bukanya sekolah mahal karena liberalisasi di sektor pendidikan sehingga tidak ada lagi subsidi untuk pendidikan ???
salam, mcp 2008/9/3 Haniwar Syarif <[EMAIL PROTECTED]>: > Maksud ilmi apa sih ? > > mau bilang anak petani yg terus jadi petani gak perlu sekolah > > mau bilang lbh anakperempuan umur 11 th gak pelru sekolah lebih baik > jual diri ? > > mohoin pencerahan > > apa begini program celli yg didukung ilmi ?? > > HSD > > At 08:25 AM 04-09-08, you wrote: >>Telitilah informasi yang ada >> >>Ada wajar dikdas 9 tahun dan ada lagi pendidikan luar sekolah (buta aksara >>maupun penyetaraan) sebagai pendamping wajar dikdas 9 tahun tersebut, jadi >>tidak ada yang tidak tersentuh. Tolong cari datanya dimana ada orang yang >>anda maksud itu ? >> >>Tapi jangan dicampur dengan akar budaya, Maaf untuk daerah jalur gaza >>(pantura, maaf bukan hanya indramayu lho), SD dan SMP itu guru dan kepala >>sekolah mengemis agar anak-anak mereka masuk sekolah, tapi kan bagi >> bapaknya >>kalau sudah 11 tahun (khususnya anak wanita) adalah aset yang bisa >>menghasilkan, jadi buat apa disekolahkan. >> >>Jadi jangan digeneralisir, petani perlu ada anaknya yang meneruskan menjadi >>petani, pembatik perlu ada anaknya yang meneruskan tradisi batik, mpu perlu >>ada anaknya yang meneruskan kemahiran membuat gong dan keris. Dan inilah >>yang dijalankan di Cina sono. >> >>Ilmiceli >> >>2008/9/4 rahardjo mustadjab <[EMAIL PROTECTED]> >> >> > Setuju dengan Pak HZM, khususnya butir (2). Kasta terbawah terbelenggu >> > dalam >> > perangkap kesengsaraan bin kemelaratan. Karena sekolah musti mbayar, >> > anak >> > mereka tidak disekolahkan atau putus sekolah si SD. Akhirnya anak >> > pemulung >> > jadi pemulung. Padahal banyak anak pembantu dan kasta terbawah lainnya >> > yang >> > punya IQ tinggi contohnya terlalu banyak untuk dibeber di sini. >> > >> > Tanpa kita sadari, kita telah menciptakan kasta terbawah yang sulit >> > sekali >> > menikmati mobilitas sosial vertikal. Padahal UUD 45 bahkan yang belum >> > diamandemen jelas menyatakan adalah hak warga negara artinya pendidikan >> > dasar nggak usah bayar. Kesadaran bahwa modal insani Indonesia >> dahsyat hanya >> > jadi omongan tidak disertai langkah nyata. Kalau saja sejak tahun 1945 >> > kesadaran ini nyata, pasti pendidikan untuk semua kita utamakan. Sejak >> > dulu >> > hendaknya kita sisihkan anggaran memadai untuk pendidikan. >> > >> > Pasti kita yang termakan oleh propaganda kita sendiri akan mengatakan >> > jangan lupa kita menghadapi PRRI-Permesta menghadapi Malaysia antek >> > Nekolim >> > yang harus kita konfrontasi yang semua itu memerlukan biaya. Ya sebagai >> > bangsa kalau kita tidak punya fokus pada yang utama, maka kita gampang >> > didistraksi. >> > >> > Ketahuilah kawan, anggaran pendidikan 20 persen dari APBN sebagian >> > dibiayai >> > dari >> > negara. Ini harus dipakai membiayai bebas uang sekolah SD-SMP-SMA. >> > Jangan >> > sampai anggaran pendidikan dikorup. Atau para dosen makin sering >> > menghadiri >> > seminar di LN. >> > >> > Asset insani Indonesia luar biasa dalam jumlah maupun dalam mutu. >> > Manfaatkan asset insani dari segala lapisan masyarakat jangan >> > dibeda-bedakan. Termasuk dan terutama asset insani dari kasta terbawah. >> > Maafkan saya menggunakan istilah kasta. >> > >> > Salam, >> > RM >> > >> > >> > --- On Wed, 3/9/08, Hasan Z. Mahmud >> <[EMAIL PROTECTED]<hzmahmud%40bbj-jfx.com>> >> > wrote: >> > >> > From: Hasan Z. Mahmud <[EMAIL PROTECTED] <hzmahmud%40bbj-jfx.com>> >> > Subject: [Forum Pembaca KOMPAS] Re: Kaya dan pintar >> > To: >> >> [email protected]<Forum-Pembaca-Kompas%40yahoogroups.com> >> > Date: Wednesday, 3 September, 2008, 12:24 PM >> > >> > >> > [1] >> > Saya cuma ingin menggaris-bawahi statement Bung Budiman Sudjatmiko. >> > Banyak jalan untuk menapaki mobilitas vertikal. Namun di mata saya, >> > kanal >> > yang terhormat tidak lain dari peningkatan kualitas pengetahuan dan >> > ketrampilan, >> > serta memanfaatkannya bagi kesejahteraan umum. Jalan "pintas" lainnya >> > lewat >> > cantelan (politisi kacangan, menantu konglomerat, keluarga pejabat dan >> > sejenisnya) >> > cuma bisa dilakukan ketika masyarakat masih buta politik. Dan pasti tak >> > langgeng. >> > >> > [2] >> > Karena itu, ketika akses ke dunia pendidikan diblokade oleh barier >> > finansial, kita >> > secara sadar telah membangun lingkaran setan keterbelakangan. Anak >> > tukang beca, >> > karena kendala finansial, akan menjadi tukang beca, anak pemulung akan >> > tetap jadi >> > pemulung. Degradasi kualitas sumber daya manusia paralel dengan >> > degradasi >> > posisi kita sebagai bangsa. >> > >> > Salam HZM >> > >> > [Non-text portions of this message have been removed] >> > >> > [Non-text portions of this message have been removed] >> > >> > >> > >> >> >>[Non-text portions of this message have been removed] >> >> >>------------------------------------ >> >>===================================================== >>Pojok Milis Forum Pembaca KOMPAS : >> >>1.Milis FPK dibuat dan diurus oleh pembaca setia KOMPAS >>2.Topik bahasan disarankan bersumber dari KOMPAS dan KOMPAS On-Line (KCM) >>3.Moderator berhak mengedit/menolak E-mail sebelum diteruskan ke anggota >>4.Moderator E-mail: [EMAIL PROTECTED] [EMAIL PROTECTED] >>5.Untuk bergabung: [EMAIL PROTECTED] >> >>KOMPAS LINTAS GENERASI >>===================================================== >>Yahoo! Groups Links >> >> >> > >
