
kali putar. Tapi 
  begitu pakai NOS DAC, lebih lama berbetah-betah mendengarkan lagu2 dari CD 
yang 
  sama.. hehehe .. tapi ini pengalaman pribadi lho.. dan tentunya sangat 
subyektif.

  Mungkin ada pengalaman dari rekan2 lain?

  Salam,
  Dino Ary


  --- In [email protected], "djonytan" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  >
  > Folks,
  > 
  > saya juga sempat buat NOS-DAC rrakitan daripak Alex dengan DAC TDA1543 yang 
  > populer tsb. Desain dengan NOS DAC ini sebenarnya digunakan oleh pembuat CD 
player 
  > generasi pertama (sebelum ditemukan teknik oversampling, singlebit, dsb.) 
Kesan suara 
  > dari NOS-DAC ini sangat simple sesuai dengan desain rangkaiannya, maksud 
saya 
  > suaranya tidak terlalu berbumbu dibandingkan dengan sound output CD player 
yang 
  > sudah menggunakan teknik oversampling atau singlebit DAC. Ada beberapa 
  karakteristik 
  > NOS DAC yang perlu diperhatikan supaya kita bisa punya pandangan yang 
objektif :
  > 
  > 1. Frekuensi response NOS DAC ini memiliki kurva yang akan mulai menurun 
mulai dari 
  10 
  > KHz dan di frekuensi 20 KHz akan -4 dB. Kesannya adalah NOS DAC ini akan 
memiliki 
  > karakter suara yang tidak terlalu "bright" dibandingkan dengan menggunakan 
  > oversampling atau singlebit. Hal ini diakibatkan oleh karena faktor teknik 
sampling 
  > sehingga terjadi efek sinx(x)/x yang memberikan amplituda envelope yang 
akan seperti 
  > "low past filter" secara alamiah. Keuntungannya adalah suara mid dan low 
akan lebih 
  > menonjol.
  > 
  > 2. NOS DAC akan menampilkan suara apa adanya seperti yang terekam di CD 
(walaupun 
  > suaranya akan mengalami response kurva seperti yang dijelaskan di point 1 
di atas). 
  > Teknik oversampling dan single bit membutuhkan "digital filter" atau bahasa 
  sederhananya 
  > adalah "interpolator". Ini ibarat kita mempunyai gambar di komputer yang 
cuma 8 bit 
  lalu 
  > dilakukan proses dithering menjadi 24 bit maka hasil dithering di layar 
akan nampak 
  > "artfact" tidak sehalus bila gambar tersebut dibuat atau direkam dengan 24 
bit aslinya. 
  > Jadi teknik oversampling ini sangat tergantung dari algoritma "digital 
filter" atau filter 
  > interpolator yang digunakan karena aslinya cuma 16 bit mau dinaikkan 
menjadi 20/24 
  bit 
  > dengan sampling frekuensi yang juga menjadi kira-kira 4x/8x dari semula. 
Secara 
  > frekuensi response kurva dari DAC yang oversamplng ini bisa sangat flat 
dari low hingga 
  > 20 KHz yang tidak bisa didapatkan oleh NOS DAC ini.
  > 
  > Jadi ini ada pro dan kontra antara beberapa orang. Dengan mengetahui 
hal-hal ini 
  > tentunya kita juga akan bisa lebih bijak melihat kelebihan dan kekurangan 
NOS DAC ini. 
  > Mungkin yang tidak banyak diketahui orang bahwa output suara dari DVD yang 
konon 
  > disebut DVD China (cuma sekitar 200 - 300 ribuan) itu memiliki DAC yang 
lumayan 
  bagus 
  > dan bila dilalukan modifikasi pasti juga tidak akan kalah dibandingkan CD 
player yang 
  > buatan merek terkenal yang harganya berkisar 1 jutaan.
  > 
  > 
  > --- In [email protected], "dino_ary" <dino_ary@> wrote:
  > >
  > > Met pagi (lagi2.. tidur kesorean ya bangun kepagian wakakak.. bukan 
imsonia lho pak 
  > > Didik)
  > > 
  > > 
  > > Meskipun saya salah satu pengguna Non OS DAC, saya juga gak ngerti banget 
secara 
  > > teknis, jadi mungkin tidak bisa memberikan konfirmasi atas pertanyaan2 
pak Didik.
  > > Tapi, ringkasnya Non OS DAC berkembang gara-gara artikel seorang DIYer 
Jepang 
  > > bernama Ryohei Kusunoki yang artikelnya bisa diunggah di link berikut:
  > > http://www.sakurasystems.com/articles/Kusunoki.html yang sangat komplit 
dan 
  teknis.
  > > 
  > > Nah, dipercaya bahwa bagaimanapun metode oversampling atau upsamping 
  > > dipergunakan, toh yang namanya format digital yang dipakai di CD adalah 
tetap di 
  > > frequensi 44.1kHz pada time domain 16 bit (tolong dikoreksi ya kalo gak 
tepat). 
  > > Mau 8x oversampling, akhirnya toh sinyal digital tersebut "akan kembali 
dikoreksi 
  > secara 
  > > digital" ke freq 44.1kHz pada time domain 16 bit , yang kemudian 
dijadikan sinyal 
  > analog 
  > > kiri dan kanan.
  > > 
  > > Kenapa oversampling? Karena ada pendapat teknis yang mengemukakan bahwa 
kalau 
  > > dilipatgandakan, maka dipercaya akan diperoleh fidelity/kejernihan suara 
yang lebih 
  > yang 
  > > tidak akan dapat diperoleh pada freq 44.1kHz pada time domain 16 bit 
aslinya. 
  > > 
  > > Oleh karena nanti diperlukan perangkat yang mampu mengkoreksi sinyal 
  oversampled 
  > > kembali ke frequensi 44kHz/16bit, maka perangkat digital tersebut harus 
  > menggunakan 
  > > filter yang yahud punya, sehingga sinyal-sinyal "fidelity tambahan" di 
frequensi 
  > > oversampled bisa ditapis/disaring dan dikumpulkan kembali secara murni 
pada 44.1 
  > > khz/16bit - dengan harapan sinyal audio menjadi lebih hi-fidelity. 
Konsekuensinya? 
  > Perlu 
  > > rangkaian filter digital yang bagus: low jitter clock yang mumpuni dan 
  > konverter/pengalih 
  > > rupa digital ke analog yang mumpuni juga (kembali lagi mohon dikoreksi ya 
kalo gak 
  > > tepat).
  > > 
  > > Lalu kenapa non oversampling? Lah itu, kok repot ya kalau oversampling? 
Hehehe... di 
  > > dalam artikelnya, Kusunoki bilang sbb (dalam bhs Inggris):
  > > 1) A natural, stress-free sound that communicates the musicians' 
intention directly to 
  > you. 
  > > That is the sound of non-oversampling DAC. The feel of this sound is 
closer to that of 
  > > analog reproduction. 
  > > dan
  > > 2) The relationship between the sound and the measurement still remain 
mysterious. 
  > You 
  > > cannot achieve good sound just by competing on the numbers of zero over 
the 
  > distortion 
  > > factor nor by excessively extending the frequency range. However, in the 
next 
  > generation 
  > > digital format offered today, the selling points for better sound are 
quantizing bit 
  > > numbers and sampling frequency rates. It only means lowering of 
distortions and 
  > > extension of frequency range. 
  > > 
  > > Singkat Cerita: suara Non OS DAC dipercaya lebih analog dari pada OS 
DAC... 
  mendekati 
  > > reproduksi LP.... 
  > > Semoga bisa menjawab...
  > > 
  > > 
  > > *) Hayooh... semangat ngracunin pakai Non OS DAC lagi on banget nih!! 
Hehehe
  > > 
  > > 
  > > 
  > > 
  > > 
  > > 
  > > 
  > > 
  > > 
  > > --- In [email protected], "sanysany06@" <sanysany06@> wrote:
  > > >
  > > > Mas didik.
  > > > Walaupun lagi ngerjain dac tapi ampun saya nggak bisa njawab hanya yang 
saya 
  tau:
  > > > DAC akan memberi efek ya bagus terhadap keluaran analog bila 
ditreatment 
  dengan 
  > > benar, mengingat ruang yang sempit di cdp nggak mungkin melakukan 
treatment 
  > dengan 
  > > maksimal. Treatment tsb meliputi pemisahan masing2 suply analog maupun 
digital 
  juga 
  > > pemakaian regulator yang low noise. Nyambung dgn pertanyaan mas didik 
nggak ya.
  > > > Salam...iwans
  > > > 
  > > > Didik W. Adhi wrote:
  > > > > Hallo.... 
  > > > > Dari semua rekan yang ada disini, tampaknya hanya saya yang 
  > > > > belum menyenggol nyenggol DAC dan bahkan masih awam.. 
  > > > >   
  > > > > Non OS DAC itu apakah sama dengan Direct Conversion DAC yang 
  > > > > pertama kalai dipopulerkan oleh PIONEER yang kemudian disempurnakan 
lagi 
  > > > > dengan sistem yang diberi nama (brand) LEGATO LINK? 
  > > > >   
  > > > > Apa beda NOS dan yang pakai OS bahkan sampai 8 X? 
  > > > >   
  > > > > Mekanik LDP PIONEER (lupa type, beli th 1994), apakah bagus? 
  > > > > Kalau bagus, ada potensi di rebuilt jadi hiend CDP mengingat 
ruangannya yang 
  > > > > sangat sangat luas. 
  > > > >   
  > > > > salam, dwa 
  > > > >   
  > > > >
  > > >
  > >
  >



   

Kirim email ke