Tengkyu met, Tampaknya tidak semua kota perlu meniru cara penanganan di Jakarta seperti membuat bus way.. Harus upaya untuk mengenali karakter lokal.
Jangan diabaikan bahwa human powered transportation kini mulai digali kembali. Cuma berbeda dengan di masa lalu yang rendah content teknologinya, karena seperti beca dayung yang sekadar mengerahkan otot, maka kendaraan yang baru terus-menerus dimodifikasi agar dapat menjadi alat yang nyaman. LM --- Azmi Sirajuddin <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Kami di kota Palu, Sulawesi Tengah tidak mengerti > soal Busway, Monorel dan sebagainya. Yang kami tahu > bahwa, bukan saja di Jakarta, tapi mungkin di > seluruh kota-kota besar Indonesia yang mengalami > kemacetan harus memikirkan metode alternatif > mengatasi kemacetan. Kota Palu, saat ini sudah mulai > dilanda hal serupa. Mungkin 10-15 tahun ke depan, > Palu akan seperti Jakarta saat ini. > > Apakah rencana untuk membatasi kenderaan pribadi > seperti usul Pak Foke itu bisa menjadi salah satu > alternatif mengatasi kemacetan? Bisakah Pak Foke > konsisten dengan rencananya tersebut? Atau > jangan-jangan untuk mendongkrak popularitasnya lagi > pasca terpilih dalam Pilkada. lalu, jenis kenderaan > pribadi mana yang mau dibatasi?. Berapa batasan > untuk satu KK. Pernakah Pak Foke berpikir soal > keresahan para dealer dan penjual mobil/motor jika > rencanaya tersebut jadi? jangan-jangan akan mendapat > protes dari pabrikan otomotif. > > lalu, bagaimana mensinergiskan antara isu kemacetan > dengan isu polusi udara? Kesadaran mengurangi jumlah > kenderaan yang berpolutan tinggi juga harus > dikedepankan, ada atau tidaknya kemacetan jalan. > > Salam takzim dari Palu, > Azmi Sirajuddin
