Pak Manneke, Saya tidak habis-habisnya mengagumi kepandaian Anda mengolah kata- kata. :-) Sampai sekarang apa yang saya sampaikan itu masih tetap berlaku (guru PNS yang kerjanya seperti guru honorer) di hampir semua daerah yang pernah saya kunjungi di Indonesia (except Jembrana di Bali). Jadi kenapa Anda katakan bahwa saya 'menghakimi' para guru tersebut (plus luput dalam memahami kompleksitas hidup seorang guru, dan tetap saja membabi-buta dengan teori "full-time pay, part-time work, dll)? Saya bicara fakta, tapi Anda bicara tentang perasaan. :-( Saya jadi ingat pada satu ketika saya menyampaikan di seminar bahwa lebih dari 50% guru kita tidak layak mengajar dan ketika itu ada guru yang marah dan mengatakan bahwa saya tidak menghargai guru, tidak simpatik, tidak bisa merasakan betapa sulitnya kehidupan guru, dlsb. Saya betul-betul heran dengan tanggapan yang personal tersebut karena saya hanya menyampaikan statistik yang dilakukan oleh Depdiknas sendiri. Kenapa itu dihubungkan dengan masalah pribadi? Tapi setelah membaca tanggapan Pak Manneke yang begitu personal saya lalu sadar bahwa memang tidak mudah menyampaikan fakta. Selalu ada orang yang menanggapinya dengan personal.:-( Kalau hal begini saja selalu ditanggapi dengan begitu personal dan emosional saya jadi sedih. Kapan kita bisa bergerak untuk memikirkan solusinya? Kalau cuman bisa bilang tunggu kalau gaji guru sudah tinggi (as you suggested) saya akan sangat kecewa. Salam Satria
--- In [email protected], Manneke Budiman <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Thanks a lot, Pak Condro. Sangat mencerahkan. Semoga Pak Satria sudi mempertimbangkan faktor-faktor yang Anda sebutkan ini sebelum menghakimi para guru PNS. Saya tak pernah berhenti terheran-heran bahwa ada konsultan pendidikan untuk Diknas sekaliber Pak Satria bisa luput dalam memahami kompleksitas hidup seorang guru, dan tetap saja membabi-buta dengan teori "full-time pay, part-time work." > > manneke
