Ketika ada negara lain yang mengklaim sebuah kebudayaan baru kebakaran jenggotnya. apakah selamanya bangsa indonesia tidak mau mencintai hasil karya budaya sendiri. mari sebelum semuanya terlanjur cintailah kebudayaan sendiri. salam
--- In [email protected], iwan piliang <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Salam, > > Gatal juga tangan untuk menuliskan komentar soal berita batik dan Malaysia ini. > > Sejak lama saya mengatakan ke pihak yang berkompeten di bidang Budaya: Titik soal bukan aku-mengaku. Bagi saya, yang belum tentu benar, biar seluruh jagad mengatakan bahwa batik miliknya, yang harus didukung dan selalu diperbanyak adalah PRODUKSI BATIK INDONESIA. > > Buat apa ribut-ribut, bila faktanya, misal saja, jumlah prpduksi batik melorot, dan orang kian enggan berbatik? > > Justeru mari berproduksi, mari memakai, dan kian beragam corak batik Indonesia tumbuh, kian merambah membatikkan dunia, itu akan lebih memberi arti, dari pada meributkan yang bukan esensi? > > Karena bila ini diributkan terus, pertama lupa esensi, kedua terbawa sindrom lupa berkaca diri. Nanti bangsa lain memainkan gamelan dengan sakti, kita pun marah? Padahal sing salah sopo? NDRO-NDORO, priyayi dan rakyat jelata bangsa Indonesia seakan mabuk laut? > > weleh-weleh > iwan piliang
