Terimakasih Saya menghagai cara 
anda menjawab kritikan saya dengan baik
tidak seperti yang lainnya yang penuh ejekan 
dan kata-kata yang kasar. 

Kritik saya terhadap pemikiran filsafat dan para filosof
adalah pada metodologi mereka dalam mencari kebenaran
dalam menciptakan pemikiran atau produk filsafat.

jadi yang menjadi persoalan adalah metode pengambilan dalil 
(epistemologi)dari filsafat Yang hanya mendasarkan pemikirannya pada 
dalil aqli atau akal semata dan terlepas dari dalil naqli 
(nash wahyu).

Dan inilah yang menjadi fokus kritik saya terhadap filsafat
ia hanya menyandarkan diri pada logika dalam membangun pemikiran, 
sedangkan akal kita itu bersifat relatif.
Setiap orang relatif berbeda dalam kemampuan, dan kecenderungan 
akalnya, sehingga setiap produk filsafat menjadi berbeda-beda 
tergantung selera akal fikiran si filosof. 
atau saya setuju dengan anda sesuai dengan 
kondisi atau konteks waktu, tempat dan kebudayaan si filosof. 

Kesimpulannya filsafat adalah freethinking atau pemikiran 
bebas yang berkelana tanpa batasan yang pasti dan tetap
kecuali dengan batasan kaidah-kaidah logika atau aturan logika yang
dibangun oleh para filosof itu sendiri..

Dan maaf menjadi filosof atau membaca hasil karya filosof
tetap sama, karena metodologi/ epistemologi dasarnya
 sama yakni menjadikan akal sebagai dasar kebenaran dan 
mengeyampingkan wahyu 

prinsip-prinsip umum yang saya gunakan:
(pertama) kebenaran harus berangkat/dibangun berdasarkan dalil, 
(kedua)  dalil harus berangkat dari wahyu dari tuhan (nash AL-Quran)

Didalam islam, posisi akal adalah untuk memahami nash-nash Al-Quran
dan tidak digunakan untuk menetapkan kebenaran dan hukum-hukum. 
Sumber pengambilan dalil dalam islam secara berurut adalah

1. Al-qur'an
2. As-sunnah atau Hadist
3. Ijma (atau kesepakatan para sahabat dan Ulama)
4. Qiyas (metode perbandingan)

Dalam qiyas inilah akal dapat lebih memiliki kebebasan
namun tetap metode perbandingan yang digunakan harus 
berangkat dari suatu masalah yang memiliki dalil dalam 
Al-Quran dan As-sunnah seperti pengharaman Ekstasi 
diqiyaskan dari khamer (minuman keras) dari sebab (illat) keduanya 
yang sama 
yakni adanya sifat memabukkan atau merusak akal dari ektasi dan 
Khamer.
dari sebab pengharaman (illat) yang sama maka ekstasi diqiyaskan 
dengan khamer menjadi haram. 

Sedangkan filsafat
kritik saya terhadap filsafat 
dalam berargumen sama sekali keluar
dari dalil-dalil al-quran dan as-sunnah
semacam metode berfikir bebas, karena
setiap orang bisa mengkonstruk sendiri
aturan dan batasan sesuai dengan sistem filsafat yang ingin
ia bangun. 
Jadi setiap orang dapat bebas sebebas-bebasnya
untuk seenak perutnya berbicara 
Tanpa disertai bukti kebenaran (DALIL AL-QURAN DAN AS-SUNAH)
Sulit mencapai kebenaran jika menggunaka metode semcam itu

Jadi Kritik saya dapat di padatkan bahwa
Bukan Akal bebas Sebagai sumber Kebenaran
Namun Kebenaran harus berdasarkan Wahyu (Al-Quran & As-sunnah)
Dan akal hanya mengikuti....

(saya ingatkan ini untuk persoalan keyakinan/agama
Untuk SAINS DAN IPTEK akal mendapat kebebasan,
hanya saja dalam pemanfaatan IPTEK tersebut harus sesuai dengan 
nilai-nilai moral dan keagamaan)

Jadi manhaj atau kerangka berfikir saya adalah

WAHYU SEBAGAI SUMBER KEBENARAN DAN
AKAL MENGIKUTI KEBENARAN WAHYU

KEBENARAN WAHYU DIATAS KEBENARAN AKAL
DAN AKAL TIDAK MUNGKIN MENEMUKAN KEBENARAN (dalam keyakinan agama)
TANPA WAHYU

tapi ya kembali lagi, seperti apa kita memahami filsafat..
jika sebatas buku novel dan cerita-cerita fiksi
berbau-bau filsafat.
Entah ya apa kritik saya 
ini pada tempatnya atau kejauhan




--- In [email protected], "non_sisca" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> 
> Bagaimana pun suatu ajaran filosofi dan menjadi philosopher tentu 
> saja bermakna beda. 
> 
> Suatu ajaran produced by a certain man in a certain time and place, 
> berkaitan dengan sumber, latar belakang, dan lingkungan, juga 
> pekerjaan, tradisi, situasi kondisi, his intellectual, political, 
> economic, atau terpengaruh karya / ajaran orang lain.
> Beranjak dari situlah terkadang kita harus memahami suatu ajaran 
> filosofi sehingga kita belajar mengerti dan menghormati apa yang 
> dimaksud oleh pencetusnya.
> 
> Btw, barangkali tulisan saya yang satu juga boleh tolong 
dikomentari, 
> sehingga saya menangkap persepsi anda sekaligus.
> 
> Makasih, sisc 
> 
> 
> 
> 
> 
> --- In [email protected], qalam26 <no_reply@> wrote:
> >
> > 
> >  philosophy is the love of wisdom, 
> >  and a philosopher ia a lover of wisdom. 
> >  
> >  Definisi yang anda berikan memang bagus sekali
> >  apalagi dengan bahasa inggris. Namun...
> >  Kadang kita tidak bisa memahami esensi dari
> >  filsafat hanya dari sebuah definisi etimologi
> >  alias bahasa...ini terlalu menyederhanakan masalah dan makna
> >  alias (simplitisme)
> > 
> >  "Apalah arti sebuah nama"
> >   demikian shake speire berkata sinis
> >   apa artinya nama philosophy jika nama tidak mencerminkan isi.
> >   Benarkah philosophy berasal dari sebuah kebijaksanaan?
> >   atau ia hanyalah sebuah nama dusta belaka.
> >   salah satu dari sekian banyak semiotika yang hampa akan makna.
> > 
> >   Apakah Arthur Schopenhauer.
> >   German philosopher, who is    
> >   known for his philosophy of pessimism.
> > 
> >   yang mengatakan bahwa manusia pada dasarnya jahat
> >   dan kehendak buta menjadi dasar dalam kehidupan manusia
> >   itu adalah bijak? sehingga ia pesismis dengan adanya perdamaian
> >   dan kebaikan dalam diri manusia...karena akal hanyalah alat bagi
> >   kehendak buta yang dibaratkan seorang yang kuat namun buta 
> >   menggendong silumpuh yang dapat melihat (akal)?
> >  
> >   atau Friedrich Wilhelm nietzsche yang mengatakan god is dead
> >   dan the Rissing of SUperman yang menjadi dasar dari dotrin'  
> >   idiologis dari Rasis kaum Nazi itu bijak...
> >   bukankah semua itu adalah PHILOSOPHY...
> > 
> >   Bukankah pemikiran bijak semacam Karl marx dengan das
> >   capitalis yang telah bertanggung jawab terhadap
> >   kekerasan idiolois abad kedua puluh...dan
> >   pengaruh nya pun sampai kenegri kita yakni PKI PALU ARIT
> >   
> >   Jelas bahwa Philosophy tidak hanya berisi kebijakan 
> >   namun juga pemikiran-pemikiran radikal 
> >   yang telah menyulut perang dunia II.
> > 
> >   Kadang orang mendefinisikan kebijaksanaan
> >   dengan tafsir liberal mereka masing-masing
> >   seperti nietzsche yang mengatakan
> >   orang bijak adalah orang yang mampu menertawakan tragedi
> >   layaknya sebuah komedi...
> >   seperti Hitler yang tertawa terkekeh-kekeh di atas tumpukan 
mayat-
> >   mayat orang yahudi layaknya menonton sebuah komedi..
> >   (Holocaust). 
> > 
> >   Nah bukan saja kebijaksaan namun juga kesetanan 
> >   yang terdapat dalam carut marut pemikiran, paham
> >   dan aliran yang berkumpul dan berwadah didalam
> >   satu kata yakni philosophy..(cinta kebijaksanaan)
> >   
> >   Terminology philosophy sangat absurd jika kita artikan
> >   dengan cinta kebijaksanaan...
> >   karena didalamnya terdapat 
> >   pemikiran Rasis, Atheis, Metafisika Fiktif, Utopis
> >   Satanis, Liberalis, Heodonis, materialis...
> >   
> >   Seperti filsafat RASIS yahudi
> >   yang mengatakan selain bangsa mereka adalah GOYYIM 
> >   atau bangsa hewan, dan halal untuk di tarik riba (bunga)
> >   dari mereka. 
> >   yang kemudian pemahaman RASIS tersebut dikembangkan dan dikemas
> >   dalam bentuk pseudo Sains yakni DARWINISME EVOLUSIONISME, agar
> >   mendapat legitimasi dari kaum non yahudi sendiri bahwa 
> >   kita adalah hewan..toh kita berevolusi dari hewan bersel rendah.
> >   Lihat propaganda di discovery atas pseoudo sains tersebut..
> >   
> >   tentu kita tidak mau menerima itu. 
> >   lihat bantahannya di www.harunyahya.com
> >   
> >  
> >  Then if, 
> >  wisdom belongs only to God, 
> >  then a philosopher is a lover of God.
> >  
> >  hehe sayangnya banyak pemikir secularis seperti harvey cox 
> >                  (teolog kematian tuhan)
> >  mengatakan bahwa tuhan telah mati senada dengan nietszhce
> >  sehingga mereka menyatakan bahwa tuhan hanya ada di dalam
> >  ide manusia karena manusia yang menciptakan tuhan...
> >  alias tuhan hanyalah konsep buatan manusia sebagai bentuk 
> >  evolusi pemikiran dan kesadaran manusia. Astagfirullah.. 
> >  Tentu MahaSuci Alloh
> >  dari segala perkataan dusta tersebut...
> > 
> >   And Plato's great pupil, Aristotle added, 
> >  'Dear is Plato, but dearer still the truth'.
> >  
> >  Oh ya jika kita mencitai Rosulloh saw sama artinya dengan 
mencintai
> >  Alloh. Karena setiap yang diperintahkan Rasullah Saw adalah 
> segala  
> >  sesuatu yang pasti dicintai oleh Alloh. Jadi cintai lah 
rasulullah 
> >  dan bukan plato karena plato siapa sih dia itu ???
> >  
> >  Tapi nabi sangaat ingin umatnya itu masuk SORGA
> >  Nabi bersabda : setiap umat ku pasti masuk sorga...
> >  Kecuali yang enggan...yakni yang mengikuti ku pasti masuk sorga
> > 
> >  Then what's wrong to be a philosopher ???
> >  
> >   SANGAT WRONG JAWABNYA
> >  
> >  But No wrong To be a good moslem...
> >
>





******************************************************
Milis Filsafat
Posting     : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website     : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti    : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/filsafat/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/filsafat/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke