Menurut saya, kita perlu juga memandang munculnya fenomena agama sesaat 
barangkali sebagai ketidakefektifannya keberadaan agama yang dianggap sah di 
Indonesia. Saya menyakini bahwa sebahagian besar umat beragama tidak memahami 
dalil teologis atau dogma-dogma kepercayaan secara mendalam, mereka memandang 
agama secara praktis dan fungsional. Mereka mengusung identitasnya sebagai 
bagian dari umat beragama tertentu. melalui sebuah pemahaman sederhana dan 
tindakan praktis seperti ibadah, tata cara berdoa, tindakan yang memberikan 
pahala, dsb. Agama yang benar adalah agama yang fungsional
   
  Agama bagi sebagian besar umat bukan semata simbol segala kebenaran ultim, 
namun juga menjadi tempat mereka mengantungkan harapan untuk memperoleh 
kedamaian hati, kehidupan yang sejahtera, atau dengan kata lain meraih 
kebahagiaan di dunia ini dan serta memberikan pengharapan akan kesempurnaan 
abadi di kehidupan nanti. 
   
  Menurut saya, agama resmi mungkin saja saat ini tidak lagi memberikan 
harapan, menjadi kering oleh upaya memurnikan dogma namun mengkerdilkan sisi 
spiritual umat sehingga umat kemudian mengeliat mencari sesuatu yang lebih 
menyejukkan .  Agama malah menjadi sosok yang menakutkan. Fatwa-fatwa seperti 
halnya di Indonesia ditebarkan menimbulkan pembatasan dan teror semata. 
Mewujudkan ajaran agama diidentikan dengan penghilangan tindakan nazis semata, 
penghapusan pelacuran, perjudian, dan kewajiban mengenakan jilbab. Agama yang 
diimplementasikan melalui kekuasaan menjadi sangat menakutkan dan otoriter 
tanpa mau memahami asal usul kejahatan itu. 
   
  Di sisi lain agama seolah alpa berperan sebagai alat perjuangan membela 
umatnya yang termarginalisasi. Agama hanya sibuk dengan urusan menjaga dogma 
namun tidak memiliki waktu lagi untuk memikirkan nasib umatnya yang sengsara 
oleh kemiskinan. 
   
  Untuk konteks di Indonesia agama turut dijadikan alat politik memunculkan 
para pemimpin agama untuk eksis dalam kancah kekuasaan, yang kemudian tidak 
juga memberikan sebuah dampak yang berbeda bagi perbaikan masyarakat malah 
larut dalam habitus yang sama dengan para tokoh-tokoh politik yang tidak 
mengusun label agama.  Sehingga kewibawaan dan kharisma para pemimpin agama 
terdegradasi, ketelibatan  dalam politik dan kekuasaan turut menjadikan mereka 
sebagai orang yang patut dipersalahkan atas ketidakberesan negara yang terjadi 
saat ini.  
   
  Sehingga kekudusan keberadaan para tokoh agama dipertanyakan demikian dengan 
ajarannya. Barangkali apa yang ia siarkan melalui agama resmi bukanlah 
perpanjangan firman Tuhan melainkan hanya hasil pikiran seseorang tokoh yang 
sewaktu-waktu dimanipulatif bagi kepentingannya. Sehingga dengan mengikuti 
ajaran yang salah pada agama resmi apakah akan memberikan harapan untuk bisa 
masuk sorga. 
   
  Kehadiran agama sesat mungkin menjadi antitesis bagi keberadaan agama resmi 
yang mengalami kebusukan, untuk menghidupkan kembali harapan bagi orang-orang 
yang telah putus asa dalam menghadapi kehidupan aktual di Indonesia yang 
semakin tidak menyisakan harapan, masa depan kelabu. Kesesatannya sesaat 
menjadi penolong bagi mereka yang kehilangan asa. Dan mereka tidak lagi 
mempersoalkan dalil atau landasan kebenaran teologis ajarannya karena yang 
mereka butuhkan sebuah kebutuhan eksistensial yakni kebutuhan akan kebermaknaan 
masa depan. Mereka menerima sesuatu yang berbeda dengan harapan memperoleh 
sesuatu yang lebih baik dari yang ia peroleh saat ini. 
   
  Oleh sebab itu kehadiran agama sesat tidak harus ditanggapi dengan sebuah 
tindakan represif semata. Mungkin ini menjadi titik tolak sebuah refleksi 
kehadiran agama resmi yang semakin kritis dan tidak lagi mampu memenuhi 
kebutuhan spiritual umatnya sekaligus memelihara harapan akan hidup masa kini 
dan masa depan yang lebih baik. Sehingga sebagai sintesis adalah perbaikan dari 
agama resmi itu sendiri.


verri DJ <[EMAIL PROTECTED]> wrote:          Nabi Palsu

“ Sesungguhnya kami telah mengutus kepada setiap umat seorang Rosul supaya ia 
menyuruh kepada mereka beribadah hanya kepada Allah dan menjauhkan diri dari 
Taghut (selain Allah)”. (QS. An Nahl 36).


Akhir-akhir ini banyak bermunculan  klaim nabi-nabi baru yang konon akan 
memberikan pencerahan kepada umatnya yang mulai fasik. Alih-alih merubah 
kesesatan umat, malah dirinya sendiri dibilang sesat bahkan sampai dijebloskan 
di penjara.

Dengan banyaknya klaim tentang kenabian, menimbulkan berbagai pertanyaan 
tentang bagaimana sebenarnya sosok nabi yang asli.

Nabi berasal dari kata Nubuw yang artinya pembawa berita penting, berarti ia 
sebagai sesorang yang mencapai peringkat tinggi dan mulia. Sementara itu rosul 
berarti pembawa risalah. Banyak pendapat berbeda mengenai Nabi dan Rosul ini, 
diantaranya menyebutkan bahwa definisi nabi lebih luas dibandingkan rosul. Nabi 
adalah sesorang yang mendapatkan wahyu dari Allah dan diperuntukkan untuk 
dirinya, diperkenankan menyampaikannya ke orang lain ataupun tidak, sementara 
Rosul adalah menerima wahyu dari Allah dan untuk disampaikan kepada umatnya. 
Jumlah nabi yang tersebut di dalam alquran adalah 25, tetapi jumlah 
sesungguhnya lebih dari itu (kalangan Syii dengan Sunni berbeda pendapat).

Nabi sebagai pembawa risalah bertugas menyampaikan risalah tersebut kepada hati 
dan akal manusia agar mereka menjadi insan yang paling baik dimuka bumi ini  
sebagaimana yang dikehendaki Allah SWT.

Hal mengenai kenabian ini di dalam agama langit (baca: samawi) merupakan salah 
satu dari tiga hal dasar utama. Yang lainnya adalah Tauhid dan Hari Kebangkitan 
(maad). Di dalam ajaran tauhid sumber wujud tiap mahluk adalah Pencipta Yang 
Tunggal dan pembuktian hari kebangkitan adalah melalui ayat-ayat yang ada 
didalam kitab suci mereka.

Tujuan penciptaan manusia adalah jelas menjadi manusia sempurna atau mencapai 
kesempurnaan dengan cara melalui ikhtiar atau perbuatan yang sengaja dilakukan 
dengan cara usaha sesuai kehendak dan pilihannya. Nah, Nabi lah yang memberikan 
petunjuk-petunjuknya.

Lalu bagaimana membuktikan tentang kenabian itu?

Untuk membuktikan kenabian, pertama, melalui biografi dan cara hidup mereka 
sambil bersandar pada bukti-bukti yang meyakinkan,  kedua, melalui berita dari 
nabi sebelumnya dan ketiga melalui mukjizat mereka. Ketiga hal tersebut telah 
dipenuhi oleh Muhammad SAW, sebagai buktinya adalah Al Quran yang abadi dan 
menjadi bukti atas seluruh umat manusia sepanjang masa.

Perihal mukjizat, mukjizat adalah dalil yang menjadi bukti kebenaran ajaran 
Rosul. Mukjizat juga merupakan saran untuk melakukan perubahan di alam ini – 
baik kecil maupun besar- yang menandingi hukum alam yang dihasilkan oleh 
keuatan indra dan eksperimen semata. 

Lalu perihal nabi palsu, perlu ditanya apa mukjizat yang dibawanya (untuk 
mengechek keaslian nabinya)? Apakah sudah ada berita dari nabi sebelumnya 
tidak?  Apakah memiliki mujizat seperti nabi-nabi lainnya?

Klaim nabi palsu sering mengacu kepada wahyu, setelah mereka memasuki 
fanabillah tahapan dimana kesadaran diri sendiri hilang dan yang ada Hanya 
Allah semata, untuk itu Al Ghazali di dalam kitab karangannya “Rambu-rambu 
berteologi” ( Iljam Al Awam an Ilm al Kalam) mengungkapkan bahwa dalam rangka 
misi kerosulan, hal pertama yang ditekankan oleh nabi Muhammad SAW adalah 
Tauhid, yaitu mengetahui dan meyakini Allah SWT sebagai Tuhannya dan Muhammad 
SAW sebagai utusannya, dan Nabi Muhammad SAW adalah nabi terakhir, terlepas 
dari pegangan ini maka membuat dirinya “terjatuh” dan menganggap bahwa dirinya 
adalah seorang nabi. Aih-aih.. sudah jatuh tertimpa tangga pula.., sudah 
menyesatkan dihukum pula.

Salam,
http://ferrydjajaprana.multiply.com




                         

 __________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

Kirim email ke