Perihal laitsa kamislihi saiun itu artinya Tuhan tidak sama dengan mahluknya.
Menurut Taoisme dikatakan agar dapat menyatu (sampai) dengan ketunggalan besar ( Tuhan Yang Maha Besar) manusia bijaksana harus mengatasi serta melupakan pemilahan diantara barang sesuatu dengan barang lainnya. Jalan untuk itu harus mengesampingkan pengetahuan (Baca: meninggalkan aktifitas fisik) dan merupakan metode kaum tao untuk bersikap bijaksana. Akan tetapi kaum tao untuk memuja tao menggunakan perantara lambang-lambang (materi) sebagai batasan pikirannya.
Konsep ketuhanan kaum kristiani yang dikenal trinitas, pada dasarnya sama sebagai agama samawi, seperti yang dikatakan dalam injil :
Dengarlah wahai Israil sesungguhnya Hua Allah kita, Hua itu esa adanya (ulangan pasal 6 ayat 4).
Pada ayat lain pasal 4 ayat 35 disebutkan :
Maka kepadamulah ia ditunjuk, supaya diketahui olehmu bahwa tuhan itu Allah, dan kecuali Tuhan Yang Esa, tidalah yang lain lagi.
Kitab Samuel yang kedua pasal 7 ayat 22:
Maka sebab itu Besarlah engkau, Ya Tuhan Allah karena tiada yang dapat disamakan dengan dikau dan tiada Allah melainkan engkau sekedar yang telah kami dengar dari telinga kami.
Di ayat ini dijelaskan bahwa Jesus sendiri mengharapkan kata-katanya kepada Allah, bahwa tiada yang dapat disamakan dengan Allah; Laisa kamitslihi syaiun.
Menurut Kitab Bhagawat Gita, bahwa orang yang tidak memurnikan obyek pikirannya kepada Zat Mutlak, maka akan mati tersesat dan dia menjadi karma reinkarnasi.
Orang yang menyembah dewa-akan dilahirkan dari para dewa, orang yang menyembah leluhur akan pergi ke leluhur, orang yang menyembah roh halus akan dilahirkan di tengah mahluk seperti itu, dan orang yang menyembah Ku akan hidup bersama-Ku.(Bhagawat Gita, Sloka 9.25)
Di dalam ajaran Budha disebutkan, konsep personalitas ego adalah sesuatu yang digambarkan oleh pikiran yang diskriminatif yang harus ditinggalkan.
Di dalam agama besar yang saya sebutkan di atas diakui bahwa Tuhan itu tidak sebanding dengan sesuatu atau tidak bisa dipersepsikan seperti apa dan bagaimana. Adapun sesembahan mereka berupa berhala dengan alasan sebagai media pengantar kepada Tuhan Yang Maha Esa atau biasa disebut pemusatan pikiran (rabitah) atau washilah.
Sri kresna, Budha Gautama, Kristus, merupakan perwujudan Tuhan itu sendiri sehingga kaum yang kesadarannya sampai pada batasan ini rohaninya akan terhalang kepada bentuk Tuhan Yang Maha Mutlak (yang tidak dijangkau oleh pikiran) akibatnya objek pikiran kita berhenti kepada alam yang masih bisa kita bayangkan (Islam menyebutnya Syirik). Kalaulah akhirnya sang meditator mendapatkan pengalaman rohani atau pencerahan, itu akibat jiwa manusia yang bersifat universal, misalnya muncul kedamaian, ketenangan, cinta, rindu dan lain-lain, yang merupakan potensi yang sudah diberikan oleh Tuhan kepada seluruh manusia.
Islam hadir untuk meluruskan persepsi tentang Tuhan (tauhid) karena apabila tuhan digambarkan seperti apa yang difikirkan, maka jiwanya terhenti pada benda itu dan tidak masuk kepada keadaan transenden yang sebenarnya atau hakikatnya.
Disebutkan di alquran :
"Ingatlah hanya kepunyaan Allah agama yang bersih (dari syirik), dan orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata) : Kami tidak menyembah mereka (berhala) melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya." (Q.S. Az Zumar, 39 ayat :3).
Sebagai tambahan Tuhan di dalam Islam itu memiliki sifat: Dzat Yang Paling Awal, Dzat Yang Paling Akhir, Dzat Yang Menciptakan dan Dzat Yang Tidak Sama dengan Ciptaannya.
Semoga membantu, mohon diperbaiki kalau salah.
Salam,
ferry Djajaprana
llaAt 10:12 AM 12/15/05, you wrote:
Kita itu pencipta tuhan
assalamu `alaikum semua; Yahudi, Nasrani, Muslim, Hindu, Buda, atau siapa saja dan dimana saja you berada.
diskusi tentang Tuhan memang manarik karena masing2 berangkat dari pemahamannya sendiri. Tuhan yang kata-Nya sendiri laitsa kamislihi saiun (tidak menyerupai sesuatu) ternyata kita sering mecoba mensaiunkan-Nya (mensesuatukan-Nya). rela g` ya Dia kita saiunkan?
karena itu, memang nampaknya ada dua wujud tuhan; Tuhan sebagai Tuhan dan ini yang tidak seperti sesuatu, dan tuhan dalam wujdu ciptaan atau pemahaman kita masing2. yang pertama Tuhan sang Khaliq dan yang kedua tuhan sang makhluk.
tapi yang pasti sebagai hamba kita harus mengenal-Nya, dan itu tid ak mungkin bisa dilakukan kecuali melalui mensaiunkan-Nya.
dalam bahasa para sufi, saya sering mendengar kata manipestasi (takhalli, tahalli dna tajalli atau apa lah)Tuhan di muka bumi, dan manipestasio terbaik Tuhan di bumi ini adalah ciptaan-Nya bernama manusia. karena itu sering dikatakan: "barang siapa mengenal dirinya pasti ia mengenal Tuhan-nya".
konon para filosof Islam berpandangan bahwa Tuhan itu tidak bersifat karena sifat adalah sesuatu yang menempel kepada kepada sesuatu. atau kalau ngikuti bahasa teolog syi`ah biasa mereka menyebutnya ash shifat hia `aiunu adz-dzat alias tidak terpisahnya dzat dari sifat.
mungkin yang dimaksud laitsa kamislihi saiun adalah Tuhan sebagai Dzat, yakni hubungan Tuhan dgn Tuhan sendiri. namun ketika Ia berhubungan dengan yang lain (makhluk) Ia harus menjadi seperti sesuatu (kamitsli sai) supaya dapat dipahami makhluk2-Nya. tentu kata "seperti" tidak berarti sama dengan-Nya.
dan memang banyak terdapat kesamaan antara Dia dengan makhluk-Nya, walau pun dalam kesamaannya terdapat banyak dan banyak sekali perbedaan. Tuhan (wujud)ada dan kita pun juga ada, Tuhan hidup (al-hay) dan kita pun juga, Tuhan mengetahui (al-Alim) dan kita juga, dll.
betul g` ya pemahaman saya ini? tolong dong luruskan saya, siapa saja yang mau terutama Pak Verri , dan tkanks,
wassalam
hasan mawardi
verri DJ <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
- Perihal Tuhan Mencipta apakah menciptakan dirinya sendiri, sangatlah sulit
- dipahami secara logika. Selama fikiran anda mengagungkan otak (yang
- material sifatnya), membahas Tuhan (Immaterial) bisa-bisa otak anda jebol,
- karena tidak masuk logika. Apalagi kalau anda mengagungkan Metode
- ilmiah.Apakah mungkin yang immaterial dapat dipahami oleh yang materil?
- Pertanyaan yang berumur setua peradaban manusia ini nampaknya masih tetap
- esensial sampai sekarang.
- Pembahasan Tuhan rasanya sejauh yang bisa dicapai otak adalah tuhan
- subjektif menurut abstraksi pemikiran tiap-tiap orang, bukan Tuhan sebagai
- diri-Nya sendiri, dan karenanya pemahaman tentang Tuhan bagi tiap-tiap
- orang bisa berbeda. Tuhan itu mengikuti prasangka hambanya.
- Salam,
Yahoo! Shopping
Find Great Deals on Holiday Gifts at Yahoo! Shopping
******************************************************
Milis Filsafat
Posting : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "filsafat" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
- [EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
******************************************************
Milis Filsafat
Posting : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************
SPONSORED LINKS
| Philosophy beauty product | Philosophy | Philosophy beauty |
| Philosophy of | Philosophy amazing grace | Philosophy hope in a jar |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "filsafat" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
