Saya cuma geli saja jika ada yang berpandangan bahwa situasi kita dengan 
tetangga mirip dengan situasi AS-US sehingga dirasa perlu menggelar rudal yang 
diarahkan ke negara mereka. Untungnya sih ini cuma angan2, wong rudal yang 
dimaksud itu ga ada koq.

Saya sepakat jika kita berusaha mengembangkan industri militer sendiri, makanya 
saya senang dan bangga membaca berita keberhasilan para ilmuwan LAPAN 
megembangkan formulasi bahan bakar padat secara mandiri. Pandangan awam saya, 
ini modal besar untuk kita bisa membuat amunisi bagi kapal dan pesawat tempur 
kita yang ompong itu. Cukup segitu aja, selebihnya fokuskan pengembangan roket 
untuk kepentingan non-perang.



________________________________
Dari: Adyanto Aditomo <[email protected]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Rabu, 5 Agustus, 2009 20:31:55
Judul: Bls: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Tahun 2014, Indonesia Punya Roket Peluncur 
Satelit

  
Bung Asep Kurniawan,
 
Ada betulnya pendapat anda bahwa mengapa kita sebagai orang sipil bila bicara 
Pertahanan Negara kok cenderung militeristik, yaitu kekuatan senjata.
Apa iya untuk meredam kesewenangan Negara Tetangga, terutama dalam masalah 
perbatasan, harus menggunakan Kekuatan Senjata???
 
Tetapi realita dilapangan, bila persenjataan ABRI lemah, kita begitu dilecehkan 
oleh negara tetangga tanpa dapat berbuat apa - apa.
Laporan media massa yang menyaksikan ulah Kapal Perang Malaysia yang berusaha 
mengganggu pemasangan Suar di Ambalat yang dilakukan oleh TNI AL beberapa tahun 
yang lalu, membuat kita "nelongso" melihat betapa lemahnya persenjataan TNI AL 
dibandingkan Tentara Laut Diraja Malaysia.
 
Dalam kasus teror dari AL Malaysia, ternyata TNI AL tidak berdaya untuk meminta 
Kapal Perang Malaysia  agar tidak berjalan terlalu cepat didekat lokasi 
pemasangan Suar, karena ombak yang ditimbulkan sangat mengganggu pelaksanaan 
pemasangan Suar tersebut.
TNI AL sangat sadar bahwa kekuatan Kapal Perang Modern milik Malaysia mampu 
menghancurkan Kapal Perang Milik TNI AL yang mengawal poemasangan Suar tersebut 
dengan mudah, karena Kapal Perang Malaysia dilengkapi dengan sejumlah Peluru 
Kendali modern yang canggih, sedangkan Kapal TNI AL hanya dipersenjatai dua 
Peluru Kendali Exocet dari Perancis yang sudah lewat masa berlakunya, sehingga 
sangat tidak jelas apakah masih bisa digunakan untuk perang atau tidak.
Karena seluruh persenjataan ABRI merupakan barang import, maka negara manapun 
akan dengan mudah ,menebak kekuatan senjata pertahanan kita.
Soal Kapal TNI AL cuma dilengkapi dengan Peluru Kendali Kadaluarsa dan 
jumlahnya juga tidak seberapa, pihak Angkatan laut Diraja Malaysia sangat 
memahaminya.
Karena itulah Kapal Perang Malaysia secara terbuka berani melecehkan Kapal 
Perang TNI AL.
 
Dengan alasan tersebut, memang sudah waktunya Indonesia untuk mengembangkan 
persenjataan  guna pertahanan dari serangan lawan, sehingga pihak manapun akan 
kesulitan menduga - duga sejauh apa kekuatan persenjataan ABRI.
Dengan demikian tidak ada negara tetangga yang berani memprovokasi kita secara 
terbuka hanya karena mereka bisa melihat betapa kunonya persenjataan Indonesia 
dibandingkan dengan Persenjataan mereka yang amat modern.
 
Salam,
 
Adyanto Aditomo

Kirim email ke