Rumor? Hehehe. Lha Pangkostrad waktu Mei 1998 siapa? Kakek saya?
 
Saya cuma baca koran kaya Anda? Hihihi. Keluarga, teman dan kerabat saya ada 
yang jadi korban, dan saya juga cukup aktif dalam tim relawan Mei 1998 sejak 
pecahnya kerusuhan sampai dua tahun sesudahnya. Saya secara langsung tak 
langsung ikut kok dalam proses pengumpulan fakta. Dan faktanya bukan dari media 
Bung. Kalo Anda mau lihat detilnya apa, di Google juga ada kok, termasuk juga 
hasil TGPF yang sudah banyak dipangkas sana-sini karena alasan politis itu. 
Sori Bung Erens, kita beda. Kalo saya gak beda dari Anda, saya gak akan berani 
ngomong.
 
Ooo, ada toh anggota partai Gerindra yang jadi korban kerusuhan Mei? Hahaha. 
Tidakkah Anda bertanya dalam hati, jika memang Prabowo tak terlibat dalam 
peristiwa Mei 1998, ngapain si anggota partai ini harus bikin statement bahwa 
dia mau "melupakan masa kelamnya yang lalu?" Lho? Apa hubungannya sama Prabowo 
kalo gitu? Bukankah implisit ini artinya dia hendak bilang bahwa Prabowo 
terlibat tapi dia pribadi sudah memaafkan? Gitu lho Bung.
 
Ini semua kalo mau Anda baca sebagai isyarat "tidak" buat Prabowo, saya tak 
keberatan kok. Monggo. Saya pribadi sih maunya calon presiden yang latar 
belakangnya bersih, baik kemarin maupun hari ini. Jelas kan?
 
manneke

--- On Sat, 3/14/09, erensdh <[email protected]> wrote:

From: erensdh <[email protected]>
Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Prabowo Subianto: Mohon Mengkritisi 8 
Program
To: [email protected]
Received: Saturday, March 14, 2009, 12:29 PM






Maaf pak manneke, saya akui pendapat anda, tapi saya tidak dalam posisi 
mengadili "runmor" keterlibatan mantan Pangkostrad itu, melainkan mengkritisi 
sesuai keinginan pak Prabowo dalam milis ini.
Hal berikutnya adalah saya punya keyakinan bahwa pak manneke tidak pernah 
menjadi korban Mei 1998 seperti yang pak manneke maksudkan terdahulu, seperti 
juga saya yang hanya cuma baca, dengar atau saksikan di media. Saya mau 
mengajak pak manneke untuk mengalah pada fakta bahwa sudah bertahun-tahun kita 
tidak tahu persis siapa dalang kerusuhan Mei 1998 itu, apalagi untuk 
mengadilinya. Fakta lainnya adalah di partai Garindra ada juga korban kerusuhan 
Mei 1998 yang menjadi pengurus teras partai itu, yang dalam suatu debat tv ia 
lantang mengatakan bahwa dia harus berani menatap ke masa depan dan harus 
melupakan masa kelamnya yang lalu. Sekalipun pernyataannya itu bukan dalam 
kapasitas mewakili para korban kerusuhan Mei 1998, tapi paling tidak itu adalah 
suatu realita lapangan bahwa sang korban saja bisa mengatakan itu sementara 
kita sang penontonnya kok tidak?
Atau ini hanya isyarat tidak untuk Prabowo?

Kirim email ke