Beban Puncak Listrik Tahun 2016

http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0709/02/daerah/3810759.htm
=========================

JEPARA, KOMPAS - Menteri Negara Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman
sempat dilempar dengan sebuah botol plastik minuman mineral saat turun
dari panggung menuju pintu utama Gedung DPRD Jepara, Jawa Tengah,
Sabtu (1/9). Dalam peristiwa ini terjadi dorong-mendorong antara massa
dan petugas keamanan.

Beruntung lemparan itu tidak mengenai Menneg Ristek. Ia selanjutnya
dibawa ke dalam gedung DPRD dengan cara mendobrak pintu yang terkunci
dan keluar lewat pintu lain. Menneg Ristek disertai Bupati Jepara
Hendro Martojo menuju Gedung Nahdlatul Ulama (NU) guna menghadiri
dialog publik dan mubahatsah alim ulama "PLTN Muria dalam Perspektif
Fiqh".

Peristiwa pelemparan itu terjadi karena lebih dari 1.000 orang yang
berasal dari Desa Balong, Kecamatan Kembang, Kabupaten Jepara, tidak
puas dengan jawaban Menneg Ristek. Para pengunjuk rasa pada umumnya
letih karena Jumat (31/8) malam hingga kemarin pagi berjalan kaki dari
desa mereka menuju kota ukir itu, yang jauhnya sekitar 30 kilometer.

Guna menenangkan massa, Yenny Wahid, putri mantan Presiden Abdurrahman
Wahid, naik ke truk dan menenangkan massa. "Silakan bapak-ibu dan
saudara sekalian menunggu. Bapak (Abudarrahman Wahid) sependapat
dengan warga Balong menolak PLTN. Tetapi, saya harap tidak melalui
kekerasan," kata Yenny.

Setelah itu, massa berangsur- angsur membubarkan diri mencari tempat
teduh di seputar kompleks gedung DPRD. Sebagian lagi menuju truk yang
disiapkan. "Ini gerakan rakyat, akumulasi dari keterbungkaman
aspirasi," ujar Koordinator Aksi Koalisi Rakyat dan Mahasiswa (Kraton)
Balong, Darul Hasyim.

Mereka menghadang kedatangan Menneg Ristek untuk berdialog langsung
ihwal sikap pemerintah mengenai rencana pembangunan PLTN. Unjuk rasa
ini merupakan kali keempat.

Dialog di halaman Gedung DPRD Jepara dengan Menneg Ristek yang
didampingi Bupati Jepara Hendro Martojo dan Darul Hasyim berlangsung
agak panas. Menneg Ristek dikejar dengan pertanyaan, termasuk
penggunaan dana sosialisasi PLTN Rp 5 miliar. "Sampai sekarang
pemerintah belum memutuskan rencana pembangunan PLTN. Tentang dana
sosialisasi, sudah sesuai peruntukannya," ujarnya.

Tatkala menjadi pembicara utama dalam dialog publik dan mubahatsah
alim ulama itu, yang berlangsung di Gedung NU Jepara, Menneg Ristek
menyatakan, beban puncak kelistrikan Jawa, Madura, dan Bali
diperkirakan berlangsung pada tahun 2016 dan diproyeksikan mencapai 29
GW, lalu disusul tahun 2026 mencapai 59 GW. Pada periode 2006-2016,
pertumbuhan bebannya meningkat menjadi 7,3 persen.

Menurut Kusmayanto, pertumbuhan beban ini menuntut
penambahan-penambahan kapasitas pembangkit baru dalam sistem
ketenagalistrikan nasional. Seusai dialog, acara dilanjutkan dengan
sarasehan. Hadir beberapa narasumber, di antaranya mantan Presiden
Abdurrahman Wahid, Staf Ahli Menneg Ristek Bidang SDM dan Teknologi
Evita Legowo, serta Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional Hudi Hastowo.

Kusmayanto menambahkan, belajar dari pengalaman negara lain, PLTN
merupakan pembangkit listrik yang tidak saja relatif murah secara
ekonomi, tetapi juga bersih lingkungan.

"Ini tentu berbeda dengan energi batu bara yang relatif murah secara
ekonomi, tetapi mengotori lingkungan. Demikian pula dengan energi
pembangkit listrik nonfosil lain," katanya.  (SUP)



Kirim email ke