ya,,,cobalah para ustadz itu berhenti menyampaikan agama dgn dokrin biar tidak kecewa diakhir. coba lirik filsafat sebagai media alternatif bahkan mungkin itu media terbaik dakwah islamiyyah.
Pormadi ocarm <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Pormadi ocarm <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
"Jadi kembali lagi kenapa Islam yang membosankan itu terjadi? karena apa yang diajarkan Sang Kyai tidak nyambung dengan alam nyata sini, contoh yang diajarkan adalah jaman satu setengah abad yang lalu untuk diterapkan abad 21. Untuk itu semestinya selain orientasi tujuan 'Surga' juga dibudayakan esensi manusia yang memiliki akal, budi, kemauan, perasaan, sehingga mensemesta dalam kebersamaan."
Kutipan tersebut menarik. Alasannya kebosanan akan hidup beragama bisa terjadi juga pada agama-agama lain, seperti agama Kristen. Juga bisa disebabkan hal yang sama, yaitu sering kali kothbah atau renungan yang dibawa para pemimpin agama tidak mendarat alias tidak mengena dengan kehidupan konkrit umat/ jemaah.Soal terkotak-kotaknya umat disebabkan oleh perbedaan penafsiran ajaran yang ada dalam Kitab Suci masing-masing dan itu diyakini menurut suara hatinya masing-masing. Namun bisakah semua pihak yang terkotak-kotak itu bisa terbuka alias berdialog dengan rendah hati dan terbuka?Persoalannya selanjutnya, apakah ajaran itu membuahkan kebaikan bagi alam semesta? Atau malahan menimbulkan kekacauan bagi umat manusia lainnya? Jika penanaman ajaran itu tidak membuahkan kebaikan, kedamaian dan persahabatan, maka kita bisa menilainya dengan akal budi kita.Yang lebih mengusik akal budi kita adalah metode berdakwah atau berkothbah yang cenderung menakut-nakuti umat seperti jika melakukan ini akan masuk surga jika tidak akan masuk neraka yang sungguh menyiksa. Metode dengan cara menakut-nakuti ini sudah tidak pada jamannya.Para pemimpin agama seyogiyanya bisa membawa umat kepada kehidupan yang lebih damai, lebih bahagia, dan lebih baik. Itulah harapan yang mungkin masih sulit.
verri DJ <[EMAIL PROTECTED]> a écrit :
Islam Yang Indah
Menarik sekali membaca tulisan Hasan mawardi, dengan judul Islam yang membosankan (http://ferrydjajaprana.multiply.com/journal/item/35) , terinspirasi oleh tulisannya saya mencoba mengurai kenapa kesalahan ini terjadi.
Jaman sekarang adalah jaman merek, kemana mata kita menoleh disitu ada merek, dari merek dagang sampai merek agama. Itulah kepandaian manusia yang dipercaya oleh tuhannya untuk menjadi khalifah di dunia. Bayangkan pada saat diturunkan ke bumi adalah malaikat, ketika di tanya perihal nama binatang "Jawabnya sederhana, Tuhan maha tahu..", begitu tunduk dan patuhnya malaikat maka yang ada adalah mengikuti apa perintah Sang Pencipta saja. Lain dengan manusia, ketika ditanya perihal binatang, dengan lancarnya menjawab, itu jago, yang ini gajah, di sana sapi, di situ trenggiling, dan seterusnya.
Seiring berjalannya waktu, kepandaian manusia memberi nama semakin terbukti dengan memberi label-label keislaman, ada Islam Jamaah, ada Islam Ahmadiyah, ada Islam Syiah, ada juga Islam Suni (ahlussunah Wal Jamah), lucunya di Indonesia bahkan yang katanya Suni, dibagi lagi menjadi NU dan Muhammadiyah, pembagian yang kacau sehingga membuat bingung bagi pendatang baru di dunia islam, entah itu bagi yang sedang belajar Islamologi ataupun para Mualaf. Islam sudah terkotak-kotak dalam golongan-golongan.
Manusia Universal
Agama Islam diturunkan agar pengikutnya menjadi manusia besar tidak terkotak-kotak dengan pemahaman yang dianutnya dan sesuai dengan perspektif pemerhatinya, bukan pula menjadi manusia kerdil yang hanya puas dengan kesuksesan-kesuksesan sendiri. Yang dimaksud manusia besar adalah manusia yang berjiwa besar, berfikir dan berperasaan alam semesta.
Relevansinya dapat dilihat dari keberagaman Islam saat ini yang lebih dekat dengan modus yang bersksistensi borjuis-kapitalis dibandingkan dengan bereksistensi religius secara sosial. Ketika kesuksesan dunia dan akhirat diartikan sebagai kesuksesan ekonomi sosial dan dunia, maka berubahlah pandangan mencari surga layaknya perburuan real estate di (planet?) Surga. Akhirnya dapat disimpulkan secara sempit bahwa hubungan antara manusia dengan tuhannya hanya sebatas hubungan bisnis real estate surga (duh!). Surga kemudian digambarkan secara pasif, sebagai tempat bersenang, tempat segala manusia dipuaskan (terutama nafsu syahwati).
Ironisnya lagi apa bila para pembesar atau elite agama membiarkan ketimpangan/kedzaliman di dunia tanpa ada upaya realistis. Bila demikian adanya, agama hanya milik kaum elite dan agama tidak memihak kaum miskin. Pemahaman ini jelas menunjukkan wajah egosentris agama. Agama hanya diartikan urusan spiritual ukhrawiah dan urusan duniawi tidak ada sangkut pautnya dengan agama. Untuk itu pengikut Islam semestinya sadar, bahwa Tuhan menciptakan manusia yang terperangkap dalam dimensi ruang dan waktu menjadi manusia mensemesta, turut ikut mengisi dan membentuk eksistensinya secara kongkrit di jagad raya ini.
Realitas material yang ada dihadapan manusia bukanlah yang harus dikontraskan dengan Ilahiyah. Kebenaran manusia bukanlah kebenaran abstrak, mealinkan kebenaran yang bersifat materialis, kebenaran yang bisa dirasakan oleh manusia lainnya dan mahluk hidup lainnya yang sesama terperangkap pada ruang dan waktu, mahluk senasib. Untuk membumikan agama Islam, semestinya manusia harus berperilaku kongkrit juga.
Agama Islam adalah harapan dan impian akan kehidupan surgawi, namun kehidupan surgawi yang mereka anut adalah surgawi alam lain, bukan di dunia ini. Apabila pemeluknya terus-meneruas dibuai impian ini, bisa jadi pemeluknya melupakan dunia atau alam sekitar, dan dunia dalam bermasyarakat. Bersiaplah anda dihujat menjadi seorang yang murtad, dan dikutuk karena tidak sepemahaman dengan impiannya.
Agama Islam butuh otoritas eksternal, sementara religiusitas menggali kearifan dalam diri sendiri. Dalam agama membayangkan alam dan surga di atas sana, sementara religiustitas membangun alam dan kebahagiaan surgawi di sini, di alam nyata ini, di bumi ini.
Inti ajaran agama bukan hanya kegaiban semata, yakni pengharapan surga dan neraka. Seharusnya dengan perkembangan akal budi manusia, beragama tidak lagi didasarkan pada kenikmatan (surga) dan Kesengsaraan (neraka). Yang dituju dalam beragama adalah Tuhan itu sendiri. Inilah hakikat, Ina lilahi wa ina ilaihi rajiun. Diciptakan sang pencipta untuk kembali ke haribaan Sang Pencipta.
Jadi teranglah sudah, bahwa lemah teguhnya iman itu tiadalah semata-mata bergantung pada ketakutan dan pengharapan sesudah kiamat. Lemah teguhnya iman bergantung pada masyarakat itu sendiri. Sementara masyarakat adalah gabungan-gabungan individu yang memiliki harapan-harapan berbeda.
Perihal gaib di dunia religius memang ada, tetapi ruang mereka adalah ruang yang lepas dari dimensi ruang dan waktu. Betul sekali nabi-nabi dahulu memberikan penjelasan tentang gaib untuk iming-iming agar manusia mempercayai keberadaan Tuhan. Kegaiban pada saat itu merupakan inti pengajaran, sekarang melalui karsa manusia, banyak teknologi baru di temukan, peradaban berubah, jaman gaib dulu kilat adalah malaikat sedang berjalan, sekarang melalui teknologi diartikan kilat adalah loncatan listrik antara kutub positip dan negatif, dengan berprinsip itu maka Edison menemukan lampu pijar, artinya itu adalah kemampuan manusia membaca alam ciptaan Sang Pencipta. Semua itu adalah hasil pengejawantahan manusia sebagai ciptaan Sang Pencipta, yang memiliki kekmampuan mencipta.
Jadi kembali lagi kenapa Islam yang membosankan itu terjadi? karena apa yang diajarkan Sang Kyai tidak nyambung dengan alam nyata sini, contoh yang diajarkan adalah jaman satu setengah abad yang lalu untuk diterapkan abad 21. Untuk itu semestinya selain orientasi tujuan 'Surga' juga dibudayakan esensi manusia yang memiliki akal, budi, kemauan, perasaan, sehingga mensemesta dalam kebersamaan.
Lalu, selain ibadah kepada Allah Aza wa jalla juga harus disadarkan untuk tidak individualis dalam bermaslahat, mari bekerja sama membangun dunia yang lebih mulia.
Terakhir di jaman yang serba materialis ini, selain kita dituntut untuk tetap beribadah kita dituntut untuk menjadi manusia besar, yang berkemauan, berfikiran, berperasaan yang mengembang universal - mensemesta, ya ... merasa satu dengan dunia ini.
Rasakan bahwa segala sesuatu di alam ini berkembang menuju haribaan Sang Khalik. Insya Allah Islam yang engkau anut tidak lagi membosankan, tetapi menjadi Islam yang damai, Islam yang Indah.....
Ferry Djajaprana
http://ferrydjajaprana.multiply.com/journal/item/35
Nouveau : téléphonez moins cher avec Yahoo! Messenger ! Découvez les tarifs exceptionnels pour appeler la France et l'international. Téléchargez la version beta.
Yahoo! Shopping
Find Great Deals on Holiday Gifts at Yahoo! Shopping
******************************************************
Milis Filsafat
Posting : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "filsafat" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
- [filsafat] Islam Yang Indah verri DJ
- RE: [filsafat] Islam Yang Indah Pormadi ocarm
- RE: [filsafat] Islam Yang Indah hasan mawardi
- [filsafat] KIta Khalik dan Tuhan Makhluk hasan mawardi
- Re: [filsafat] KIta Khalik dan Tuhan Makhlu... kare Yo
- Re: [filsafat] Khalik dan Makhluk verri DJ
- Re: [filsafat] KIta Khalik dan Tuhan Makhlu... tedi
- Re: [filsafat] KIta Khalik dan Tuhan M... inamina saroh
- Re: [filsafat] KIta Khalik dan Tuh... guebgt
- Re: [filsafat] KIta Khalik dan... tedi
- [filsafat] Re: KIta Khalik dan... agussyafii
- Re: [filsafat] Re: KIta Khalik... gieh irawan
