Memang betul ada program wajib belajar dimana-mana. Sayangnya dari segi 
kualitas masih memprihatinkan. Jadi baru sekedar "kejar tayang" bahwa ada 
program wajib belajar. Buktinya lihat saja hasil UN yl.
 
Jika hanya seperti ini yang diprogramkan pemerintah -apalagi dengan kualitas 
dan komitmen birokrat kita yang masih banyak yang bermental sekedar mengerjakan 
proyek sambil dikorupsi- maka program wajib belajar hanya sekedar menghasilkan 
tenaga "terdidik" untuk mengisi lapisan bawah struktur kerja kita alias cuma 
sekedar jadi "kuli" atau pegawai bawahan saja. Sementara yang bisa jadi bos 
(dan tentu saja dengan gajih besar) adalah para lulusan sekolah-sekolah 
berkualitas yang biayanya mahal dan tidak terjangkau oleh sebagian besar 
masyarakat kita.

Akhirnya yang miskin akan tetap (atau bahkan menjadi lebih) miskin dan yang 
kaya akan semakin kaya. Kesenjangan sosial akan melebar dan berpotensi untuk 
melahirkan situasi destruktif untuk kita semua.
 
Oleh karena itu perlu pemantauan yang lebih ketat dan lebih agresif agar 
anggaran pendidikan yang sudah naik menjadi 20% tidak hanya sekedar menjadi 
lahan yang semakin menggiurkan untuk dikorupsi rame-rame.....
 
Adi Sasongko
 
 

--- Pada Kam, 4/9/08, Mohamad Ilmi Hussein <[EMAIL PROTECTED]> menulis:

Dari: Mohamad Ilmi Hussein <[EMAIL PROTECTED]>
Topik: Re: [Forum Pembaca KOMPAS] Re: Kaya dan pintar
Kepada: [email protected]
Tanggal: Kamis, 4 September, 2008, 8:25 AM






Telitilah informasi yang ada

Ada wajar dikdas 9 tahun dan ada lagi pendidikan luar sekolah (buta aksara
maupun penyetaraan) sebagai pendamping wajar dikdas 9 tahun tersebut, jadi
tidak ada yang tidak tersentuh. Tolong cari datanya dimana ada orang yang
anda maksud itu ?

Tapi jangan dicampur dengan akar budaya, Maaf untuk daerah jalur gaza
(pantura, maaf bukan hanya indramayu lho), SD dan SMP itu guru dan kepala
sekolah mengemis agar anak-anak mereka masuk sekolah, tapi kan bagi bapaknya
kalau sudah 11 tahun (khususnya anak wanita) adalah aset yang bisa
menghasilkan, jadi buat apa disekolahkan.

Jadi jangan digeneralisir, petani perlu ada anaknya yang meneruskan menjadi
petani, pembatik perlu ada anaknya yang meneruskan tradisi batik, mpu perlu
ada anaknya yang meneruskan kemahiran membuat gong dan keris. Dan inilah
yang dijalankan di Cina sono.

Ilmiceli

Kirim email ke