Mungkin Pak Qalam lupa bahwa semua kitab yang dibawa rasul berasal dari sumber yang sama.
Dan tidak ada rasul yang merasa lebih unggul dari yang lain... --- In [email protected], qalam26 <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > respon: > he2 apalagi itu spiritual? pak verri > tolong didefinisikan > spiritual non religi (agama)..? > spiritualitas yang didapat dari luar agama,.... > > Berarti gaya spiritualitas yang dibawa > oleh selain rasul... > karena tiap rasul pasti membawa kitab suci dan berada > dalam kerangka agama... > > jadi bukan dari nabi atau rasul.. > dari siapakah gerangan spiritualitas itu berasal...??? > hmmm tapi > bisakah orang-orang selain nabi mengguli para nabi tersebut > dalam berbicara tentang spiritualitas? > > --- In [email protected], verri DJ <verri_dj@> wrote: > > > > Komentar : > > Pluralisme baru bisa dimengerti apabila memahami perbedaan antara > agama > > dengan spiritual. > > Agama bersifat ritual, partikular tetapi spiritual bersifat general. > > > > Pemahaman ini biasanya diibaratkan danau, danau sebagai sumber > mengalir > > danau sungai-sungai yang melewati berbagai negara dan diklaim masing > -masing > > miliknya, pada hakikatnya adalah sungai yang sama. > > > > Makanya, kalau ngomong tentang agama, maka masing-masing > pengikutnya adu > > muka, tetapi membahas spiritual maka sama-sama menengadah ke atas > ke langit > > biru, semuanya merasakan warna yang sama. > > > > Salam, > > Dj > > > > > > At 08:08 AM 26/11/07 +0000, you wrote: > > >Counter Liberalisme Oleh : Anis Malik Toha, Phd. > > > > > >Menelusuri dan melacak lahirnya gagasan liberalisme dan pluralisme > > >agama. Sebuah gagasan Protestanistik yang kini digandrungi sebagian > > >kaum Muslimin > > > > > >Proses liberalisasi sosial politik, yang menandai lahirnya tatanan > > >dunia abad modern, semakin marak. Disusul kemudian dengan > > >liberalisasi atau globalisasi (baca: penjajahan model baru) > ekonomi. > > >Wilayah agama pun, pada gilirannya, dipaksa harus membuka diri > untuk > > >diliberalisasikan. > > > > > >Sejak era reformasi gereja abad ke-15, wilayah yurisdiksi agama > telah > > >direduksi, dimarjinalkan, dan didomestikasikan sedemikian rupa. > Hanya > > >boleh beroperasi di sisi kehidupan manusia yang paling privat. Dan > > >saat ini, agama tetap masih dianggap tidak cukup kondusif (atau > > >bahkan mengganggu) bagi terciptanya tatanan dunia baru yang > harmoni, > > >demokratis, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan HAM > > >seperti toleransi, kebebasan, persamaan, dan pluralisme. Seakan- > akan > > >semua agama adalah musuh demokrasi, kemanusiaan, dan HAM. > > > > > >Oleh karenanya agama harus mendekonstruksikan-diri (atau > > >didekonstruksikan secara paksa) agar, menurut bahasa kaum liberal, > > >merdeka dan bebas dari kungkungan teks-teks dan tradisi yang jumud > > >serta sudah tak sesuai lagi dengan semangat zaman. > > > > > >Proses liberalisasi sosial politik di Barat telah melahirkan > tatanan > > >politik yang pluralistik yang dikenal dengan "pluralisme politik". > > >Liberalisasi agama harus bermuara pada terciptanya suatu tatanan > > >sosial yang menempatkan semua agama pada posisi yang sama dan > > >sederajat, "sama benarnya dan sama relatifnya". Orang menyebutnya > > >sebagai "pluralisme agama". > > > > > >Pluralisme, Gagasan Protestanistik Paham liberalisme pada awalnya > > >muncul sebagai mazhab sosial politis. Oleh karenanya, wacana > > >pluralisme yang lahir dari rahimnya, termasuk gagasan pluralisme > > >agama, juga lebih kental dengan nuansa dan aroma politik. Maka > tidak > > >aneh jika gagasan pluralisme agama itu sendiri muncul dan hadir > dalam > > >kemasan pluralisme politik (political pluralism), yang merupakan > > >produk dari liberalisme politik (political liberalism). > > > > > >Jelas, faham liberalisme tidak lebih merupakan respons politis > > >terhadap kondisi sosial masyarakat Kristen Eropa yang plural dengan > > >keragaman sekte, kelompok, dan mazhab. Namun kondisi pluralistik > > >semacan ini masih terbatas dalam masyarakat Kristen Eropa untuk > > >sekian lama, baru kemudian pada abad kedua puluh berkembang hingga > > >mencakup komunitas-komunitas lain di dunia. > > > > > >Saat itu, hembusan angin pluralisme yang mewarnai pemikiran Eropa > > >khususnya, dan Barat secara umum, rupanya belum mengakar kuat dalam > > >kultur masyarakat. Beberapa sekte Kristen masih mengalami perlakuan > > >dikriminatif dari gereja. Hal itu misalnya dialami sekte Mormon, > yang > > >tetap tidak diakui oleh gereja karena dianggap gerakan heterodoks. > > >Diskriminasi ini berlangsung sampai akhir abad kesembilan belas, > > >ketika muncul protes keras dari Presiden Amerika Serikat, Grover > > >Cleveland (1837-1908). > > > > > >Ada pula doktrin "di luar gereja tidak ada keselamatan". Ini tetap > > >dipegang teguh oleh Gereja Katolik hingga dilangsungkannya Konsili > > >Vatikan II pada awal tahun 1960-an, yang mendeklarasikan doktrin > > >keselamatan umum, bahkan bagi agama-agama selain Kristen. > > > > > >Jadi, gagasan pluralisme agama sebenarnya merupakan upaya peletakan > > >landasan teoritis dalam teologi Kristen untuk berinteraksi secara > > >toleran dengan agama lain. Gagasan pluralisme agama adalah salah > satu > > >elemen gerakan reformasi pemikiran agama atau liberalisasi agama > yang > > >dilancarkan oleh Gereja Kristen pada abad ke-19. Gerakan ini > kemudian > > >dikenal dengan Liberal Protestantism. Pelopornya adalah Friedrich > > >Schleiermacher. > > > > > >Memasuki abad ke-20, gagasan pluralisme agama semakin kokoh dalam > > >wacana pemikiran filsafat dan teologi Barat. Muncul tokoh gigih, > > >seperti teolog Kristen liberal Ernst Troeltsch (1865-1923). Dalam > > >sebuah makalahnya yang berjudul "Posisi Agama Kristen di antara > Agama- > > >agama Dunia" yang disampaikan dalam sebuah kuliah di Universitas > > >Oxford (1923), Troeltsch melontarkan gagasan pluralisme agama > secara > > >argumentatif. Menurutnya, semua agama, termasuk Kristen, selalu > > >mengandung elemen kebenaran dan tidak satu agama pun yang memiliki > > >kebenaran mutlak. Konsep ketuhanan di muka bumi ini beragam dan > tidak > > >tunggal. > > > > > >Ada lagi William E Hocking. Gagasannya ditulis dalam buku Re- > thinking > > >Mission (1932) dan Living Religions and A World Faith. Ia tanpa > ragu- > > >ragu memprediksi akan munculnya model keyakinan atau agama > universal > > >baru yang selaras dengan konsep pemerintahan global. > > > > > >Gagasan serupa datang dari sejarawan Inggris ternama, Arnold > Toynbee > > >(1889-1975), dalam karyanya An Historian's Approach to Religion > (1956) > > > dan Cristianity and World Religions (1957). Juga teolog dan > > >sejarawan agama Kanada, Wilfred Cantwell Smith. Dalam buku Towards > A > > >World Theology (1981), Smith mencoba meyakinkan perlunya > menciptakan > > >konsep teologi universal atau global yang bisa dijadikan pijakan > > >bersama bagi agama-agama dunia dalam berinteraksi dan bermasyarakat > > >secara damai dan harmonis. Nampaknya karya tersebut memuat saripati > > >pergolakan pemikiran dan penelitian Smith, dari karya-karya > > >sebelumnya The Meaning and End of Religion (1962) dan Questions of > > >Religious Truth (1967). > > > > > >Dua dekade terakhir abad ke-20, gagasan pluralisme agama telah > > >mencapai fase kematangan. Kemudian menjadi sebuah wacana pemikiran > > >tersendiri pada dataran teologi dan filsafat agama modern. Fenomena > > >sosial politik juga mengetengahkan realitas baru kehidupan antar > > >agama yang lebih nampak sebagai penjabaran, kalau bukan dampak dari > > >(atau bahkan suatu proses sinergi) gagasan pluralisme agama ini. > > > > > >Dalam kerangka teoritis, pluralisme agama pada masa ini telah > > >dimatangkan oleh beberapa teolog dan filosof agama modern. > > >Konsepsinya lebih lihai, agar dapat diterima oleh kalangan antar > > >agama. John Hick telah merekonstruksi landasan-landasan teoritis > > >pluralisme agama sedemikian rupa, sehingga menjadi sebuah teori > yang > > >baku dan populer. > > > > > >Hick menuangkan pemikirannya dalam buku An Interpretation of > Religion: > > > Human Responses to the Transcendent. Buku ini diangkat dari > serial > > >kuliahnya pada tahun 1986-1987, yang merupakan rangkuman dari karya > - > > >karya sebelumnya. > > > > > >Ternyata, fenomena yang murni Protestanistik atau terjadi dalam > > >kerangka gerakan reformasi Protestan secara khusus ini, masih > > >mendominasi pemikiran orang-orang Protestan hingga akhir abad ke- > 19. > > >Sedangkan Kristen Katolik cenderung tidak menerima gagasan > pluralisme > > >agama, dan tetap berpegang teguh pada doktrin "di luar gereja tidak > > >ada keselamatan", hingga akhirnya Konsili Vatikan II berlangsung. > > > > > > > > >Wabah Pluralisme dalam Islam > > > > > >Dalam wacana pemikiran Islam, wacana pluralisme agama masih > merupakan > > >hal baru dan tidak mempunyai akar ideologis atau bahkan teologis > yang > > >kuat. Gagasan pluralisme agama lebih merupakan perspektif baru yang > > >ditimbulkan oleh proses penetrasi kultural Barat modern dalam dunia > > >Islam. > > > > > >Pendapat ini diperkuat oleh realitas bahwa gagasan pluralisme agama > > >dalam wacana pemikiran Islam, baru muncul pada masa-masa pasca > Perang > > >Dunia II. Yaitu ketika mulai terbuka kesempatan besar bagi generasi > - > > >generasi muda Muslim untuk mengenyam pendidikan di universitas- > > >universitas Barat sehingga mereka dapat berkenalan dan bergesekan > > >langsung dengan budaya Barat. > > > > > >Dalam waktu yang sama, gagasan pluralisme agama menembus dan > menyusup > > >ke wacana pemikiran Islam. Antara lain melalui karya-karya pemikir- > > >pemikir mistik Barat Muslim seperti Rene Guenon (Abdul Wahid Yahya) > > >dan Frithjof Schuon (Isa Nuruddin Ahmad). > > > > > >Karya-karya mereka ini, khususnya Schuon dengan bukunya The > > >Transcendent Unity of Religions, sangat sarat dengan pemikiran- > > >pemikiran dan tesis-tesis atau gagasan-gagasan yang menjadi > inspirasi > > >dasar bagi tumbuh-kembangnya wacana pluralisme agama. > > > > > >Barangkali Seyyed Hossein Nasr, seorang tokoh Muslim Syi'ah > moderat, > > >adalah tokoh yang paling bertanggung jawab dalam mempopulerkan > > >gagasan pluralisme agama di kalangan "Islam tradisional". Suatu " > > >prestasi" yang kemudian mengantarkannya pada sebuah posisi ilmiah > > >kaliber dunia yang sangat bergengsi selevel nama-nama besar seperti > > >Ninian Smart, John Hick, dan Annemarie Schimmel. > > > > > >Nasr mencoba menuangkan tesisnya tentang pluralisme agama dalam > > >kemasan sophia perennis atau perennial wisdom (al-hikmat al- > khalidah, > > >atau "kebenaran abadi"). Yaitu sebuah wacana menghidupkan kembali > > >kesatuan metafisikal (metaphysical unity) yang tersembunyi di balik > > >ajaran dan tradisi-tradisi keagamaan yang pernah dikenal manusia > > >semenjak Adam 'alaihis-salam. Menurut Nasr, memeluk atau meyakini > > >satu agama dan melaksanakan ajarannya secara keseluruhan dan > sungguh- > > >sungguh, berarti juga memeluk seluruh agama, karena semuanya > berporos > > >kepada satu poros, yaitu kebenaran hakiki yang abadi. > > > > > >Perbedaan antar agama dan keyakinan, menurut Nasr, hanyalah pada > > >sombol-simbol dan kulit luar. Inti dari agama tetap satu. Dari sini > > >dapat dilihat bahwa pendekatan Nasr ini sejatinya tidak jauh > berbeda > > >dengan pendekatan-pendekatan yang ada pada umumnya. Suatu hal yang > > >membuat kita bertanya-tanya, apakah tesis Nasr ini mempunyai > > >justifikasi yang solid dalam tradisi pemikiran Islam yang > diklaimnya > > >sebagai basis dari bangunan pemikirannya? > > > > > >Saat ini wacana pluralisme agama modern muncul dengan berbagai > trend > > >dan bentuknya. Ini menggambarkan sebuah fakta secara telanjang > bahwa > > >betapa dominan dan hegemoniknya Barat, baik dari segi politik, > > >ekonomi, peradaban, maupun kultur. Sebuah fakta yang untuk menjamin > > >eksistensi dan kelestariannya, meniscayakan adanya semacam ? > > >legitimasi relijius?, atau apa yang disebut Peter L Berger sebagai > > >sacred canopy (tirai suci). Dan itu harus sejalan dengan logika > > >kemanusiaan modern yang berlandaskan pada asas toleransi dan > > >kebebasan, atau lebih tepatnya, liberalisme. > > > > > >Obsesi Barat ini kentara sekali dan sulit untuk ditutup-tutupi, > > >sebagaimana nampak dari upaya-upaya serius yang dilakukannya untuk > > >mensosialisasikan gagasan ini. Bahkan mereka tak segan melakukan > > >tekanan politik, ekonomi, maupun militer terhadap negara-negara > lain > > >yang enggan menerapkan gagasan pluralisme. Semua harus mau bernaung > > >di bawah jargon Tatanan Dunia Baru yang dicanangkan Amerika Serikat > > >pada awal sembilan puluhan dari abad yang lalu.* (Hidayatullah/ > > >Bersambung) > > > > > >Ditulis Anis Malik Toha, Phd. (Penulis, Dosen Ilmu Perbandingan > Agama > > >pada International Islamic University, Malaysia) > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > >****************************************************** > > >Milis Filsafat > > >Posting : [email protected] > > >Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/ > > >Website : http://filsafatkita.f2g.net/ > > >Berhenti : [EMAIL PROTECTED] > > >****************************************************** > > > > > >Yahoo! Groups Links > > > > > > > > > > > > ****************************************************** Milis Filsafat Posting : [email protected] Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/ Website : http://filsafatkita.f2g.net/ Berhenti : [EMAIL PROTECTED] ****************************************************** Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/filsafat/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/filsafat/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
