melawan polisi ? kalau tidak punya "orang kuat" dibelakang,sebaiknya dipikir
ulang,bisa bisa terjebak lebih dalam.masalahnya hukum dan keadilannya
dinegri ini sulit ditemukan rakyat biasa. kpk yang jaksa saja diobok obok
dan dianggap cicak !
kalau dibawa ke pos akan semakin berabe,karena akan dikerubuti rame rame,apa
lagi jika kontak dikasih bisa tak ketemu lagi,ngga tau dibawa sama ppolisi
yang mana,mau melapor dia dia lagi. pokoknya kalau udah sampe urusan sama
polisi dijamin pasti kelelep deh.
kalau saya mendingan ngga ada polisi deh,kalau seperti polisi diindonesia.

Pada 24 Oktober 2009 13:26, Zulkifli Harahap <[email protected]> menulis:

>
>
> Kalau sudah tahu tukang peras, mengapa mau diperas? Lawan, lawan, lawan.
> Kalau tidak salah mengapa takut melawan? Dari pengalaman saya, rekan-rekan
> Polisi yang lainnya akan melerai dan kita dilepas asalkan kita dalam jalur
> yang benar. Kalau diajak ke Pos, langsung saja berikan kunci kontak agar dia
> yang nyetir dan Anda di sampingnya. Kalau Anda benar (dari pengalaman) si
> Polisi akan menyerah dengan barbagai alasan. Yang penting jangan mau damai
> kalau Anda tidak salah. Dan, ini juga penting demi waktu, kalau sekiranya
> Anda ceroboh sehingga tidak sengaja MELANGGAR RAMBU, begitu Anda buka kaca
> jendela, serahkan SIM dan tempelkan di bawah uang seadanya. Biasanya mereka
> akan mengatakan: "Apa ini Pak? Lain kali hati-hati ya Pak!" Saya pernah
> disangka oleh OB saya, yang kebetulan numpang, saya punya sebul-sebulan
> karena dengan Rp.5000 saya tidak ditilang sekalipun menerobos verboden
> berjangka sementara dia harus berdamai Rp30.000 dengan pelanggaran yang sama
> padahal dia pakai sepeda motor.
> Tetapi kalau Anda diperangkap, langsung saja minta ditilang dan bayar
> dendanya untuk Negara. Ini sesuai dengan prinsip orang Batak: "Tidak sama
> saya, tidak juga sama kau, dan mending diberikan kepada Negara." Dia akan
> rugi juga karena konon setiap lembar formulir tilang itu ada harganya. Jadi
> sama-sama rugi, yang untung Negara.
> Zul

Kirim email ke