om Mula,
analisa anda hebat banget bos,
tapi bisa aja untuk lima tahun kedepan SBY bisa nyari wakil
yang bisa menjamin kinerja pemerintahan
yang bisa meningkatkan citra kenegarawanan,
yang bisa menjembatani sby dengan parpol-parpol yang kecewa,
mungkin aja dia bukan berasal dari parpol tertentu.
sehingga sby akan selesai lima tahun dengan kusnul kotimah.
Tapi bisa aja Mega, Wiranto, Prabowo juga sepakat ingin jadi negarawan
tulen,
artinya mereka ingin menulis sejarah baru dalam politik nasional,
mereka bertiga akan mencari capres alternatif,
yang tentunya bukan dari parpol juga ,
sebab hal itu akan mengobati krisis kepercayaan rakyat pada parpol,
yang dapat segera berbuat banyak buat negeri ini,
yang dapat mengobati kegundahan mereka mengenai keadaan negeri ini,
yang dapat menciptakan keadaan yang dapat mengembalikan
kepercayaan rakyat pada partai politik.
bukankah suara yang masih golput sangat potensial untuk diraih.
bagaimana pendapat om mula,
mana yang lebih cepat, sby dkk atau megawati dkk yang akan jadi negarawan ?
mari kita beri kesempatan mereka,
mari kita berdoa' untuk mereka,
semoga negeri ini mencapai kejayaan-nya yang benar,
salambambangsulistomo
2009/4/11 Mula Harahap <[email protected]>

>
>
>
> Pasca kemenangan Demokrat ini, perpolitikan Indonesia menjelang pemilu
> presiden menjadi menarik untuk diamati:
>
> Demokrat yang memperoleh 20% suara pemilih itu tidak membutuhkan lagi
> koalisi dengan partai mana pun kalau hanya untuk meloloskan calon
> presidennya yaitu SBY. Partai itu hanya membutuhkan koalisi untuk
> mengamankan politik Presiden (dalam hal ini SBY) di DPR selama 5 tahun ke
> depan.
>
> Dan dengan popularitas yang sedemikian tinggi yang diperoleh SBY maka
> Demokrat menjadi lebih bebas dalam mencari calon wakil presiden yang akan
> dipasangkan dengan SBY. Mereka sedang berada di atas angin. Partai-partai
> lainlah yang akan merapat ke mereka. Demokrat tidak memerlukan figur "vote
> getter".
>
> Belajar dari pengalaman 5 tahun ini, dan dalam posisi partai yang sedang
> berada di atas angin, maka calon wakil presiden yang diperlukan Demokrat
> adalah sebuah figur yang tidak terlalu merepotkan SBY.
>
> Besar kemungknan SBY akan mengambil Akbar Tanjung. Tapi Akbar Tanjung
> diambil bukan dalam kapasitas sebagai yang resmi diusulkan Golkar.
> Kejadiannya sama seperti dulu ketika SBY mengambil Jusuf Kalla. Tapi dalam
> hal ini, belajar dari pengalaman, SBY tentu akan berupaya mencegah Akbar
> agar tidak menjadi Ketua Umum Golkar lagi. Dengan lain perkataan, SBY akan
> memiliki wapres yang tidak terlalu kuat di partainya (Golkar), tapi di fihak
> lain masih bisa diandalkan untuk "mengamankan" kawan-kawan separtainya di
> DPR.
>
> Karena Jusuf Kalla tidak lagi dilirik sebagai calon wakil presidennya SBY,
> maka tentu saja ia tidak ingin membawa Golkar masuk dalam koalisi dengan
> Demokrat. Tapi para elit Golkar yang "gatal" dan sudah terbiasa memegang
> kekuasaan itu tentu saja tidak akan "happy" dengan situasi tersebut. Cepat
> atau lambat Golkar akan mengadakan munas dan Jusuf Kalla akan dicampakkan
> dengan alasan kegagalan dalam pemilu legislatif. Ketua umum yang baru (entah
> siapa pun) itu pasti akan "merapat" ke kubu Demokrat demi memperoleh
> beberapa jabatan menteri. Dan SBY atau Demokrat pun pasti akan menyambut
> baik tawaran itu.
>
> Partai-partai yang lain, seperti PKS, PKB, PAN dan PPP juga tentu akan
> memilih "merapat" ke kubu Demokrat. Bagi Demokrat ini tentu bukan persoalan.
> Dengan melakukan koalisi dengan sebanyak mungkin dari partai-partai tersebut
> (baca: memberikan kepada mereka 1 atau 2 pos menteri) kebijakan Presiden di
> DPR sudah bisa diamankan.
>
> Yang menghadapi persoalan besar adalah PDIP. Jangankan untuk mencari figur
> calon wakil presiden yang sekaligus bisa menjadi "vote getter" dalam pemilu
> presiden mendatang, meloloskan Megawati sebagai presiden pun mereka masih
> membutuhkan koalisi dengan partai lain (perolehan PDIP hanya 14%). Tapi yang
> menjadi persoalan ialah, partai mana yang mau berkoalisi dengan PDIP yang
> calon presidennya (Megawati) sudah jelas bakal kalah menghadapi SBY? Semua
> partai tentu akan memilih berkoalisi dengan SBY/Demokrat yang punya masa
> depan sangat cerah.
>
> Besar kemungkinan bahwa calon presiden yang memenuhi syarat dan bisa
> diloloskan oleh DPR hanyalah SBY. Dengan lain perkataan hanya akan ada satu
> salon tunggal. (Entah bagaimana UU mengatur pemilu bila calon presiden hanya
> ada satu).
>
> Atau kemungkinan yang lain adalah: Gerindra dan Hanura akan berkoalisi
> dengan Megawati. Memang, kedua partai itu sangat menyadari, bahwa koalisi
> yang mereka lakukan itu adalah koalisi para "loser" yang tidak akan bisa
> menjamin kemenangan calon presiden mereka. Tapi mereka melakukan koalisi ini
> lebih sebagai sebuah persiapan untuk pemilu legislatif dan presiden di tahun
> 2014.
>
> Tapi di tahun 2014 calon presiden yang harus "dijual" tidak mungkin lagi
> Megawati. Prabowo-lah yang akan dijual. Yang menjadi pertanyaan ialah,
> apakah sebuah koalisi oposisi dari 3 partai yang dipimpin oleh Megawati,
> Wiranto dan Prabowo akan bisa berjalan langgeng?
>
> Dalam perpolitikan seperti di Indonesia, dimana yang menjadi ideologi
> partai-partai adalah uang dan kekuasaan, apa saja bisa terjadi.
>
> Mula Harahap
>
>  
>


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke