KAU INGIN AKU MEMENGGALMU, BAIKLAH. BERSIAPLAH.... Z: Hal yang paling jelas dan benar-benar jelas adalah ada. artinya dengan tidak dijelaskanpun ada itu ada di akal kita. Tapi karena tingkat kesadaran kita lemah. Untuk membedakan antara ada dan tiada pun kita kerepotan minta ampun.
N: jika Ada adalah yang paling jelas, bahkan tanpa dijelaskan pun ia ada di akal kita, maka bagaimana kesadaran bahkan yang paling lemah pun tak menangkapnya? Jika kesadaran yang paling lemah tak dapat menangkap Ada yang paling jelas itu, yang bahkan tanpa dijelaskan pun ada di akal kita, artinya ada kompleksitas tertentu dalam Ada tersebut, terdapat kekaburan tertentu dalam Ada tersebut, sehingga Ada itu tak bisa disebut yang paling jelas dan benar-benar jelas, yang ada tandap dijelaskan sekalipun. Z: Makanya kita membutuhkan suatu penyadaran yang berpegang kepada nilai-nilai universal untuk membedakan ada dan tiada. Tanpa berpihak kepada suatu ajaran apapun. Adapun jika ada implikasi kesesuaian suatu ajaran dengan nilai-nilai universal si ada maka itu merupakan kebenaran kedua yang harus diterima setelah menerima kebenaran yang kesatu. Kebenaran yang kesatu adalah mengetahui dan memahami Ada dan Tiada (yang dengan kedua-duanya kita menentukan kebenara) berdasarkan nilai-nilai universal. Artinya argument universal, tidak relatif, tidak nisbi dan dapat diterima oleh semua orang yang berakal. Adapun jika suatu ajaran tertentu itu datang (menurut anda dogma) setelah kita mengetahui kebenaran secara nilai-nilai universal dan ternyata kedua-duanya sama. Maka tentulah ajaran tersebut merupakan nilai-nilai universal juga. Bukan kepunyaan berdasarkan tempat, negara, waktu, seseorang, individu, ras, dan hal-hal lain yang bertentangan nilai-nilai universal. Apakah yang disebut nilai-nilai universal? Jika terdapat nilai-nilai universal, dalam pengertian alamiah, absolut, maka tidak ada pertentangan nilai, semua nilai pasti homogen. KIBROTO: Bertambah ribet lagi ketika disebutken bahwa kebenaran hanya satu. Nyatanya, praktis tiap orang punya `fantasi' sendiri2 tentang Tuhan yang tidak pasti sama. Z: 'apakah hubungannya kebenaran hanya satu dengan 'fantasi'?. Jika fantasi dalam kata lain persefsi/gambaran akal/pikiran terhadap sebuah informasi. Ya jelas jika anda sandarannya adalah persefsi/gambaran akal tidak akan mendapatkan realitas mutlak/kebenaran mutlak. Tapi jika anda menyesuaikan 'Apa yang ada di dalam Akal anda' dengan kebenaran yang ada di luar baru anda dapatkan kebenaran. contoh: Jika anda membayangkan bahwa Tuhan duduk di kursi maka hal itu tidak benar karena tidak mungkin tuhan bertempat. Jika anda membayangkan bahwa 1 + 2 = 4 maka itu tidak benar karena yang benar adalah 1 + 2 = 3. Jadi untuk memperoleh kebenaran sesuaikan pikiran anda dengan kebenaran yang ada diluar anda atau sebaliknya. N: Apa yang kau maksud dengan di luar di sini Zar Alkamal? Jika yang kau maksud "di luar" di sini adalah yang indrawi, itu bertentangan dengan tesismu sendiri, bahwa yang "indrawi" itu merupakan ketiadaan, sehingga tak dapat menjadi verifikasi kebenaran atau Ada. Dua contoh yang kau berikan "Tuhan duduk di kursi" dan 1+2=3 bukan empat juga tidak menunjukan penjelasan apapun akan hal ini. Contoh ketidakmungkinan "Tuhan duduk di kursi" karena Tuhan tidak mungkin bertempat tidak dapat disesuaikan dengan kebenaran yang ada di luar (dalam pengertian indrawi). Ketidakmungkinan Tuhan duduk di kursi karena Tuhan tidak bertempat atau berada di luar ruang dan waktu merupakan derivasi dari postulasi bahwa Tuhan sebagai sang pencipta pastilah terlepas dari ruang dan waktu, karena ruang dan waktu adalah ciptaannya. Dan postulat ini murni bermain di wilayah penalaran atau akal atau fantasi dalam bahasa Ki Broto, yang dalam logika Aristotelian disebut IMAGINATIVA. Demikian pula 1+2=3, operasi penghitungannya juga merupakan wilayah IMAGINATIVA, bahwa angka 1, 2, 3 mewakili kuantitas 1, 2, 3 di luar (fisik atau indrawi) juga adalah wilayah IMAGINATIVA. Untuk lebih jelasnya mari kita lihat fenomena menjarang air Hume. Ketika kita menjerang air di atas api, dan kemudian mendidih kita mengatakan air mendidih karena api. Secara indra fenomena yang ditangkap adalah air dalam sebuah wadah yang diletakan di atas api. Kesimpulan bahwa air mendidih karena api merupakan sebuah proses rasionalisasi, yang berada di wilayah imajinasi. Seluruh silogisme merupakan IMAGINATIVA. Z:Tuhan adalah pencipta. dan makhluk adalah yg dicipta.Jadi sudah suatu keharusan sesuatu yg dicipta memasuki aturan yg pencipta. Jika tidak tentu dia akan keluar dari jalurnya. Alias bukan pencipta ataupun yg dicipta N: Jika keluar memang kenapa? Apa yang mengharuskan ciptaan memasuki aturan pencipta? Mengapa ia tidak "sudah seharusnya membunuh penciptanya"? Meludahi mukanya? Jika ia keluar jalur apakah itu merubah eksistensinya sebagai yang dicipta? Z: Jika terindra itu benar perhatikan contoh-contoh di bawah ini: Kursi, apakah benar kursi itu ada sebagai realitas mutlak? Tidak, kursi adalah kayu, plastik,atau bahan lainnya yang berbentuk sedemikian rupa sehingga dapat berfungsi sebagai alat duduk. Kita memahami itu kursi, tapi secara terindra bukan kursi karna pada kursi ada kayu dan ada paku. Ingat rumah itu tidak ada tapi yang ada itu jendela, atap, lantai, dinding dan isi rumah. Ingat, tembok itu tidak ada tapi yang ada adalah tanah, bata dan semen. Ingat anah itu tidak ada yang ada adalah unsur-unsur tanah. Unsur-unsur tanah itu tidak ada yang ada adalah kumpula atom. Atom itu tidak ada yang ada adalah elektron, proton, dan netron. Elektron, proton, dan netron itu tidak ada yang ada adalah . . . . N: Zar kamal, kursi, rumah, tembok, jendela, itu konsep, itu wilayah rasio, akal, atau IMAGINATIVA, belajarlah lebih banyak tentang kausa Aristoteles. Dan bandingkan penjelasanmu ini dengan penjelasanku tentang fenomena "menjarang air HUME". Z: yang merasa dirinya benar siapa? lalu siapa yang benar/salah? Jika saya salah maka tolong dimana letak yang salah! Jangan ancam mengancam dengan mengutip perkataan Nabi Musa. Jika Anda yang benar maka dengan senang hati saya menerima kebenaran itu. Tapi jika anda yang salah sudah menjadi kewajiban saya membenarkan yang salah. Tentunya harus dipertanggungjawabkan. N: Oh jadi kau ingin mengatakan bahwa apa yang kau katakan salah. Kau tidak malu ngomong seperti itu: "Yang merasa dirinya benar siap?"; Apakah aku mengancam Zar Alkamal? Atau itu ketakutanmu? Kau takut pada maut? Bagaimana kau bisa bicara kebenraran jika kau takut pada maut? Itulah sebabnya terdapat ayat: Takut akan kematian adalah tanda-tanda kekafiran. Pakailah sedikit otakmu, apakah artinya perkataan Musa tersebut? Bahwa jika kau sampai pada kebenaran tertentu kau harus meninggalkannya dan mencari kebenaran yang lebih jauh, itulah mengapa Musa harus belajar kepada Khidir, bangun pikir positif (sistem benar x salah, ada x tiada) yang disimbolkan dengan tongkat Musa harus dipatahkan dan dilempar ke tanah, Musa harus belajar untuk menarik hubungan-hubungan, garis-garis, bahkan dari hal-hal yang tidak berhubungan (inilah yang disebut ilmu laduni, atau jeniusitas dalam definisi Aristoteles, bisa pula disebut indra keenam, karena sesungguhnya operasi dalam indera keenam adalam kecerdasan untuk menemukan hubungan-hubungan tersebut), untuk membaca tanda-tanda, qiyas-qiyas dan mengambil hikmah, tanpa henti. Z: "Kebenaran tak pernah menjadi air, ia adalah batu, sebab itu setiap kebenaran harus dipenggal seperti Ibrahim memenggal kepala Latah, uzah, Watan dan Sanam." Tentu kalimat diatas adalah bukan kalimat yang berdasarkan sistematika logika yang benar. Karena Kebenaran tak pernah menjadi air, ia adalah batu, jadi kebenaran adalah batu (mustahil). N: Tergantung apa yang kau sebut sistematika logika yang benar. Kalau yang kau maksud adalah seperti yang kau tuliskan: "Kebenaran tak pernah menjadi air, ia adalah batu, jadi kebenaran adalah batu". Jawabannya adalah Ya. Tetapi jika yang kau maksudkan dengan sistematika logika yang benar adalah: "Tuhan adalah air kebenaran adalah batu, maka kebenaran bukanlah Tuhan." Jawabannya tidak. Dalam logika Aristotelian atau dalam silogisme, preposisi mayor hipotesis, preposisi minor kategoris, konklusinya kategoris. Bahkan menyusun proposisi saja kau tidak bisa. Begitu ingin berbicara tentang logika denganku? GOBLOK JANGAN KEBANGETAN, AKU SIH TIDAK PINTER TAPI TIDAK SEIDIOT DIRIMU. Sekarang, untuk memahami silogisme, maka kau memerlukan referensi, sebab proposisi-proposisi itu tidak mencukupi, tidak definitif, kenapa, karena sebelumnya aku telah mengirimkan referensi mengenai Tuhan yang berarsyi di atas air, yang merupakan simbolisasi dari YANG TIADA karena keberadaannya mengatasi ruang dan waktu, dan Ada selama ini selalu dipahami sebagai Yang Meruang dan Mewaktu, Ada sebagai Kehadiran. Karena ia merupakan YANG TIADA, maka ia bersifat amoral, tak dapat dikenai baik dan buruk, benar dan salah. Memasukan Tuhan sebagai YANG ADA, sehingga ia memiliki baik dan buruk, benar dan salah, adalah sebuah pemberhalaan. Pengen bukti dari pemberhalaan ini: Tuhan itu ada berapa Zar Alkamal? Ada satu! Penghitungan atau kuantifikasi Tuhan adalah contoh nalar dari Ada sebagai Kehadiran, konsekwensi logis dari Tuhan sebagai YANG ADA, sebuah antropomorfisme, yaitu pemberhalaan sesungguhnya (Pemberhalan selama ini dipahami sebagai penyembahan patung, tanyakan pada mereka yang biasa ditunjuk sebagai penyembah patung itu apakah yang sesungguhnya mereka sembah, patung atau dewa atau Tuhan yang diwakili oleh patung-patung tersebut) Tuhan sebagai YANG ADA juga membuat pemahaman-pemahaman akan SHOLAT sebagai komunikasi, sebagai usaha terus menerus untuk berdialog atau berdialektika dengan Tuhan Yang Tiada, Tuhan yang tak berbentuk tak berupa, tak meruang dan mewaktu, sehingga harus dilakukan terus menerus, direduksi menjadi PENYEMBAHAN, aksi yang biasa dilakukan terhadap berhala-berhala, kebenaran-kebenaran. Apakah Tuhan perlua disembah? Tidak. Jika ada Tuhan yang gila kuasa seperti itu, akulah yang pertama mengapaknya. Z: kebenaran harus dipenggal seperti Ibrahim memenggal kepala Latah, uzah, Watan dan Sanam. Itu terjadi jika yang berkuasa adalah orang zalim. Yang mensalahkan orang yang benar. Melalui eksekusi-eksekusi pemenggalan. Sy sangat keberatan ketika kalimat "kebenaran harus dipenggal seperti Ibrahim memenggal kepala Latah, uzah, Watan dan Sanam. " disatukan karena tidak nyambung. Lihat sistematikanya: kebenaran harus dipenggal (benar jika yang berkata orang zalim tapi menurut saya salah) Ibrahim memenggal kepala Latah, uzah, Watan dan Sanam. (Benar menurut sejarah yang anda ketahui). pernyataan satu dan kedua benar keduanya tapi gak nyambung. ya tentu tidak dapat diterima. Karena kalimat tidak logis maka berarti ini datang dari emosi anda ya! rasul bersabda"Bukanlah orang yang paling kuat itu adalah orang yang pandai Gulat, tapi orang yang bisa menahan emosinya" N: OTAKMU ITU YANG NGAK NYAMBUNG. Mari dirunut, dengan referensi pada keterangan sebelumnya: Jika Tuhan adalah air, dan kebenaran adalah batu, dan dengan demikian memiliki sifat-sifat yang dapat diperbandingan dengan berhala, ia harus dipenggal seperti Ibrahim memenggal kepala latah, uzah, watan, dan sanam. Artinya kebenaran=batu=berhalanisme. Ketiga prinsip Aristoteles, identitas-kontradiksi-penyisihan, disebut juga judgment system. Pada mulanya ditentukan dulu kategori- kategori, kategori A dan oposisinya A, lalu ditentukan mana yang masuk A mana yang masuk A. Proses penilain yang didasarkan pada kategori-kategori yang disusun sebelumnya atau mendahului ini, apriori dalam bahasa Kant, dalam lapangan ilmu logika atau penalaran disebut ROCK LOGIC, LOGIKA BATU. Sebab kategori-kategori itu, yang berusaha disusun begitu kuatnya dalam sebuah rasionalisasi, dan bahkan naturalisasi hingga terasa tidak bisa lagi dipertanyakan, absolut, yang kemudian disebut POSTULAT atau AXIOMA, menjadi BATU LANDASAN bagi seluruh sistem penilaian. Jika BATU itu keropos maka seluruh PENILAIANNYA keropos. Seluruh sistem KEBENARAN berdiri di atas LOGIKA BATU, tanpa itu tidak dapat dibangun sebuah sistem kebenaran apa pun. Di samping ROCK LOGIC terdapat apa yang disebut FLOW LOGIC. Berbeda dengan ROCK LOGIC, FLOW LOGIC tak berangkat dari apriori-apriori tertentu, pertanyaan yang diajukan bukan "Apakah itu?" tetapi "Bagaimana itu?", "Mengapa itu?". Fokus dari FLOW LOGIC bukanlah penilaian, atau penyisihan, tetapi pemahaman. FLOW LOGIC disebut juga WATER LOGIC, karena sifat-sifat air yang mengalir, tidak berbentuk, tidak berwarna, atau tanpa identitas, kecuali identitas wadahnya. FLOW LOGIC pertama-pertama melakukan sebuah affirmasi, kemudian mengajukan pertanyaan mengapa dan bagaimananya (Vorsicht), dan selanjutnya melakukan displacement yang akan menjadi konsep selanjutnya (Vorgriff), Dua logika tersebut karena sifat-sifat yang diwakili dari air dan batu, , sebagaimana dalam banyak kebudayaan air seringkali dilawankan dengan batu, bahkan lebih dari itu kekuatan air sering dimenangkan dalam oposisi tersebut (di Sunda ada pepatah yang menggambarkan bagaimana air dapat melubangi batu, di China kita mendapatkan THAICI, jurus air yang selalu berhasil mengalahkan jurus- jurus bumi, seperti TINJU BESI, atau semacamnya. Dalam FLOW LOGIC, dipakai pula ROCK LOGIC, hanya saja dipahami benar sifat-sifat kesementaraan dari batu-batu dalam ROCK LOGIC, terutama pada stasi affirmasi. DAN INTERPRETASI APA INI :"Itu terjadi jika yang berkuasa adalah orang zalim. Yang mensalahkan orang yang benar". Interpretasi UDIK kayak gini kau pamerkan padaku, dan mengaku pintar gulat? Apa karena ada Ibrahim di sana yang secara apriori kau anggap benar? Aku bertanya, jika kutebang cungkup masjid karena orang-orang telah memberhalakan Allah, siapakah yang zalim? Para "penyembah berhala" itu sama merasa benarnya dengan Ibrahim, bahkan masuk lebih dalam pendapat Ibrahim bahwa Berhala tidak bisa memberikan apa-apa sehingga tidak boleh disembah, adalah pernyataan yang tidak bisa dipertanggung jawabkan, karena penyembah berhala tidak pernah menyembah berhala an sich, dan apa itu pembuktian fungsionalis Tuhan, bahwa Tuhan seharusnya bisa memberi yang kita minta? Apakah kalkulasi-kalkulasi ekonomis seperti itu yang seharusnya dibangun dalam relasi manusia dengan Tuhan; pahala 7 x lipat, surga dengan bidadari cantik. Lalu mana prinsip keikhlasan. Maka jangan heran jika Islam menumbuhkan mental-mental koruptif. Z: " Aku bertanya kepadamu Zar kamal, apakah kau ingin memberhalakan Tuhan. memberhalakan Allah yang bahkan telah menyatakan dirinya sebagai yang berarsyi di atas air, tak berbentuk tak berupa? Apakah kau juga ingin memberhalakan qur'an dan Muhammad?" Siapa yang memberhalakan Allah? Apakah ada pernyataan saya akan hal itu. Saya menjelaskan tentang "istiwa alal arsyi" bukan berarti Allah diam di arsyi. Jika diam berarti bertempat jika bertempat berarti makluk. Masa Allah disamakan dengan makhluk. (Pembasannya panjang). Jadi pernyataan Anda telah menyamakan Allah dengan makhluk dengan menafsirkan "istiwa alal arsyi" Allah berarsyi di atas air. Apakah kau juga ingin memberhalakan qur'an dan Muhammad? Anda tahu kalimat diatas anda telah menuduh seseorang kafir, musyrik. Sedangkan anda tidak dapat membuktikan kekafirannya dan kemusrikannya. Jika anda menuduh tanpa bukti maka anda akan mendapatkan hukuman bahwa barang siapa yang menuduh seseorang muslim musyrik maka tuduhan itu akan kembali ke dirinya sendiri. N: PENGECUT TIDAK TAHU DIRI. Segala sesuatu tidak harus eksplisit DONGOK. Kecuali kau orang Samin. Sekarang kau tahu di mana letak kemusrikanmu? Kau takut dituduh musyrik? Aku tidak. Apakah yang kutakutkan ketika aku tidak lagi merindukan surga, dan tidak takut pada neraka? Sekarang tentang "istiwa alal arsyi", apakah aku menginterpretasikannya secara heuristik seperti itu, sebagaimana yang telah kau tuduhkan. Tidak pernah. Allah berarsyi di atas air aku jelaskan secara allegoris, bahwa dengan penggambaran itu artinya Allah tidak bisa dikenakan prinsip identitas, Allah tidak bisa dijelaskan dalam term-term YANG ADA. Lalu dari mana pikiranmu bahwa aku menginterpretasikan bahwa Alla duduk menempati ruang? Apa bukan dalam pikiranmu sendiri, alam bawah sadarmu sendiri, yang kau proyeksikan pada diriku? Sebab YANG ADA SELALU MENEMPATI RUANG DAN WAKTU. ATAS TUDUHANMU ITU, MAKA SIAPAKAH KINI YANG MENUNJUKAN SATU JARINYA KE DEPAN SEMENTARA KEEMPAT JARINYA MENUNJUK DIRINYA SENDIRI. HA HA HA.... Z: Gini kang, Kemunduran kaum muslimin adalah terjadi ketika ilmu tentang kebijaksanaan telah dihilangkan (ilmu filsafat, ilmu logika). Secara historis anda membrowsing. Karena ilmu2 tersebut merupakan kaidah dasar untuk menyusun cara berpikir logis. Jika orang tidak mempelajari ilmu2 tsb maka orang tidak dapat menyusun cara berpikir logis. Jika tidak berpikir logis tidak beraturan alias tidak berakal. Apakah ajaran Allah diberikan kepada orang-orang yang tidak berakal, cara berpikir yang tidak beraturan, tidak bisa membedakan antara benar/salah, ada dan tiada. Saya kira tidak kang. N: KEMUNDURAN KAUM MUSLIMIN YA KARENA ORANG-ORANG SEPERTIMU ITU, YANG TIDAK PERNAH BELAJAR TEKUN TAPI SUKA BUANG KENTUT, YANG HANYA MENGULANG DOGMA-DOGMA LAMA TANPA MEMIKIRKANNYA KEMBALI, YANG MEMBACA ATAS NAMA TUHAN TANPA MENGINGAT DIRINYA ADALAH SEGUMPAL DARAH. JANGAN SALAHKAN ORANG BARAT, ATAU SIAPAPUN DI LUAR DIRIMU. LAGI PULA PENDAPATMU TENTANG ORANG BARAT YANG ATHEIS TERLALU MENGENARALISIR, BACA LAGI SEJARAH FILSAFAT ISLAM, BAHKAN SEJARAH AGAMA-AGAMA. Zar Alkamal, sungguh kau ini masih mengkal, sama sekalih mentah bahkan. Kau tahu kenapa. Seorang cantrik (murid) tidak pernah diperbolehkan bicara, bahkan ketika ia dizalimi? Sebagai seorang murid ia harus berpikir terlebih dahulu sebelum bertindak, berpikir luas, dua kali, jauh kedepan, terbuka (kemungkinan pendapat kita perlu direvisi atau ditinggalkan keseluruhannya atas dasar informasi yang baru), kritis (introspeksi-retrospeksi), dengan demikian ia bisa mendapatkan hikmah atau pikirannya sendiri. Mengapa aku sampaikan kepadamu sikap-sikap seorang murid, karena sikap-sikap itu juga merupakan pedoman dalam penalaran atau logika, sesuatu yang kau agul-agulkan, bahkan hingga kau pun tak dapat membedakan mana akal, mana penalaran, dan selanjutnya mana penalaran dan mana penalaran Aristotelian. Silogisme (Yang sesungguhnya merupakan bentuk penalaran Leibniz yang diletakan atas prinsip- prinsip identitas, kontradiksi, dan penyisihan, namun secara umum dikaitkan dengan Aristoteles dan disebut AristotelianSilogisme merupakan bentuk penalaran deduktif dari prinsip cukup alasan yang ditambahkan oleh Leibniz pada penalaran Aristotelian) hanyalah salah satu bentuk penalaran, hanyalah salah satu bentuk logika, ada banyak sistem logika atau penalaran dalam sejarah filsafat atau sejarah pemikiran manusia. Bahkan dalam pencampuradukan ini kau telah menyalahi prinsip "identitas Aristotelian", atau "silogisme kategoris", atau dalam terma-terma logika simbolik, "logika himpunan". Inilah penalaran implisit dari kesimpulanmu: Mayor: Logika adalah ilmu penalaran Minor: Logika Aristoteles adalah sebuah ilmu penalaran. Konklusi: Ilmu penalaran adalah logika Aristoteles. Tentu saja fallacy ini dapat dimaafkan, karena agaknya lahir dari kekurangan data dan ketergesaan mengambil kesimpulan. Mengapa dapat dimaafkan? Silogisme adalah penalaran formal, ia tidak menggubris isi dari sebuah pernyataan atau data, ia tidak menguji proposisi tetapi penarikan kesimpulan. Sebab itu silogisme tidak pernah membawa pemahaman baru, ke "kebenaran" (kata kebenaran diberi tanda kutip, sebab kata ini, seperti kata lainnya dipergunakan dalam makna yang berbeda-beda, dalam kebenaran yang berbeda-beda penggunaan kata ini saja menunjukan bahwa tidak ada kebenaran yang absolut, tidak ada makna absolut, satu, tidak ada petanda terakhir, bahkan ketika kau menyebut kata "Tuhan" atau lebih khusus lagi "Allah", tidak usah diperbandingkan dengan orang lain, tetapi saat-saat di mana kau mengucapkannya, memiliki makna atau isi yang berbeda. Aku beri contoh: ketika kau mengucapkan "Tuhan" pada saat sedih atau marah atau bahagia, makna dalam kata "Tuhan" itu sendiri tidaklah sama. Kau akan mengatakan, "Tetapi ia mengacu pada Tuhan yang sama, Tuhan Yang Menciptakan Langit dan Bumi, Tuhan yang Maha Pengasih, Tuhan yang Maha Besar. Baiklah, tetapi Tuhan Yang Menciptakan Langit dan Bumi yang mana, Tuhan yang Maha Besar yang mana, Tuhan yang Maha Pengasih yang mana? Dari tiga kondisi saat kau mengucapkan Tuhan, paling tidak kau mendapatkan Tuhan sebagai Penolong (sedih), Tuhan sebagai Penjahat (marah), Tuhan sebagai Dermawan (bahagia). Atas dasar kesejarahan silogisme yang nostalgik, yang menuju masa lalu, itulah maka Bacon menolak logika Aristotelian. Problem laten dari silogisme adalah kecukupan atau keluasan atau isi premis. Seberapa cukup premis-premis sehingga dapat ditarik kesimpulan yang benar. Jika kecukupan atau keluasan atau isi itu tidak pernah tercapai bagaimana dapat ditarik sebuah kesimpulan yang benar, bagaimana dapat ditemukan sebuah kebenaran, apalagi kebenaran yang universal, meliputi segalanya, merangkum segalanya. Jika kau mempelajari logika Aristotelian, kau akan mendapati bahwa proposisi metaforik tidak dapat dinilai, yang dapat dinilai adalah proposisi yang definitif, artinya Subjek lebih kecil dari predikart (S<P), semakin luas predikatnya, semakin kecil subjeknya, artinya identitasnya diasumsikan semakin jelas, tetapi itu tidak pernah tercapai. "Siapakah Zar Alkamal?" katakanlah, ia adalah laki-laki berumur 18 Tahun, anak pasanagan A& B, tinggal di daerah C, pelajar atau pegawai D, punya adik , F, G, H, dari keluarga baik-baik.... Tapi apakah laki-laki? Sebut saja ia dikontraskan dengan perempuan, makah apakah perempuan, mengapa laki-laki berbeda dengan perempuan? Dst. Apakah arti 18 tahun? Dalam sistem penanggalan atau penghitungan waktu apa? Apakah 18 tahun itu dapat diartikan sebagai usia mental atau fisik, apakah arti dari 18 tahun secara fisik?...Dst, pertanyaan ini tidak akan pernah usai, identitas Zar Alkamal tidak pernah diketahui sungguh-sungguh. Identitas Zar Alkamal atau apapun hanya dapat diketahui dalam kesementaraan. Belum lagi berhadapan dengan perubahan-perubahan kualitas atau koordinat dari subjek (dalam lapangan lingustik dua hal tersebut disebut konteks dan koteks) misalnya, apakah Zar Alkamal 19 tahun sama dengan Zar Alkamal 18 tahun, apakah Zar Alkamal detik ini sama dengan detik sebelumnya atau detik selanjutnya, apakah Zar Alkamal di ruang A sama dengan Zar Alkamal di ruang B? Dalam prinsip identitas Aristotelian jawabannya adalah tidak, seberapa pun Zal Alkamal A dan B memiliki kesamaan ia merupakan sesuatu yang berbeda. Lalu bagaimanakah orang mengenal atau mendefinisikan Zar Alkamal? Lewat generalisasi, dan itu tidak definitif, dan karena tidak defintif, ia tak dapat diukur, tak dapat ditentukan kebenaran atau kesalahan dari pengenalan tersebut, yang entah bagaimana dalam pemahaman banyak orang mengenai ilmu logika, generalisasi, seperti halnya tautologi, dan beberapa penarikan kesimpulan lain, dianggap salah, tidak logis. Padahal ia merupakan sistem penalaran lain yang oleh Aristoteles disebut sebagai logika tradisional, dan dibedakan dengan logika ilmiah (simbolik maupun formal). Bahwa proposisi definitif itu tidak mungkin, sehingga menggagalkan seluruh proyek silogisme, kecuali dalam kesementaraan, hanyalah satu hal. Marilah kita masuk lebih lanjut pada metafor atau yang metaforik dalam kaitannya dengan logika Aristotelian, dengan mengajukan pertanyaan, adakah sesuatu di luar yang metaforik? Jika bahasa adalah cara manusia mengenal, memahami, dan menggambarkan realitas, maka tidak ada sesuatu di luar yang metaforik, termasuk kata metafor itu sendiri, yang diambil dari sebuah jargon (jargon biasa diartikan sebagai bahasa khusus dalam lapangan ilmu pengetahuan tertentudi Indonesia kata ini mendapatkan konotasi negatif, menjadi semacam "omong kosong") dalam ilmu teknik. Aristoteles mendefinisikan metafor sebagai penggantian satu dengan lainnya, transegeresi terus menerus dari genus, ke species, dan lain sebagainya, atau sebaliknya, tanpa awal atau akhir. Walaupun Aristoteles mengajukan definisi seperti itu namun dalam prakteknya ia mensyaratkan metafor di atas simetri, yang artinya mengandaikan adanya sebuah awal atau akhir yang menjadi matriks dari sebuah metafor. Ini adalah sebuah kontradiksi, yang muncul karena dorongan-dorongan akan being as presence, ada sebagai kehadiran, sebuah logosentrisme, atau logologi, yang bentuknya seperti pemahamanmu akan Tuhan=Ada=Makna=Realitas=Kebenaran. Selanjutnya, jika tidak ada yang tidak metaforik, jika semuanya adalah metafor, tak ada apapun yang bisa dilakukan oleh silogisme, sebab ia tak memiliki landasan ontologis dan atau epistemologis. Tanpa identitas definitif = tidak ada kontras = tidak ada penyisihan (eksklusi/inklusi)= tidak ada kecukupan alasan=tidak ada atau tidak bisa ditarik konklusi atau penilaian benar/salah. AH CUKUP DI SINI DULULAH. TANGANKU PEGEL. LAGI PULA SINTING BENAR AKU INI MENGULIAHIMU GRATIS, KIRIM UANG PENGGANTI PULSA YA KE REKENINGKU... HE HE HE. Sudahlah. Yang penting kau harus belajar dengan tekun, banyak-banyak membaca, tidak usah tergesah berbicara. Oh ya belajar menulis, bahasamu sangat belepotan. Dengan belajar menulis kau belajar mengkoordinasi dan mensistematisasikan pikiranmu. Itu perlu jika kau ingin menyusun sebuah konsep filsafat atau theologi. Selamat berproses untuk MIM, untuk MATI atau menjadi MUHAMMAD (sebagai kualitas insan kamil)! SEMOGA TIDAK BERMANFAAT AMITABHAAAAAAA..... N.A ****************************************************** Milis Filsafat Posting : [email protected] Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/ Website : http://filsafatkita.f2g.net/ Berhenti : [EMAIL PROTECTED] ****************************************************** Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/filsafat/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
