Menurutku sih yang durhaka itu yang kutu loncat di partai politik, jadi sekarang di partai A, besuk ada iming-2 tentang kedudukan dengan segala konsekuensinya pindah di partai B, besuknya lagi karena partai B "Garing" pindah ke partai C. jadi tidak berusaha untuk memberdayakan partai-nya tapi malah menggunakan partai sebagai kendaraan pribadi di jalan aspal kemewahan.
Salam, Arif Gumantia yang kecewa banyaknya kutu loncat parpol. --- Pada Rab, 19/11/08, Budiman Sudjatmiko <[EMAIL PROTECTED]> menulis: Dari: Budiman Sudjatmiko <[EMAIL PROTECTED]> Topik: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Menanggapi Indra: orang Sumbar 'durhaka' kalau masuk PDI Perjuangan? Kepada: [email protected] Tanggal: Rabu, 19 November, 2008, 7:21 PM Indra sebagai sejarahwan rupanya mengalami kerancuan waktu. Dia melupakan kapan saatnya terjadi Pemberontakan PRRI-Permesta yg didukung Amerika Serikat itu (dekade 1950-an), dengan apa yg disebut oleh buku sejarah a la Orba (yg� ditulis Nugroho Notosusanto) sbg era mercusuar... Kalau tahun 1950-an, bahkan sejarahwan Orba tak pernah mengacu sedikitpun pada periode 1950-an sebagai periode mercusuar. Kejadian2 penting tahun 1950-an adalah pemilu tahun 1955 dan Konf. Asia-Afrika 1955...Apakah ini yang dimaksud Indra dengan mercusuar? Saya khawatir Indra tdk pernah masuk secara intelektual pada periode2 awal pembentukan republik ini kalau menganggap itu proyek mercusuar, dan malah mengagung2kan proyek negara federatif yang kongruen dgn ide dari para pendukung Van Mook. Soal Tan malaka tdk bisa mencegah pemberontakan 1927, tidak membatalkan pendapat saya bahwa Sumbar saat itu daerah merah, krn tokh yang mimpin berontak adalah orang Merah juga. Bantahan Indra�di atas�sama dengan mengatakan tidak bisa tumbuhnya (atau tumbangnya) sebuah pohon kurma di sebuah tempat di padang pasir, membawa Indra pada kesimpulan bahwa padang pasir tidak tepat untuk menanam pohon kurma ! Jelas ini secara logis salah. Tentang�peristiwa sejarah di manapun, selalu ada namanya faktor umum dan faktor/sebab khusus. Sebagai contoh yg terkenal, dikatakan bahwa Diponegoro berontak melawan Belanda krn rumahnya terlanggar pembuatan jalan kereta api.�Kalau menurut logika berpikir Indra, maka Diponegoro semata-mata berjuang karena tanahnya direbut Belanda... Padahal soal pembuatan jalan kereta itu adalah SEBAB KHUSUS. Sebab umum-nya diabaikan oleh Indra, yaitu ada konteks kemuakan orang2 di Yogya dan sekitarnya atas kekuasaan kolonial Belanda yang mengendalikan kraton dan penguasaan sumber daya ekonomi. Kalau seseorang hanya bisa menjelaskan sebab khusus (yang mikro sifatnya) dengan melepaskan dr sebab umum-nya, maka seseorang hanya bisa disebut sebagai penutur, bukan sejarawan. Tentu sebab2 pemberontakan 1927 di Sumatera Barat tidak bisa semata2 disebut sebagai persaingan dagang. Ada faktor2 yg lebih mendalam dan historis sifatnya ketimbang soal2 conflict of vested interests. Jika cara pandang Indra tentang setiap peristiwa sejarah selalu direduksi ke belantara sebab khusus (yg memang kerap kali praktis, pragmtais, conflict of vested interests dari para pelaku), dan melepaskannya dr sebab umum (yg tidak selalu generalis, krn pasti sangat kaya dengan detail juga), maka saya khawatir kalau Indra suatu saat mengatakan bahwa republik ini didirikan/dipertaha nkan bukan oleh semangat kemerdekaan para pendiri republik, melainkan sekedar kerjaannya para pemuda pengangguran, preman pasar dan jawara yang (karena gak punya kerjaan tetap) ikut perang untuk merampoki harta para pejabat yang dekat dgn kolonial. � wassalam � Budiman Sudjatmiko Yang ikut gerakan demokrasi krn sebab khusus dan sebab umum� ___________________________________________________________________________ Dapatkan alamat Email baru Anda! Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan sebelum diambil orang lain! http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/ [Non-text portions of this message have been removed]
