Salam, Gatal juga tangan untuk menuliskan komentar soal berita batik dan Malaysia ini.
Sejak lama saya mengatakan ke pihak yang berkompeten di bidang Budaya: Titik soal bukan aku-mengaku. Bagi saya, yang belum tentu benar, biar seluruh jagad mengatakan bahwa batik miliknya, yang harus didukung dan selalu diperbanyak adalah PRODUKSI BATIK INDONESIA. Buat apa ribut-ribut, bila faktanya, misal saja, jumlah prpduksi batik melorot, dan orang kian enggan berbatik? Justeru mari berproduksi, mari memakai, dan kian beragam corak batik Indonesia tumbuh, kian merambah membatikkan dunia, itu akan lebih memberi arti, dari pada meributkan yang bukan esensi? Karena bila ini diributkan terus, pertama lupa esensi, kedua terbawa sindrom lupa berkaca diri. Nanti bangsa lain memainkan gamelan dengan sakti, kita pun marah? Padahal sing salah sopo? NDRO-NDORO, priyayi dan rakyat jelata bangsa Indonesia seakan mabuk laut? weleh-weleh iwan piliang stephanus Mulyadi <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Kalau cuma batik sih memang bukan hanya Indonesia yang punya. Kerajinan Batik sudah ada sejak jaman dahulu kala. Sebagai contoh di Eropa kebiasaan membatik telur misalnya sudah mentradisi sejak dahulu kala. Mungkin corak batiknya yang khas Indonesia. Tapi tehnik membatik, saya kira bukan dari Indonesia. Salam Mulyadi
