Soal pluralisme masih perlu didaratkan di bumi Indonesia.
  KRONOLOGI PENUTUPAN GEREJA DAMAI KRISTUS PAROKI KAMPUNG DURI
Date: 24 Nov 2007 17:58
Subject: Kampung Duri

KRONOLOGI PERISTIWA PENUTUPAN
GEREJA DAMAI KRISTUS PAROKI KAMPUNG DURI

Hari Senin, Tgl 19 November 2007

Pihak kelurahan mengundang Pastor dan pengurus gereja, meminta klarifikasi 
mengenai isuue yang beredar di massyarakat bahwa akan ada pembangunan gereja 
Damai. Dalam undangan kami diminta untuk membawa surat Izin mendirikan Bangunan 
dan surat keterangan tidak sengketa.

Menanggapi undangan tersebut :
  
Pada hari senin, 19 nov 2007 jam 13.00 Pihak gereja yang diwakili beberapa 
pengurus dewan dan tokoh umat menjelaskan kepada pihak kelurahan, bahwa :
Sesuai dengan IMB yang diperoleh, pihak gereja akan mendirikan rumah tinggal, 
BUKAN gedung gereja.

Pihak kelurahan ( Sekretaris kelurahan, trantib, Bimas, Babinsa) menerima 
penjelasan tersebut dan tidak mempermasalahkan hal ini lagi. Mereka 
mempersilahkan kegiatan pembangunan yang direncanakan berjalan

Hari Rabu, tgl 21 November 2007

Pihak kelurahan dan polsek memanggil pengurus gereja secara lisan.

Pertemuan di kelurahan tersebut dihadiri oleh Bpk. Abdul Chalik - Lurah duri 
selatan, pengurus Gereja ( Bpk. Anton Corebima dan Bpk.Frans Susanto) Bimas 
kelurahan Duri Selatan, Intel dari Polres ( Bpk. Charles ) & Kapolsek Metro 
Tambora

Pertemuan tersebut memberitahukan kepada pengurus Gereja, bahwa akan 
ada orasi damai kepada Gereja Damai, dengan tuntutan :

- Pembangunan gereja terselubung dihentikan
- Penggunaan aula yayasan Bunda Hati Kudus menyalahi SK gubernur tahun 1998.
- Informasi kedatangan uskup dan peletakan batu pertama pembangunan gedung 
gereja

Menanggapi tuntutan tersebut, kami menjelaskan dan dicapai 
kesepakatan bahwa:
- Peletakan batu pertama ditiadakan, dan kegiatan pembangunan rumah tinggal 
ditunda sd setelah hari natal 25 desember 2007.
- Kegiatan yang berbau pesta dan mengundang sorotan massyarakat disederhanakan.
- Tidak ada kunjungan uskup


  Hari kamis, tgl 22 November 2007

Jam 14.00 pihak gereja diundang oleh pihak kecamatan.

Pertemuan ini dihadiri oleh wakil dari pengurus Gereja ( Bpk. AntonCorebima, 
Bpk. Frans Sutanto ), Camat Tambora Bpk. Yanto Sattiar, Bimas Duri Selatan (Bpk 
Agus), Babinsa (Bpk. Samsudin, P2B 
Kecamatan, Danramil dan Kapolsek.

Dalam pertemuan tersebut, sekali lagi pihak kecamatan menginformasikan bahwa 
akan ada orasi damai dengan tuntutan spt tersebut diatas. Sekali lagi pihak 
gereja dimintai penjelasan mengenai hal tersebut, dan akhirnya pihak gereja 
menjelaskan, bahwa :

- Pembangunan yang direncanakan adalah untuk rumah tinggal bukan gedung gereja
- Mengenai penggunaan aula serba guna sejak tahun 1968 sudah digunakan sebagai 
tempat ibadah, karena tidak ada lagi sarana lain yang dapat digunakan / 
disediakan oleh pemerintah.

Pada akhirnya pertemuan tersebut memutuskan bahwa pembangunan rumah tinggal 
ditunda sementara sampai suasana kondusif. Mengenai acara peletakan batu 
pertama ditiadakan.

Setelah pertemuan di kecamatan, pihak gereja diundang oleh Bpk.  Kompol Yacob 
Dedi Karyawan Sik – Kapolsek Metro Tambora untuk menghadiri pertemuan di kantor 
Polsek Tambora.

Pertemuan dihadiri oleh pengurus gereja ( Bpk. Anton Corebima, Bpk. Frans ) dan 
Bpk. Kompol Yacob Dedi Karyawan Sik. Dalam pertemuan ini Kapolsek memberi pesan 
agar berpikir dan bertindak cerdas demi kepentingan umat.

Pada jam 24.00 WIB pihak kepolisian ( Kasat intel Polres Jakarta Barat, Bpk. 
Charles Situmorang, Bpk. Limbong dkk) Bpk Agus –Bimas Duri Selatan, Bpk. 
Samsudin - Babinsa Duri Selatan datang ke pastoran memberi kabar bahwa orasi 
damai esok hari pasti akan berlangsung dan memonitor perkembangan wilayah.

Hari Jumat, tgl 23 November 2007

Sejak pagi hari, pihak kepolisian sudah mengirim aparat untuk berjaga-jaga di 
kompleks sekolah / gereja Damai. Sekitar jam 12.00 Pihak kepolisian memberikan 
surat ijin tertulis tentang akan adanya 
orasi damai. Sekitar jam 13.00 setelah sholat jumat, sekitar 75 orang berjalan 
dari mesjid Al Maulana menuju Gereja Damai sambil membawa poster, dan 
berteriak-teriak ALLAHU AKBAR.

Sesampai di depan pintu gerbang sekolah mereka ber-orasi, dengan tuntutan :

- SK Gubernus Sutiyoso mengenai peruntukan aula serba guna ditaati
- Menghentikan segala kegiatan ibadah yang selama ini berlangsung 
  
Setelahmelakukan orasi, pihak para demonstran mengirim utusan untuk berbicara
kepada pengurus gereja.sekitar 15 orang memasuki Pastoran sebagai perwakilan

Sekitar jam 14.00 pertemuan di Pastoran dimulai

Pihak demonstran diwakili oleh H. Thoni , H. Komaruddin , H. Muharol, Ustad 
Sidiq (FPI), Ustad Subandi, Uztad Ucuk Saefudin, akbar Syah Alam, Fuad Satibi 
dan rombongan yang mengenakan sorban putih.

Dari unsur pemerintah dihadiri oleh Bapak Drs. Yanto Satyar MM – camat Tambora, 
wakil camat Tambora, Bpk. Abdul Chalik – Lurah Duri Selatan dan beberapa 
pengurus kelurahan.

Dari unsur kepolisian : Kombes Pol Dr. Iza Fadri Sik, SH, MH – Kapolres Jakarta 
barat, Bpk. Kompol Yacob Dedy Karyawan Sik – Kapolsek Metro Tambora, Kasat 
Intel Polres Jakarta Barat, Bpk. 
Charles Sitomorang (Intel Polres Jakarta Barat), Bapak Limbong (Intel Polsek 
Tambora), Bpk. Samsyudin (Babinsa Duri Selatan), Bpk. Agus (Bimas Duri Selatan) 
dan puluhan polisi yang berjaga di luar.

Dari pihak Gereja : Romo Matius Widyolestari, MSC (Pastor Paroki), Romo Jus 
Mawengkang, MSC (Komisi JPIC MSC Indonesia), Bapak Anton Corebima (Ketua 
Panitia Pembangunan Gereja), Bapak Ignatius Rudy Pratikno SH (FKUB DKI) dan 
pengurus Dewan Paroki lainnya.

Suasana sangat menegangkan dan mencekam karena dari pihak para pendemo yang 
menamakan diri sebagai Forum Kerjasama Masjid - Musholla dan Majlis Ta'lim 
sekelurahan Duri Selatan. Kemudian mereka mengajukan pernyataan yang intinya 
meminta supaya kegiatan peribadatan dihentikan dan ditutup untuk selamanya. 
Mereka memaksa kami untuk menerima, menandatangani, menyetujui pernyataan sikap 
tersebut, dengan ancaman apabila tidak ditandatangani dan ibadat 
tidak dihentikan, mereka akan memberlakukan Hukum Rimba, dan tidak bertanggung 
jawab bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.Juga mereka memaksa kami untuk 
menurunkan atribut-atribut keagamaan yang berada di tempat yang kami gunakan 
untuk menjalankan ibadat. Kami menolak menandatangani pernyataan sikap tersebut 
ataupun menurunkan atribut-atribut keagamaan kami. Apabila hendak menghentikan 
kegiatan peribadatan kami, kami minta agar secara resmi Walikotamadya Jakarta 
Barat memberikan surat penghentian kepada kami.
Penolakan kami ini disaksikan pula oleh Kapolres Jakarta Barat, Kapolsek Metro 
Tambora, Camat Tambora dan Lurah Duri Selatan. 
Akhirnya mereka meninggalkan kami Pastoran dengan pesan apabila tetap 
menjalankan ibadat, mereka tidak bertanggungjawab.

Sepeninggal mereka beberapa saat kemudian kami menerima surat dari Camat 
Tambora yang memutuskan untuk menghentikan kegiatan gereja.

Kampung Duri – Damai Kristus, 23 November 2007 jam 21:30
   
   
  22/11/2007 11:46 WIB 
Warga Tolak Pembangunan Rumah Ibadah di Pondok Cabe
Andi Saputra - detikcom
  Jakarta - Aksi menentang rencana pembangunan rumah ibadah dan kegiatan 
peribadatan kembali terjadi. Kali ini aksi digelar oleh puluhan orang yang 
mengaku anggota remaja masjid dan musala Pondok Cabe Udik, Jakarta Selatan.

Aksi berlangsung di depan sebuah lahan seluas dua kali lapangan sepakbola di 
Pondok Cabe Udik. Rencananya di atas lahan yang dikelilingi pagar besi itu akan 
didirikan sebuah rumah ibadah.

"Tiap akhir pekan di tanah lapang ini diadakan misa bersama dan akan dibangun 
Gereja Barnabas. Kami menolak, karena mayoritas warga di sini muslim," kata 
koordinator aksi, Zarkasih, Kamis (22/11/2007).

Menurutnya, hampir seluruh jemaat misa tersebut berasal dari luar wilayah 
Pondok Cabe. Maka dari itu rencana pembangunan gereja di lahan seluas 4.000 m2 
tersebut sangat tidak layak.

"Kalau akhir pekan ini masih ada misa, kami akan melakukan tindakan tegas dan 
membubarkannya," ancam Zarkasih usai memasang dua spanduk penolakan pembangunan 
gereja di pagar lahan.

Unjuk rasa yang berlangsung sejak pukul 10.00 WIB ini merupakan aksi yang 
kedua. Pada aksi pertama tahun lalu, sempat terjadi kerusuhan karena ada 
perlawanan dari pihak gereja.

Untung saja kali ini tidak ada aksi kekerasan. Sebuah rumah dan bengkel kecil 
milik pendeta yang berada di dalam areal lahan, terlihat tidak ada penghuninya.

Tapi tak urung hingar bingar orasi dan aksi massa mengenakan atribut keagamaan 
itu menambah kemacetan Jl Raya Pondok Cabe. Para pengendara yang terjebak 
kemacetan, menyempatkan sejenak berhenti menonton aksi. 
(lh/sss)


verri DJ <[EMAIL PROTECTED]> wrote:          Komentar :
Pluralisme baru bisa dimengerti apabila memahami perbedaan antara agama 
dengan spiritual.
Agama bersifat ritual, partikular tetapi spiritual bersifat general.

Pemahaman ini biasanya diibaratkan danau, danau sebagai sumber mengalir 
danau sungai-sungai yang melewati berbagai negara dan diklaim masing-masing 
miliknya, pada hakikatnya adalah sungai yang sama.

Makanya, kalau ngomong tentang agama, maka masing-masing pengikutnya adu 
muka, tetapi membahas spiritual maka sama-sama menengadah ke atas ke langit 
biru, semuanya merasakan warna yang sama.

Salam,
Dj

At 08:08 AM 26/11/07 +0000, you wrote:
>Counter Liberalisme Oleh : Anis Malik Toha, Phd.
>
>Menelusuri dan melacak lahirnya gagasan liberalisme dan pluralisme
>agama. Sebuah gagasan Protestanistik yang kini digandrungi sebagian
>kaum Muslimin
>
>Proses liberalisasi sosial politik, yang menandai lahirnya tatanan
>dunia abad modern, semakin marak. Disusul kemudian dengan
>liberalisasi atau globalisasi (baca: penjajahan model baru) ekonomi.
>Wilayah agama pun, pada gilirannya, dipaksa harus membuka diri untuk
>diliberalisasikan.
>
>Sejak era reformasi gereja abad ke-15, wilayah yurisdiksi agama telah
>direduksi, dimarjinalkan, dan didomestikasikan sedemikian rupa. Hanya
>boleh beroperasi di sisi kehidupan manusia yang paling privat. Dan
>saat ini, agama tetap masih dianggap tidak cukup kondusif (atau
>bahkan mengganggu) bagi terciptanya tatanan dunia baru yang harmoni,
>demokratis, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan HAM
>seperti toleransi, kebebasan, persamaan, dan pluralisme. Seakan-akan
>semua agama adalah musuh demokrasi, kemanusiaan, dan HAM.
>
>Oleh karenanya agama harus mendekonstruksikan-diri (atau
>didekonstruksikan secara paksa) agar, menurut bahasa kaum liberal,
>merdeka dan bebas dari kungkungan teks-teks dan tradisi yang jumud
>serta sudah tak sesuai lagi dengan semangat zaman.
>
>Proses liberalisasi sosial politik di Barat telah melahirkan tatanan
>politik yang pluralistik yang dikenal dengan "pluralisme politik".
>Liberalisasi agama harus bermuara pada terciptanya suatu tatanan
>sosial yang menempatkan semua agama pada posisi yang sama dan
>sederajat, "sama benarnya dan sama relatifnya". Orang menyebutnya
>sebagai "pluralisme agama".
>
>Pluralisme, Gagasan Protestanistik Paham liberalisme pada awalnya
>muncul sebagai mazhab sosial politis. Oleh karenanya, wacana
>pluralisme yang lahir dari rahimnya, termasuk gagasan pluralisme
>agama, juga lebih kental dengan nuansa dan aroma politik. Maka tidak
>aneh jika gagasan pluralisme agama itu sendiri muncul dan hadir dalam
>kemasan pluralisme politik (political pluralism), yang merupakan
>produk dari liberalisme politik (political liberalism).
>
>Jelas, faham liberalisme tidak lebih merupakan respons politis
>terhadap kondisi sosial masyarakat Kristen Eropa yang plural dengan
>keragaman sekte, kelompok, dan mazhab. Namun kondisi pluralistik
>semacan ini masih terbatas dalam masyarakat Kristen Eropa untuk
>sekian lama, baru kemudian pada abad kedua puluh berkembang hingga
>mencakup komunitas-komunitas lain di dunia.
>
>Saat itu, hembusan angin pluralisme yang mewarnai pemikiran Eropa
>khususnya, dan Barat secara umum, rupanya belum mengakar kuat dalam
>kultur masyarakat. Beberapa sekte Kristen masih mengalami perlakuan
>dikriminatif dari gereja. Hal itu misalnya dialami sekte Mormon, yang
>tetap tidak diakui oleh gereja karena dianggap gerakan heterodoks.
>Diskriminasi ini berlangsung sampai akhir abad kesembilan belas,
>ketika muncul protes keras dari Presiden Amerika Serikat, Grover
>Cleveland (1837-1908).
>
>Ada pula doktrin "di luar gereja tidak ada keselamatan". Ini tetap
>dipegang teguh oleh Gereja Katolik hingga dilangsungkannya Konsili
>Vatikan II pada awal tahun 1960-an, yang mendeklarasikan doktrin
>keselamatan umum, bahkan bagi agama-agama selain Kristen.
>
>Jadi, gagasan pluralisme agama sebenarnya merupakan upaya peletakan
>landasan teoritis dalam teologi Kristen untuk berinteraksi secara
>toleran dengan agama lain. Gagasan pluralisme agama adalah salah satu
>elemen gerakan reformasi pemikiran agama atau liberalisasi agama yang
>dilancarkan oleh Gereja Kristen pada abad ke-19. Gerakan ini kemudian
>dikenal dengan Liberal Protestantism. Pelopornya adalah Friedrich
>Schleiermacher.
>
>Memasuki abad ke-20, gagasan pluralisme agama semakin kokoh dalam
>wacana pemikiran filsafat dan teologi Barat. Muncul tokoh gigih,
>seperti teolog Kristen liberal Ernst Troeltsch (1865-1923). Dalam
>sebuah makalahnya yang berjudul "Posisi Agama Kristen di antara Agama-
>agama Dunia" yang disampaikan dalam sebuah kuliah di Universitas
>Oxford (1923), Troeltsch melontarkan gagasan pluralisme agama secara
>argumentatif. Menurutnya, semua agama, termasuk Kristen, selalu
>mengandung elemen kebenaran dan tidak satu agama pun yang memiliki
>kebenaran mutlak. Konsep ketuhanan di muka bumi ini beragam dan tidak
>tunggal.
>
>Ada lagi William E Hocking. Gagasannya ditulis dalam buku Re-thinking
>Mission (1932) dan Living Religions and A World Faith. Ia tanpa ragu-
>ragu memprediksi akan munculnya model keyakinan atau agama universal
>baru yang selaras dengan konsep pemerintahan global.
>
>Gagasan serupa datang dari sejarawan Inggris ternama, Arnold Toynbee
>(1889-1975), dalam karyanya An Historian's Approach to Religion (1956)
> dan Cristianity and World Religions (1957). Juga teolog dan
>sejarawan agama Kanada, Wilfred Cantwell Smith. Dalam buku Towards A
>World Theology (1981), Smith mencoba meyakinkan perlunya menciptakan
>konsep teologi universal atau global yang bisa dijadikan pijakan
>bersama bagi agama-agama dunia dalam berinteraksi dan bermasyarakat
>secara damai dan harmonis. Nampaknya karya tersebut memuat saripati
>pergolakan pemikiran dan penelitian Smith, dari karya-karya
>sebelumnya The Meaning and End of Religion (1962) dan Questions of
>Religious Truth (1967).
>
>Dua dekade terakhir abad ke-20, gagasan pluralisme agama telah
>mencapai fase kematangan. Kemudian menjadi sebuah wacana pemikiran
>tersendiri pada dataran teologi dan filsafat agama modern. Fenomena
>sosial politik juga mengetengahkan realitas baru kehidupan antar
>agama yang lebih nampak sebagai penjabaran, kalau bukan dampak dari
>(atau bahkan suatu proses sinergi) gagasan pluralisme agama ini.
>
>Dalam kerangka teoritis, pluralisme agama pada masa ini telah
>dimatangkan oleh beberapa teolog dan filosof agama modern.
>Konsepsinya lebih lihai, agar dapat diterima oleh kalangan antar
>agama. John Hick telah merekonstruksi landasan-landasan teoritis
>pluralisme agama sedemikian rupa, sehingga menjadi sebuah teori yang
>baku dan populer.
>
>Hick menuangkan pemikirannya dalam buku An Interpretation of Religion:
> Human Responses to the Transcendent. Buku ini diangkat dari serial
>kuliahnya pada tahun 1986-1987, yang merupakan rangkuman dari karya-
>karya sebelumnya.
>
>Ternyata, fenomena yang murni Protestanistik atau terjadi dalam
>kerangka gerakan reformasi Protestan secara khusus ini, masih
>mendominasi pemikiran orang-orang Protestan hingga akhir abad ke-19.
>Sedangkan Kristen Katolik cenderung tidak menerima gagasan pluralisme
>agama, dan tetap berpegang teguh pada doktrin "di luar gereja tidak
>ada keselamatan", hingga akhirnya Konsili Vatikan II berlangsung.
>
>
>Wabah Pluralisme dalam Islam
>
>Dalam wacana pemikiran Islam, wacana pluralisme agama masih merupakan
>hal baru dan tidak mempunyai akar ideologis atau bahkan teologis yang
>kuat. Gagasan pluralisme agama lebih merupakan perspektif baru yang
>ditimbulkan oleh proses penetrasi kultural Barat modern dalam dunia
>Islam.
>
>Pendapat ini diperkuat oleh realitas bahwa gagasan pluralisme agama
>dalam wacana pemikiran Islam, baru muncul pada masa-masa pasca Perang
>Dunia II. Yaitu ketika mulai terbuka kesempatan besar bagi generasi-
>generasi muda Muslim untuk mengenyam pendidikan di universitas-
>universitas Barat sehingga mereka dapat berkenalan dan bergesekan
>langsung dengan budaya Barat.
>
>Dalam waktu yang sama, gagasan pluralisme agama menembus dan menyusup
>ke wacana pemikiran Islam. Antara lain melalui karya-karya pemikir-
>pemikir mistik Barat Muslim seperti Rene Guenon (Abdul Wahid Yahya)
>dan Frithjof Schuon (Isa Nuruddin Ahmad).
>
>Karya-karya mereka ini, khususnya Schuon dengan bukunya The
>Transcendent Unity of Religions, sangat sarat dengan pemikiran-
>pemikiran dan tesis-tesis atau gagasan-gagasan yang menjadi inspirasi
>dasar bagi tumbuh-kembangnya wacana pluralisme agama.
>
>Barangkali Seyyed Hossein Nasr, seorang tokoh Muslim Syi'ah moderat,
>adalah tokoh yang paling bertanggung jawab dalam mempopulerkan
>gagasan pluralisme agama di kalangan "Islam tradisional". Suatu "
>prestasi" yang kemudian mengantarkannya pada sebuah posisi ilmiah
>kaliber dunia yang sangat bergengsi selevel nama-nama besar seperti
>Ninian Smart, John Hick, dan Annemarie Schimmel.
>
>Nasr mencoba menuangkan tesisnya tentang pluralisme agama dalam
>kemasan sophia perennis atau perennial wisdom (al-hikmat al-khalidah,
>atau "kebenaran abadi"). Yaitu sebuah wacana menghidupkan kembali
>kesatuan metafisikal (metaphysical unity) yang tersembunyi di balik
>ajaran dan tradisi-tradisi keagamaan yang pernah dikenal manusia
>semenjak Adam 'alaihis-salam. Menurut Nasr, memeluk atau meyakini
>satu agama dan melaksanakan ajarannya secara keseluruhan dan sungguh-
>sungguh, berarti juga memeluk seluruh agama, karena semuanya berporos
>kepada satu poros, yaitu kebenaran hakiki yang abadi.
>
>Perbedaan antar agama dan keyakinan, menurut Nasr, hanyalah pada
>sombol-simbol dan kulit luar. Inti dari agama tetap satu. Dari sini
>dapat dilihat bahwa pendekatan Nasr ini sejatinya tidak jauh berbeda
>dengan pendekatan-pendekatan yang ada pada umumnya. Suatu hal yang
>membuat kita bertanya-tanya, apakah tesis Nasr ini mempunyai
>justifikasi yang solid dalam tradisi pemikiran Islam yang diklaimnya
>sebagai basis dari bangunan pemikirannya?
>
>Saat ini wacana pluralisme agama modern muncul dengan berbagai trend
>dan bentuknya. Ini menggambarkan sebuah fakta secara telanjang bahwa
>betapa dominan dan hegemoniknya Barat, baik dari segi politik,
>ekonomi, peradaban, maupun kultur. Sebuah fakta yang untuk menjamin
>eksistensi dan kelestariannya, meniscayakan adanya semacam ?
>legitimasi relijius?, atau apa yang disebut Peter L Berger sebagai
>sacred canopy (tirai suci). Dan itu harus sejalan dengan logika
>kemanusiaan modern yang berlandaskan pada asas toleransi dan
>kebebasan, atau lebih tepatnya, liberalisme.
>
>Obsesi Barat ini kentara sekali dan sulit untuk ditutup-tutupi,
>sebagaimana nampak dari upaya-upaya serius yang dilakukannya untuk
>mensosialisasikan gagasan ini. Bahkan mereka tak segan melakukan
>tekanan politik, ekonomi, maupun militer terhadap negara-negara lain
>yang enggan menerapkan gagasan pluralisme. Semua harus mau bernaung
>di bawah jargon Tatanan Dunia Baru yang dicanangkan Amerika Serikat
>pada awal sembilan puluhan dari abad yang lalu.* (Hidayatullah/
>Bersambung)
>
>Ditulis Anis Malik Toha, Phd. (Penulis, Dosen Ilmu Perbandingan Agama
>pada International Islamic University, Malaysia)
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>******************************************************
>Milis Filsafat
>Posting : [email protected]
>Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
>Website : http://filsafatkita.f2g.net/
>Berhenti : [EMAIL PROTECTED]
>******************************************************
>
>Yahoo! Groups Links
>
>
>



                         

       
---------------------------------
Be a better pen pal. Text or chat with friends inside Yahoo! Mail. See how.

Kirim email ke