Komentar :
Pluralisme baru bisa dimengerti apabila memahami perbedaan antara agama 
dengan spiritual.
Agama bersifat ritual, partikular tetapi spiritual bersifat general.

Pemahaman ini biasanya diibaratkan danau, danau sebagai sumber mengalir 
danau sungai-sungai yang melewati berbagai negara dan diklaim masing-masing 
miliknya, pada hakikatnya adalah sungai yang sama.

Makanya, kalau ngomong tentang agama, maka masing-masing pengikutnya adu 
muka, tetapi membahas spiritual maka sama-sama menengadah ke atas ke langit 
biru, semuanya merasakan warna yang sama.

Salam,
Dj


At 08:08 AM 26/11/07 +0000, you wrote:
>Counter Liberalisme Oleh : Anis Malik Toha, Phd.
>
>Menelusuri dan melacak lahirnya gagasan liberalisme dan pluralisme
>agama. Sebuah gagasan Protestanistik yang kini digandrungi sebagian
>kaum Muslimin
>
>Proses liberalisasi sosial politik, yang menandai lahirnya tatanan
>dunia abad modern, semakin marak. Disusul kemudian dengan
>liberalisasi atau globalisasi (baca: penjajahan model baru) ekonomi.
>Wilayah agama pun, pada gilirannya, dipaksa harus membuka diri untuk
>diliberalisasikan.
>
>Sejak era reformasi gereja abad ke-15, wilayah yurisdiksi agama telah
>direduksi, dimarjinalkan, dan didomestikasikan sedemikian rupa. Hanya
>boleh beroperasi di sisi kehidupan manusia yang paling privat. Dan
>saat ini, agama tetap masih dianggap tidak cukup kondusif (atau
>bahkan mengganggu) bagi terciptanya tatanan dunia baru yang harmoni,
>demokratis, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan HAM
>seperti toleransi, kebebasan, persamaan, dan pluralisme. Seakan-akan
>semua agama adalah musuh demokrasi, kemanusiaan, dan HAM.
>
>Oleh karenanya agama harus mendekonstruksikan-diri (atau
>didekonstruksikan secara paksa) agar, menurut bahasa kaum liberal,
>merdeka dan bebas dari kungkungan teks-teks dan tradisi yang jumud
>serta sudah tak sesuai lagi dengan semangat zaman.
>
>Proses liberalisasi sosial politik di Barat telah melahirkan tatanan
>politik yang pluralistik yang dikenal dengan "pluralisme politik".
>Liberalisasi agama harus bermuara pada terciptanya suatu tatanan
>sosial yang menempatkan semua agama pada posisi yang sama dan
>sederajat, "sama benarnya dan sama relatifnya". Orang menyebutnya
>sebagai "pluralisme agama".
>
>Pluralisme, Gagasan Protestanistik Paham liberalisme pada awalnya
>muncul sebagai mazhab sosial politis. Oleh karenanya, wacana
>pluralisme yang lahir dari rahimnya, termasuk gagasan pluralisme
>agama, juga lebih kental dengan nuansa dan aroma politik. Maka tidak
>aneh jika gagasan pluralisme agama itu sendiri muncul dan hadir dalam
>kemasan pluralisme politik (political pluralism), yang merupakan
>produk dari liberalisme politik (political liberalism).
>
>Jelas, faham liberalisme tidak lebih merupakan respons politis
>terhadap kondisi sosial masyarakat Kristen Eropa yang plural dengan
>keragaman sekte, kelompok, dan mazhab. Namun kondisi pluralistik
>semacan ini masih terbatas dalam masyarakat Kristen Eropa untuk
>sekian lama, baru kemudian pada abad kedua puluh berkembang hingga
>mencakup komunitas-komunitas lain di dunia.
>
>Saat itu, hembusan angin pluralisme yang mewarnai pemikiran Eropa
>khususnya, dan Barat secara umum, rupanya belum mengakar kuat dalam
>kultur masyarakat. Beberapa sekte Kristen masih mengalami perlakuan
>dikriminatif dari gereja. Hal itu misalnya dialami sekte Mormon, yang
>tetap tidak diakui oleh gereja karena dianggap gerakan heterodoks.
>Diskriminasi ini berlangsung sampai akhir abad kesembilan belas,
>ketika muncul protes keras dari Presiden Amerika Serikat, Grover
>Cleveland (1837-1908).
>
>Ada pula doktrin "di luar gereja tidak ada keselamatan". Ini tetap
>dipegang teguh oleh Gereja Katolik hingga dilangsungkannya Konsili
>Vatikan II pada awal tahun 1960-an, yang mendeklarasikan doktrin
>keselamatan umum, bahkan bagi agama-agama selain Kristen.
>
>Jadi, gagasan pluralisme agama sebenarnya merupakan upaya peletakan
>landasan teoritis dalam teologi Kristen untuk berinteraksi secara
>toleran dengan agama lain. Gagasan pluralisme agama adalah salah satu
>elemen gerakan reformasi pemikiran agama atau liberalisasi agama yang
>dilancarkan oleh Gereja Kristen pada abad ke-19. Gerakan ini kemudian
>dikenal dengan Liberal Protestantism. Pelopornya adalah Friedrich
>Schleiermacher.
>
>Memasuki abad ke-20, gagasan pluralisme agama semakin kokoh dalam
>wacana pemikiran filsafat dan teologi Barat. Muncul tokoh gigih,
>seperti teolog Kristen liberal Ernst Troeltsch (1865-1923). Dalam
>sebuah makalahnya yang berjudul "Posisi Agama Kristen di antara Agama-
>agama Dunia" yang disampaikan dalam sebuah kuliah di Universitas
>Oxford (1923), Troeltsch melontarkan gagasan pluralisme agama secara
>argumentatif. Menurutnya, semua agama, termasuk Kristen, selalu
>mengandung elemen kebenaran dan tidak satu agama pun yang memiliki
>kebenaran mutlak. Konsep ketuhanan di muka bumi ini beragam dan tidak
>tunggal.
>
>Ada lagi William E Hocking. Gagasannya ditulis dalam buku Re-thinking
>Mission (1932) dan Living Religions and A World Faith. Ia tanpa ragu-
>ragu memprediksi akan munculnya model keyakinan atau agama universal
>baru yang selaras dengan konsep pemerintahan global.
>
>Gagasan serupa datang dari sejarawan Inggris ternama, Arnold Toynbee
>(1889-1975), dalam karyanya An Historian's Approach to Religion (1956)
>  dan Cristianity and World Religions (1957). Juga teolog dan
>sejarawan agama Kanada, Wilfred Cantwell Smith. Dalam buku Towards A
>World Theology (1981), Smith mencoba meyakinkan perlunya menciptakan
>konsep teologi universal atau global yang bisa dijadikan pijakan
>bersama bagi agama-agama dunia dalam berinteraksi dan bermasyarakat
>secara damai dan harmonis. Nampaknya karya tersebut memuat saripati
>pergolakan pemikiran dan penelitian Smith, dari karya-karya
>sebelumnya The Meaning and End of Religion (1962) dan Questions of
>Religious Truth (1967).
>
>Dua dekade terakhir abad ke-20, gagasan pluralisme agama telah
>mencapai fase kematangan. Kemudian menjadi sebuah wacana pemikiran
>tersendiri pada dataran teologi dan filsafat agama modern. Fenomena
>sosial politik juga mengetengahkan realitas baru kehidupan antar
>agama yang lebih nampak sebagai penjabaran, kalau bukan dampak dari
>(atau bahkan suatu proses sinergi) gagasan pluralisme agama ini.
>
>Dalam kerangka teoritis, pluralisme agama pada masa ini telah
>dimatangkan oleh beberapa teolog dan filosof agama modern.
>Konsepsinya lebih lihai, agar dapat diterima oleh kalangan antar
>agama. John Hick telah merekonstruksi landasan-landasan teoritis
>pluralisme agama sedemikian rupa, sehingga menjadi sebuah teori yang
>baku dan populer.
>
>Hick menuangkan pemikirannya dalam buku An Interpretation of Religion:
>  Human Responses to the Transcendent. Buku ini diangkat dari serial
>kuliahnya pada tahun 1986-1987, yang merupakan rangkuman dari karya-
>karya sebelumnya.
>
>Ternyata, fenomena yang murni Protestanistik atau terjadi dalam
>kerangka gerakan reformasi Protestan secara khusus ini, masih
>mendominasi pemikiran orang-orang Protestan hingga akhir abad ke-19.
>Sedangkan Kristen Katolik cenderung tidak menerima gagasan pluralisme
>agama, dan tetap berpegang teguh pada doktrin "di luar gereja tidak
>ada keselamatan", hingga akhirnya Konsili Vatikan II berlangsung.
>
>
>Wabah Pluralisme dalam Islam
>
>Dalam wacana pemikiran Islam, wacana pluralisme agama masih merupakan
>hal baru dan tidak mempunyai akar ideologis atau bahkan teologis yang
>kuat. Gagasan pluralisme agama lebih merupakan perspektif baru yang
>ditimbulkan oleh proses penetrasi kultural Barat modern dalam dunia
>Islam.
>
>Pendapat ini diperkuat oleh realitas bahwa gagasan pluralisme agama
>dalam wacana pemikiran Islam, baru muncul pada masa-masa pasca Perang
>Dunia II. Yaitu ketika mulai terbuka kesempatan besar bagi generasi-
>generasi muda Muslim untuk mengenyam pendidikan di universitas-
>universitas Barat sehingga mereka dapat berkenalan dan bergesekan
>langsung dengan budaya Barat.
>
>Dalam waktu yang sama, gagasan pluralisme agama menembus dan menyusup
>ke wacana pemikiran Islam. Antara lain melalui karya-karya pemikir-
>pemikir mistik Barat Muslim seperti Rene Guenon (Abdul Wahid Yahya)
>dan Frithjof Schuon (Isa Nuruddin Ahmad).
>
>Karya-karya mereka ini, khususnya Schuon dengan bukunya The
>Transcendent Unity of Religions, sangat sarat dengan pemikiran-
>pemikiran dan tesis-tesis atau gagasan-gagasan yang menjadi inspirasi
>dasar bagi tumbuh-kembangnya wacana pluralisme agama.
>
>Barangkali Seyyed Hossein Nasr, seorang tokoh Muslim Syi'ah moderat,
>adalah tokoh yang paling bertanggung jawab dalam mempopulerkan
>gagasan pluralisme agama di kalangan "Islam tradisional". Suatu "
>prestasi" yang kemudian mengantarkannya pada sebuah posisi ilmiah
>kaliber dunia yang sangat bergengsi selevel nama-nama besar seperti
>Ninian Smart, John Hick, dan Annemarie Schimmel.
>
>Nasr mencoba menuangkan tesisnya tentang pluralisme agama dalam
>kemasan sophia perennis atau perennial wisdom (al-hikmat al-khalidah,
>atau "kebenaran abadi"). Yaitu sebuah wacana menghidupkan kembali
>kesatuan metafisikal (metaphysical unity) yang tersembunyi di balik
>ajaran dan tradisi-tradisi keagamaan yang pernah dikenal manusia
>semenjak Adam 'alaihis-salam. Menurut Nasr, memeluk atau meyakini
>satu agama dan melaksanakan ajarannya secara keseluruhan dan sungguh-
>sungguh, berarti juga memeluk seluruh agama, karena semuanya berporos
>kepada satu poros, yaitu kebenaran hakiki yang abadi.
>
>Perbedaan antar agama dan keyakinan, menurut Nasr, hanyalah pada
>sombol-simbol dan kulit luar. Inti dari agama tetap satu. Dari sini
>dapat dilihat bahwa pendekatan Nasr ini sejatinya tidak jauh berbeda
>dengan pendekatan-pendekatan yang ada pada umumnya. Suatu hal yang
>membuat kita bertanya-tanya, apakah tesis Nasr ini mempunyai
>justifikasi yang solid dalam tradisi pemikiran Islam yang diklaimnya
>sebagai basis dari bangunan pemikirannya?
>
>Saat ini wacana pluralisme agama modern muncul dengan berbagai trend
>dan bentuknya. Ini menggambarkan sebuah fakta secara telanjang bahwa
>betapa dominan dan hegemoniknya Barat, baik dari segi politik,
>ekonomi, peradaban, maupun kultur. Sebuah fakta yang untuk menjamin
>eksistensi dan kelestariannya, meniscayakan adanya semacam ?
>legitimasi relijius?, atau apa yang disebut Peter L Berger sebagai
>sacred canopy (tirai suci). Dan itu harus sejalan dengan logika
>kemanusiaan modern yang berlandaskan pada asas toleransi dan
>kebebasan, atau lebih tepatnya, liberalisme.
>
>Obsesi Barat ini kentara sekali dan sulit untuk ditutup-tutupi,
>sebagaimana nampak dari upaya-upaya serius yang dilakukannya untuk
>mensosialisasikan gagasan ini. Bahkan mereka tak segan melakukan
>tekanan politik, ekonomi, maupun militer terhadap negara-negara lain
>yang enggan menerapkan gagasan pluralisme. Semua harus mau bernaung
>di bawah jargon Tatanan Dunia Baru yang dicanangkan Amerika Serikat
>pada awal sembilan puluhan dari abad yang lalu.* (Hidayatullah/
>Bersambung)
>
>Ditulis Anis Malik Toha, Phd. (Penulis, Dosen Ilmu Perbandingan Agama
>pada International Islamic University, Malaysia)
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>******************************************************
>Milis Filsafat
>Posting     : [email protected]
>Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
>Website     : http://filsafatkita.f2g.net/
>Berhenti    : [EMAIL PROTECTED]
>******************************************************
>
>Yahoo! Groups Links
>
>
>



******************************************************
Milis Filsafat
Posting     : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website     : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti    : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/filsafat/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/filsafat/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke