Yth Rekan milis,

Terima kasih kepada Bp Aris Yunanto ,dosen FEUI,yang sudah menerangkan dan 
jelaskan 
posisi Indonesia yang rawan saat ini,menjelang Januari 2010.

Dari 55 negara tercatat,Indonesia posisi daya saing produk dan jasa adalah 
nomor 51 versi
World Competitiveness Yearbook 2006-2008 dan nomor 54 menurut World Economic 
Forum.Artinya berada di garis bawah,jauh dari nomor satu.

Penyakitnya sudah diperjelas oleh Bp Anis yaitu;

-Lemahnya penguasaan Teknologi,
-Rendahnya kwalitas SDM,
-Tingginya suku bunga Perbankan,
-Disorganisasi Struktur yang menyebabkan daya saing produk dan jasa Indonesia 
kian menurun.Jelasnya tidak ada pemikiran Strategis untuk menaikkan daya saing.

Mohon menjadi masukan penting untuk mengatasi penyakit oleh para Penyelenggara 
Negara baik eksekutif,legislatif maupun yudikatif.

Salam Hormat,
Bakri Arbie.



--- On Sat, 12/12/09, Agus Hamonangan <[email protected]> wrote:

From: Agus Hamonangan <[email protected]>
Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Januari 2010, China "Serbu" Indonesia
To: [email protected]
Date: Saturday, December 12, 2009, 3:53 PM







 



  


    
      
      
      Oleh Aris Yunanto



http://cetak. kompas.com/ read/xml/ 2009/12/11/ 05053524/ januari.2010. 
china.serbu. indonesia



Mulai 1 Januari 2010, Indonesia akan "diserbu" China. Pernyataan ini bukan 
rumor, tetapi benar-benar akan terjadi jika Indonesia tidak mempersiapkan diri.



Serbuan China ke Indonesia bukan berbentuk invasi militer, tetapi berwujud 
barang dan jasa kebutuhan masyarakat Indonesia sehari-hari. Asalnya, sejak 
Indonesia ikut program ASEAN-China Free Trade Area (ACFTA) antara negara-negara 
ASEAN dan China.



Siapkah Indonesia?



Menghadapi "invasi" China itu, apakah Indonesia sudah siap? Dilihat dari 
indikator perekonomian Indonesia beberapa waktu terakhir, memang terlihat ada 
kecenderungan meningkat dibanding awal dekade lalu. Namun, itu belum cukup 
sebagai perisai. Bahkan, krisis finansial global tahun 2008 masih juga 
menyisakan kelesuan ekonomi dunia yang juga berpengaruh terhadap perekonomian 
dalam negeri.



Sektor industri manufaktur di Indonesia yang pernah menjadi tumpuan pembangunan 
perekonomian, selain sebagai penyerap tenaga kerja terbesar dan penyumbang 
devisa lewat kinerja ekspornya, kini terbilang menurun. Sebagaimana dicatat 
Biro Pusat Statistik (BPS), hingga Agustus 2009 ekspor manufaktur Indonesia 
merosot hampir 25 persen dari total 60,831 miliar dollar AS menjadi 45,632 
miliar dollar AS.



Penurunan ini juga menurunkan total ekspor nonmigas sebesar 18,31 persen. 
Bahkan, dalam perhitungannya, Depperin juga memperkirakan penurunan nilai 
ekspor 12 industri manufaktur unggulan, seperti industri pengolahan kelapa 
sawit mentah (CPO), besi baja, otomotif, elektronika, pengolahan karet, pulp 
dan kertas, serta industri peralatan listrik sebesar 7,33 persen sepanjang 
tahun 2009.



Sementara realisasi impor Indonesia dari China selama semester pertama 2009 
angkanya tidak kalah menakjubkan. Impor elektronika dari China sudah mencapai 
30 persen atau senilai 300 juta dollar AS, 37 persen dari 57 juta dollar AS 
tekstil dan produk tekstil (TPT), 60 persen mainan anak-anak dari total 17 juta 
dollar AS, 14 juta dollar AS atau 50 persen produk alas kaki, belum lagi dalam 
bentuk produk makanan dan minuman.



Selama ini, penetrasi perdagangan China ke negara-negara lain tidak lepas dari 
kemampuan produksi domestik, selain adanya penerapan subsidi ekspor (tax 
rebate) 13 persen-17 persen oleh Pemerintah China sendiri.



Pada sisi lain, Indonesia masih dihadapkan pada lemahnya penguasaan teknologi, 
masih rendahnya kualitas SDM, tingginya tingkat suku bunga perbankan, dan 
disorganisasi struktur yang kian menyebabkan daya saing produk Indonesia, 
khususnya manufaktur, kian menurun.



Dalam World Competitiveness Yearbook 2006-2008, daya saing Indonesia turun ke 
peringkat 51 dari 55 negara. Sementara dari World Economic Forum, daya saing 
Indonesia menduduki peringkat ke-54, di bawah negara-negara lain dalam kawasan 
Asia Tenggara seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand.



Mengantisipasi "invasi"



"Invasi" China tentu tidak akan membuat Indonesia kiamat. Untuk mengurangi 
dampaknya, pola industrialisasi dan perdagangan produk industri atau manufaktur 
harus didasarkan pemenuhan kebutuhan domestik. Harus ada upaya nyata pemerintah 
membendung produk China dengan menambah investasi dari dalam dan luar negeri. 
Efisiensi produksi juga harus digenjot agar harga jual dapat berkompetisi 
dengan produk China yang akan masuk Indonesia tanpa bea mulai Januari 2010.



Pada hakikatnya, FTA akan bermanfaat bagi suatu negara karena memberi efisiensi 
biaya perpindahan barang melalui proses integrasi jalur ekonomi negara dalam 
suatu kawasan. Namun, FTA mempunyai prasyarat tersedianya infrastruktur cukup. 
Berbagai upaya pemerintah sejak Infrastructure Summit I dan II sampai Invesment 
Summit awal Desember 2009 belum memberi hasil memuaskan. Infrastruktur masih 
menjadi wacana. Krisis listrik menjadi salah satu cermin belum menariknya 
Indonesia sebagai tempat menanamkan investasi di bidang infrastruktur. Juga 
biaya tinggi dalam tata niaga produk industri manufaktur Indonesia karena 
infrastruktur nasional yang buruk belum bisa dikurangi.



Pemenang Nobel 2008 Joseph Stiglitz mengatakan, acuan utama pembukaan 
perdagangan bebas adalah kesiapan industri domestik. Dengan daya saing 
Indonesia yang masih rendah, bahkan di bawah negara-negara tetangga di ASEAN, 
tentu akan menjadi bumerang jika Indonesia ikut ACFTA yang segera diberlakukan. 
Akan amat bijaksana jika dalam kondisi sulit bersaing seperti ini, Indonesia 
membatasi masuknya produk asing dengan berusaha memenuhi kebutuhan sendiri 
lebih dulu.



Kemandirian ekonomi suatu negara tidak lepas dari perencanaan yang baik 
terhadap kemampuan produksi domestik guna pemenuhan pasar domestik selain 
produksi keperluan ekspor berbahan baku lokal. Jika ini terjadi, pemanfaatan 
potensi lokal untuk domestik dan ekspor dapat optimal dan memberi manfaat 
perekonomian maksimal.



Aris Yunanto Pengajar FEUI dan Peneliti pada PSIE Institute





    
     

    
    


 



  






      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke